
Bagi Ah Mei, apapun akan ia lakukan. Asalkan Gu Zheng jatuh ke pelukannya. Tidak buruk juga mengikuti rencana dari Selir Sui. Yah, akhirnya wanita itu ada gunanya juga.
Tidak percuma ia mempertahankan wanita baya itu di istana. Harus Ah Mei akui, rencana wanita itu sangat pintar sekaligus licik. Dan ia suka.
Sekarang Ah Mei hanya harus memainkan perannya dengan baik. Sisanya, Selir Sui yang akan mengurusnya.
"Permaisuri, Selir Yue sudah menunggu Anda," kata pelayan Ah Mei.
"Mau apa lagi gadis itu?" gerutu Ah Mei.
Segera Ah Mei menghambur ke dalam paviliunnya dan mendapati Yue duduk di tepi ranjangnya.
Lancang sekali, batin Ah Mei.
"Nampaknya Anda sedang sibuk, ya?" tanya Yue.
"Tidak usah basa-basi, katakan saja apa maksud dan tujuanmu kemari?"
"Aku ingin mengunjungi temanku, apa itu dilarang?"
"Teman? Jangan terlalu lancang, kau cuma selir," kata Ah Mei sinis.
"Dan kau penipu sekaligus pembunuh."
Cukup lama mereka diam, namun tatapan mereka tersulut bak api. Saling melemparkan tatapan benci satu sama lain.
"Ruo, buatkan kami teh," perintah Ah Mei pada pelayannya.
Tidak perlu waktu lama untuk Ruo sang Pelayan menuangkan teh untuk Permaisuri dan Selir Yue. Karena gadis itu memang membuatnya di sana.
"Minumlah," perintah Ah Mei lagi saat Ruo menuangkan teh untuk Yue.
Sedangkan Yue, gadis itu hanya diam sambil menyernyit. Tatapannya turun untuk memperhatikan teh hangat yang mengepul di hadapannya. Lalu kembali menatap Ah Mei sembari tersenyum tipis.
Setelah Ruo mundur beberapa langkah dan memposisikan diri di belakang Ah Mei, Yue mengambil cangkir itu.
"Kau suka teh bunga rosella, bukan? Nikmatilah."
****
__ADS_1
Yue menyentuh bibir cangkirnya. Indah, batinnya. Maksudnya cangkir yang berukirkan burung phoenix yang ia pegang sekarang.
"Kita ... benar-benar teman baik, ya?" ucap Yue yang masih mengusap bibir cangkirnya. "Kau bahkan masih ingat dengan teh kesukaanku."
"Habiskan saja dan lekas pergi dari sini," sergah Ah Mei.
Yue tersenyum kecut. Kehancuran persahabatan mereka sudah tidak tertolong lagi. Ah, ia bahkan mulai ragu bahwa mereka selama ini adalah sahabat.
Dengan perlahan Yue menggeser cangkirnya ke depan Ah Mei. Ya, ia tidak bodoh dengan menerima apapun yang gadis itu berikan sekarang.
Menukar cangkirnya sendiri dengan cangkir Ah Mei. "Minumlah, Permaisuri. Ini adalah kediamanmu. Harusnya Anda yang lebih dulu meminum tehnya sebelum tamumu. Ah, apa Anda sudah lupa etika istana?"
"Lagipula, mana berani saya mendahului Anda yang seorang Permaisuri," tambah Yue.
Jelas Yue menangkap raut geram di wajah Ah Mei. Bahkan wajah gadis itu terkesan merah karena marah.
Beberapa saat berlalu dan Ah Mei tetap bergeming tidak ingin menyentuh teh yang tersaji di depannya.
"Aku tidak sebodoh itu, Ah Mei-ah. Jadi ... dengan kau yang tidak menyentuh cangkir tehmu, bisa kuartikan bahwa kau ingin meracuniku lagi, benar bukan?"
Yue mengambil cangkir yang tadinya milik Ah Mei. Hendak menyesapnya, namun terhenti di depan bibir Yue. Dengan pandangan yang tidak lepas dari Ah Mei, Yue menjauhkan cangkir itu dari bibirnya lalu menuangkan atau lebih tepatnya membuangnya di lantai. Cairan berwarna coklat kemerahan itu mengucur perlahan dari dalam cangkir mungil itu.
"Ah ya, aku ke sini untuk memeberitahukan kalau aku tidak akan melepaskan Gu Zheng begitu saja. Sudah kuputuskan akan merebutnya darimu secara harfiah. Kau tahu maksudku kan? Itu artinya juga sekaligus mendepakmu dari posisi permaisuri. Jadi, bersiaplah."
Gadis di depannya itu tetap terdiam dalam amarahnya. Sekilas Yue melihat Ah Mei menggenggam pinggiran meja. Mungkin sudah remuk sebagian.
Meja yang malang, batin Yue.
Dengan dagu terangkat bak bangsawan yang sesungguhnya, Yue melewati pelayan Ah Mei dan menyenggol bahu Ruo dengan cukup keras. Sengaja. Ya, ia sangat sengaja.
Setelah keluar dari kediaman Ah Mei, Yue berjalan cepat menuju kediaman Gu Zheng. Baiklah, sudah ia putuskan. Terlalu sulit untuknya menjauhi Gu Zheng. Seperti yang sudah Gu Zheng katakan, mereka suami-istri.Jadi apa salahnya jika ia menggoda pria itu sedikit.
Terlalu berat untuknya membalas perlakuan Ah Mei bersamaan dengan Gu Zheng. Ia akan melakukannya perlahan dan satu per satu. Oh ayolah, ia tidak setegar dan setangguh Lai Xin kakaknya.
"Kau menjadi gadis yang berbeda, huh?" kata seseorang yang berjalan di belakang Yue.
"Sesuai saranmu."
****
__ADS_1
"Selamat, Permaisuri."
"Selamat, Permaisuri," ucap para sesepuh secara bersamaan.
"Akhirnya Kerajaan Yuhan memiliki garis penerus tahta."
Yue sedikit tercengang dibuatnya. Baru juga satu jam yang lalu ia keluar dari kediaman Permaisuri. Ia sudah mendengar kegaduhan dari tempat itu. Para dayang bilang, Permaisuri pingsan.
Ah Mei terlihat bugar saat terakhir kali Yue meninggalkannya, kecuali wajahnya yang memerah karena marah. Atau tanpa sengaja gadis itu menenggak teh beracunnya sendiri, entahlah.
Lalu sekarang ia juga mendengar tentang kabar kehamilan gadis itu. Jadi, seluruh istana dibuat heboh oleh Ah Mei. Berlebihan.
Tentunya kedua ibu suri yang tadinya anteng di kediamannya juga ikut muncul ke permukaan dan sialnya Ibu Suri Han dengan tidak berperasaan menyeret Yue untuk ikut menjenguk Ah Mei.
Jadi di sinilah Yue. Mendengarkan seruan selamat dari para sesepuh yang berada di luar kediaman Permaisuri berkali-kali. Panas rasanya kuping Yue.
"Kau tidak apa-apa, Permaisuri?" tanya Ibu Suri Jia dengan raut wajah khawatir.
"Saya merasa baikan, Yang Mulia."
"Oh, syukurlah."
Kesal, cemburu atau apapun itu. Perasaan yang tidak mengenakkan saat Ah Mei mendapatkan perhatian lebih karena statusnya sebagai Permaisuri.
Tapi Yue tidak akan ambil pusing. Ia tahu saat ini pasti akan tiba. Dan mau tidak mau Yue harus bisa menahan perasaannya. Ya, ia harus terima.
"Ada apa ini?" tanya suara dari luar pintu.
Siapa lagi kalau bukan Gu Zheng yang melangkah dengan anggunnya ke dalam kamar Ah Mei. Menyapu pandang ke semua orang yang berada di kamar itu.
"Selamat, Yang Mulia."
"Apa maksudmu, Pak Tua?" tanya Gu Zheng yang masih bingung pada tabib istana.
"Permaisuri ... sekarang sedang mengandung."
Yue melihat mimik wajah Gu Zheng yang terkesan lucu dengan seringaiannya. Bukan senyum senang yang seharusnya menghiasi wajah pria itu. Justru rasa jijik dan sinis tergambar jelas di sana.
"Benarkah?"
__ADS_1
Tbc...