Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XLIV


__ADS_3

"Aku sudah menyiapkan kediaman untuk kalian di perbatasan ibu kota."


"Apa kau ingin aku berterima kasih?" tanya Xu Wei sinis.


Untuk sejenak Gu Zheng memandang kakak tirinya itu. Mungkin ia memang harus berterima kasih pada Xu Wei karena telah membuat Ah Mei hamil. Terlepas dari apa tujuan Xu Wei yang sebenarnya.


"Sudahlah, tidak bisakah kita akur?" tanya Fang Wei menengahi.


"Apa kau kembali kemari hanya untuk gadis itu?" tanya Gu Zheng yang tidak menghiraukan Fang Wei.


"Ya." Xu Wei mengambil nafas kasar lalu menghembuskannya. "Terserah kau mau bilang apa, aku sama sekali tidak tertarik dengan tahta Yuhan. Aku sudah cukup senang hidup di luar sana, bebas melakukan apapun yang kuinginkan. Aku kembali hanya untuk Ah Mei."


"Meski dia tidak mencintaimu?"


"Meski dia membenciku, aku tidak masalah." Xu Wei menatap jauh ke seberang kolam dengan wajah sedih. "Aku juga yang mengirimkan surat untuk selirmu itu, ah, haruskan aku memanggil dia permaisuri sekarang?"


Gu Zheng baru tahu soal ini. Begitu rupanya, pantas saja Yue seperti menahan diri saat bersamanya. Ia bisa merasakan gadis itu melunak semalam, meski tetap ketus.


"Jaga baik-baik kalau kau tidak mau kehilangan gadis itu," tambah Xu Wei.

__ADS_1


"Lalu kau sendiri? Apa kau akan menyusulnya?"


Tidak ada jawaban. Gu Zheng tidak begitu dekat dengan Xu Wei seperti halnya dengan Fang Wei. Sejauh ia mengenal kakak tirinya itu, Xu Wei lebih memiliki jiwa yang bebas. Suka dengan hal-hal yang berbau seni dan keindahan bukannya peperangan seperti Gu Zheng dan Fang Wei.


Lalu kali ini pria itu ambil bagian dalam urusan istana hanya untuk Ah Mei, yang bahkan tidak pantas mendapatkan cinta dari seorang Gu Xu Wei.


"Hm, dia mengandung anak kami. Tentu akan mengikutinya kemana pun dia pergi. Bahkan ke neraka sekalipun."


Gu Zheng merasa sedikit bersalah. Kalau bukan karena dirinya yang menahan Ah Mei, mungkin saja mereka sudah bahagia dengan jalan yang lain.


"Dia ... kau lah di sini yang paling membutuhkan dukungan. Mengingat kau jatuh hati pada wanita semacam Ah Mei."


"Itu juga yang aku bilang padanya," sahut Fang Wei cepat.


Seketika baik Gu Zheng maupun Xu Wei menatap Fang Wei sambil mencibir.


"Hei, apa salahku?"


***

__ADS_1


"Aku tidak akan menerima kekalahan ini."


"Tentu saja. Ini semua belum berakhir. Dan jangan harap akan berakhir dengan mudah."


"Aku tahu harus melakukan apa," kata Ah Mei dengan senyum liciknya.


Sui Wei menyeringai lebar bahkan hampir separuh wajahnya. Nampaknya keberuntungan masih berpihak pada mereka. Buktinya kesempatan untuk melenyapkan Yue masih terbuka.


"Lalu bagaimana dengan anak yang kau kandung itu? Apa kau akan menggugurkannya?"


Bahkan Ah Mei tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Sedikit banyak ia sudah menyayangi bayi yang dikandungnya. Lalu sekarang, nenek dari si jabang bayi dengan gampangnya menanyakan perihal pengguguran bayi ini.


"Aku akan memikirkannya nanti."


Ya, fokus utamanya sekarang adalah untuk melenyapkan Yue. Kalau dirinya tidak bisa mendapatkan Gu Zheng maka Yue pun tidak.


Dan satu-satunya kesempatan yang ada adalah saat Yue pergi menghadiri undangan dari Kerajaan Gong. Ia berencana akan melenyapkan gadis itu sebelum mencapai perbatasan negara itu.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2