Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
VIII


__ADS_3

"Ke-kenapa?" Oh, Dewa. Apa ia akan dihukum pancung karena tidak sopan?


"Kau akan tahu nanti," ucap Gu Zheng.


Pria itu berjalan menjauhi Yue. Hampir saja ia bernafas lega sang Kaisar berjalan mendekati Yue lagi. Bahaya! Kepalanya seakan mendengar lonceng tanda bahaya. Kalau saja kakinya lebih panjang. Ia tidak akan berada di dekapan sang Kaisar sekarang. Pria itu bahkan membopongnya ke pinggir danau. Yue punya firasat buruk soal ini.


"Yang Mulia, apa yang anda lakukan?" ronta Yue, namun sia-sia.


Dalam sekejab sang Kaisar melemparkan tubuh Yue ke pinggiran danau. Alhasil ia basah kuyup sekarang. Untungnya pinggiran danau itu dangkal. Kalau saja sedikit dalam ia akan mati tenggelam karena tidak bisa berenang.


Yue cuma bisa melongo atas perlakuan kasar itu. Berbeda dengan sang Kaisar yang malah terkekeh geli di pinggiran danau sambil berjongkok.


"Aku tidak menerima kata tidak, Yue. Ini peringatan untukmu. Saat aku bilang kau harus menatapku maka kau akan melakukannya," kata Gu Zheng.


Yue ingin menangis sekarang. Ia merasa direndahkan. Apa salahnya? Belum habis dengan pikirannya, sang Kaisar sudah menarik tangan Yue agar berdiri. Pria itu bahkan membantunya keluar dari danau.


"Siapkan air hangat untuknya, juga kirimkan dayang untuk memberi tahu Ibu Suri, Nona Yue akan datang terlambat."


Setiap kata yang keluar dari mulut Gu Zheng bak titah mutlak. Yue takut sekaligus kagum pada pria itu. Seorang pria yang tahu bagaimana caranya menjadi seorang Kaisar.


"Maaf," ucap Gu Zheng sambil membelai pipi dingin Yue.

__ADS_1


Itu kata terakhir yang Yue dengar sebelum sang Kaisar pergi bersama beberapa pelayan.


"Nona, mari," kata seorang dayang.


Kesal rasanya. Karena saking kesalnya ia ingin menangis. Lihat saja, akan kubalas nanti, sumpah Yue dalam hati.


*****


Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian resmi, Yue diantar menuju ke istana para Ibu Suri. Ini kali pertama ia bertemu dengan mereka. Yue sangat gugup. Ia takut kalau akan membuat masalah untuk paman dan bibinya. Mereka sudah seperti orang tuanya sendiri semenjak kematian ayah dan ibunya.


Semoga ia tidak membuat bisnis keluarga Hwang hancur, pinta Yue.


Istana Ibu Suri bahkan lebih luas dari paviliun sang Kaisar. Tentu saja, sang Kaisar pastinya memiliki istananya sendiri. Paviliun hanya tempat peristirahatan sementara.


Yue biasa bermain petak umpet bersama anak-anak terlantar di sekitar rumahnya. Mereka pasti akan kegirangan kalau Yue mengajaknya ke tempat ini.


Salah seorang pelayan masuk ke dalam ruangan terlebih dulu dan memberitahukan kedatangan Yue pada Ibu Suri. Sekembalinya pelayan itu, Yue dipersilahkan untuk memasuki ruangan.


Yue bisa melihat dua wanita baya yang duduk tidak terlalu jauh satu sama lain.


"Kemarilah," perintah wanita yang paling tua.

__ADS_1


Dengan segan Yue menurutinya, ia duduk di depan kedua wanita baya itu, tapi sebelumnya Yue memberi hormat pada mereka.


"Akhirnya kita bertemu," kata wanita itu.


Yue tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apa. Melalui bulu matanya, Yue melirik mereka berdua. Kedua wanita itu terlihat begitu anggun dan cantik. Sangat berbeda dengan para rakyat yang harus hidup sederhana.


Yue mendengar suara pintu digeser. Seorang gadis cantik masuk dan memberi hormat kepada dua Ibu Suri. Lalu duduk di samping Yue.


"Baiklah. Karena kalian berdua sudah berada di sini, aku akan langsung mengatakannya," kata Ibu Suri muda.


"Kalian berdua di sini adalah calon permaisuri untuk Kaisar. Aku harap kalian bersaing secara jujur untuk mendapatkan hati sang Kaisar," kata Ibu Suri muda, "Putri Xiaoli, kau tahu banyak mengenai peraturan istana, tentu kau unggul dalam hal ini."


Apa ini? Ternyata bukan Yue saja yang menjadi calon permaisuri, ada gadis lain. Dan dia seorang Putri.


Sekilas Yue melihat kulit bersih Xiaoli yang indah. Dibandingkan kulitnya yang kusam jelas tidak ada apa-apanya. Gadis itu juga sangat cantik. Wajahnya mungil dan mulus.


Entah kenapa belum apa-apa Yue sudah merasa kalah dari Xiaoli. Tidak ada gunanya ia bertahan di istana, batin Yue. Apa sang Kaisar sudah bertemu dengan Xiaoli? Bisa Yue bayangkan kalau Kaisar Gu Zheng akan lebih memilih Xiaoli ketimbang dirinya.


Inikah rasanya patah hati, batin Yue sedih. Sehari ia dilambungkan begitu tinggi dan keesokan harinya ia dihempaskan lagi ke tanah berlumpur.


Haruskah ia menyerah?

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2