
Sebulan lamanya Yue terus-terusan termenung. Pandangan matanya terlihat kosong. Ia bahkan tidak peduli dengan kesehatannya lagi.
Sepeninggal Gu Zheng, jangankan menjadi Permaisuri, kini ia diungsikan keluar istana sebagai seorang janda. Begitu pula dengan Ibu Suri Jia dan Ibu Suri Han.
Kerajaan Yuhan yang sekarang dipimpin oleh Gu Fang Wei, putra dari Selir Sui. Sedangkan Gu Xu Wei menolak untuk naik tahta dan lebih memilih pergi berkelana.
Ya, takdir akan terus berputar dengan ada atau tidaknya Gu Zheng di sisinya.
Berkali-kali kedua kakak Yue menawarkan untuk kembali ke Kerajaan Sichuan, namun ia menolaknya mentah-mentah.
"Dia pasti kembali," gumamnya lirih.
Entah sudah berapa sering Yue mengucapkan kalimat itu dalam sebulan ini. Siapapun pasti tidak akan tega melihat keadaan Yue yang jatuh terpuruk.
"Apa kau akan seperti ini terus?!" tanya Lai Xin yang kian tidak sabar. "Dia sudah meninggal. Terima kenyataan itu!"
Hwei Yang mengelus lengan adik keduanya itu. Mengisyaratkan agar lebih sabar menghadapi Yue yang sedang berkabung.
Setiap orang di kediaman keluarga Hwang sudah mencoba membujuk Yue untuk mau makan barang sesuap, tapi usaha mereka sia-sia. Bahkan sekalinya Gu Fang Wei--Sang Kaisar baru pun ikut turun tangan.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar," ucap Yue lemah.
Menolak untuk dibantu oleh siapapun, Yue berusaha berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tapi sayang tubuhnya terlalu lemah, alhasil ia terhuyung dan jatuh terduduk.
Sontak, Lai Xin yang melihatnya segera menghampiri dan membantu Yue untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa?"
Belum juga Yue sempat menjawab, tubuhnya sudah diangkat dari lantai yang dingin. Berpindah pada pelukan hangat An Cheng Li yang datang entah sejak kapan.
Perlahan pria itu membaringkan Yue di atas tempat tidur. Tampak raut khawatir saat melihat tubuh Yue yang semakin kurus.
"Aku membawa tabib istana," ucap An Cheng Li.
Sekali anggukan dari Kaisar An, tabib istana langsung menyeruak ke dalam ruangan dan menghampiri Yue. Memeriksa denyut nadi di pergelangan tanya Yue dengan seksama.
Barulah beberapa saat tabib tua itu meminta berbicara secara pribadi dengan Hwei Yang dan Lai Xin, meninggalkan An Cheng Li yang masih berdiri di sisi tempat tidur Yue.
"Aku tahu ini bukan saat yang tepat, dan aku merasa tidak akan pernah tahu saat yang tepat itu akan datang atau tidak," ucap An Cheng Li.
Hwei Yang dan Lai Xin berhenti di ambang pintu saat mendengar penuturan Kaisar An itu, begitu pula Bibi Hwang yang membawakan semangkuk bubur untuk Yue.
Secara ajaib, kata-kata An Cheng Li menyita perhatian seluruh orang di ruangan itu.
Mata Yue yang tadinya kosong, kini menatap lurus Kaisar An. Bola matanya penuh dengan bayang-bayang pria yang berdiri di samping tempat tidurnya.
Mata yang dulu berbinar terang, sekarang hampir pudar sinarnya. Terlalu banyak air mata yang keluar. Terlalu banyak kesedihan yang dipendam.
"Aku sudah memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh dan kuharap kau juga melakukan hal yang sama sepertiku," ucap Cheng Li lagi dengan sekali tarikan nafas.
Perhatian Yue kini sepenuhnya tertuju pada wajah sendu An Cheng Li. Saat itu lah ia sadar telah membuat orang di sekelilingnya merasa khawatir. Tanpa sadar setitik air matanya kembali luruh, kembali mengingat Gu Zheng.
"Kau tahu, aku akan selalu menunggumu. Sampai kapanpun."
Isak Yue semakin terdengar, yang tadinya lirih kini bersuara. Seakan rasa sakit yang menggumpal di hatinya dipaksa untuk keluar.
Dengan lembut An Cheng Li mengusap air mata yang membasahi pipi Yue. Menangkup pipi tirus itu dengan perlahan serta memaksa Yue untuk tidak mengabaikan kehadiran Cheng Li.
"Kumohon, menikahlah denganku."
*****
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan setan cilik itu," sergah Xiaoli.
"Tapi dia terlihat menyukaimu," kata Cheng Li sembari melambaikan tangannya pada seorang gadis kecil yang sedang berlarian.
"Kalau saja dia bukan anakmu, sudah kubuang dia ke hutan."
Cheng Li terkekeh. "Dasar bibi yang kejam."
Dari kejauhan, Cheng Li melihat dua gadis yang paling dicintainya. Siapa lagi kalau bukan Yue dan Nima. Kalau diingat, memang penuh perjuangan untuk mendapatkan kedua gadis itu.
Tapi rasanya, pengorbanannya tidak ada yang sia-sia setelah melihat senyum mereka merekah terutama senyum Yue. Meski pada akhirnya, ia tidak sepenuhnya bisa mendapatkan Yue.
"Nima-ah, jangan berlari!" seru Yue dari kejauhan.
"Ibu, tangkap aku!" seru gadis itu balik yang semakin berlari menjauh.
*****
"Kurasa, Ibu tidak akan bisa menemukanku kali ini," gumam Nima lirih.
Gadis cilik berusia lima tahun itu menjulurkan kepalanya, menyembul diantara semak-semak. Cukup lama ia berdiam diri di sana. Setengah berharap ibunya akan menemukannya.
Duduk dengan memeluk lututnya sembari menyanyikan lagu kesukaannya. Sekaligus tanpa sadar jemari kakinya ikut bergoyang pelan.
"Dia tidak akan menyangka kau akan bersembunyi di sini."
"Tentu saja, ini tempat persembunyian baruku," jawab Nima spontan.
Setelah menjawab, barulah gadis kecil itu memutar tubuhnya dan mendapati seorang pria berjongkok di belakangnya.
"Paman siapa? Kenapa Paman ada di sini? Ini tempatku. Carilah tempat lain untuk bersembunyi."
"Lalu?"
Nima menelengkan kepalanya. Tangannya, dengan polosnya terjulur dan menyentuh topeng yang menutupi sebelah mata kiri pria itu.
"Paman sakit?"
"Tidak."
"Ini apa?" tanya Nima polos.
"Hm, hukuman untuk paman karena telah berbuat jahat."
Bukannya menjauhi pria asing itu, Nima malah duduk bersila dan berhadap-hadapan dengannya. Memicingkan matanya, lebih tepatnya meniru yang biasa ibunya lakukan.
"Kau benar-benar mirip denganya," ucap pria itu.
"Siapa?"
"Ibumu."
"Tentu saja, aku putrinya," balas Nima dengan bangga.
Pria itu mengusak rambut ikal Nima. Sontak hal itu membuatnya cemberut dan menampik tangan besar itu.
"Aku bukan anak kecil," sergah Nima.
"Hanya anak kecil yang mengatakan hal seperti itu," goda pria itu.
__ADS_1
Mulut Nima bahkan lebih maju dari sebelumnya. Ia merapikan rambutnya sambil menunduk. Hampir terisak malah.
"Senang rasanya melihatmu tumbuh besar," kata pria itu yang berusaha menghibur Nima yang hampir menangis.
"Benarkan? Aku sudah besar."
Nima kembali tersenyum saat melihat pria itu juga tersenyum. Anehnya, kini ia malah menyukai paman asing itu. Secepat itu perubahan suasana hatinya.
"Nima?"
Baik Nima juga paman asing menoleh secara bersamaan saat suara yang paling Nima kenal tengah memanggilnya.
"Ibu!" ucap Nima kaget.
Lain halnya dengan Nima, Sang paman malah tersenyum saat melihat Yue datang.
"Lama tidak bertemu. Ah, enam tahun kurang lebih, bukan?"
Sungguh, Nima sama sekali tidak mengerti saat ibunya meneteskan air mata saat melihat paman itu, juga saat sang paman memeluk ibunya. Ia hanya memandang mereka secara bergantian dengan bingung.
Ditariknya ujung gaun ibunya. Berusaha untuk mendapatkan perhatian dan penjelasan yang bahkan mungkin tidak akan ia mengerti.
"Ibu, dia siapa?"
••••••••••••••
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END.
Lanjut ke lapak Moonlight Lady sama King's Desire yaa...
Jangan lupa vote ya 😄
__ADS_1