Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XIII


__ADS_3

Tidak bisa bergerak ataupun berdiri. Usaha Yue untuk mendorong sang Kaisar tidak membuahkan hasil. Yue benar-benar takut sekarang. Ia sudah biasa berurusan dengan pria paling kurang ajar sekalipun. Karena di kedainya banyak pria-pria semacam itu. Tapi pria yang ini adalah sang Kaisar. Tidak mungkin ia mengumpat pada pria itu. Oh, Dewa.


"Ibu Suri," kata Yue.


"Ck, kau tidak bisa membohongiku. Kau tidak pandai berbohong. Apa kau tahu itu?" ujar Gu Zheng.


Yue tahu, ia tidak pandai berbohong. Ia menghabiskan seluruh masa remajanya untuk mendengarkan ceramah dari Paman Hwang tentang kejujuran dan tanggung jawab. Seakan kata jujur sudah terpatri dan terukir di dalam kepalanya.


Tapi yang bisa ia lakukan sekarang memangnya? Gu Zheng semakin mendekatkan wajahnya. Astaga, situasi macam apa ini?


"Tapi saya tidak berbohong, Yang Mulia."


"Kali ini kau tidak bisa berkelit lagi, Yue. Kemarin lusa kau selamat, tapi tidak kali ini."


"Ini masih siang. Bahkan matahari masih bersinar."


Gu Zheng terlonjak saat mendengar suara itu. Yue dan sang Kaisar menoleh. Betapa malunya Yue pada Ibu Suri Han. Ia benar-benar tidak berbohong. Yue melihat sosok Ibu Suri dari kejauhan. Dasar Gu Zheng saja yang menganggapnya berbohong.


Sekarang mau ditaruh di mana mukanya. Ia seperti gadis murahan yang berusaha mengambil perhatian sang Kaisar. Melalui sudut matanya, Yue melirik Gu Zheng yang tenang-tenang saja. Ia mendesah pasrah.


"Ibu," sapa Gu Zheng.


"Anak muda zaman sekarang. Aku tahu kau Kaisar. Kau bisa memiliki wanita manapun yang kau inginkan. Tapi ... apa iya harus siang hari bolong seperti ini?"


"Menjelang sore, Ibu," celetuk Gu Zheng.


Apa bedanya siang hari bolong dan menjelang sore? batin Yue. Seharusnya bukan itu masalahnya. Anaknya--yang tidak lain adalah sang Kaisar hampir melakukan tindakan asusila kepadanya. Kepadanya! Perlu ditekankan.


Tapi seakan mereka sedang mengobrol santai di hari yang cerah. Kalau di desanya, Yue pasti sudah dipasung dan dirantai karena melakukan tindakan tidak senonoh.


"Apa yang kau lalukan di sini?" tanya Ibu Suri Han pada Yue.


"Mencari udara segar," jawab Yue lirih.

__ADS_1


"Apa?"


"Hanya mencari tempat yang tenang, Ibu Suri. Tapi ... sekarang sudah tidak tenang lagi," ujar Yue yang hampir menangis.


"Tidak bisakah kalian menunggu sampai upacara penerimaan permaisuri?"


Gu Zheng menggelengkan kepalanya, namuan di sisi lain Yue menganggukkan kepalanya. Oh, Dewa. Pria itu sudah benar-benar tidak bisa tertolong. Begitu juga dengan Yue yang sangat amat membutuhkan pertolongan saat ini. Ah Mei. Dasar penghianat!


"Ikutlah denganku," titah Ibu Suri.


Gu Zheng mengekor di belakang Ibu Suri, namun wanita itu segera menghentikan langkahnya. "Bukan kau, tapi Yue."


"Ah."


Mati sudah. Dengan langkah gontai Yue menuruti perintah Ibu Suri Han. Tapi coba tebak? Lagi-lagi Gu Zheng menyambar lengannya, saat Yue hendak melewati pria itu.


"Kita belum selesai," bisik Gu Zheng.


"Lain kali, saya akan membawa panci ke mana-mana. Dan kalau Anda berani macam-macam seperti ini lagi, saya akan memukul Anda dengan panci itu," bisik Yue yang tidak kalah lirih.


Masih dengan langkah gontai di belakang Ibu Suri Han. Ia mengingat kata-kata terakhirnya pada sang Kaisar. Sontak Yue langsung membekap mulutnya sekaligus memukul pelan mulut berkali-kali.


Yue baru sadar dengan apa yang sudah ia katakan pada sang Kaisar. Bagaimana mungkin ia membawa mulut ke istana? Harusnya ia meninggalkan saja mulutnya di rumah. Bisu sekalian.


Yue mengingat ekspresi sang Kaisar saat ia mengatakan kata-kata kasar itu. Kaget bercampur geli. Habis sudah. Sang Kaisar bahkan menyunggingkan senyumnya.


Ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya di danau Fengyan. Setelah ini semua selesai. Ia akan membuat perhitungan dengan Ah Mei. Lihat saja, batin Yue.


Wajah berapi-apinya kembali luruh saat ia memasuki kediaman Ibu Suri Han. Seperti biasa kamar yang luas. Kamar yang berkelas.


"Duduklah."


Yue mengambil tempat duduk di seberang Ibu Suri. Kepalanya tertunduk lebih dalam saat seorang dayang menuangkan teh hijau untuk mereka.

__ADS_1


"Aku memang tidak memiliki seorang putri, namun aku cukup tahu bahwa ini sangat berat untukmu. Untuk tinggal di istana yang dingin dan penuh dengan orang-orang yang memakai topeng."


Yue mendengarkan dengan seksama sembari memainkan jarinya.


"Aku hanya bisa mengingatkanmu untuk berhati-hati. Istana adalah tempat yang bahkan lebih berbahaya dari medan perang. Kau mengerti maksudku 'kan?"


"Ya, Ibu Suri."


"Kami tidak bisa merubah keputusan Gu Zheng untuk meminangmu dan menjadikanmu permaisuri. Tapi nyatanya ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Karena itu, aku sendiri yang akan bertanggung jawab atas pelatihan dan pendidikanmu sebagai permaisuri."


"Boleh saya menanyakan sesuatu?"


"Tentu."


"Kenapa putra Anda begitu bersikukuh untuk meminang saya? Saya sungguh tidak mengerti. Saya tidak pernah mengenal sang Kaisar sebelumnya. Kecuali saat dia memberi sambutan saat festifal-festival tertentu. Dan itupun saya melihatnya dari kejauhan, Yang Mulia."


Ibu Suri Han tersenyum mendengar Yue yang terus saja berbicara. Itu bukanlah 'menanyakan sesuatu'. Lebih mirip penjelasan malah.


"Aku juga ingin tahu. Kenapa dia begitu keras kepala terhadapmu? Kau yakin belum pernah bertemu dengan Gu Zheng sebelum ini?"


Yue menggangguk cepat. Ia bahkan tidak perlu berpikir atau mengingat lagi untuk menjawab pertanyaan Ibu Suri Han.


"Dia ... pernah menyelamatkan seorang gadis kecil dari desa yang diserang oleh pemberontak. Apakah kau masih tidak ingat?"


Yue menggelengkan kepalanya. "Saya ... tidak ingat."


"Mungkin karena waktu itu kau masih kecil. Begitu juga dengan Gu Zheng yang masih remaja. Dia pernah membawamu ke istana sekali. Gadis kecil yang bahkan tidak mau berbicara dengan siapapun. Tabib istana bahkan hampir menganggapnya bisu."


Samar-samar Yue bisa mengingat rumah merah yang sangat besar. Halaman yang luas dengan pohon dan bunga berwarna-warni. Serta seorang remaja laki-laki yang menggendong Yue di punggung.


"Nian," ucap Yue lirih.


"Dihadapan Raja terdahulu, Gu Zheng bersumpah akan menjadikan gadis kecil itu permaisurinya kelak. Dan sumpah itu disaksikan oleh para petinggi istana," ujar Ibu Suri Han.

__ADS_1


"Saat itulah kalian bertunangan."


Tbc...


__ADS_2