Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XII


__ADS_3

Dengan mengendap-endap Yue memasuki paviliun milik Kaisar. "Sepertinya dia tidak di sini. Bagus."


Yue memastikan tidak ada yang yang tahu bahwa dirinya menyelinap seperti pencuri. Ia langsung berlari menuju kolam di belakang paviliun sang Kaisar. Yue menyusuri pinggiran kolam sembari mencari tempat yang dirasanya cukup tenang.


"Sangat tidak adil, dia memiliki semua kemewahan dunia," guman Yue.


Yue melihat sudut kolam yang terdapat beberapa batuan besar. Ternyata kolam ini lebih luas dari perkiraannya, batin Yue. Seperti danau kecil.


Popohonan nan rindang serta begitu banyaknya bunga berwarna-warni menghiasi sepanjang tepian kolam. Yue berjalan semakin jauh sampai ia menjumpai sebuah paviliun kecil.


Sebuah paviliun yang terapung di tepian kolam. "Kurasa tempat yang cocok," gumam Yue.


Alasan sesungguhnya kenapa ia memilih paviliun sang Kaisar adalah, pertama, tidak akan ada yang mengganggunya di sini. Kedua, ia belum mengenal betul seluk beluk istana. Kalau dirinya menghafal di kamarnya sendiri, jangankan hafal, sudah pasti ia akan mati bosan.


Yue menyingkap gaunnya dan mengambil tiga buku yang ia simpan di balik gaunnya. Pertama-tama ia membaca buku mengenai Tata Cara Bersikap.


"Aish, buku macam ini."


Ditaruhnya buku itu lalu mengambil buku lainnya. Tertulis Tata Krama Minum Teh. "Astaga, hanya untuk minum teh harus ada aturan setebal ini?"


Yue menggelengkan kepalanya. Ia menaruh buku itu lagi dan mengambil yang lainnya. Cara Menjadi Permasuri Yang Anggun.


Yue menggigit bibir bawahnya. Ia mati kutu. Jujur, ia sama sekali tidak pandai dalam hal-hal yang tertulis di buku itu. Bagaimana mungkin ia bisa menghafalnya dalam waktu seminggu?


"Kenapa tidak ada buku tentang bagaimana caranya bermain catur lebih hebat dari sang Kaisar?"


Menyerah. Yue merebahkan dirinya dan memandang permukaan kolam yang bersinar karena pantulan matahari siang. Bak sebuah berlian yang sinarnya menyilaukan.


Semilir angin semakin membuatnya merasakan kantuk. Beberapa kali Yue menepuk ketiga buku itu. "Apa aku perlu meminta tolong pada Paman Liu? Mungkin sedikit ilmu mistisnya bisa menolongku."


Yue memutar bola matanya memikirkan cara itu. Sejenak lalu memukul kepalanya sendiri. "Apa yang kau pikirkan, Yue? Hah! Aku sudah gila."

__ADS_1


"Kau memang gila."


Terperanjat mendengar suara, Yue bangun dan terduduk tegap. "Ah Mei?"


"Ya, kau memang gila. Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kalau sang Kaisan melihatmu? Atau seseorang?"


"Dan seseorang itu kau," cengir Yue.


Ah Mei menggelengkan kepalanya. "Ayo pergi dari sini sebelum ada melihat."


Yue tidak bergerak dari tempatnya. "Kenapa? Di sini terasa nyaman."


Bukannya beranjak, Yue malah kembali merebahkan tubuhnya. Ia semakin menikmati suasana damai di tempat itu. Baru kali ini ia merasa seperti di rumahnya sendiri. Bebas dan damai.


"Kenapa tempat ini begitu menyesakkan?"


"Karena kau belum terbiasa." Ah Mei juga ikut duduk di samping Yue. "Ayo pergi."


Yue memejamkan matanya. Merasakan semilir angin yang membelai kulitnya. "Ah Mei, kenapa acara minum teh begitu banyak peraturan? Seperti namanya, acara minum teh, ya tinggal minum saja 'kan?"


Yue menunggu jawaban dari temannya itu. Tapi tidak ada jawaban. Sunyi malah. Sampai ia merasa...


*****


Seperti halnya gadis pelayan itu, Gu Zheng juga mengikuti Yue. Dari kejauhan ia juga melihat Yue yang menabrak Fang Wei--saudara tiri ketiganya.


Gu Zheng sama sekali tidak mengkhawatirkan bahwa Yue akan tertarik pada Fang Wei. Justru sebaliknya, Fang Wei lah yang ia khawatirkan. Yue begitu lambat baik dalam berpikir maupun bersikap. Gadis polos yang sepertinya mudah untuk dipermainkan. Karena itu Gu Zheng sangat suka menggoda Yue.


Ibu dan neneknya memang memerintahkan kepada semua dayang dan pelayan juga para pengajar untuk tidak bersikap lunak pada gadis itu. Sengaja kedua Ibu Suri melakukan hal itu untuk melindungi Yue. Semakin istimewa Yue, Xiaoli akan semakin bersikap kelewatan pada Yue.


Itu juga sudah menjadi keputusan Gu Zheng. Ia ingin Yue bisa memanjat dinding istana yang penuh dengan jebakan dengan usahanya sendiri supaya bisa duduk bersanding dengannya di atas singgasana kekaisaran.

__ADS_1


Gadis pelayan yang melihat kedatangan Gu Zheng langsung memucat. Gadis itu menundukkan kepalanya. Gu Zheng memberi tanda agar gadis itu diam dan menyuruhnya pergi.


Setelah kepergian gadis pelayan itu, Gu Zheng menghampiri Yue yang memejamkan mata. Bukannya belajar malah tiduran. Gu Zheng menyunggingkan senyum tipis.


Ia hendak ikut merebahkan tubuh di samping Yue, namun ia berpikir ulang. Harus diberi pelajaran, batin Gu Zheng.


Cepat dan singkat. Gu Zheng mengecup bibir Yue. Sontak gadis itu membuka matanya lebar-lebar.


"Yang ... Yang Mulia."


Dengan cepat Yue merapikan gaunnya serta rambutnya yang kusut terkena angin. Gadis itu terlihat gelagapan. Seperti biasa. Entah apa yang membuat Yue begitu kikuk saat bersama dengannya.


"A-apa yang Anda lakukan di sini?"


"Seingatku ini paviliunku."


Yue juga seakan ikut mengingat. "Anda benar. Oh, maafkan saya."


Segera Yue beranjak, namun Gu Zheng segera menyambar tangan Yue dan menariknya hingga jatuh di pangkuannya.


Tentu Gu Zheng tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Yue yang lambat berpikir dan membaca situasi merupakan sasaran empuk untuknya. Terlihat begitu menggemaskan.


Ia sama sekali tidak pernah merasakan perasaan seperti itu pada gadis lain, hanya Yue.


Gu Zheng yang memegang kuat tengkuk Yue perlahan mendekatkan wajahnya. Kini wajah mereka berjarak hanya tinggal tiga jari.


"Kau takut?"


"Ya. Saya takut."


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2