
Ngeri. Itu yang bisa Yue rasakan dari ekspresi Gu Zheng. Ia benar-benar tidak ingin berada di kamar ini dan mendapati pria itu mengelus perut Ah Mei nantinya.
Tapi sungguh, Yue penasaran dengan sikap Gu Zheng yang acuh setelah mendengar kabar kehamilan dari tabib istana.
"Keluar."
Satu kata itu mampu menarik semua atensi yang tadinya ditujukan untuk Ah Mei.
"Aku bilang, keluar kalian semua!" Kali ini Gu Zheng lebih meninggikan suaranya. Sontak membuat seluruh orang yang mendengarnya diam seketika. "Kecuali kalian, terutama kau, Selir Yue."
Yue merinding dibuatnya. Ada apa ini? Bukankah seharusnya ada tangisan haru, kebahagiaan atau semacamnya?
Dengan cepat para dayang dan juga tabib istana meninggalkan kamar itu. Mereka berdiri di depan kamar dan bergabung bersama para sesepuh yang sedari tadi berjajar rapi untuk memberikan selamat pada Ah Mei.
"Sudah cukup," ucap Gu Zheng akhirnya. "Aku bosan dan aku juga lelah."
"Nenek, Ibu, perlu kalian tahu bahwa anak itu bukan anakku. Jadi, aku tidak akan mengakui anak itu sampai kapanpun terlebih menjadikannya sebagai penerusku."
Baiklah. Ini kabar yang lebih mengejutkan ketimbang kehamilan Ah Mei, putus Yue. Dan demi Dewa ia menyukai kabar ini.
"A-apa maksudmu?"
"Cukup sudah aku menjadi orang yang sangat kejam dengan membiarkan darah dagingku meninggal bahkan sebelum aku sempat melihat wajahnya."
"Maaf kalau aku mengecewakan kalian. Yang jelas, anak yang ada di kandungan gadis itu bukan anakku."
"Tapi ... kau sudah seranjang dengan Permaisuri," ucap Ibu Suri Jia dengan gagap.
"Dan Nenek percaya kalau aku sudah meniduri gadis itu? Dan tolong, jangan menyebutnya sebagai Permaisuri. Dia tidak pantas dengan kedudukan itu."
"Kepala Dayang telah memastikan bahwa kalian sudah... ," kata Ibu Suri Han.
"Darahku, itu darahku. Aku melukai diriku sendiri dan lihatlah hasilnya, bahkan Kepala Dayang yang seharusnya sudah berpengalaman pun ikut tertipu dengan trik murahan yang aku buat."
"Aku tidak akan pernah sudi tidur dengan perempuan manapun, kecuali kau."
Yue tidak suka saat Gu Zheng membawa-bawa dirinya dalam masalah yang seharusnya serius ini. Dan astaga, kini semua perhatian kedua Ibu Suri beralih padanya.
__ADS_1
"Bisa kau jelaskan ini, Permaisuri?"
"A-aku... ini anak Yang Mulia. Semua itu tidak benar." Ah Mei bangkit dari ranjangnya dan menghampiri Gu Zheng sekaligus bergelayut di lengan pria itu. "Ini adalah anakmu, bagaimana bisa Anda begitu tega?"
"Oh, ayolah. Ini sangat memuakkan. Haruskah aku juga mengatakan bahwa kau yang telah membunuh anakku, calon penerusku?"
"Ibu!"
Ibu Suri Han berlari dan menangkap tubuh Ibu Suri Jia yang hampir terjatuh ke lantai. Bagi Yue, ini adalah drama yang tidak ingin ia lihat sama sekali.
Dengan Gu Zheng menyebutnya anaknya, sama artinya pria itu juga telah membuka luka hatinya kembali.
Yue hendak pergi secara diam-diam, tapi pergelangan tangannya ditangkap oleh Gu Zheng.
"Kita perbaiki semuanya. Semua kesalahan yang kuperbuat, akan kuperbaiki. Tetaplah tinggal sampai semua permainan ini berakhir," ucap Gu Zheng tanpa melihat Yue.
"Yang Mulia," seru Ah Mei yang meminta perhatian Gu Zheng.
"Jangan menyebutku dengan mulut kotormu itu!" Gu Zheng semakin geram saat Ah Mei memeluknya dengan erat.
"Aku sudah memenuhi janjiku pada Kaisar terdahulu. Jadi, kita akhiri saja ini." Gu Zheng bergeming di tempatnya, setengah menyentakkan tubuh Ah Mei untuk menjauh darinya. "Kalian dengar?! Aku tahu kalian tidak tuli! Bagaimana rasanya, huh? Mengetahui Permaisuri yang kalian elu-elukan berbuat sesuatu seperti ini?"
Yang tentu saja, mereka juga sama kagetnya seperti Yue sekarang ini.
****
"Ini... katakan kalau semua ini hanya lelucon," kata Ibu Suri Jia.
"Sayangnya bukan, Ibu," kata Ibu Suri Han.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan semua permainan yang kalian lakukan, tapi ...," ujar Ibu Suri Jia lemas, "ini menyangkut nyawa. Bagaimana mungkin kalian mempermainkan nyawa seorang anak tidak berdosa?!"
"Ini salahku," kata Gu Zheng.
"Tentu ini salahmu! Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal ini, Yang Mulia? Entah iblis apa yang merasuki kalian," kata Ibu Suri Jia lagi. "Selesaikan semuanya, tanpa harus mencoreng nama baik Kerajaan Yuhan."
Tegas dan menakutkan. Ini kali pertama Yue melihat Ibu Suri Jia begitu dingin. Dan ini pertama kalinya juga ia melihat ketegasan Sang Ibu Suri kepada para sesepuh.
__ADS_1
Biasanya wanita tua itu tidak ikut campur urusan istana lagi, tapi kali ini dia melakukannya. Terlihat kewibawaan yang masih mampu membuat para sesepuh tunduk.
"Dan kau, Perempuan Ular. Aku harap tidak pernah lagi melihatmu di sini. Apapun alasanmu, segera angkat kaki dari istana. Dan siapapun yang menolongnya, siapapun, jangan harap bisa melihat matahari terbit esok pagi," desis Ibu Suri Jia sambil meninggalkan kediaman Permaisuri.
"Yang Mulia, ini adalah anak Kaisar Gu Zheng!"
"Tutup mulutmu!"
Yue menggigit bibirnya, terbersit rasa kasihannya pada Ah Mei. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan melakukan hal sampai sejauh ini.
"Ah Mei-ah."
"Jangan sebut namaku dengan mulutmu!"
Gu Zheng maju dan meremas rahang Ah Mei dengan kasar. "Jangan membentak wanitaku dengan mulut jalangmu itu!"
Segera Yue meremas lengan Gu Zheng yang hendak menampar Ah Mei. "Yang Mulia, bisa kita pergi sekarang?"
"Kau dengar kan yang dikatakan Nenek? Segera angkat kakimu dari istana," desis Gu Zheng.
Pria itu membuka pintu kamar Ah Mei dengan kasar sembari menggeret Yue. Hal itu juga disaksikan oleh para sesepuh yang menunduk hormat. Takut akan kemurkaan Sang Kaisar.
****
"Yang Mulia."
Untuk kesekian kalinya panggilan Yue tidak digubris. Pria itu tetap saja menyeretnya ke kediaman Kaisar. Sudah berulang kali juga Yue menarik tangannya tapi semakin ia menariknya semakin erat pegangan Gu Zheng.
"Lepaskan!"
Sesampainya di sana, Gu Zheng mendorong Yue ke dinding, meraup wajahnya dan mencium Yue kasar.
Berontak, tentu saja. Ia tidak suka saat Gu Zheng bersikap kasar padanya. Hal itu membuatnya merasa semakin sakit.
"Lepaskan, Yang Mulia!"
"Tidak buruk, bukan?" kata Gu Zheng di bibir Yue. "Lama sekali aku menunggu hari ini tiba, saat dimana gadis itu menggali kuburnya sendiri. Saat dimana aku menciummu seperti ini."
__ADS_1
"Dengan begini, penghalangku untuk mendapatkanmu sudah tidak ada lagi," seringai Gu Zheng.
Tbc...