
...
Yue terbangun karena sebuah gerakan lembut yang membelai perutnya. Rasanya ia sama sekali tidak rela saat tangan itu mengganggu tidurnya, yang semakin lama semakin erat merengkuhnya.
Sesekalinya Yue mengerjapkan mata, sekaligus memfokuskan pikirannya. Detik itu juga rasanya ia ingin melompat ke dalam jurang atau menenggelamkan diri ke danau. Astaga, ingatan tentang kejadian semalam kembali berkelebat.
"Tidurmu nyenyak?" tanya Gu Zheng yang ikut terbangun. "Hm, tentu saja sangat nyenyak. Bahkan kau tidak sadar permainan macam apa yang sudah kita lakukan semalam."
Seringaian Gu Zheng semakin memperburuk suasana hati Yue. Mengabaikan pria itu yang masih bermalas-malasan di bawah selimut dalam keadaan telanjang, sama seperti dirinya.
Ya ampun, bagaimana mungkin ia begitu ceroboh dengan membiarkan pria itu melihat tubuhnya sekali lagi?
"Aku harap ini menjadi yang terakhir. Dan jangan harap hal ini akan memperbaiki semuanya, Yang Mulia."
"Tidak, aku tidak akan berharap lebih setelah apa yang kulakukan padamu."
Kenapa juga hati Yue terasa sakit saat mendengar pria itu berkata demikian. Seakan Gu Zheng menyerah pada dirinya. Pria sialan, umpat Yue dalam hati.
Ia lebih memilih duduk di tepi ranjang sembari membenahi pakaiannya. Sekali lagi Gu Zheng melingkarkan lengannya, mengecup singkat tengkuk Yue yang terbuka.
"Tinggallah," pinta Gu Zheng.
"Kau sudah melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati," ucap Yue kesal. "Perlu kau ingat, aku bukan perempuan murahan."
"Kau bukan perempuan semacam itu, kau istimewa. Ingat itu."
Akhirnya, karena merasa risih sekaligus geli, Yue beranjak dari tempat tidur. Berdiri di sisi ranjang sambil menatap pria itu datar. Bukan lagi rasa benci yang selalu ia harapkan pada pria itu. Tapi sesuatu yang lain. Dan setiap kalinya perasaan itu hadir, air matanya akan mengancam ikut mengalir juga.
Ya, Yue tidak akan pernah bisa membenci pria ini. Ia sudah jatuh terlalu dalam, hingga batas antara benci dan cintanya sangat tipis.
"Jika kau melakukan ini lagi, maka ... maka aku akan pulang ke Shicuan."
****
__ADS_1
Masih sama seperti pertama kali mereka bercinta. Bedanya kali ini ia mampu membuat Yue merasa lebih baik ketimbang waktu itu.
Tadinya ia sempat takut saat Yue berdarah, meski cuma sedikit. Tidak sebanyak waktu itu. Tapi tetap saja Gu Zheng merasa khawatir.
Berkali-kali Yue menolak naik ke ranjangny, namun akhirnya menyerah juga. Kalau bukan karena obat, mungkin Gu Zheng tidak akan bangun dalam keadaan sesehat seperti sekarang ini. Bisa jadi tubuhnya penuh luka sayatan atau lebih buruk, kepala Gu Zheng tidak ditempatnya lagi. Ia harus berterima kasih banyak pada Qing Xi nanti.
"Kau benar-benar tidak ingin tinggal?"
"Tidak," ucap Yue ketus.
Gadis itu sudah tidak lagi bersemu merah seperti dulu. Ah, betapa ia sangat merindukan Yue-nya yang dulu. Tapi sayang, Yue yang dulu telah ia bunuh secara perlahan.
Tanpa berucap, selirnya itu pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya tanpa belas kasihan. Mungkin yang berikutnya, Gu Zheng akan membutuhkan waktu lama sebelum dirinya kembali bisa merengkuh dan mendekap tubuh Yue seperti semalam.
Ini adalah hukunannya, jadi dengan sabar ia akan menerima semua perlakuan Yue terhadap dirinya. Ia akan sabar menunggu wanitanya.
Nanti, akan tiba saatnya gadis itu benar-benar memaafkannya. Semoga.
****
"Aku mencarimu di kediamanmu, Selir Yue. Tapi kau tidak ada di sana."
"Apa Ibunda perlu sesuatu?"
Sejenak Ibu Suri Han terdiam. Seakan takut dengan untuk mengatakannya. "Begini, kau tahu bukan kalau kursi Permaisuri kosong. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi ... Em, ada undangan dari kerajaan lain yang mengharuskan Permaisuri untuk hadir."
"Aku tahu, ini mungkin permintaan yang terlalu berlebihan. Kalaupun kau pergi dari istana ini sekarang, kurasa kedudukanku sebagai Ibu Suri mungkin juga tidak akan bisa menghentikanmu."
"Tapi kumohon, bertahanlah. Tetaplah tinggal meskipun menyakitkan."
Tidak tega rasanya Yue melihat seorang Ibu Suri berkata demikian. Terlebih wanita itu adalah seorang ibu dengan posisi yang serba salah.
Ya, Yue tahu semuanya. Berkat surat itu yang dengan jelas tertulis alasan dibalik semua tindakan Gu Zheng. Menerangkan secara gamblang semua ini bukan sepenuhnya salah pria itu. Hanya masalah keadaan yang membuat Gu Zheng memilih cara sedemikian kejam dengan menyakitinya.
__ADS_1
Dan sejak saat itu Yue mulai bimbang dengan pilihannya. Mempertanyakan tepat tidaknya tindakannya untuk membalas dendam.
Ia perpikir sebagaimana Gu Zheng berpikir. Rasanya ia juga akan melakukan hal yang sama seperti pria itu. Dengan berat Yue menghembuskan nafas kasar.
"Jadi, kapan saya harus pergi?"
"Besok. Aku juga akan ikut bersamamu."
Yue mengangguk setuju. "Ah Mei?"
"Gadis itu hanya memiliki dua pilihan, pergi dari istana dengan kemauannya sendiri atau pergi ke pengasingan. Dan dia memilih pilihan yang pertama," kata Ibu Suri Han.
"Dan juga ... untuk sementara, Ibu Suri Jia tidak ingin bertemu denganmu. Juga Yang Mulia. Beliau masih marah juga sekaligus bersedih karena kehilangan seorang cicit yang sudah lama dinantikannya."
Sekali lagi Yue mengangguk. Ia juga tidak ingin menjelaskan apapun lagi sekarang. Begini lebih baik, putusnya.
****
"Aku tidak tahu, kau ini bodoh atau apa?"
"Aku hanya jatuh cinta, apa itu salah?" ucap Gu Xu Wei.
"Kau jatuh cinta pada wanita yang salah," balas Gu Fang Wei. "Terserah padamu saja. Toh hal itu tidak berpangaruh pada pengusiran kita dan ibu."
"Apa kau sedih meninggalkan istana?"
"Tidak. Hanya saja, sayang sekali meninggalkan kakak iparku yang manis sendirian di istana dingin ini. Bukankah kau juga begitu?"
Xu Wei menyeringai kaku. Tidak ingin menjawab tuduhan adiknya itu. Lebih baik diam. Ingatlah, dinding istana pun punya telinga.
"Apanya yang juga begitu?" tanya Gu Zheng yang tiba-tiba menyeruak masuk.
Tbc...
__ADS_1