
Yue memandang sekeliling, begitu banyak orang yang sudah berkerumun. Sebagian dari mereka ada yang saling berbisik. Sebagian lagi ada yang meneriakkan nama sang Kaisar. Ia sama sekali tidak nyaman mengenai hal itu.
"Bisakah kita pergi dari sini?" tanya Yue.
Sepertinya Gu Zheng juga menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Yue. Dengan sekali perintah, para pengawal segera mengiringi Yue dan Gu Zheng menuju kereta kuda dan kembali ke istana.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hanya mengambil jalan pintas," jawab Gu Zheng.
Merasa senang sekaligus marah, Yue tidak tahu harus berkata apa. Bukannya ia buta ataupun tuli. Sesekali Yue mendengar tentang posisi Gu Zheng yang sulit jika pria itu memaksa untuk meminang dirinya dari para dayang. Ia juga mendengarnya dari Ah Mei secara langsung. Pernikahannya dengan sang Kaisar akan berakibat sesuatu yang buruk di kemudian hari, Yue sangat tahu hal itu. Bagaimanapun juga Yue tidak ingin Gu Zheng merasa susah karena dirinya.
"Kau tidak harus," kata Yue sambil menunduk.
"Kau hanya harus diam dan tetap berada di sisiku," kata Gu Zheng. "Itu lebih dari cukup untukku."
"Aku ingin kembali ke rumah Paman Hwang."
Gu Zheng memutar penuh tubuhnya dan menghadap Yue serta menatap tajam. Untuk beberapa saat raut marah tergambar jelas di wajah pria itu. Yue juga menyadari pria mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.
"Tidak akan pernah kuizinkan," ujar Gu Zheng dingin.
Yue diam tidak membalas. Ia juga marah atas perlakuan Gu Zheng yang gegabah. Sebisa mungkin Yue menahan dirinya untuk tidak memukul pria itu atau melemparinya dengan sepatu. Ia terbiasa bebas pergi ke manapun sesuka hati. Tapi kini, pria di sampingnya ini telah merenggut kebebasannya.
Pria itu tidak punya belas kasih, Yue hampir melupakannya. Ya, julukannya adalah Macan dari Yuhan. Tidak segan memandikan pedangnya sendiri dengan darah para musuhnya. Tukang perintah dan pemaksa, perlu Yue tambahkan.
"Ibu Suri tidak akan setuju kalau kau tetap ...," cicit Yue.
"Aku yang memutuskan dengan siapa aku akan menikah," sahut Gu Zheng tegas.
__ADS_1
Percuma. Ya, mungkin ini memang sudah suratan takdir, batin Yue. Ia menunduk dan menekuni jari-jarinya. Ia teringat kembali ramalan Paman Liu soal benang merah. Namun, setahu Yue benang merah tidak hanya terikat pada satu orang. Bagaimana jadinya kalau Xiaoli lah yang menjadi permaisuri? Apa dirinya rela jika hal itu sampai terjadi?
Ia menyukai pria yang sekarang duduk di sampingnya. Entah sejak kapan perasaan ini mulai muncul dan tumbuh menjadi besar. Lucu sekali, ia bahkan tidak pernah mengenal Gu Zheng sebelum ini. Bahkan dalam ingatannya pun tidak.
"Bagaimana kalau mereka ...," kata Yue.
"Percayalah."
Tatapan Gu Zheng begitu meyakinkan. Perlahan tapi pasti keraguan di dalam diri Yue mulai menghilang. Sangat mengejutkan bahwa Gu Zheng memiliki efek seperti itu terhadap dirinya. Kalau pun pria itu memerintahkannya untuk lompat ke dalam sumur dengan tatapan seperti itu, sudah pasti dirinya akan melakukan hal bodoh itu. Apapun alasannya. Mungkin sebagian dari dirinya takut untuk menentang perintah sang Kaisar. Tentu saja bukan. Siapa juga yang tidak takut dengan sang Kaisar?
"Tiga hari lagi," ujar pria itu.
"Apa?"
"Terlalu lama kalau sebulan. Sudah kuputuskan acara penerimaan permaisuri akan diadakan tiga hari dari malam ini," jelas Gu Zheng.
Mulut Yue menganga. Darahnya terasa berdesir dari kepala ke kaki dan sebaliknya. Terasa dingin. Seketika ia juga merasa mulas.
Protes yang Yue berikan dibalas dengan senyum lebar lengkap dengan sederet gigi yang putih. Yue menelan ludahnya. Baru kali ini Yue menyadari sangat menginginkan pria itu! Sekarang!
Cepat-cepat Yue membuang muka. Menyembunyikan wajahnya yang pasti memerah. Tiga hari lagi dirinya akan menjadi permaisuri. Dirasakannya tepukan di kepala dengan lembut.
"Nanti, kau bisa memandangiku sepuasmu. Dan aku bisa memandangi wajah memerahmu sesukaku," bisik Gu Zheng.
Yue merasa diambang batas kewarasannya. Ia sudah gila! Sesaat yang lalu ia ingin melompat ke dalam pelukan pria itu!
Malu. Sangat memalukan. Mungkin sekarang tidak hanya wajahnya saja yang memerah. Setiap jengkal kulitnya terasa panas. Ditambah lagi Gu Zheng yang kini terkekeh. Yue ingin cepat sampai di istana. Lebih lama dari ini, bukan pria itu yang akan menjadi binatang buas tapi dirinya!
******
__ADS_1
"Apa saja yang sudah kalian lakukan?!" hardik Xiaoli. "Bagaimana bisa upacara itu dimajukan? Tiga hari lagi?!"
Tidak terkira sudah berapa gelas dan vas yang Putri Xiaoli pecahkan. Bahkan vas bernilai seni tinggi tak luput dari kemarahannya.
Ketiga pria di depan Xiaoli pun bungkam seribu bahasa. Termasuk pamannya. Pria baya itu juga tidak menyangka sang Kaisar akan memilih langkah seperti ini. Tradisi seakan tidak ada artinya di mata sang Kaisar.
Harus Xiaoli akui, ia telah salah langkah. Ia mengira sang Kaisar akan cepat bosan dengan gadis desa itu. Percuma saja ia menebar senyumnya di hadapan kedua Ibu Suri. Nyatanya Gu Zheng tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk mendekat.
"Kalian tidak berguna! Kalian sendiri yang menjanjikanku posisi permaisuri! Kalian sendiri yang menjanjikanku untuk mendapatkan Gu Zheng!"
Xiaoli menarik nafasnya dalam-dalam. Ya, semuanya sampah. Tidak berguna. Kali ini dirinya sendiri yang akan turun tangan.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Xiaoli pada seorang dayang kepercayaannya.
"Sudah, Tuan Putri."
Xiaoli menggerakkan jarinya untuk memerintahkan dayang itu mendekat. Setelah dirasa cukup mengambil jarak yang pantas, dayang itu menyerahlan selembar kertas juga membisikkan sesuatu di telinga Xiaoli.
Tentu saja pencapaian dayang itu membuat sang Putri tersenyum puas. "Menarik."
Sang Putri mengibaskan tangannya sekali lagi dan menyuruh dayang itu pergi. Amarahnya bergantikan dengan suka cita. Ia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan sesuatu yang menarik seperti ini.
"Apa rencanamu kali ini, Keponakanku?" tanya sang Paman.
"Paman, Paman, Paman. Terkadang kita harus mundur selangkah untuk bisa maju tiga langkah, bukan? Itu yang kakakku ajarkan."
"Jadi maksud Tuan Putri, kita akan menyerah begitu saja?" tanya Guan Ho sang Menteri Kiri.
"Bisa dibilang ya, bisa juga dibilang tidak. Kita lihat siapa yang akan bertahan? Aku atau gadis desa itu?"
__ADS_1
Tbc....