Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXIX


__ADS_3

Yue berusaha berdiri dengan meraih pohon di belakangnya. Ia sendiri juga tidak menyangka akan bertemu pria itu di sini. Terlebih dengan keadaannya yang seperti sekarang ini. Malu, pastinya. Marah, apalagi. Tapi semuanya tidak penting lagi.


"Nona Yue. Selama berbulan-bulan kau menjadi buronan yang paling dicari. Kupikir kau akan bersembunyi dimana, ternyata. Sepertinya aku sangat beruntung, bukan?"


Yue menatap An Cheng Li sayu. Ia tidak bisa membalas perkataan pria itu. Yang bisa Yue lakukan, hanya menghindar saat Cheng Li berusaha mengelus kepala.


"Kurasa, aku harus cepat. Sebelum temanmu kembali," kata Cheng Li.


Cheng Li meraih lutut Yue dan menggendongnya cepat. Pria itu juga mendudukkan Yue di atas pelana kuda. Yue pasrah. Berteriak tidak akan mungkin baginya. Ia masih belum pulih benar. Ia berusaha melihat sekeliling kalau saja Hong berada di sekitar sana. Tapi Yue tidak mendapati seorang pun di sana.


"Aku tahu yang kau alami. Jadi, sebaiknya kau menurut dan ikut denganku ke Kerajaan An."


Yue semakin panik dan berusaha turun dari atas kuda. Tapi sayangnya Cheng Li yang juga sudah naik ke pelana, menahannya. Memeluk pinggangnya erat. Menjaga agar mereka tidak terjatuh dan membuat sang kuda ketakutan.


Fatal akibatnya jika membuat kuda kaget atau takut. Meski kuda itu adalah kuda paling jinak sekalipun.


"Kuharap kau menikmati perjalanan ini," bisik Cheng Li.


Pria itu segera memacu kudanya dan melewati perbatasan Sichuan. Di pinggiran perbatasan, kereta kuda sudah menunggu mereka lengkap dengan sederet pengawal.


Kalau tadi Yue menolak untuk naik, kali ini ia menolak untuk turun dari kudanya. Alhasil, Cheng Li kembali menggendongnya dan memasukkannya ke dalam kereta kuda. Sedangkan Cheng Li sendiri kembali pada kudanya. Berjalan beriringan dengan kereta kuda Yue.


"Ini yang terbaik," kata Cheng Li dari luar kereta. "Aku ingin penjelasan. Semuanya. Tanpa kecuali. Dan aku yakin, ini juga akan menguntungkan untukmu, Nona."


Setelah mendengar kata-kata Cheng Li, Yue merasa tenang. Ya, mungkin ini jalan terbaik. Ia sebenarnya juga takut kalau harus kembali ke Kerajaan Yuhan dan menemui Gu Zheng. Setidaknya ada satu orang yang mau mendengarnya.


Beratus kali Yue berpikir untuk pergi sejauh mungkin. Ke tempat yang tidak ada seorangpun mengenalnya. Melupakan semuanya. Mungkin dengan begitu luka di hatinya bisa sedikit terobati.

__ADS_1


Tidak ada mantra yang bisa menyembuhkan luka yang diakibatkan oleh patah hati, bukan? Cinta pertama tidak akan pernah berhasil. Itu Yue alami.


Sekarang ini Yue cuma memikirkan bagaimana reaksi Hong saat mendapati dirinya menghilang. Ia bahkan belum sempat berterima kasih pada semua penduduk Desa Hyang. Terutama Nenek Niu dan kakaknya.


"Mulai sekarang, kau akan menjadi tanggung jawabku. Setidaknya kau bisa mengandalkan Nian-mu ini."


Meski ia belum mengingat semua kejadian di masa lalu. Yue terperanjat saat Cheng Li menyebut dirinya Nian. Apa itu artinya pria itu sudah tahu semuanya?


Yue menggeser jendela kecil di sisi kereta yang kebetulan jendela itu langsung menampakkan sosok Kaisar An yang sedang menunggang kuda. Tatapan Yue penuh arti. Sepertinya dirinya lah yang membutuhkan penjelasan. Bukannya An Cheng Li.


*****


Cheng Li mengutuk dirinya sendiri beserta adiknya yang sudah kelewat batas. Dengan sedikit paksaan akhirnya Xiaoli mau membuka mulutnya. Membeberkan semuanya, dari awal sampai akhir.


Termasuk rencana yang awalnya ingin menggagalkan pernikahan Gu Zheng karena ketidak sukaannya pada Yue. Yang akhirnya rencana itu malah membuat Xiaoli tersingkir dari arena bahkan sebelum bertanding.


Ia memang sudah curiga saat Yue dan Ah Mei berdiri berdampingan. Hatinya langsung tertuju pada Yue meski mulutnya memastikan kebenaran itu pada Ah Mei. Mudah bagi Cheng Li untuk membedakan mereka dari warna manik yang mereka miliki.


Kenapa seperti itu? Cheng Li sendiri juga tidak tahu. Meski Yue Bi kecil warna manik matanya tidak seterang Yue yang sekarang, ia hanya bisa memperkirakan seperti apa gadis kecilnya kelak kalau dewasa. Dan Yue lah sosok itu.


Karena itu juga Cheng Li membiarkan Kaisar Gu menikahi gadis bernama Ah Mei dan memilih pulang ke Kerajaan An. Dan semua terbayarkan saat mengetahui siapa Yue Bi yang sesungguhnya. Tapi masalahnya, gadis yang berada di dalam kereta kuda itu bukanlah gadis kecil yang ia kenal dulu.


Sekali lihat saja, ia tahu. Siapa pemilik hati gadis itu sekarang. Dan yang jelas bukan dirinya. Ini akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi seorang An Cheng Li. Ia tidak bisa memutar waktu kembali, yang bisa ia lakukan sekarang hanya memperbaiki sesuatu yang sudah rusak.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya An Cheng Li muram.


Gadis itu menunduk setelah mendengar pertanyaannya. Tidak perlu kata-kata untuk tahu apa artinya.

__ADS_1


"Apa kau ingin membalas perbuatan mereka?" tanya Cheng Li lagi. "Aku akan membantumu."


Mata itu, mata paling jernih yang pernah ia lihat. Masih sama seperti dulu. Menatap Cheng Li dengan wajah penuh tanda tanya. Hah! Ia sendiri juga mempertanyakan apa yang sedang dilakukannya sekarang.


Gadis itu berada di sampingnya sekarang. Kenapa juga ia harus membuatnya semakin menderita dengan mengungkit lukanya?


Tanpa Cheng Li duga, Yue malah menggeleng. Gelengan itu membuatnya senang sekaligus marah. Senang karena Yue menolak untuk menemui Gu Zheng secara tidak langsung. Marah karena telah menghabiskan tiga belas tahun dengan sia-sia.


"Aku akan mengirim orang untuk mengabari kakak-kakakmu. Apa mereka sudah tahu?"


Sekali lagi Yue menggeleng pelan. Sudah Cheng Li duga. Karena itu juga, ia memutuskan untuk membawa gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun. Jikalau Ratu dan Panglima Perang Kerajaan Sichuan--yang tidak lain adalah kedua kakak Yue--tahu, tentu Cheng Li tidak akan pernah diizinkan untuk membawa Yue pergi.


Melihat penjagaan Yue saja sudah merupakan sebuah petunjuk untuk Cheng Li. Hanya ditemani satu pengawal, perempuan pula. Sudah pasti belum ada yang tahu.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk iringan itu sampai di Kerajaan An. Mereka disambut cukup meriah, sesuai perintah Cheng Li.


Setelah turun dari kudanya, Cheng Li membantu Yue turun dari keretanya. Memegang tangan gadis itu kuat. Dan di atas tangga Xiaoli sudah menunggu sembari menatap Yue datar.


Nanti, nampaknya ia harus sedikit menceramahi Xiaoli lagi. Sekelebat ide muncul dibenak An Cheng Li. Sebenarnya ide ini sudah muncul sejak ia menggendong Yue untuk naik ke atas kuda saat di Danau Hyang.


Sekilas menatap adiknya sembari menyeringai tipis. Cheng Li menarik pinggang Yue dan meraup tengkuk gadis itu. Begitulah ciuman di bibir itu berawal. Singkat dan sangat tegas.


Cheng Li kembali melirik Xiaoli. Kesal? Tentu adiknya sangat kesal. Bukankah adiknya itu harus diajari sopan santun terhadap calon kakak iparnya?


Ya, suka atau tidak. Mulai sekarang ia akan membuat Xiaoli menerima Yue.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2