Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXXI


__ADS_3

Gu Zheng berderap cepat menuju paviliun timur, tempat Ah Mei berada. Dunia seakan hitam dalam pandangannya. Hanya satu yang ia pikirkan. Membunuh gadis itu.


Sesampainya di depan paviliun, Gu Zheng menggebrak pintu sampai benda malang itu koyak karena hantamannya.


Tentu saja Ah Mei sangat terkejut dengan kedatangan sang Kaisar yang mendadak. "Y-Yang Mulia?"


"Apa yang kau lakukan?" tanya Gu Zheng dengan suara dingin dan tajam.


"S-saya tidak mengerti apa maksud Anda?" tanya Ah Mei balik.


Gu Zheng mengusap wajahnya kasar. Ia maju untuk meraih lengan Ah Mei dan meremasnya erat. Tidak peduli saat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Apa yang kau lakukan padanya?!" tanya Gu Zheng sekali lagi dengan suara tinggi.


Semua dayang dan pelayan sudah berhambur keluar kamar. Mereka yang menunggu di luar kamar, bergidik ngeri saat mendengar geraman sang Kaisar.


"Ah, akhirnya Anda tahu juga," kata Ah Mei datar. "Seperti yang Anda dengar. Memang benar adanya."


Untuk kedua kalinya dalam hari ini, Ah Mei didorong hingga terjatuh ke lantai. Kali ini dorongan itu tidak hanya membuat Ah Mei jatuh tapi menabrak meja di belakangnya.


"Kupikir kau akan senang. Aku membantumu, Yang Mulia," kata Ah Mei lagi.


Gu Zheng merasa dirinya dihantam dengan keras. Perkataan Ah Mei menyadarkannya. Ya, ia sama jahatnya dengan gadis yang ada di depannya ini. Melukai Yue dengan begitu parah. Tapi bukan seperti ini yang ia inginkan. Tidak dengan menghilangkan nyawa seseorang, terlebih darah dagingnya sendiri. Calon pewaris tahtanya.


Hingga kini ia selalu diam dengan tingkah Ah Mei. Ia tidak peduli dengan apapun yang gadis itu lalukan. Tapi sekarang sikap diamnya malah membuat Yue terluka semakin parah.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah seharusnya Anda senang?"


Terlepas dari rasa marahnya pada Ah Mei, ia lebih marah pada dirinya sendiri. Kalau sebelumnya Gu Zheng hanya memandang Yue sebagai alat balas dendam, sekarang berbeda. Dengan segenap hatinya Gu Zheng mengakui kalau ia benar-benar jatuh hati pada Yue. Ia membutuhkan gadis itu layaknya udara. Ia diam karena takut membuat Yue semakin terluka. Penyesalan selalu datang di akhir bukan?


Ia sudah tahu kalau Yue tinggal di perbatasan Sichuan selama seminggu terakhir. Ia bukannya terlambat untuk mencari keberadaan gadis itu, tapi ia memang tidak ingin mencari Yue.


"Aku akan membuatmu membayar semua yang kau lakukan. Tidak sekarang. Tapi pastinya aku sendiri yang akan menyeretmu ke tiang gantung. Hukuman yang terlalu murah karena menghilangkan nyawa pewaris tahta Yuhan."


"Kau pikir siapa dirimu?" tambah Gu Zheng. "Bahkan Ibu Suri tidak akan bisa menolong kali ini."


Gu Zheng keluar kamar Ah Mei dengan wajah yang semakin gelap. Ia akan menyeret Yue kembali ke Kerajaan Yuhan. Bagaimana pun caranya. Cukup sudah ia bermain-main. Ia yang memulai semuanya, ia sendiri yang akan mengakhiri ini. Persetan dengan balas dendam.


"Kau akan tahu, hatimu akan tahu saat tiba waktunya. Kau tidak akan tahu pada siapa dirimu jatuh cinta. Seperti sekarang, semuanya terasa berbeda. Cinta bisa mengubah seseorang."


Dan pertama ada undangan kerajaan yang harus dipenuhi. Tepat setelah ia mendapatkan cercaan dari Yuan Lai Xin, undangan terkutuk itupun datang. Ya, setidaknya di sana ia bisa melihat Yue. Kali ini ia tidak akan setengah-setengah. Kalaupun melawan seluruh dunia, ia akan membuat Yue sebagai permaisurinya. Dan saat itulah balas dendamnya terhadap An Cheng Li juga terlaksana.


Begitu mudah, namun ia memilih jalan yang rumit. Gu Zheng tersenyum sinis, ia menertawakan dirinya sendiri karena kebodohannya.


*****


"Kau yakin?" tanya Cheng Li.


Yue mengangguk. Ia menghindar saat Cheng Li hendak menyentuh tangannya. Ia menatap gaun merah yang mengingatkannya pada gaun pengantin merahnya dulu.


Pengantin yang terbuang, pengantin yang tidak diharapkan. Apapun sebutannya, hal itu semakin membuat hatinya terluka. Luka yang sulit untuk sembuh. Bahkan sudah empat bulan berlalu terapi tetap sama saja.

__ADS_1


"Aku harap suatu hari nanti, hatimu benar-benar hanya untukku," ucap Cheng Li.


Pria itu tahu apa yang Yue pikirkan sekarang. Tapi ia sama sekali tidak akan pernah merasa bersalah. Sebisa mungkin ia akan menjadi Yue yang dingin. Menutup hatinya rapat-rapat untuk siapapun. Hanya dengan cara itu ia bisa merasa lebih baik. Untuk melindungi hatinya yang sudah terlanjur hancur berkeping-keping.


Saatnya pertunjukan, batinnya. Ia sendiri yang meminta pada Cheng Li untuk mengundang Gu Zheng dan Ah Mei dalam festival kali ini. Yue juga mengundang kedua kakaknya. Dan setelah acara ini selesai ia akan kembali ke Sichuan. Sesuai perintah kakaknya.


Dengan nafas kasar, Yue mengatur debaran jantungnya. Besok lusa ia akan bertemu dengan Gu Zheng juga Ah Mei. Tidak sabar melihat reaksi mereka saat tahu kejutan yang ia siapkan.


*****


Ini tidak seperti yang Hwei Yang harapkan. Ia sangat geram saat tahu semuanya dari Lai Xin. Kalau ia mau, sekarang juga Shichuan bisa saja berperang melawan An dan Yuhan. Membalas semua perbuatan mereka pada adiknya.


Dan Hwei Yang sanksi bahwa Sichuan akan kalah dalam peperangan ini, mengingat kerajaan yang dulunya kecil kini jauh berkembang pesat dan besar di bawah kepemimpinannya. Hingga setara dengan Yuhan dan An.


Tapi sebagai anak tertua, ia tidak akan melakukan hal itu. Yue Bi masih di kerajaan An, dan hal itu malah akan menjadikan adiknya sebagai sandera. Juga tidak bijaksana melibatkan rakyat dalam masalah pribadi kerajaan. Meski Hwei Yang memiliki segudang alasan lain untuk memulai peperangan.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Hwei Yang.


"Sesuai yang Yue Bi inginkan. Bukankah kita sebagai kakak hanya bisa mendukungnya dari belakang," balas Lai Xin.


Baik Hwei Yang dan Lai Xin mulai sekarang akan mendukung setiap langkah yang Yue Bi pilih. Dan saat adiknya itu terlalu lelah untuk melangkah, baru mereka yang akan mengambil alih. Jika saat itu tiba, maka Lai Xin pastikan Gu Zheng dan Cheng Li menderita seumur hidup mereka. Kematian? Itu hukuman yang terlalu ringan untuk mereka.


"Aku tidak sabar menanti hari esok."


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2