Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XI


__ADS_3

Yue bergelung dengan memeluk selimutnya. Ia menolak bangun meski matahari sudah tinggi. Ia juga tidak mempedulikan para dayang yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas akhirnya Yue bangkit dan menyandarkan punggung pada kepala ranjangnya.


"Masuklah," ujar Yue.


Segera setelah mendapatkan izin dari Yue, beberapa dayang menyeruak masuk ke dalam kamar. Di tangan mereka membawa berbagai macam barang. Mulai dari perhiasan, pakaian sutra serta sarapannya.


"Harusnya Anda lebih berhati-hati lagi, Nona," kata seorang dayang sepuh.


"Maafkan aku, Bibi."


Yue memang sengaja bangun lebih lambat dari hari-hari biasanya. Karena ia tahu pelatihannya sebagai permaisuri dimulai hari ini sampai tiga minggu ke depan. Ia memang mengatakan pada sang Kaisar akan menjadi permaisuri terhebat sepanjang masa, namun nyalinya langsung menciut jika berhadapan dengan Putri Xiaoli.


Beberapa dayang membantu Yue untuk membersihkan diri serta mendandaninya. Hari ini ia mengenakan kain sutra berwarna pastel. Setelah ia siap dan selesai sarapan, para dayang mengantarnya ke tempat pelatihan.


Ia terus saja ketakutan semalaman. Yue baru bisa tidur saat menjelang fajar. Lebih baik menghadapi pada bandit pemabuk di kedainya ketimbang menjalani pelatihan permaisuri.


"Er, apa yang akan saya lakukan?" tanya Yue pada kepala dayang.


"Anda hanya harus menunjukkan yang terbaik. Jadilah diri Anda sendiri, Nona."


Tidak membantu. Sama sekali tidak membantu, batin Yue. Pintu bilik pelatihan sudah di depannya. Yue merasakan nafasnya menjadi lebih pendek serta debaran jantung yang semakin cepat.


Yue dipersilahkan masuk setelah seorang dayang membukakan pintu itu. Ia melangkah perlahan dan memandang seluruh ruangan. Dilihatnya Putri Xiaoli sudah duduk dengan anggun di salah satu kursi. Di depannya duduk wanita paruh baya dengan wajah menyeramkan menurut Yue.


"Maaf, saya terlambat," ujar Yue.


Wanita baya itu sama sekali tidak melirik ke arah Yue dan masih menekuni kain sulaman burung phoenix.


"Bagus, Tuan Putri. Anda sangat pandai menyulam," kata wanita baya itu.


"Anda terlalu memuji, Bibi Fu."


Sadar diacuhkan oleh mereka, Yue memilih tempat duduk di samping Xiaoli. Ia kesal dan ia akan membuat wanita baya itu mau menatapnya.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" tanya Yue dengan polosnya.

__ADS_1


"Tidak seharusnya Anda terlambat," jawan Bibi Fu yang masih tidak memandang Yue.


"Semua ini membuat saya gugup, hingga tidak bisa tidur." Yue tidak perlu menjelaskan lebih jauh alasannya. Karena ia yakin Bibi Fu sama sekali tidak tertarik sama sekali.


Benar saja, Bibi Fu sama sekali tidak peduli. Terlihat enggan malah. Begitu juga dengan Xiaoli yang acuh. Sangat berbeda dengan Tuan Putri yang ia lihat semalam. Ramah dan penuh senyum di hadapan semua orang di pesta.


"Baiklah kita mulai saja," ujar Bibi Fu.


Beberapa saat kemudian, empat gadis dayang masuk dengan berpasangan sembari menggotong meja yang penuh dengan buku-buku. Diletakkannya meja itu di samping Bibi Fu lalu kembali menghilang di balik pintu.


"Pertama-tama peraturan istana dan segala yang berhubungan dengan istana," ujar Bibi Fu.


"Saya yakin Putri Xiaoli sudah hafal di luar kepala. Jadi tugas kali ini hanya berlaku untuk Anda, Nona Yue."


Tanpa sadar Yue melongo mendengarnya. Melihat Bibi Fu dan tumpukan buku-buku secara bergantian.


"Saya tidak yakin akan bisa menghafal semua itu," cicit Yue.


"Tentu saja. Aku saja menghabiskan setahun penuh di saat usiaku masih tiga belas tahun," sahut Xiaoli.


Yue merasa ejekan itu terlalu berlebihan. Ketakutannya menjadi nyata. Yue sama sekali tidak takut dengan pelajaran yang akan ia terima. Ia hanya tidak tahan di ejek seperti barusan. Bagaimana pun juga Yue punya harga diri. Meski rakyat jelata, ia cukup disegani di antara warga sekitar dan bandit di daerahnya. Aneh, tapi itulah kenyataannya.


"Padahal tidak ada banyak waktu yang tersisa sebelum upacara penyambutan permaisuri," keluh Fu Bao. "Sudah jelas siapa yang akan terpilih."


Yue mencebikkan bibirnya, kebiasaan buruk yang Ah Mei larang semalam. Ini istana, tidak baik bersikap layaknya para bandit yang rutin berkunjung ke kedainya.


"Satu minggu. Setelah itu biar takdir yang menentukan," ucap Bibi Fu.


Yue mengangguk patuh. Ia bertekad akan menghafal semua buku itu dalam seminggu. Ia akan menunjukkan pada para bangsawan ini bahwa rakyat jelata juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan.


Tidak ada yang berarti dari pelatihan singkat itu. Yue memilih meninggalkan bilik pelatihan dan mencari tempat untuk membaca. Meninggalkan Xiaoli yang masih bersama dengan Fu Bao. Yue sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Ia hanya membutuhkan tempat tenang dan sepi.Tiba-tiba ia teringat dengan paviliun milik sang Kaisar.


Kalau Yue beruntung, ia akan mencari sudut tersembunyi dekat danau tanpa sepengetahuan sang Kaisar.


Di belakangnya. Empat dayang yang menggotong meja berisikan buku ikut berhenti saat Yue menghentikan langkahnya. Ia hanya mengambil tiga buku dari sana.

__ADS_1


"Sisanya, bisakah kalian mengantarnya ke kamarku. Aku akan sangat berterima kasih," kata Yue dengan tersenyum manis.


"Baik," jawab mereka secara bersamaan.


Tidak ada pengawalan, itu artinya Yue bebas menyelinap. Persetan dengan peraruran istana, putusnya.


Bergegas menuju paviliun milik sang Kaisar, Yue sama sekali tidak menyangka akan muncul seseorang di sudut jalan hingga ia terpental karena menabrak orang itu.


"Aduh," rintih Yue yang jatuh dengan pantatnya terlebih dulu.


"Maafkan aku. Aku sama sekali tidak menyangka akan ada seseorang," kata suara berat itu.


Yue menengadah dan melihat sesosok pria yang tak kalah indah dari sang Kaisar. Dengan membersihkan bajunya, Yue berusaha bangun.


Yue tidak menerima uluran tangan pria itu. Tidak sopan menerima tangan pria yang belum ia kenal.


"Kau tak apa?"


"Ya. Saya harap, saya masih bisa berjalan," jawab Yue.


"Separah itukah?"


Yue menggeleng. "Bukan masalah, Tuan."


Yue segera undur diri setelah memastikan gaunnya bersih dari debu. Ia masih punya hal penting yang harus dikerjakan dari pada ribut karena hal kecil.


"Semoga saja dia tidak ada di sana."


*****


"Gadis yang lucu," gumam Fang Wei.


"Salah satu calon permaisuri," sahut pria dari balik pilar.


"Sayang sekali, gadis yang malang."

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2