Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XX


__ADS_3

"Maaf kalau kami tidak sopan, Yang Mulia," kata Paman Luo.


"Karena itukah kalian melarangnya untuk mencicipinya?"


"Karena Yue sudah pernah mencicipinya maka dari itu kami melarangnya untuk menyentuh manisan itu. Dan saat itu dia hampir membakar habis kedai dan rumah karena mabuk."


Gu Zheng kembali terkekeh. Bisa ia bayangkan seperti apa Yue waktu itu. Mungkin kapan-kapan ia akan memesan khusus sekotak manisan istimewa itu dari Bibi Qing dan memberikannya pada Yue. Ia ingin melihat seluruh penghuni istana kalang kabut saat Yue membakar habis tempat itu. Ide yang bagus.


"Lagi pula, manisan ini sangat-sangat istimewa," kata Paman Luo sambil mendekatkan wajahnya dan hendak berbisik. "Apa Anda tidak merasakan sesuatu yang berbeda?"


"Maksud Paman terangsang?"


"Ya, yang ini tidak hanya mengandung alkohol tapi juga obat penguat. Kalian akan menginap di sini malam ini, bukan?"


Gu Zheng juga ingin seperti itu, tapi besok adalah acara pernikahannya. Tidak mungkin ia meninggalkan segala hiruk pikuk istana terlalu lama saat ini.


"Maaf, Paman. Tapi kami harus kembali setelah ini. Tujuanku ke sini hari ini hanya ingin meminta Yue secara resmi pada kalian."


"Ah, sayang sekali. Padahal kami sudah menyiapkan kamar khusus untuk kalian. Tapi tidak apa-apa, kami sangat mengerti, Yang Mulia."


*****


Tidak lama Gu Zheng kembali dengan Paman Luo. Dan Yue masih dalam keadaan cemberut.


"Baiklah, kami tidak bisa terlalu lama. Jadi, bisakah kita mulai?" tanya Gu Zheng dengan nada berwibawa.


"Tentu, Yang Mulia."


Gu Zheng dan Yue memberi hormat pada kepada Paman dan Bibi Hwang. Membungkuk sekali, dua kali. Lalu kembali duduk.


"Izinkan saya menikahi putri kalian. Mungkin istana bukan tempat terbaik dan teraman, tapi saya akan berjanji menjaganya seumur hidup saya." Ini kali pertama Gu Zheng menunjukkan wajah tegasnya di hadapan Paman dan Bibi Hwang.


"Ada saatnya dia akan bersedih, tapi saya akan menghiburnya. Hanya itu yang bisa saya katakan. Dan hanya Yue yang kelak melahirkan penerus tahta kerajaan Yuhan."


Jantung Yue kembali berdebar kencang, ia melirik bibinya yang berlinang air mata karena tidak bisa menahan haru. Sedangkan pamannya, memasang wajah yang sama tegasnya dengan Gu Zheng.


"Dia ... dia bukan gadis yang sempurna. Sama sekali tidak anggun layaknya putri. Ceroboh, sering kali bertindak gegabah. Tapi dia putri kami yang paling kami cintai. Saya mohon jagalah dia, Yang Mulia."


Acara lamaran sederhana itu berlangsung singkat tapi mampu membuat Bibi Qing mengurai air mata tanpa henti. Bahkan sampai saat Yue berpamitan.


"Saya sudah menyiapkan kuda untuk kalian."


Tanpa terlihat oleh siapapun Gu Zheng dan Yue digiring ke bagian belakang rumah. Di sana seekor kuda jantan terikat di pohon sambil merumput.


"Ingatlah, kau harus selalu patuh pada sang Kaisar," ucap Bibi Qing pada Yue.


"Sudahlah, Bibi. Berhentilah menangis. Aku hanya akan pergi ke istana. Bukannya berperang."


Bibi Qing menggelengkan kepalanya. "Justru di sanalah ...."


"Sudahlah, mereka harus segera pergi," sahut Paman Luo.


Dengan tangkas Gu Zheng menaiki kuda itu setelah melepas ikatannya. Pria itu menarik tangan Yue dan mendudukkannya di depan.


"Kami permisi," pamit Gu Zheng.


Dengan cepat Gu Zheng memacu kuda itu. Agak kurang nyaman untuk Yue duduk berhimpitan seperti sekarang ini. Nafas sang Kaisar membelai ujung kepalanya. Beruntung dada yang bidang dan lebar Gu Zheng membuatnya merasa sangat nyaman.


Gu Zheng memilih jalur memutar dan menuju danau Fengyan untuk sampai di istana. "Aku ingin berjalan-jalan sebentar."

__ADS_1


Yue mengangguk sebagai jawaban. Ia juga sudah lama tidak mengunjungi danau itu. Terakhir kali ia ke sana bersama dengan Ah Mei. Benar juga, akhir-akhir ini temannya itu tidak mengunjungi lagi. Mungkin sibuk dengan segala persiapan pernikahan, pikir Yue.


Yue sedikit bergidik saat merasakan setitik air dingin jatuh di atas kulitnya. Kian lama setitik air itu berubah jadi gerimis.


"Aneh, padahal tidak ada mendung dan matahari bersinar terang," kata Yue.


"Mungkin sebaiknya kita berteduh," ujar Gu Zheng.


Gu Zheng memacu pelan kudanya pada sebuah lumbung yang tidak jauh di depan mereka. Segera Yue turun dan merapikan bajunya yang setengah basah.


"Harusnya kita langsung kembali ke istana saja tadi," kata Yue. "Benar-benar aneh. Padahal bukan musim hujan."


"Mungkin Dewa merencanakan sesuatu yang lain," balas Gu Zheng jahil.


Yue merasa canggung. Sebaliknya dengan Gu Zheng, pria itu menuntun kudanya untuk masuk ke dalam lumbung dan mengikat tali kekangnya pada sebuah tiang.


"Dewa mengerti, aku membutuhkan istirahat sejenak," kata Gu Zheng lagi yang kini berjalan ke setumpukan jerami di atas tanah. Lalu berbaring di sana.


"Apa mereka tidak akan mencarimu, Yang Mulia? Maksudku ...."


"Kemarilah," sahut Gu Zheng.


Yue tampak ragu. Tapi ia mulai kedinginan. Dan setumpukan jerami itu tampak hangat. Ia berjalan miring layaknya sebuah kepiting. Selangkah lalu berhenti. Selangkah lagi dan berhenti lagi.


"Bisakah, Anda bergeser ke sana?"


"Aku sudah nyaman dengan tempatku, aku yang lebih dulu berbaring," kata Gu Zheng.


Yue tidak percaya pria itu begitu egois. Bisa-bisanya mengatakan hal yang sedemikian rupa. Ia menyipitkan matanya dan duduk di atas jerami sambil tetap menjaga jarak.


"Ah, ini tidak baik. Sepertinya manisan itu mulai mempengaruhiku," kata Gu Zheng yang beralih duduk menatap dan Yue.


"Apa yang harus kulakukan padamu?" tanya Gu Zheng dengan suara menggoda.


Yue kenal tabiat itu. Kembali lonceng tanda bahaya berdentang di dalam kepalanya. Ia hendak kembali berdiri, namun terlambat. Gu Zheng menyambarnya terlebih dulu. Yang otomatis membuat ia terjatuh di atas pangkuan sang Kaisar dengan kedua tangan yang digenggam erat.


"Ini benar-benar buruk," kata Gu Zheng pada punggung Yue. Tarikan dan hembusan nafas pria itu semakin membuat Yue bergidik.


"Ya, tentu saja ini buruk. Mungkin karena baju kita basah dan sekarang kita kedinginan."


Yue tersentak oleh ucapannya sendiri. Ia seperti menyiram api pada minyak. Dasar mulut lancang!


*****


"Kalimat yang salah," ucap Gu Zheng.


Gu Zheng menarik dagu Yue dan memiringkannya agar bisa mencium gadis itu. "Sekarang. Aku menginginkanmu sekarang."


Yue menatap nanar saat sebelah tangan sang Kaisar menyusup ke dalam bajunya. Sontak tangan dingin Gu Zheng menyadarkannya.


"Ini ... ini tidak baik, Yang Mulia."


"Aku tahu, tapi ...," kata Gu Zheng. "Kau bisa menyalahkan pamanmu dalam hal ini."


Gu Zheng membanting pelan Yue dan menindihnya di atas jerami. Ia kembali mencium Yue dalam-dalam. Sebelah tangannya menahan tangan Yue di atas kepala. Dan sebelah tangannya yang bebas kembali menyusup serta menarik tali pengikat baju Yue.


Memastikan Yue tidak akan memberontak, ia mencium tanpa henti sambil dengan cepat membuka helai demi helai gaun gadis itu. Menelanjangi hingga tersisa pakaian dalam tipis.


Gu Zheng melihat kain tipis basah itu melekat pas seperti kulit kedua Yue. Memperlihatkan dua ** yang mengeras.

__ADS_1


"Kurasa, kali ini aku tidak akan bisa menahan diri," ucap Gu Zheng lirih di telinga Yue.


"S-saya ...."


"Izinkan aku memilikimu sekarang." Gu Zheng dengan berani menangkup payudara yang berbalut kain tipis itu. "Sekarang atau tidak sama sekali. Katakan, ya."


"Tidak."


Gu Zheng tersenyum jahil. "Seakan jawabanmu akan mempengaruhi niatku."


Tali pengikat rambutnya ia pergunakan untuk mengikat kedua tangan Yue. Rambut panjang Gu Zheng yang tergerai beradu dengan rambut panjang Yue.


Perlahan Gu Zheng melepaskan kain tipis terakhir dan menyingkapnya. Ia bahkan mendengar Yue memelik saat ia melakukannya.


Jemari Gu Zheng seakan menari di atas perut Yue, menggodanya serta menyiksa gadis itu. Dan berakhir pada pada ** merah muda. Tidak membuang waktu Gu Zheng mengulum ** itu.


Beberapa kali Yue menjerit pelan. Tapi Gu Zheng terbutakan oleh hasrat. Ia bahkan meninggalkan beberapa bekas ciuman di atas payudara gadis itu sebelum beralih pada bagian bawah tubuh Yue.


Gu Zheng menekuk kaki Yue dan memposisikan tubuh diantara kedua kaki Yue. Kini tangan Gu Zheng membelai daerah sensitif Yue dengan perlahan. Ia akan memberikan pengalaman yang tidak akan pernah gadis itu lupakan seumur hidupnya. Memang bukan di ranjang istana. Tapi sekarang semua itu tidak penting.


Perlahan memasukkan satu jarinya dan melihat reaksi Yue. Sangat menggemaskan melihat gadis itu menahan suaranya sambil memejamkan mata.


Ia mulai mengeluar masukkan jarinya dan menambah jarinya saat memasukkankan ke inti Yue. Gadis itu juga menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan suaranya agar tidak keluar.


"Kau bisa bertetiak sekeras apapun, tidak akan ada yang mendengarmu di sini."


Yue menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Kumohon. Jangan, Yang Mulia."


"Sayang sekali, tapi aku menginginkan ini."


******


Yue merasakan sesuatu di sana. Hangat dan keras. Ia sangat takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sampai sesuatu itu benar-benar masuk dengan perlahan.


Begitu sakit dan pedih, batinnya.


Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yue tahu kalau kini ia kehilangan keperawanannya. Ia memang tidak pernah tahu seperti apa itu bersenggama. Ia hanya tahu saat melihat kuda-kuda pamannya melakukan sesuatu yang seperti ini.


Ya, ia telah menjadi milik sang Kaisar seutuhnya.


*****


Gu Zheng terus menggerakkan pinggulnya maju dan mundur sembari menjaga iramanya. Ia tidak ingin terlalu menyakiti Yue. Bagaimanapun ini kali pertamanya untuk mereka. Ia ingin ini sempurna.


Yue seakan menyambut setiap hujaman yang ia berikan, terbukti gadis itu menjepit kemaluannya dengan keras. Begitu panas dan basah.


Ya, inilah yang ia inginkan, bersatu dengan gadis itu. Hampir tiba, batin Gu Zheng.


Yue beberapa kali memekik saat mencapai pelepasannya. Dan kini giliran Gu Zheng. Dengan sekali hujaman keras, ia menuangkan seluruh benihnya di sana. Mengisi penuh rahim gadis itu pada pelepasan terakhir. Tepat pada saat itu juga dan akhirnya Yue pun menjerit keras.


Wanitaku, batin Gu Zheng.


Puas dengan pelepasannya, ia pun menarik Yue dan melepaskan ikatan gadis itu. Di baliknya perlahan tubuh gemetaran Yue dan membaringkannya di dadanya yang penuh peluh keringat.


Ia ingin tetap seperti ini untuk beberapa saat, tetap membiarkan inti mereka bersatu dan berbaring bersama. Perlahan Gu Zheng menyingkap rambut basah Yue sembari membelai lembut punggungnya.


Saat itu Gu Zheng sadar tidak melihat sesuatu yang seharusnya ia lihat...


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2