
Gu Zheng menatap jengah setiap penari yang tersuguh di depannya. Ia lebih memilih memalingkan mukanya dan menatap jauh ke luar jendela. Kenyataan bahwa ia tidak tahu menahu tentang pesta kecil yang diadakan oleh teman-temannya, membuat Gu Zheng semakin tidak tertarik dengan pesta itu.
"Yang Mulia, mereka adalah penari terbaik di Rumah Zao. Saya harap Anda terhibur," kata si pemilik rumah.
Ma Zao pemilik sekaligus kepala pelayan yang khusus untuk melayani Gu Zheng beserta rombongan malam ini. Zao sangat terkenal dengan wanita-wanita cantik mereka. Rumah bordil paling berkelas dan hanya untuk para bangsawan. Tapi definisi bangsawan tidaklah sesempit itu bagi Ma Zao. Siapapun diterima asalkan mereka memiliki kantong tebal. Tidak peduli gelandangan sekalipun, ada uang, maka ada wanita dan minuman.
Beruntung pria berkumis tipis itu belum pernah menjumpai gelandangan berkantong tebal. Jadi, bisa dibilang rumah bordilnya masih suci dari kaum melarat.
Bagi Gu Zheng yang ingin mengisi waktu luangnya, kegiatan seperti ini sudah biasa dilakukannya. Tapi bukan berarti ia akan main wanita seenaknya di sini. Ia punya prinsip. Ya, ia masih perjaka.
Hanya untuk Yue.
Lagipula Gu Zheng tidak ingin seperti ayahnya yang terkenal sangat menyukai wanita. Segala jenis wanita cantik pernah naik ke ranjang utama istana berkat ayahnya. Meski hanya bertahan semalam atau dua malam.
Gu Zheng tidak ingin seperti itu. Bukannya ia tidak menyukai wanita. Hanya saja, wanita bagi Gu Zheng cuma terpaku pada sosok Yue seorang. Sejak dulu.
"Pergilah ke dapur, Tuan Ma. Ambilkan Tuanku arak terbaikmu!" seru Qi Zi.
"Baik, Tuan." Dengan terburu Ma Zao melakukan yang diperintahkan oleh sang Panglima.
"Jadi ... dia yang saya lihat pagi itu?" tanya Qi Zi.
Tidak adanya jawaban dari Gu Zheng malah membuat sang Panglima tertawa terbahak-bahak. Kedua pria lainnya berpandangan satu sama lain. Berusaha untuk mengerti situasi dan maksud dari Qi Zi.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Ren Hao penasaran yang akhirnya angkat bicara.
"Salah satu calon permaisuri tentunya, siapa lagi?" jawab Qi Zi.
"Anda sudah tidak perjaka lagi, Yang Mulia?" tanya Yu Dong.
"Astaga. Bisakah kita tidak membahas perjaka atau tidaknya diriku?" sergah Gu Zheng yang mulai kesal.
Ketiga pria di depan Gu Zheng tergelak. Lalu kemudian tertawa. "Karena itu kami ingin merayakannya. Untuk Kaisar Gu Zheng!"
Ketiga pria selain Gu Zheng sontak berdiri sambil memegang gelas arak di tangan mereka. Saling bersulang dan lagi-lagi tertawa.
"Terserah kalian," ujar Gu Zheng malas.
"Tunggu," sela Yu Dong yang kemudian berdehem. "Apa itu masih bisa berdiri? Maksud saya ... Anda belum pernah menyentuh wanita seorang pun sebelum ini. Tentu Anda tidak mengecewakan gadis malang itu, bukan?"
Ketiga teman Gu Zheng secara bersamaan bersorak 'huu'. Ia sudah biasa diabaikan oleh ketiga orang kepercayaannya itu jika hanya ada mereka berempat. Mungkin efek teman sedari kecil. Tumbuh dan besar bersama di istana yang sempit. Gu Zheng tidak hanya menganggap mereka teman tapi juga sebagai guru. Karena merekalah yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum naik tahta.
Ia sangat menghormati mereka terutama Qi Zi. Pria kekar itu yang paling tua di antara mereka.
"Baiklah, baiklah saatnya untuk memulai pembicaraan serius," kata Ren Hao. "Berikan laporan kalian masing-masing."
Raut wajah Gu Zheng berubah serius dan pandangan matanya menajam. Secara rutin mereka memang diwajibkan untuk melapor padanya. Selain teman, mereka juga mata sekaligus telinga Gu Zheng. Tanpa sepengetahuan pihak istana tentunya. Bisa dibilang informasi yang tidak legal memang. Tidak legal menurut mereka yang menganggap Gu Zheng tidak seharusnya tahu.
__ADS_1
Hah! Ia sang Kaisar. Tapi gelar itu malah menghalanginya untuk mendengar dan melihat karena sayangnya semua informasi sudah disaring dan dipangkas saat sudah mencapai dirinya. Tentu mau tidak mau Gu Zheng harus mencari cara lain untuk tahu semua hal.
Qi Zi yang memulai lebih dulu. Pria itu menggedikkan dagunya pada penjaga di luar bilik. Untuk memastikan tidak akan ada mata dan telinga lain yang akan ikut ambil bagian dalam kelompok kecil mereka.
"Baiklah, nampaknya kerajaan An memang sangat bernafsu menjadikanmu menantu mereka. Perjanjian damai wilayah selatan akan menjadi hadiah untuk pernikahanmu dengan Putri An."
"Tapi mereka sendiri yang secara sembunyi-sembunyi mengirimkan para pemberontak ke tanah Yuhan. Jadi perjanjian damai itu seperti ... mengada-ada," sahut Ren Hao.
"Ya, hanya sebuah alasan untuk membuatmu menyetujuinya. Pastinya mereka berpikir kau akan setuju tanpa pikir panjang," tambah Yu Dong. "Mereka juga bahkan dengan terang-terangan menyelundupkan budak ke tanah mereka."
"Kau harus bertindak. Gadis itu layaknya pawang di kandang singa. Dan kau singanya. Mereka berpikir kau akan tutup mata dengan kehadiran gadis itu," kata Qi Zi.
"Aku mengkhawatirkan calon permaisuri," ujar Gu Zheng lirih.
Ya, hanya Yue yang Gu Zheng khawatirkan. Menjadikan gadis itu sebagai permaisuri berarti perang dengan kerajaan An. Xiao Li seperti pedang bermata dua. Satu sisi mampu menusuknya dan sisi lain mampu menusuk Yue. Dan ia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Gu Zheng kembali memikirkan omongan nenek dan ibunya untuk menjadikan Yue sebagai selir. Lalu kembali memikirkan rakyatnya diperbatasan yang secara diam-diam diculik dari rumah mereka dan dijadikan budak oleh kerajaan An.
Cih, fraksi oposisi sudah pasti terlibat. Pada akhirnya tuduhan sebagai kaisar yang tidak kompeten akan mengotori gelarnya sebagai kaisar. Berikutnya pemberontakan demi pemberontakan akan bermunculan. Mana yang harus ia pilih? Rakyatnya atau Yue?
Dengan memilih Yue sebagai selir tak lantas membuatnya kalah, toh hatinya sudah tertambat pada gadis itu. Gu Zheng kembali membuang muka sembari memutar gelas araknya.
"Karena ini, aku membenci diriku yang sebagai Kaisar."
__ADS_1
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
Tbc...