
"Silahkan."
Yue tergoda untuk menggorok leher berotot itu. Toh si pemilik leher sudah mempersilahkannya. Tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Gu Zheng adalah makanan penutup dalam rencana balas dendamnya.
Ia pun bangkit dari perut keras itu dan melangkah menuju pintu kamarnya. Membuka pintu itu serta mengisyaratkan agar pria itu segera keluar dari kamarnya sebelum dirinya berubah pikiran.
"Kau mengusirku? Baiklah."
Yue membuang muka saat Gu Zheng berjalan di depannya. Berusaha tetap setenang mungkin. Ini tidak akan mudah, tapi ia mencoba untuk tidak terlalu menghiraukan setiap godaan yang pria itu lemparkan padanya.
"Tidak ada ciuman selamat malam?"
Tetap bergeming di samping pintu sembari bersedekap. Tidak lupa ia menunjukkan tangannya yang masih memegang pisau. Sayang sekali pisau itu adalah pisau buah. Senjata yang kurang elit untuk mengancam seseorang bukan?
Tapi jika tahu bagaimana cara untuk menggunakannya, bahkan sehelai belang sekalipun bisa menjadi senjata pembunuh. Itu yang Lai Xin ajarkan padanya akhir-akhir ini.
Seperti yang Yue duga, Gu Zheng ternyata memang berani mencuri cium darinya. Dan malang untuk pria itu, Yue sudah mempersiapkan senjata yang lain.
Dengan keras ia menggigit bibir bawah Gu Zheng. Hingga berdarah. Terbukti dengan rasa asin yang Yue rasakan.
Tersentak dengan reaksi Yue, Gu Zheng segera mengakhiri ciumannya. Syukurlah, batin Yue.
"Kucing rumahan sudah menjelma menjadi singa, huh?" goda Gu Zheng sembari mengelap bibir dengan ibu jarinya. "Entah kenapa, seperti apapun dirimu, aku tetap menyukaimu."
Tidak ingin mendengar godaan Gu Zheng lebih jauh, ia melayangkan kakinya dan menendang pantat pria itu. Tidak ada lagi cara pengusiran secara halus. Gu Zheng yang menginginkan ini, maka ia akan bermain kasar.
"Baiklah. Baiklah," seringai Gu Zheng. "Selamat malam, Permaisuriku."
Suara tawa pria itu semakin membuatnya kesal bukan kepalang. Inilah Gu Zheng yang ia kenal, pria yang telah membawanya ke dalam busuknya istana kerajaan.
Ditindih, ditodong serta digigit. Malam ini sungguh menyenangkan bagi Gu Zheng. Ia membuang waktu dalam kesia\-siaan selama ini.
Tapi bagaimana pun ia juga manusia. Lumrah saat merasa sesuatu akan lebih terlihat menarik jika sudah menjadi milik orang lain. Terlepas dari perjuangan untuk mendapatkannya kembali, sepertinya ia akan sangat menikmati setiap penolakan Yue.
"Apa yang Anda lakukan malam\-malam begini? Seingatku, Anda belum mendapatkan izin untuk memasuki istana."
__ADS_1
Gu Zheng tidak mengenal pria ini. Tapi dari penampilannya seperti seorang pengawal.
"Aku hanya ingin jalan\-jalan."
"Dengan menyusup ke kamar Tuan Putri Yue Bi?"
"Apa masalahmu, Pengawal? Dia calon istriku."
"Masih calon, bukan istri. Ada peraturan yang harus diikuti. Saya bisa saja melaporkan ini pada Ratu."
"Lakukan saja," tantang Gu Zheng.
"Sebaiknya Anda lekas pergi sebelum menimbulkan kekacauan dan membangunkan seluruh penghuni istana pada tengah malam seperti ini."
Apa ada pilihan lain untuk Gu Zheng? Tidak. Lagipula ia tidak ingin membuat Yue semakin membencinya. Jadi ia akan mengalah. Mengalah untuk menang juga bagian dari hidup yang Gu Zheng jalani selama ini.
"Siapa namamu, Pengawal?"
"Cha Chang He."
"Akan aku ingat."
__ADS_1
Setelahnya, Gu Zheng pergi dari istana dengan perasaan kesal sekaligus senang. Ia tidak sabar untuk menjadikan Yue sebagai istrinya. Angannya semakin liar saat mengingat kala ia mencumbu gadis itu.
"Rasanya, kali ini aku harus pakai tameng untuk bisa menyentuhmu."
Hari besar itu akhirnya tiba. Tidak terlalu banyak tamu undangan yang Kerajaan Sichuan undang. Tidak seperti di Kerajaan Yuhan dulu. Tidak masalah, toh Yue tidak membutuhkan pesta yang terlalu berlebihan.
Seperti pernikahan politik pada umumnya, banyak yang mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. Para petinggi Kerajaan Yuhan yang semula menolak keras, kini ikut tersenyum lebar karena secara tidak langsung juga menerima hasilnya.
Berbeda halnya dengan para selir aka para ibu tiri Gu Zheng. Mereka semua memihak Huo Ah Mei. Dengan masuknya Yue sebagai selir, otomatis posisi mereka juga ikut terancam. Karena selama ini Ah Mei lah yang menopang hidup mereka. Memberikan tunjangan berlebih pada mereka dan sebagai gantinya para selir harus setia pada Ah Mei. Katakanlah bisa disebut sebaai membeli kesetiaan.
Tidak banyak yang Ah Mei lakukan selama pernikahan berlangsung. Gadis itu menjelma sebagai perwujudan sempurna seorang Permaisuri. Bijak, anggun dan ramah. Bahkan kalau pun itu kepada selir sang Kaisar.
Inilah topeng yang kakaknya maksud. Dan mau tidak mau, Yue juga harus memakainya. Jangan harap kali ini bisa menghindar dari takdir menyesakkan ini. Karena sudah terlambat baginya untuk mundur.
Setelah acara pengucapan janji selesai, pesta yang tidak terlalu besar pun mengiringi. Sederhana dan penuh kebahagiaan--kebahagiaan untuk mereka yang merasa menang.
Yue berencana memberikan sedikit kejutan pada tamu spesialnya. Jadi ia melangkah cepat ke kediaman para tamu.
Sebagian dari para tamu memang disarankan untuk menginap barang semalam atau dua malam di Kerajaan Sichuan. Bagaimana pun ia ingin menjadi tuan rumah yang baik.
Dari pada menemani Gu Zheng untuk malam pertama, Yue lebih memilih jalan-jalan malam dan sampailah pada ide untuk menyapa seseorang. Toh malam pertamanya sudah lama terlewat. Apa bedanya dengan malam-malam berikutnya? Tidak ada.
Sesuai salah satu syarat yang Yue ajukan. Ia dan Gu Zheng akan tidur secara terpisah sampai waktu yang tidak ditentukan. Biar pria itu merasakan rasanya ditolak dan harus menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Yue menemukan kamar yang ia cari. Tidak ada penjaga. Bagus. Tapi mungkin saja jebakan. Untuk berjaga, Yue merogoh belati di balik lengannya.
Perlahan, ia semakin mendekat. Dan berdiri di depan pintu.
"Pelayan, bawakan aku air hangat. Tenggorokanku sangat kering karena terlalu banyak minum arak."
Yue berjalan semakin mendekat ke dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin. Menutup pintunya perlahan.
"Pelayan apa kau dengar? Cepat bawakan aku minum!"
Bagus. Tamunya tidak menyadari keberadaan Yue. Terlebih memunggungi Yue sembari duduk di tepi jendela. Lengkap dengan belasan botol arak yang telah kosong di sampingnya.
"Apa kabar, Ah Mei-ah?"
__ADS_1
Tbc....