
Berkat bantuan Nenek Niu akhirnya Yue kembali pulih. Meski tidak lagi lumpuh, namun ia masih bisu. Sakit baginya untuk berbicara barang sepatah kata. Beruntunglah dirinya yang tidak patah arang. Sebisa mungkin ia berusaha bangkit dari kematian yang sempat mengecupnya.
Sesuai saran Hong, akhirnya Yue mempelajari seni bela diri dari gadis itu. Awalnya ia hanya memperhatikan saat Hong berlatih, namun semakin ke sini ia mulai tertarik.
Secara paman dan bibinya tidak pernah mengizinkan Yue untuk berlatih pedang ataupun bela diri. Diperbolehkan menunggang kuda saja sudah membuat Yue senang.
"Kau tahu, Nona? Kau akan menghabiskan sisa umurmu jika seperti ini terus," kata Hong yang hampir pasrah.
Yue memang tidak cocok dengan sesuatu yang berbau kekerasan, tapi tak bisa dipungkiri ia sangat tertarik mempelajari ini semua. Bagaimana pun ia harus bisa. Ia bertekad kembali ke Kerajaan Yuhan lalu menemui paman dan bibinya.
Ia juga akan menemi Gu Zheng untuk meminta penjelasan, meski penjara atau hukuman mati adalah resikonya. Ia tidak lagi peduli. Ia akan mengatakan, menuliskan semuanya kalau perlu dan mengungkap siapa pemilik jepitan emas itu sesungguhnya.
Dua minggu lebih dirinya tidak bertemu dengan Lai Xin. Tentu Yue tahu kemana gadis itu pergi. Setelah memikirkan semua sebab akibat dari bencana yang dialaminya, Yue mendapat sedikit pencerahan.
Jikalau yang dipermasalahkan adalah siapa sebenarnya pemilik jepitan emas itu? Maka semuanya menjadi jelas.
Jelas saat Gu Zheng yang bertunangan dengan pemilik jepitan emas--itu artinya dan harusnya adalah Yue. Jelas saat Xiaoli dan Kaisar An mengatatakan bahwa jepitan itu adalah tanda ikatan Kerajaan An dengan putri bungsu Kerajaan Sichuan--itu juga Yue yang dimaksud. Jelas saat Lai Xin mencari adik bungsunya yang menghilang. Dan Lai Xin cuma memiliki satu petunjuk, yaitu seorang gadis kecil dengan jepitan emas yang di bawa pergi oleh seorang pria bertopeng dari salah satu pengawalnya yang masih hidup saat kejadiaan nahas itu terjadi.
Semua petunjuk mengarah pada dirinya, pada Yue. Nampaknya lumpuh selama beberapa minggu membuat otak lambat Yue mendapatkan sedikit pencerahan. Saat ia hendak memberitahukan perihal itu pada Lai Xin, gadis itu sudah pergi lebih dulu ke Kerajaan Yuhan.
Yue memang belum mengatakan apapun pada Nenek Niu maupun Hong. Ia akan menyimpan rahasia ini untuk sementara waktu, putusnya.
"Jadi, apa kita akhiri saja sekarang?" tanya Hong.
Yue mengangguk pelan. Dibantu oleh Hong, ia kembali ke desa, namun sebelum itu Hong harus mencari beberapa bahan obat untuk Yue sesuai pesanan Nenek Niu. Untungnya tanaman obat-obatan tumbuh subur di sekitar Danau Hyang.
__ADS_1
Jadi ditinggallah Yue di dekat kincir air. Menunggu Hong mencarikan obat untuknya. Belum lama duduk santai, Yue mendengar pekikan kuda di belakangnya.
Yue yang duduk di tanah menatap siluet gelap dari orang yang menunggang kuda sembari memutari dirinya.
"Siapa yang menyangka aku akan bertemu denganmu di sini?"
*****
Kali ini cukup sulit bagi Lai Xin untuk masuk ke dalam istana Yuhan. Wajahnya sudah terpampang di papan buronan, yang artinya penyamarannya akan lebih sulit. Tapi bukan Lai Xin namanya kalau hal seperti ini bisa memulangkannya dengan tangan kosong tanpa hasil.
Berkat bantuan seseorang, ia berhasil masuk ke istana sebagai dayang. Sekarang hanya tinggal mencari kediaman permaisuri untuk memastikan gadis itu Yue Bi atau bukan.
Semua berjalan mulus, bahkan sangat mulus. Sampai membuat Lai Xin takut bahwa ini adalah jebakan untuk dirinya. Harusnya ia mengindahkan saran kakaknya untuk menemui permaisuri secara resmi. Memberi ucapan selamat atas pernikahan sang Kaisar sepertinya ide yang paling bagus sebagai alasan.
Tapi Lai Xin menolaknya mentah-mentah. Melihat dari depan secara langsung sangat berbeda saat melihat dari belakang bukan? Dengan melihat dari belakang, ia akan tahu kebenaran yang sesungguhnya. Di dunia yang penuh intrik perebutan kekuasaan, topeng merupakan hal wajib yang harus dimiliki oleh para penghuni istana. Itu yang Lai Xin hindari.
"Sudah kubilang berapa kali! Aku tidak suka manisan buah persik!"
Sontak hardikan itu mengagetkan Lai Xin yang berjalan di depan salah satu kamar yang paling besar. Saking kagetnya, ia bahkan tidak sadar sudah bersembunyi di balik pilar. Spontan.
"Tapi Kaisar An sendiri yang mengirim manisan ini khusus untuk Yang Mulia," kata seorang dayang dengan suara bergetar. "Sebagai ucapan selamat atas pernikahan Yang Mulia. Beliau bilang, ini manisan kesukaan Yang Mulia."
Bagai ditampar keras, Lai Xin tertegun. Benar juga, batinnya.
Tanpa peduli lagi dengan penyamarannya, Lai Xin menerjang masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri gadis yang memakai baju hijau muda. Tentu saja semua orang yang berada di kamar itu kaget dan kelabakan karena mendapati salah seorang dayang yang sangat kurang ajar.
__ADS_1
Persetan!
Lai Xin maju dan mencengkeram erat pergelangan tangan Ah Mei. Sedangkan gadis itu yang tidak tahu duduk permasalahannya mengkerut ketakutan. Dengan gahar Lai Xin menatap Ah Mei tajam.
"Kau, bukan dia."
Cukup dengan satu kalimat, Lai Xin memastikan bahwa Ah Mei bukan adiknya. Aneh sekali rasanya saat dirinya mendapati kenyataan itu, begitu senang.
"Apa maksudmu? Siapa kau?" cicit Ah Mei.
"Akan aku pastikan kalian akan membayarnya," desis Lai Xin.
"Pengawal!"
Salah seorang dayang berteriak untuk memanggil pengawal. Beberapa dayang lain membantu Ah Mei berdiri setelah Lai Xin menyentakkan tubuh Ah Mei ke lantai. Mendorongnya cukup keras. Lai Xin sangat marah sekarang.
Lai Xin yang mendapati beberapa pengawal berlari ke dalam paviliun segera melarikan diri lewat jendela kamar. Ia berlari dan bersembunyi. Ia harus segera kembali ke Danau Hyang. Kenapa ia begitu bodoh? Buta karena tidak bisa mengenali adiknya sendiri.
Tepat saat keluar dari persembunyiannya, sebuah tangan menjerat Lai Xin dan menariknya ke dalam sebuah kamar. Orang itu bahkan tidak segan membekap mulutnya dan menghimpitnya pada daun pintu yang tertutup rapat.
"Ah, aku sudah memberimu kesempatan untuk menyusup. Harusnya kau juga melakukannya saat pergi dari sini. Datang dan pergi secara diam-diam. Bukan dengan cara heboh seperti ini. Apa begitu sulit? Sejak kapan kau menjadi ceroboh seperti ini?"
Lai Xin sangat mengenali suara itu. Suara yang sangat dibencinya. Suara saingan abadinya. Bagaimana mungkin suara merdu Fang Wei bisa ia lupakan? Sial.
Ya, putra ketiga Kerajaan Yuhan inilah yang telah menyelamatkannya. Dan Lai Xin sangat membencinya.
__ADS_1
Tbc....