Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XIV


__ADS_3

Yue duduk termenung dan menyangga dagunya pada daun jendela. Ia berusaha mengingat masa kecilnya yang bahkan hampir tidak bisa ia kenang lagi. Hanya bayangan samar rumah merah yang besar dan remaja laki-laki. Nian? Yue mengucapkan kata itu dengan spontan saat bersama Ibu Suri Han.


Lagi-lagi ia hanya bisa mendesah berat. Yue bahkan tidak menghiraukan saat Ah Mei masuk ke kamarnya.


"Penghianat," ucap Yue lesu.


"Apa yang bisa kulakukan?" balas Ah Mei yang tidak kalah lesu.


"Kau bisa saja berteriak. Atau ... apapun." Yue memutar tubuhnya dan menghadap Ah Mei sepenuhnya.


Betapa kagetnya Yue saat mendapati wajah Ah Mei yang penuh luka memar. "Apa yang terjadi?"


Dengan cepat Yue berdiri dan menghampiri Ah Mei. "Katakan. Apa yang terjadi?"


"Aku ... aku hanya terpeleset dan membenturkan wajahku ke lantai," jawab Ah Mei.


"Bohong! Terpeleset tidak akan menyebabkan luka seperti itu." Dengan tidak sabar Yue juga meraup tangan Ah Mei. Tentu tanpa sengaja ia melakukannya.


Ah Mei mengaduh kesakitan. Sontak Yue melepaskan pegangannya. Yue semakin tidak sabar dibuatnya. Segera menyingkap lengan baju Ah Mei tinggi-tinggi.


Ingin rasanya Yue menangis melihat luka pukul rotan di lengan temannya itu. Tidak hanya satu pukulan, namun banyak.


Saat Ah Mei meihat wajah Yue yang hampir menangis, gadis itu segera menutupi lukanya kembali. "Ini ... ini ...."


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Yue tanpa basa-basi.


"Aku terpeleset."


"Bohong!"


"Aku ... akan segera merapikan tempat tidurmu supaya kau bisa cepat beristirahat," kelit Ah Mei.


"Kau sudah seperti saudara perempuan bagiku. Katakan atau aku akan benar-benar marah, Ah Mei."


Sejenak keheningan terasa begitu menyakitkan bagi Yue. Ia menunggu Ah Mei untuk membuka mulutnya. Dan kalaupun gadis itu tidak melakukannya juga. Saat ini juga Yue akan berlari menuju kediaman sang Kaisar untuk meminta penjelasan. Tentu pria itu tahu semua yang terjadi di dalam istana.


"Dia ... dia memergokiku saat masuk ke kediaman Kaisar tadi siang," ujar Ah Mei pelan.

__ADS_1


"Siapa?"


"Pu-putri An." Sekarang giliran Ah Mei yang menyambar lengan Yue. "Dia menuduhku mencuri. Karena dia tahu, kediaman Kaisar bukan menjadi tanggung jawabku."


Yue merasakan ketidakadilan menimpa Ah Mei. Bukan Ah Mei yang bersalah, tapi dirinya. Temannya itu hanya ingin mengingatkannya untuk segera keluar dari kediaman sang Kaisar. Dan Yue tidak mengindahkannya.


"Biarkan saja ini berlalu. Aku tidak apa-apa, sungguh. Jangan cari gara-gara dengannya," pinta Ah Mei.


"Maaf. Harusnya aku yang dihukum, bukannya kau." Tubuh Yue luruh ke lantai. Inilah yang ia takutkan.


Inilah istana. Seperti yang selalu diceritakan Bibi Hwang padanya. Ibu Suri Han juga telah memperingatkannya. Salah Yue yang terus bermain-main dan menganggap tempat ini adalah rumahnya sendiri.


"Tidak, tidak. Biarlah seperti ini," hibur Ah Mei, "kau sudah berjanji akan menjadi permaisuri terhebat sepanjang sejarah, bukan?"


Tentu mendengar hal itu semakin membuat Yue merasa sedih dan bersalah. Ia memeluk Ah Mei yang juga ikut terduduk di lantai. Erat. Sebagai permintaan maaf juga sebagai penguat untuk dirinya sendiri.


"Apapun yang terjadi, mulai sekarang aku akan menjadi mata dan telinga untukmu," ujar Ah Mei. "Kau hanya harus fokus pada tugasmu sebagai calon permaisuri. Kalahkan gadis itu untukku juga."


Yue mengangguk berkali-kali, air matanya tidak berhenti berlinang sampai harus membuat Ah Mei menyekanya. "Kita akan membalas gadis itu."


Yue berdiri dan menghampiri salah satu lemari dan membuka sebuah laci. Beruntung Yue masih menyimpan obat saleb dari bibinya. Segera ia mengoleskan obat itu ke seluruh luka-luka Ah Mei. Setiap kali temannya itu mengaduh, bergidik pula Yue.


"Bagaimana kau bisa sekuat ini?" tanya Yue.


"Pengalaman."


Yue kaget mendengar jawaban Ah Mei. "Jadi ... kau sering mangalami hal seperti ini?"


"Tidak, tidak. Bukan berarti seperti itu. Ayahku ... saat mabuk ... sering memukuliku dan ibuku. Tidak banyak orang yang tahu," ucap Ah Mei sembari tersenyum kecut.


"Kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku," kata Yue.


"Aku tidak ingin menceritakan sesuatu yang seperti itu," balas Ah Mei.


Apapun itu, Yue menghargai keputusan temannya. Kalau hal itu juga terjadi pada dirinya. Ia juga enggan menceritakan pada orang lain, bahkan termasuk teman baiknya.


"Jadi ... katakan. Apa yang terjadi setelah aku pergi?" tanya Ah Mei penasaran sekaligus mengubah topik pembicaraan yang enggan gadis itu bicarakan.

__ADS_1


"Ibu Suri datang," ujar Yue lirih. "Dia memintaku ikut dengannya."


"Apa?! Begitu saja? Tidak terjadi apapun begitu?"


Yue menyipitkan matanya saat menatap Ah Mei. "Memangnya apa yang kau harapkan akan terjadi?"


"Seperti ... terciptanya sang Putra Mahkota mungkin. Atau ... peluk aku hingga fajar menyingsing."


Sejenak Yue memikirkan arti kalimat Ah Mei. "Apa yang kau pikirkan?!"


"Ayolah, beri aku cerita yang menarik. Itu akan menjadi inspirasi untuk episode bukuku yang selanjutnya."


Tidak bisa dipercaya. "Inspirasi? Episode? Buku?"


"Aish. Bibi Hwang sangat menyukai bukuku. Romansa di Ranjang Istana. Kau pikir siapa yang menulis buku itu?"


"Jadi kau penulis buku itu? Buku ... buku ... tidak senonoh!"


"Ck, ck ... naif. Terlalu naif. Karakter putri di bukuku tidak senaif dirimu. Kau harus belajar dari bukuku itu. Setidaknya itu akan membuat para sainganmu mundur ketakutan. Lagi pula bukuku sangat laris di kalangan perempuan. Di istana maupun sekitar istana. Kau saja yang tidak tahu."


Yue menggelengkan kepalanya. Ternyata, buku yang selalu dielu-elukan oleh bibinya berasal dari temannya. Wanita itu selalu mengatakan, istana tidak selalu kelam tapi juga bisa berwarna merah cerah. Sekarang ia tahu maksudnya.


"Lupakan," kata Ah Mei sembari mengibaskan tangannya. "Lalu? Lalu?"


"Apa? Ibu Suri sedikit menceramahiku." Yue kembali mengingat samar rumah merah besar. "Dulu ... katanya aku pernah ke istana sekali. Yang Mulia Gu Zheng yang membawaku ke sini. Saat itu katanya kami bertunangan. Tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat kejadian itu, ya?"


"Be-benar kah? Ini ... ini bahan yang sangat luar biasa untuk episode bukuku yang selanjutnya!"


"Tidak bisa kah kau serius?!"


"Sudah malam, kau harus tidur. Dan aku harus menulis," kata Ah Mei. "Aku tidak ingin dihukum dua kali dalam sehari."


Ah Mei benar. Tapi entah kenapa yang dikatakan temannya itu tidak sepenuhnya benar. Apapun itu, ia tidak ingin Ah Mei dihukum lagi karena dirinya. Ia melihat kepergian Ah Mei sambil menutup pintu kamarnya perlahan.


"Apa aku perlu membaca buku itu?" guman Yue. "Mungkin ...."


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2