
Gu Zheng menutup kembali punggung Yue dengan baju basahnya. "Sudah saatnya kita kembali."
Yue yang masih gemetaran mengangguk pelan. Ia duduk mengikuti sang Kaisar. Dan kembali merapikan bajunya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gu Zheng. Pria itu juga menangkup wajah Yue dengan kedua tangannya. "Maaf, kalau aku terburu-buru."
Yue hanya bisa mengangguk sekali lagi. Tangan sang Kaisar begitu hangat dan besar di pipinya. Tidak masalah, batinnya pada diri sendiri. Ia permaisuri. Belum. Segera.
Yue tahu ini tidak benar, ia telah menyerahkan kesuciannya sebelum menikah dengan pria itu. Di satu sisi ia merasa senang, tapi di sisi lain ia merasa bersalah. Entah kepada siapa ia merasa bersalah.
Yue berusaha untuk berdiri, namun kakinya terasa kebas. Ia hampir tersungkur kembali kalau saja Gu Zheng tidak menangkapnya. Sekali lagi Gu Zheng memeluk tubuhnya erat sembari terkekeh.
"Sepertinya aku harus menggendongmu sampai ke istana," kata Gu Zheng.
"K-kita punya kuda, sepertinya Tuan Kuda tidak berniat lari dan menggalkan kita. Jadi Anda tidak tidak perlu menggendong saya untuk sampai ke istana."
"Kau benar, setidaknya aku bisa menggendongmu untuk menaiki Tuan Kuda," balas Gu Zheng.
Dengan lembut Gu Zheng membopong tubuh gemetaran Yue dan mendudukkannya di atas pelana. Kemudian pria itu melompat dengan sekali lompatan tinggi dan duduk di belakang Yue. Kembali Gu Zheng mendekapnya. Berusaha menghalau hawa dingin yang menerjang di sepanjang perjalanan. Tidak mempedulikan gerimis rintik yang masih turun.
Hari menjelang malam saat mereka sampai di istana. Seperti dugaan Yue, Ibu Suri Han sudah menunggu mereka. Wanita itu tampak tidak senang dengan kepergian mereka. Jelas kalau sang Kaisar tidak memberitahukan perihal kepergiannya pada siapapun.
"Bagaimana mungkin kalian bisa begitu ceroboh?!"
"Maaf, Ibu. Aku yang sengaja, jadi semua ini salahku," kata Gu Zheng.
"Tentu saja semua ini salahmu." Ibu Suri Han menggedikkan dagunya kepada. Memberi perintah tersirat untuk membawa Yue ke kediamannya.
Tanpa berucap dan melawan Yue menurut saat sederet dayang mengiringi serta memapahnya menuju paviliun utara.
"Aku akan menengokmu nanti," ucap Ibu Suri Han kepada Yue.
"Baik, Yang Mulia."
Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, Yue menginggalkan ibu dan anak itu. Ia tidak peduli kalaupun dirinya harus dihukum. Yang Yue pikirkan sekarang adalah ia ingin mandi air hangat lalu berbaring. Mengakhiri hari luar biasa ini secepatnya. Lagi dan lagi ia merasa perutnya serasa dipelintir saat merasakan bagian bawahnya berkedut dan nyeri.
__ADS_1
Dengan senyuman tipis ia bersyukur telah menjadi wanita seutuhnya. Terlebih ia melakukannya dengan pria yang dicintainya.
*****
"Bagaimana mungkin kau bisa begitu gegabah?" ujar Ibu Suri Han. "Kau meniduri gadis itu, bukan?"
"Seperti biasa, ibu mengetahui segala hal," balas Gu Zheng.
Ibu Suri Han memejamkan matanya dengan kecewa. "Kau tahu adat istana, bukan? Atau ibu harus mengingatkanmu kembali? Kepala dayang sendiri yang akan memastikan perawan tidaknya permaisuri setelah malam pertama kalian! Dan sekarang kau mengacaukan segalanya."
"Kenapa ibu khawatir sekali? Aku bisa mengatasi hal itu."
"Bagaimana ibu tidak khawatir. Kau telah menyeret gadis tidak berdosa dalam permainan kekuasaanmu. Dengan tanganmu sendiri, kau menjadikan gadis itu layaknya papan sasaran."
"Mungkin."
"Kau begitu ... tidak berperasaan, melebihi ayahmu. Seingatku aku tidak pernah mengajarkanmu untuk mepermainkan kesucian seorang gadis. Dan dengan buruknya kau melakukan itu karena balas dendam. Jangan dikira ibu diam karena tidak tahu."
Gu Zheng tersenyum lebar. "Jadi, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Yue yang akan menjadi permaisuri besok pagi."
Gu Zheng undur diri tanpa menghiraukan protes dari Ibu Suri. Ya, semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Terlambat jika memutar arah sekarang. Ia telah menebarkan benih, dan sekarang tinggal menuai hasilnya.
"Kita lihat apa yang sekarang akan kau lakukan?"
*****
Yue memakai gaun pengantin merah terbaik. Penuh dengan sulaman benang emas. Jepit emas menjuntai bertebaran menghiasi rambut panjangnya.
Ia dirias sedemikian rupa hingga dirinya sendiri merasa pangling dengan sesosok gadis yang berada di dalam cermin itu.
"Anda sangat cantik, Nona."
"Terima kasih, Bibi."
Sudah waktunya. Iring-iringan pengantin berjajar sedemikian rapi untuk menjemput mempelai wanita. Yue semakin gugup saat melihat begitu banyak tamu yang hadir. Tentu mereka bukan orang-orang biasa. Para Raja dan Permaisuri hadir dalam pesta pernikahan mendadak ini. Yue yakin mereka sama herannya seperti dirinya.
__ADS_1
"Mempelai wanita tiba!"
Seorang Kasim meneriakkan pengumuman bahwa dirinya memasuki pelantaran istana utama. Tabuh gong serta terompet menjadi musik pengiring saat dirinya menghampiri sang Kaisar. Ia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Gu Zheng.
Tapi sayangnya, tidak demikian halnya dengan pria itu. Yue belum pernah melihat sang Kaisar yang itu. Begitu dingin, batinnya. Bahkan dari kejauhan ia seakan bisa merasakannya. Apa dirinya berbuat salah?
Kini sang Kaisar berada tepat di depannya. Ekspresi Gu Zheng masih tidak berubah. Sekali lagi perutnya serasa diremas. Bukan karena senang, namun karena takut. Ia takut terhadap pria yang berdiri di depannya ini.
Doa dan pengharapan diucapkan dengan lantang oleh sang Penghulu. Terakhir pria tua itu mengikatkan pita merah di jari Gu Zheng dan kemudian ...
"Tunggu!"
Secara mengejutkan seorang gadis berteriak. Tentu saja gadis itu adalah Putri An Xiaoli. Gadis itu berjalan menghampiri kedua mempelai dengan wajah khas cantiknya.
"Saya keberatan dengan pernikahan ini. Saya yakin kalian semua juga begitu setelah tahu kebenarannya."
"Lancang!" hardik Ibu Suri Jia. "Kau seorang putri tapi tidak tahu sopan santun! Apa hakmu menghentikan pernikahan ini?"
"Maafkan saya sebelumnya, Yang Mulia. Tapi saya yakin pernikahan ini tidak akan terjadi jika kalian tahu kebenarnnya."
"Apa maksudmu?" tanya salah seorang selir.
"Aku tahu kau tidak suka dengan pernikahan ini. Tapi bukan berarti kau bisa mengacaukan pernikahan kakakku," sahut Gu Fang Wei.
"Saya akan memberitahukan sedikit rahasia kecil. Dan saya yakin setelah ini kalian akan setuju denganku."
"Xiaoli!" hardik seorang pria.
"Oh, Kakak. Kau juga akan suka rahasia kecil ini.
"Omong kosong! Kau tidak hanya mempermalukan Kerajaan Yuhan tapi juga Kerajaan An," desis An Cheng Li.
"Bukan aku yang telah mempermaikan kalian, tapi gadis itu!" Dengan mantap Xiaoli menunjuk kepada Yue sembari tersenyum. "Bukan gadis itu yang seharusnya menikah denganmu, Yang Mulia."
Xiaoli semakin berjalan mendekat. "Tapi gadis yang seharusnya sudah bertunangan dengan Anda sebelumnya, tiga belas tahun silam."
__ADS_1
"Bukan begitu, Nona Ah Mei?"
Tbc...