
Masih sambil memeluk selimutnya dengan erat, Yue duduk di hadapan sang Kaisar. Hanya papan catur yang memisahkan mereka. Ya, Yue menantang sang Kaisar untuk bermain catur.
“Giliranmu,” kata Gu Zheng.
Yue berpikir sejenak. Ia tidak boleh salah langkah. Nasib dan kehormatannya dipertaruhkan di sini. Berusaha untuk mengulur waktu sekaligus menenangkan pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir dan bermain catur di saat seperti ini?
“Jangan terlalu lama,” ucap Gu Zheng sembari menyangga lengannya pada kaki.
Sang Kaisar bahkan tidak segan menatap Yue dengan tatapan yang menurutnya sangat kurang ajar.
“Sesuai janjiku, kalau kau menang, aku akan memberikan pakaianmu dan membiarkanmu pergi malam ini,” tambah sang Kaisar.
“Kenapa s-saya tidak berpakaian?” tanya Yue dengan melirik Sang Kaisar.
Yue sangat ragu menggerakkan bidak-bidaknya. Ia sangat tahu bahwa setiap langkah Sang Kaisar telah diatur sedemikian rupa untuk memerangkapnya. Sedari awal ini jebakan, ia tidak akan bisa menang dari pria yang kini menyunggingkan senyumnya itu.
Kenapa juga Yue begitu bodoh menantang Sang Kaisar dalam permainan yang jelas-jelas tidak bisa ia menangkan?
Sekali lagi Yue melirik sang Kaisar tapi saat itu mata mereka saling bertemu hingga membuat Yue tertunduk kembali. Setidaknya dengan begini Kaisar Gu tidak akan macam-macam sampai permainan catur ini selesai, batin Yue.
“Akan kujawab kalau kau menang,” cengir Gu Zheng.
__ADS_1
Membayangkan ia harus menyerahkan dirinya untuk Sang Kaisar kembali membuat wajah Yue memerah. Segera Yue mengenyahkan pikiran itu lalu kembali menekuni bidak catur miliknya. Dengan tangan gemetar ia menggerakkan bidak ksatrianya. Berharap ia tidak salah langkah.
Setelah selesai gilirannya kini giliran Kaisar Gu yang menggerakkan ratu miliknya untuk menyerang Yue. Sekali lagi ia terjebak.
“Apa Anda sengaja?” tanya Yue lirih. “Seolah Anda tidak memberi saya kesempatan.”
“Aku bergerak sesuai pergerakanmu,” kelit Sang Kaisar.
Bohong. Jelas-jelas pria itu lebih mahir darinya. Papan catur itu tak ubahnya wilayah miliknya sendiri, Sang Kaisar telah menakhlukkannya bahkan sebelum permaian itu dimulai.
“S-saya menyerah,” ucap Yue lirih.
“Semudah itu?” tanya Gu Zheng.
Kecuali ia bisa menumbangkan Sang Kaisar dan berlari secepat kuda dari kamar ini. Ya, hanya itu caranya. Yang Yue butuhkan hanya sedikit celah dan kesempatan. Diliriknya lagi Gu Zheng melewati bulu matanya.
“Sayang sekali, padahal aku dengar dari Bibi Hwang kau pandai bermain catur,” kata Gu Zheng.
“Tapi tidak sepandai Anda,” balas Yue spontan. Ia langsung membekap mulutnya yang kelewat lancang karena telah berani menimpali ucapan sang Kaisar. Terkadang mulutnya memang tidak bisa ditahan. Dan sialnya, kenapa harus sekarang?
Beruntung pria itu hanya tersenyum mendengar balasan Yue. Astaga, ia masih tidak percaya ada seorang manusia yang begitu sempurna seperti pria di depannya. Matanya yang tegas, tulang pipinya tinggi. Ditambah dengan bulu matanya yang kelewat lentik untuk ukuran seorang laki-laki. Tampan dan cantik di saat yang bersamaan.
__ADS_1
“Kau bisa memandangiku sepuasmu,” kata Gu Zheng.
Sadar akan perbuatan kurang ajarnya, Yue kembali menundukkan wajahnya. Pada saat itu tangan Gu Zheng terulur serta mengunci dagu Yue hingga membuatnya kembali menatap lurus manik berwarna opal itu.
“Jangan pernah menundukkan wajahmu saat bersama denganku,” ucap Gu Zheng.
“Tapi ....”
Belum juga sempat menyelesaikan kalimatnya. Yue melihat sang Kaisar menampik papan catur yang memisahkan mereka hingga bidak-bidaknya berserakan di lantai. Terkejut dengan kejadian itu, Yue tidak menyadari bahwa pria itu sudah menarik pinggangnya.
Kaisar menarik Yue hingga berdiri di atas lulutnya. Mereka begitu dekat. Kini ia lebih tinggi dari sang Kaisar. Wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal. Yue bahkan bisa merasakan hembusan nafas sang Kaisar. Ia harus menunduk untuk bisa melihat wajah sang Kaisar dengan jelas.
“Kau bahkan lebih manis dari terakhir kali yang kulihat,” kata Gu Zheng.
Yue tercengang mendengar pernyataan itu. "Apa kita pernah ... bertemu sebelumnya?"
“Aku kecewa, semudah itukah kau melupakan-ku?”
Bukannya lupa, Yue sangat yakin belum pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. Kalau pun sudah ia pasti tidak akan lupa. Bagaimana mungkin ia akan melupakan pria setampan ini?
“Haruskah aku mengingatkanmu?”
__ADS_1
⇨