Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXXVII


__ADS_3

Yue tahu betul iringan kereta kuda dari mana itu. Tidak sengaja ia melihatnya mesasuki pelantaran istana. Dirinya yang sudah sangat lelah dengan latihan yang kakaknya berikan, kini harus bertambah kesal.


Melangkah semakin cepat menuju kediamannya untuk membersihkan keringat dan debu yang menempel. Mau apa dia kemari? batinnya.


Sesuai dugaan Yue, seorang dayang datang untuk mengabarkan bahwa kedua kakaknya membutuhkan kehadirannya di ruang perjamuan. Bukannya mempercepat diri, ia malah lebih santai dari sebelumnya. Sama sekali tidak peduli dengan tamu yang sudah menunggunya di sana.


Dengan mengenakan gaun warna ungu lembayung, Yue bersiap menemui tamunya. Lamat ia memperhatikan ptia itu menyambutnya. Masih sama seperti dulu, tampan dan brengsek. Bayangan tubuh telanjang pria itu kembali berkelebat. Yue menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran tersebut.


"Maksud kedatanganku ke sini adalah untuk meminta Putri Yue menjadi selirku di Kerajaan Yuhan."


Kentara sekali saat melihat kakaknya, Lai Xin tersenyum sinis mendengar perkataan Gu Zheng. Sedangkan Hwei Yang kaku di tempat. Yue tahu hari ini akan datang, ia hanya yakin saja.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Lai Xin memastikan.


"Seperti yang kalian dengar," balas Gu Zheng.


"Kau tahu 'kan kalau adik kami sudah bertunangan dengan Kaisar An?"


"Aku tahu."


"Lalu kau masih berani meminta adik kami setelah semua yang kau lakukan?"


"Justru karena itu aku ingin memperbaiki semuanya."


Yue yang sedari tadi diam akhirnya bergerak dan mengambil selembar kertas dan kuas. Ia tahu kakaknya tidak akan setuju dengan keputusannya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan menerima lamaran dari Gu Zheng.


Sontak keputusannya mengagetkan kedua kakaknya terutama Lai Xin. Bahkan Gu Zheng sendiri juga terkejut. Tapi Yue tidak semudah itu menerimanya begitu saja. Di kertas itu Yue juga mengajukan syaratnya.


Mau tidak mau harus Gu Zheng setujui. Terima atau tidak sama sekali.


*****

__ADS_1


Gadis di depannya ini memang selalu bisa mengejutkannya. Seberapapun Gu Zheng mengingkari, ia telah jatuh hati sepenuhnya pada Yue. Lamarannya sama sekali tidak mengejutkan gadis itu, justru sebaliknya. Yue seperti sudah menantikan kedatangannya. Dia bahkan berani mengajukan syarat.


Bisa Gu Zheng mengerti, Yue sekarang sudah berstatus Putri. Menjadi seorang selir hanya akan merendahkan martabat Kerajaan Sichuan. Yue sudah memikirkan segalanya. Itu yang membuat Gu Zheng senang bukan kepalang. Terlepas secara otomatis gadis itu juga memutuskan hubungan pertunangannya dengan Cheng Li.


"Kalau itu yang kau inginkan, aku tidak keberatan."


Tatapannya terasa kaku dan lurus, harusnya Gu Zheng menghukum gadis ini. Tapi ia akan membiarkannya, ini adalah permulaan yang bagus. Kekhawatiran neneknya sama sekali tidak terbukti, syukurlah.


Sayangnya tidak hanya Yue yang mengajukan syarat. Kedua kakak gadis itu juga mengajukan sesuatu yang sedikit memberatkannya. Ya, pernikahan akan berlangsung seminggu dari sekarang.


Padahal ia tidak bisa menunggu selama itu. Ia juga tidak diperbolehkan bertemu dengan gadis itu sampai hari pernikahan tiba. Pernikahan juga akan diadakan di Kerajaan Sichuan--hanya untuk menghindari gangguan yang tidak perlu.


Sepulangnya dari pertemuan singkat itu, Gu Zheng langsung mengabarkan pada ibu dan neneknya. Tentu mereka tidak boleh melewatkan acara bersejarah ini. Sedangkan Ah Mei, ia dengan mudah melupakan gadis itu.


Gu Zheng tidaklah buta. Istana sudah seperti tempat bermainnya, dan gadis itu ingin bermain-main di daerahnya. Maka Ah Mei akan mendapatkan permainan sesuai yang Gu Zheng inginkan.


Tiba-tiba saja muncul setelah dua tahun tanpa kabar, ia mengira Gu Xu Wei sudah mati di suatu tempat. Lucu juga saat mendapati kakak tirinya menginjakkan kaki di istana.


Tidak seperti Fang Wei, Xu Wei lebih sulit ditebak. Bahkan ia tidak tahu alasan kakak tirinya itu menghilang selama ini.


Cukup baginya untuk menutup mata dan telinga. Hampir, ia hampir melupakan janjinya kepada Hwa Nai. Gi Zheng adalah kaisar maka ia akan bersikap layaknya kaisar.


*****


Secara sopan Yue menolak dan memutuskan pertunangannya dengan Cheng Li. Ia bahkan berbicara empat mata dengan pria itu untuk membuatnya mengerti.


Layaknya Yue yang tahu betul kalau dirinya tidak bisa menjadi permaisuri karena sudah tidak perawan. Cheng Li juga tahu dengan baik.


"Aku hargai keputusanmu, tapi kau tidak bisa menghentikanku untuk selalu mengharapkanmu. Aku akan menunggumu. Jika hari itu tiba, aku akan menyingkirkan semua peraturan hanya untuk dirimu."


Ia juga mendapatkan kebenaran dari An Xiaoli. Tiba-tiba saja gadis itu menemuinya secara rahasia. Tanpa sepengetahuan siapapun. Tidak yakin dengan apa yang merasuki gadis itu hingga berbuat seperti ini.

__ADS_1


"Aku tidak menyukaimu. Tapi sepertinya kau layak mendapatkan ini. Baiklah, aku mengaku kalah. Selamat untuk keputusan bodoh yang telah kau ambil. Aku dan kakakku lah yang memulai semua ini ...."


Yue sedikit kaget saat mendengar penuturan Xiaoli saat itu. Karena itu Gu Zheng begitu membenci Cheng Li. Dan berimbas pada dirinya. Perasaan bencinya semakin bertambah kala ia membaca sebuah surat yang datang entah dari mana.


Awalnya Yue berpikir bagus jika ia mengetahui semua kebenarannya. Tapi ini melebihi apa yang bisa ia tampung. Datang secara bersamaan dan bertubi-tubi di saat kakinya hendak melangkah ke altar pernikahan untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.


Seakan menghalanginya untuk berjalan ke sana. Memaksanya untuk berhenti. Apapun itu, tidak akan mampu merubah keputusannya. Yue hanya tahu bahwa jalan inilah yang semula ia tempuh. Dulu ia berhenti, kini tidak akan. Ia akan terus berjalan meski kakinya berdarah.


Karena banyak sekali alasan yang membuatnya berjalan di jalan kebenciannya ini. Mereka harus membayarnya.


*****


Gu Zheng ingin bertemu dengan Yue. Melihat dari kejauhan pun tak apa. Karena itu ia menyelinap seperti pencuri. Mudah baginya melewati pagar Kerajaan Sichuan. Juga mudah baginya saat berjalan di atap-atap bangunan dan hanya sinar bulan yang menjadi penerangannya.


Tanpa ragu ia melompat lincah pada bangunan terakhir. Kediaman Yue berada di paviliun atas. Dengan berayun pada sebuah kayu, akhirnya Gu Zheng sampai di depan pintu kamar Yue.


Lampunya mati, mungkin gadis itu sudah terlelap. Bagus. Ia hanya ingin melihatnya sebentar. Ia merindukan wajah tertidur yang polos itu. Mungkin juga sekarang tidak sepolos waktu itu. Tapi ia ingin tetap bisa melihatnya.


Derit terbukanya pintu seperti memberitahukan kedatangannya. Sebisa mungkin Gu Zheng masuk tanpa bersuara.


Hanya sebuah lilin kecil di samping tempat tidur menjadi penolongnya saat ini. Gu Zhneg sempat khawatir tidak bisa melihat Yue dengan jelas.


Perlahan dan pasti ia mendekat. Cukup lama ia berdiri di sisi tempat tidur dan menatap Yue yang telah tidur berselimutkan kain putih gading bermotif bunga sakura.


"Haruskah aku mencumbumu sekali lagi?" gumam Gu Zheng muram.


Cepat. Begitu cepat Gu Zheng dikagetkan oleh sebuah tangan yang memelintirnya dari belakang. Membantingnya di lantai. Keseimbangannya goyah, tentu hal itu membuat Gu Zheng sekaligus penyerangnya beradu kekuatan di lantai.


Ya, pemandangan yang jarang bisa Gu Zheng lihat setiap harinya. Ia menyukai ini. Demi apapun, ia berterima kasih pada Dewa karena masih hidup sampai sekarang. Jadi ia akan menbiarkannya sesuai keinginan si penyerang.


Penyerangnya itu duduk di atas perutnya juga menodongkan pisau di lehernya. Siap menggorok jika ia berani bergerak. Apalagi yang bisa menyenangkan bagi Gu Zheng lebih dari ini? Saat disuguhi Yue yang menantangnya seperti ini.

__ADS_1


"Apa aku membangunkanmu?"


Tbc...


__ADS_2