
"Jangan khawatir, kami akan baik-baik saja."
"Aku akan tetap meminta beberapa pengawal untuk kalian," ucap Gu Zheng yang tidak bisa bantah lagi.
Sedangkan Yue, ia tidak ambil pusing dengan semua pembicaraan antar ibu dan anak itu. Toh dirinya memang tidak tertarik. Terlebih dengan Gu Zheng yang terus saja menatapnya tajam. Seolah ingin menelanjangi dirinya di depan ibu suri.
"Percayalah, dia akan baik-baik saja," bisik Ibu Suri Han pada Gu Zheng.
Setelah berpamitan, Yue mengekor di belakang Ibu Suri. Sebelum lengannya di sambar oleh Sang Kaisar yang sekaligus mencuri cium singkat di bibirnya.
"Masih tidak mau berbicara denganku, huh?"
"Tidak. Ibu Suri sudah menungguku, lepaskan."
Aneh sekali rasanya saat Gu Zheng menurut dengan sekali perintah. Dan lucunya Yue malah kecewa. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan pria itu.
Pria yang mampu membuatnya merasakan semua rasa kehidupan. Mulai dari manis sampai yang paling pahit. Menjungkir balikkan perasaannya dengan mudah.
"Aku akan menunggumu," ucap Gu Zheng lirih sembari membelai pipi Yue.
Yue ingin menjawab, namun rasanya lidahnya kelu bahkan hanya untuk mengucap satu kata.
Ya Dewa, bagaimana mungkin dirinya tidak jatuh hati pada pria di depannya ini lagi dan lagi? Mustahil baginya jika harus bertahan dengan acuhnya yang sekarang.
"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Ibu Suri Han yang berdiri tidak jauh.
"Tentu, Yang Mulia," jawab Yue yang juga meninggalkan Gu Zheng begitu saja dengan dahi yang masih berkerut.
****
"Bisa kumengerti kalau kau belum bisa memaafkan kami. Secara tidak langsung, aku juga bersalah padamu."
"Tidak, Yang Mulia."
Saat Ibu Suri Han menggenggam erat tangan Yue, dia sana ia merasakan kehangatan seorang ibu. Sosok yang selama ini ia rindukan.
"Saya... hanya membutuhkan waktu," kata Yue lirih.
"Ambillah waktu sebanyak yang butuhkan, namun jangan terlalu lama. Kau mengerti maksudku 'kan?" ucap Ibu Suri Han dengan lembut. "Semakin kau menolaknya, aku takut Yang Mulia akan semakin bersikap kasar."
"Saya tahu."
Ya, Yue cukup tahu dengan sifat Gu Zheng yang satu itu. Pria yang tahu caranya mengendalikan segala sesuatunya. Dan terbukti dengan kejadian kemarin.
Jangan dikira ia tidak tahu kalau pria itu menggunakan obat atau apapun itu sebutannya untuk meluluhkan dirinya. Hingga terjadilah sesuatu yang sangat Yue hindari.
Paman Qing Xi--dalang pemberi obat itu sendiri yang mengaku padanya. Pria baya itu seakan tidak merasa berdosa sama sekali saat membuat pengakuan itu.
"Yang Mulia?"
"Hm?"
__ADS_1
"Bolehkah saya pulang ke rumah Hwang? Saya merindukan paman dan bibi."
"Tentu saja boleh. Mengingat keadaanmu dan Yang Mulia sekarang, aku yakin dia pasti mengizinkan juga."
Yue tersenyum tipis, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Sepulangnya dari Gong, bolehkah?"
Ibu Suri Han mengangguk sebagai jawaban. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan paman dan bibinya. Yue sangat tidak sabar.
"Jangan biarkan mereka mendekati kereta!"
Sayup-sayup suara teriakan terdengar. Rasanya ia bisa mengingat kejadian seperti ini. Suara para pengawal yang berteriak, adu pedang yang tidak terelakkan. Dan juga kikikan kuda yang dipacu semakin cepat oleh sang kusir.
"Apa yang terjadi?" tanya Ibu Suri Han yang mulai panik.
"Tenanglah, Yang Mulia. Para pengawal akan mengatasi semuanya."
Sebenarnya, Yue juga sama tidak tenangnya dengan ibu mertuanya itu. Tapi ia berusaha untuk tidak panik.
Ah Mei kah? tebaknya.
Kalau dulu ada pengawal Lai Xin yang bisa mengatasi semuanya, namun sekarang hanya ada pengawal biasa. Pria itu jauh di Kerajaan Sichuan bersama dengan kakaknya. Paman Qing Xi pun tidak ada.
Yue melihat ibu mertuanya yang sudah ketakutan saat kereta kuda semakin cepat melaju. Teriakan dari kusir yang meminta maaf atas ketidaknyamanan yang mereka alami sekarang pun tidak digubris.
"Yang Mulia, tenanglah. Semua akan baik-baik saja."
Ucapan itu untuk menenangkan dirinya malah. Ia sendiri takut, namun ibu mertuanya itu lebih takut lagi. Bahkan tangan wanita baya itu terasa dingin dan gemetaran.
"Aku. Mereka menginginkanku."
"Ah Mei?"
Hanya itu kemungkinannya. Siapa lagi yang mengirim para pemburu kalau bukan gadis itu. Tadinya Yue pikir Ah Mei sudah menyerah, tapi nyatanya tidak.
Kapan semua ini akan berakhir? keluhnya dalam hati.
Suara kikikan kuda semakin menjadi. Yang tadinya berada jauh di belakang mereka, kini sudah di samping kereta. Salah satu dari berteriak dan meminta kusir untuk berhenti atau nyawa sebagai gantinya.
Namun sayangnya sang kusir tidak mengindahkannya. Terus saja memacu kereta ini dengan cepat. Alhasil dengan satu anak panah tepat di tenggorokan akhirnya mampu membuat kereta kuda berhenti.
Yue dan ibu suri yang menyaksikan kejadian itu dari balik tirai jendela kereta menjerit seketika.
Kian lama kereta menjadi pelan dan sekarang pintu kereta dibuka paksa oleh oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu. Sekelebat Yue mendapatkan ide gila.
"Yang Mulia, tunggulah di sini," ucap Yue sembari menyelimuti tubuh Ibu Suri Han agar terhindar dari pengelihatan para pemburu.
Segaligus meminta wanita itu menunduk serendah mungkin di lantai kereta.
Setelah pintu berhasil dibuka paksa, Yue melayangkan tendangannya pada siapapun yang muncul di depan pintu kereta.
Bersyukur saat pria berbaju hitam itu terdorong dan tersungkur di tanah. Dengan cepat ia menyingsing pakaiannya dan turun dari kereta menuju kursi kemudi.
__ADS_1
"Tangkap dia!"
Yue yang kaget dengan teriakan itu segera melihat sekeliling dan mendapati beberapa pria baju hitam lengkap dengan kuda mereka segera menuju Yue.
"Kalian menginginkanku, tangkap aku!" tantang Yue yang melupakan rencana awalnya.
Meninggalkan kursi kemudi begitu saja saat melihat seekor kuda tak bertuan tidak jauh dari sana. Tidak pikir panjang lagi, Yue berlari menghampiri kuda itu.
Lagi-lagi merasa bersyukur saat para pemburu melupakan kereta kuda dan mulai mengejarnya.
Beruntung dirinya pandai berkuda. Dengan tangkas Yue menaiki kuda berwarna kecoklatan itu dan segera memacunya untuk menjauhi kereta ibu suri.
Kejar-kejaran tidak bisa terelakkan lagi. Salah satu dari mereka mampu menyusul Yue dan kini sejajar dengannya.
"Berhenti, Perempuan!"
Satu anak panah lolos dan mendarat di atas tanah. Berikut dengan anak panah kedua, namun tidak dengan anak panah ketiga yang berhasil mengenai punggung bahu Yue.
Sakitnya bukan kepalang, ditambah cairan hangat yang mulai merembes keluar dan menodai pakaiannya.
Tidak menghiraukan rasa sakitnya, Yue terus saja memacu kudanya. Menghindari pohon-pohon di depannya dengan gesit. Berharap hal itu akan memperlambat para pemburu.
"Mati kau, Perempuan!"
***
"Yang Mulia, di sana!"
Gu Zheng menacu kudanya secepat mungkin untuk menghampiri kereta kerajaan. Hatinya mencelos saat melihat kusir sudah tidak bernyawa dan pintu kereta terbuka begitu saja.
Tanda-tanda kehidupan seakan hilang dari sana. Bagaimana tidak? Bagian belakang kereta di penuhi anak panah yang menancap. Mustahil jika mengharapkan ada kehidupan di dalam kereta setelah melihat keadaan kereta itu.
"Yue!"
"Yang Mulia!" teriak Qing Xi yang menemukan seseorang di lantai kereta berselimutkan kain berwarna kelabu.
"Panglima, kau kah itu?"
"Ibu!"
"Oh, syukurlah. Kupikir aku akan mati," racau Ibu Suri Han. "Yue?"
"Dimana Yue, Ibu?" tanya Gu Zheng yang tidak sabaran.
"Dia.. tadi keluar. Setelah itu... aku... tidak...," ucap Ibu Suri Han yang mulai terisak.
"Sial!"
Gu Zheng menaiki kudanya dengan cepat dan memacunya. Perasaannya mengatakan Yue tidak jauh dari sana. Dan benar saja, di atas tebing ia bisa mendengar sebuah jeritan.
Berharap kalau jeritan itu bukanlah milik wanitanya.
__ADS_1
Tbc...