Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXII


__ADS_3

~FLASHBACK~


"Sesuai perjanjian dengan Kerajaan Shicuan, ayah akan menjodohkanmu dengan putri bungsu mereka," ujar Kaisar An.


"Apa tidak terlalu terburu-buru? Umurku saja belum genap delapan belas tahun, Ayah?"


"Omong kosong! Kesempatan baik seperti ini tidak mungkin datang untuk yang kedua kalinya," balas Kaisar An.


Percuma saja menolak, An Cheng Li tidak akan bisa melawan titah sang Kaisar. Kalaupun ia bisa, Cheng Li tidak akan melakukannya. Sudah biasa bagi pewaris tahta jika harus bertunangan atau menikah untuk kepentingan politik. Untuk keberlangsungan kerajaan.


Ia lebih memilih pergi tanpa mendebat ayahnya lagi. Ya, inilah yang terbaik.


"Apa kau akan menikah, Kakak?" tanya Xiaoli penasaran.


Cheng Li mengusap puncak kepala adik perempuannya. "Bukan urusan anak kecil."


"Kupikir kau akan menikah dengan gadis itu," kata Xiaoli.


Cheng Li mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Gadis mana?"


"Aku mengikutimu beberapa hari yang lalu, habisnya Kakak tidak mau main denganku. Jadi aku mengikutimu. Lalu di sana, dekat sungai Kakak bertemu dengan seorang gadis, bukan? Apa aku perlu memberitahukan hal ini pada Ayah?"


"Ah...." Sepertinya Xiaoli memergokinya saat bertemu dengan Hwa Nai. "Jauhi masalah, adikku. Jauhi masalah."


"Selalu saja begitu, aku 'kan sudah sembilan tahun," kata Xiaoli dengan cemberut.


"Belum sepuluh tahun."


Gu Hwa Nai, seumuran dengan Cheng Li. Cantik, namun Cheng Li tidak memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Terlepas ia tahu siapa sebenarnya Hwa Nai. Putri pertama Kerajaan Yuhan. Dan sayangnya, Kerajaan An dan Yuhan tidak pernah berhubungan baik, tidak akan pernah.


Jelas gadis itu dicoret dari daftar calon permaisuri Kerajaan An. Tidak masalah, batin Cheng Li. Toh ia memang tidak ada perasaan apapun pada Hwa Nai. Ia hanya mengatakan apa yang ingin gadis itu dengar. Mudah saja baginya mengatakan cinta jika Hwa Nai menginginkannya.


"Kurasa aku akan memberikan hadiah kecil untuk calon permaisuriku."


"Terus saja abaikan adikmu ini!"


******


Hwa Nai memilih baju terbaiknya. Ia ingin pergi ke sungai itu lagi. Ia ingin bertemu lagi dengan Cheng Li. Mungkin hanya sekedar harapan kosong, tapi ia ingin terlihat sedikit cantik.


"Jadi, kau akan menemui bocah tengik itu lagi?"


"Dia bukan bocah. Dia lebih tua setahun darimu," balas Hwa Nai.


"Cih... Ayah tidak akan mengizinkanmu keluar istana lagi, kalau dia tahu," kata Gu Zheng.


"Karena itu kau harus tutup mulut," pinta Hwa Nai.


Gu Zheng membiarkan kakak perempuannya pergi begitu saja. Bukanlah sebuah dosa untuk mencari kebahagiaan di dalam istana yang dingin. Untuk sementara ia akan membiarkannya. Selama Hwa Nai tersenyum lebar seperti tadi, dihukum oleh Ayahnya pun Gu Zheng bersedia.


"Lihat saja kalau dia membuatnya menangis," gumam Gu Zheng. "Akan kupastikan meratakan Kerajaan An dengan tanah."


******


"Dengar, Yuan Yue Bi. Kau akan bertemu dengan calon suamimu sebentar lagi. Kau harus bersikap manis di depannya," kata Permaisuri Shicuan yang tidak lain ibundanya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena dia yang akan melindungimu kelak," kata Gua Lin sembari mengelus rambut Yue Bi.


"Apa aku harus berpisah denganmu, Bu?"


"Anak manis, memang terkesan terburu-buru. Tapi Yang Mulia sudah memberikan titahnya. Kau memang masih berumur enam tahun. Tapi kau akan belajar menjadi permaisuri yang baik di sana."


"Baiklah," kata Yue Bi patuh.


Yue Bi membuka jendela kereta kudanya. Ia meniulurkan kepala sekaligus tangannya. Karena sekarang musim gugur tentu banyak daun berguguran. Beberapa di antaranya jatuh di atas telapak tangannya.


"Aku paling suka musim semi."


"Tentu, ibu juga paling suka musim semi. Karena pada saat itu, ibu memilikimu. Karena itu juga putriku ini seterang bulan di musim semi. Begitu menyejukkan."


Yue Bi menyeringai lebar lalu memeluk erat ibunya. "Tidak bisakah kau juga tinggal di sana?"


"Kalau ibu ikut tinggal, siapa yang akan menemani Yang Mulia? Toh ibu tidak akan meninggalkanmu sekarang. Ini hanya akan menjadi pertemuan pertama untuk kalian."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


Yue Bi semakin mengeratkan pelukannya. Dan membenamkan wajahnya dalam-dalam di pangkuan ibunya. Aroma seorang ibu dan ia menyukainya.


******


Cheng Li melihat iringan kereta kuda memasuki pelantaran istana. Nampaknya calon mempelainya sudah datang, lebih cepat dari perkiraannya. Mengurus Xiaoli sudah membuatnya cukup repot dan sekarang ditambah lagi gadis kecil ingusan.


"Selamat datang," sapa Kaisar An beserta Permaisuri.


"Terima kasih, Yang Mulia."


Ini akan sulit, batin Cheng Li. Nampaknya gadis kecil itu adalah tipe gadis pemalu. Berbeda sekali dengan Xiaoli adiknya yang tidak tahu malu. Dan entah di mana adiknya itu sekarang berada.


"Apa gadis kecil itu Putri Yue Bi?" tanya Kaisar An.


Cepat-cepat gadis kecil itu berdiri di depan Kaisar An dan memberi hormat lalu kembali bersembunyi. Tanpa sadar hal itu membuat Cheng Li tersenyum. Tepat pada saat itu ia beradu pandang dengan Yue Bi.


Setidaknya dia tahu cara bersikap, batin Cheng Li.


"Jadi namamu Yue Bi?" tanya Cheng Li. "Kau tahu siapa aku?"


Yue Bi menggeleng. "Siapa?"


"Nian. Kau bisa menganggapku Nian kalau kau mau," kata Cheng Li.


Tanpa diduga gadis itu tersenyum lebar kepadanya yang membuat Cheng Li tertegun sejenak. Yue Bi cantik dengan caranya sendiri. Ia jadi penasaran seperti apa gadis kecil ini saat berubah menjadi gadis dewasa nanti. Pastinya banyak pria yang rela menyerahkan nyawanya hanya untuk sekedar mendapatkan perhatian Yue Bi.


"Kau mau jalan-jalan?"


Yue Bi mengangguk. "Dengan senang hati, Yang Mulia."


******


"Sudah kuduga kau akan datang lagi," sapa seorang gadis kecil.

__ADS_1


"Kau berbicara denganku?" tanya Hwa Nai.


"Tentu saja padamu," kata Xiaoli. "Lebih baik mulai sekarang kau tidak usah menunggu kakakku lagi."


"Kakakmu?" tanya Hwa Nai bingung.


"Iya, kau menunggu An Cheng Li 'kan?" tanya Xiaoli memastikan. "Lupakan saja kakakku, dia sudah bertunangan dengan Putri dari Kerajaan Shicuan. Kau tidak pantas untuknya."


Seperti disambar petir. Seketika hati Hwa Nai terasa sakit. "Itu tidak mungkin. Cheng Li tidak mungkin melakukan hal itu. Dia ... dia sudah berjanji akan mencintaiku selamanya. Dia mengtakan akan menikahiku juga."


"Astaga, kau ini bodoh sekali ya. Mana mungkin kakakku akan menikahi putri dari Kerajaan Yuhan. Lagi pula, kau lebih buruk ketimbang calon kakak iparku. Tentu kakakku akan memilih dia dari pada kau."


"Aku ke sini hanya ingin mengatakan hal itu. Jadi terserah saja padamu." Xiaoli kembali menaiki tandunya dan memerintahkan pengawal untuk pergi dari sana.


Tangis Hwa Nai tidak bisa dibendung. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi merahnya. Baru kemarin ia dan Cheng Li mengucap janji setia. Apa semua itu bohong?


Dengan air mata terurai, Hwa Nai berlari menembus dinginnya musim gugur. Ia terjatuh beberapa kali karena matanya yang buram dipenuhi air mata. Ia tahu kalau An dan Yuhan tidak akur. Ia sangat berharap perasaannya akan membuat hubungan kedua kerajaan menjadi lebih baik. Tapi sekarang apa?


Ia tidak pantas menjadi seorang permaisuri sekarang. Ia telah kotor. "****!"


Tidak akan ada kerajaan yang mau menerima permaisuri yang sudah tidak perawan lagi. Dia begitu bodoh, begitu mudahnya mempercayai semua ucapan Cheng Li.


Yang tersisa untuknya sekarang hanya kematian. Ya, ia tidak ingin hidup lagi. Ia tidak ingin mempermalukan kerajaan Yuhan lebih dari ini.


"Kakak!"


"Aku ... benar-benar sudah kotor," ucap Hwa Nai lirih.


"Apa maksudmu?" tanya Gu Zheng. "Ayo pulang. Untuk itu aku mencarimu. Sebelum Ayah tahu kau harus kembali."


"Ya, sebelum Ayah tahu."


Hwa Nai seakan dibutakan oleh amarah dan kesedihan. Ia melangkahkan kakinya menuju tebing air terjun. Begitu dingin, batinnya.


"Apa yang kau lakukan?! Hwa Nai, aku peringatkan, jauhi tebing itu!"


"Aku pantas untuk ini," ucap Hwa Nai lirih.


"Hwa Nai, kita bisa membiacarakan ini baik-baik," ucap Gu Zheng dengan wajah ketakutan.


"Dia berbohong, dia ... sudah mengambil segalanya dariku," isak Hwa Nai.


"Siapa? Lelaki busuk itu? Apa dia menyakitimu?!"


"Aku malu, aku tidak akan bisa menghadap Yang Mulia lagi dengan tubuh kotorku ini."


"Hwa Nai, kumohon menjauh dari sana! Kita akan pulang. Ayah tidak akan marah," ujar Gu Zheng yang berusaha menenangkan.


Hanya tinggal satu langkah. Hwa Nai melirik dasar tebing. Dengan penuh pengharapan, ia akan selalu mencintai Cheng Li dengan segenap hatinya.


"Kau harus menjadi Kaisar yang bijaksana, jangan terbutakan oleh kekuasaan. Berjanjilah."


"Tentu, tentu. Aku berjanji. Kemarilah, kumohon."


Hwa Nai menggeleng. Ia menggeser kakinya lalu memejamkan mata. Itulah salam perpisahan untuk adiknya.

__ADS_1


"Tidak! Tidak! Hwa Nai!"


*T**bc*...


__ADS_2