Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXXIII


__ADS_3

Ia harus bertahan. Dengan keadaan yang masih belum pulih benar, Yue memaksakan diri untuk tampil di hadapan semua tamu undangan. Ia harus melakukan ini dan menunjukkan pada Gu Zheng bahwa dirinya baik-baik saja tanpa pria itu.


Hanya berbekalkan sedikit pengetahuan tentang gerakan berpedang dengan melihat latihan Hong. Yue mengubahnya menjadi gerakan tarian pedang.


Tanpa melepaskan pandangannya pada Gu Zheng, Yue terus saja memperagakan tariannya. Tidak peduli dengan Ah Mei yang menatapnya marah.


Kakinya gemetaran, tentu saja. Ia takut saat mata semua orang mengenali siapa dirinya. Aib yang akan selalu Yue bawa seumur hidupnya berkat seseorang. Tapi ketakutan itu langsung sirna saat melihat Ah Mei yang berusaha menarik perhatian Gu Zheng.


Ia membuang muka dan beralih pada Lai Xin dan seorang gadis. Dan Yue yakin kalau gadis itu adalah kakak tertuanya. Menatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Tak dapat ia pungkiri, dirinya juga tersenyum tipis saat melihat mereka berdua.


Awal dari pertunjukan, Yue harus melakukan tarian itu sendiri dan kemudian beberapa gadis lain datang mengelilinginya. Menjadikan Yue sebagai pusat perhatian.


Untungnya tubuh Yue cukup gemulai untuk melakukan tarian ini. Bagaimana pun juga ia menggunakan pedang sungguhan. Ada kemungkinan ia akan melukai dirinya sendiri atau penari lain.


Sisanya ia hanya harus menunjukkan Yue yang belum pernah dilihat oleh siapapun.


*****


"Kerja bagus, Hong," puji Lai Xin.


Dengan malu-malu Hong menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Tuan Putri."


Bukan Yue yang menjadi perhatian Lai Xin, namun dua orang yang duduk jauh di seberang. Terutama si gadis yang tidak lain adalah Permaisuri Yuhan.


Ini kali kedua baginya melihat Permaisuri Yuhan secara jelas. Pikirannya terus saja berputar dan tangannya mengusap bagian lengan, menimbang akan melemparkan pisau yang ia sembunyikan di balik gaunnya. Dengan jarak ini, Lai Xin pasti bisa menancapkan pisaunya tepat di kepala gadis sialan itu. Kalau saja Hwei Yang tidak mengalihkan perhatiannya.


"Sisakan yang satu itu untuk adik kita tercinta," ucap Hwei Yang tanpa memandang Lai Xin.


"Aku tahu, lagipula terlalu banyak mata yang melihat," balas Lai Xin.


Tarian pedang yang dibawakan oleh Yue cukup memukau semua tamu, bahkan sebagian dari mereka berdecak kagum. Saling berbisik menanyakan nama adiknya.


Sudah menjadi hal yang biasa bagi seorang penari, yang mampu menarik perhatian para bangsawan, biasanya berakhir sebagai simpanan. Dan kalau beruntung bahkan bisa menjadi seorang selir.


Pelacur? Bukan. Seorang penari hanya setia pada satu tuan yang mampu menarik hatinya. Namun selama penari itu belum memiliki tuan, sang penari bebas menari untuk siapa saja.

__ADS_1


Itulah tujuan Yue. Menarik perhatian Gu Zheng. Dan nampaknya bahkan sebelum tarian dimulai, pria itu sudah menunjukkan ketertarikannya terlebih dulu.


Bisa Lai Xin lihat tatapan itu, tatapan yang membuatnya jengkel setengah mati. Tatapan yang penuh dengan kasih sayang dan hanya ditujukan untuk Yue.


Lalu, kenapa kau lepaskan dia? Brengsek, batinnya.


Tidak perlu menunggu lama untuk tahu semua kejadian yang menimpa Yue selama ini. Karena sumber informasinya sendiri yang datang tanpa diminta.


Bibi Hwang yang tidak lain adalah bibi Yue sendiri datang padanya dan meminta perlindungan untuk Yue. Awalnya wanita baya itu memang sedikit curiga saat Gu Zheng yang berumur sekitar enam belas tahun mendatangi kediaman Hwang dengan membawa seorang gadis kecil, namun kedua mata gadis itu ditutup dengan kain hitam.


Dengan alasan, wajahnya tidak ingin dilihat oleh gadis itu. Gu Zheng menyerahkannya pada keluarga Hwang untuk dirawat. Tentu saja adik Bibi Hwang Qing langsung menyetujuinya. Secara Hwang Dao tidak bisa mempunyai keturunan. Dan sepeninggalnya Hwang Dao dan suaminya, Hwang Qing lah yang merawat Yue.


Wanita baya itu juga memberi tahukan semua kebohongan yang Huo Ah Mei lakukan di depan Ibu Suri Jia. Yang menyatakan bahwa Ah mei lah yang seharusnya di rawat oleh keluarga Hwang, itu sama sekali tidak benar.


Hwang Qing sangat menyesalkan tindakan Gu Zheng terhadap putri angkatnya. Begitu dengan suaminya. Mengutuk tindakan sang Kaisar yang hanya ingin mempermainkan perasaan Yue.


Setengah kebenaran sudah Lai Xin dapatkan. Sekarang ia hanya harus mencari tahu apa alasannya Gu Zheng melakukan hal ini pada adiknya. Entah keyakinan yang datang dari mana, yang jelas Lai Xin merasa An Cheng Li terlibat dalam masalah ini. Cepat atau lambat ia akan segera tahu. Lihat saja, batinnya.


Setelah pertunjukan selesai, Lai Xin mohon undur diri untuk menemui Yue. Kerinduan membuatnya ingin memeluk sang Adik dengan erat. Ia juga akan meminta maaf karena terlambat mengenali gadis itu. Berkali-kali kalau perlu.


Ia menyusuri lorong untuk sampai di sebuah ruangan persiapan. Ruangan itu penuh dengan para penari dan penghibur. Tidak terlalu sulit untuk menemukan Yue. Mungkin dikarenakan gadis itu yang paling mencolok di antara mereka.


Seketika senyum terukir di wajah Yue. Senyum yang rasanya sudah lama tidak Lai Xin lihat. Ingin sekali ia menangis di pangkuan adiknya.


"Kau ... terlihat baik," ucap Lai Xin sambil menggigit bibir bawahnya. Menahan agar air matanya tidak jatuh. Tidak di depan Yue.


Tanpa aba-aba Yue langsung menerjang ke dalam pelukan Lai Xin sambil menyurukkan kepalanya. Ya, inilah yang sering Yue Bi lakukan dulu. Bermanja padanya.


Yue mendongak untuk melihat wajah Lai Xin yang hampir tidak bisa menahan air mata. Memalukan sekali, pikirnya. Ia ingin bisa menjadi sandaran untuk adiknya, bukannya cengeng seperti ini.


"Kau memberi mereka hiburan yang luar biasa," ujar Lai Xin.


Yue mengangguk. Adiknya masih belum bisa bicara. Ia hampir lupa. Tapi itu bukan masalah untuk Lai Xin. Mulai sekarang ia juga akan menjadi mulut untuk adiknya.


"Kak Hwei Yang ingin bertemu denganmu."

__ADS_1


Masih dengan mengenakan gaun merahnya, Yue mengikutinya ke tempat sang Kakak berada. Menunggu dengan tidak sabar. Lucu kalau mengingat Hwei Yang yang tidak bisa diam selama perjalan ke Kerajaan An. Terus saja menanyakan, apakah Yue Bi masih mengingatnya?


Tentu saja jawabannya adalah tidak. Karena Yue juga tidak mengingat Lai Xin.


Sesampainya di depan pintu, Lai Xin melihat Yue menarik nafasnya dalam-dalam. Sesaat setelah pintu terbuka, Hwei Yang langsung saja menghambur dan memeluk tubuh ringkih Yue. Tanpa menunggu mereka masuk terlebih dulu.


"Dasar tidak sabaran," sergah Lai Xin.


Reuni kecil keluarga Yuan berlangsung penuh dengan air mata terutama Hwei Yang yang tak henti menangis. Seakan tidak ingat statusnya sebagai seorang Ratu.


"Aku sudah mengizinkanmu tinggal di sini, sekarang kau harus ikut pulang dengan kami sesuai janjimu," ucap Hwei Yang. "Kalau kau mau, kau tidak perlu melakukan semua ini, huh."


"Kita lupakan semuanya, kita mulai dari awal. Tanpa mereka semua yang pernah menyakitimu. Bagaimana?"


Yue tertunduk dengan tawaran sang Kakak. Sebenarnya Hwei Yang sangat keberatan jika Yue harus kembali ke Yuhan. Begitu juga dengan dirinya. Tapi sifat keras kepala nampaknya masih melekat erat pada Yue.


Di suratnya dengan tegas menyatakan, bahwa ia tidak akan berhenti sampai semua kebenarannya terungkap. Dan Yue berpikir dengan mendapatkan posisi permaisuri Yuhan bisa memperbaiki segalanya.


Lai Xin sama sekali tidak mengerti dengan hal itu. Bukankah itu artinya adiknya akan kembali terikat dengan Gu Zheng? Bukankah hal itu akan mempersulit Yue kelak jika ingin kembali ke Sichuan?


Itu yang awalnya Lai Xin pikirkan. Dan semua pertanyaannya itu terjawab malam ini. Semua karena ego. Baik Yue dan Gu Zheng, masing-masing dari mereka telah saling jatuh cinta. Dan hanya dendam yang menghalangi mereka untuk mengakuinya secara lantang.


Ini akan sulit, batinnya.


******


Yue undur diri untuk istahat di kamarnya. Setelah menolakĀ  berkali-kali untuk tinggal di kamar sang Kakak tertua. Ia masih belum ingat betul tentang masa kecilnya. Rasanya sedikit canggung jika bersama dengan mereka lebih lama dari ini.


Ia juga menolak untuk di antar. Sikap gadis dewasa yang dipaksakan tentu saja. Bagaimana pun ia hampir menjadi seorang ibu. Itu artinya ia seorang wanita dewasa, bukan lagi gadis ingusan.


Yue mengelus perutnya pelan. Jika saja ia tidak begitu ceroboh, mungkin bayinya kini masih hidup. Penyesalan tanpa akhir mengiringi setiap tangisnya kala teringat kejadian malam itu.


Tentu saja saat mengingatnya, air mata juga ikut mengalir tanpa ia sadari. Menetes begitu saja. Lekas Yue menghapus jejak air matanya dan mempercepat langkah menuju kamarnya.


Tepat di belokan lorong ia merasakan tangannya ditarik dengan kuat ke dalam kegelapan. Memaksanya menjauhi cahaya lampion yang menerangi lorong.

__ADS_1


Kejadian itu begitu cepat. Hingga membuat dirinya lambat untuk bereaksi. Tanpa bisa melihat siapa pelakunya. Yue hanya bisa merasakan saat sesuatu yang hangat menempel di bibirnya.


Tbc....


__ADS_2