Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
VII


__ADS_3

Kaku di tempatnya, Yue membatu saat wajah Sang Kaisar semakin mendekat. Perlahan pria itu menyesap lembut bibirnya. Yue serasa meleleh, jantungnya berdebar tidak karuan. Lama dan membujuk. Ia tidak yakin akan bertahan sampai akhir. Mungkin saja setelah ini ia akan benar-benar meleleh seperti lumpur.


“Yang Mulia! Yang Mulia, dimana Anda? Sudah saatnya kita latihan pagi!”


Kaget oleh suara itu, Yue tersadar dan segera mendorong Sang Kaisar untuk menjauh. Ia kembali mengeratkan selimutnya dan bersembunyi di balik selimut itu.


“Cih ....”


Yue mengintip dari balik selimut saat Sang Kaisar berdiri dari tempat tidur dan menghampiri ambang pintu. Dengan pakaian acak-acakan pria itu bersandar di daun pintu. Astaga, siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir macam-macam.


“Pergilah, aku bahkan belum sempat tidur, Paman,” kata Sang Kaisar dengan malas.


Benar-benar memalukan, ini pengalaman pertama Yue hanya berduaan saja dengan seorang pria di dalam sebuah kamar sampai pagi.


Pagi! Ia bahkan tidak sadar kalau hari sudah pagi. Mereka bermain catur sampai pagi! Betapa leganya Yue saat ini. Syukurlah.


“Apa Anda sakit? Tabib. Saya akan memanggil tabib istana.”


Pria itu melihatnya. Melihat Yue yang bergelung di dalam selimut milik Sang Kaisar. Meski hanya sekilas.


“Uh-oh, maafkan saya. Kalau begitu silahkan kembali bersenang-senang,” tambah pria baya itu sebelum pergi.

__ADS_1


Anehnya kenapa di saat seperti ini Yue melihat kesempatan itu. Setelah pria itu pergi yang artinya dirinya akan kembali berdua saja dengan sang Kaisar. Tidak! Segera Yue turun dari tempat tidurnya dan menjinjing selimut dengan cepat. Dengan kaki bak kuda Yue berlari sekencang mungkin ke arah pintu. Ia hampir ... hampir melewati Sang Kaisar kalau saja lengannya tidak tertangkap.


“Hampir, bukan?”


“Ini sudah pagi. Saya rasa, saya harus kembali," kata Yue dengan wajah memelas.


Entah dari mana keharusan itu. Setahu Yue begitu menginjakkan kakinya di istana, keharusannya adalah memenuhi semua keinginan Sang Kaisar, bukan lari seperti ini.


Yue sedikit ragu saat Sang Kaisar mengendurkan pegangannya. Ia melihat pria itu berjalan memunggunginya. Lalu mengambil beberapa helai pakaian untuknya.


“Para dayang isatna akan menggunjingmu jika kau keluar dengan keadaan seperti itu. Meski aku sama sekali tidak keberatan,” kata Gu Zheng sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Astaga. Pria di depannya ini adalah penggoda ulung. Ini sangat gawat, batinnya.


Yue menghela nafas sekali lalu dua kali. Ia sudah tidak bisa menghindari hal ini. Lari berarti hukuman pancung meskipun ia sama sekali tidak keberatan dengan hukuman itu, namun bagaimana paman dan bibinya? Bagaimana nasib mereka nantinya?


Yue memutuskan untuk jalan-jalan di sekeliling paviliun miliknya. Tidak banyak orang berlalu-lalang karena memang paviliun ini lumayan jauh dari istana utama. Ia memilih duduk di tepi danau sambil memeluk lututnya.


Bagaimana keadaan kedainya? Para pekerjanya? Ia merindukan Paman dan Bibi Hwang. Benar kata orang, istana tempat yang sepi. Padahal begitu banyak penghuninya. Tapi malah terasa sepi.


Yue menempelkan sebelah pipi pada lututnya. Dari jauh ia bisa melihat Kaisar Gu Zheng sedang berjalan menuju ke tempatnya. Dengan tergesa Yue segera bangun dan merapikan pakaiannya. Tidak lupa ia menyisir rambutnya dengan jemari. Tunggu. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia malah berdandan untuk pria itu? Segera ia mengacak-acak kembali pakaiannya juga rambutnya.

__ADS_1


Begini lebih baik, batinnya.


Dari kejauhan saja Yue bisa melihat senyum Sang Kaisar yang membuatnya serasa meleleh. Jangan dilihat Yue, jangan dilihat, batinnya.


“Bagaimana harimu?” tanya Gu Zheng.


“Seperti biasa, Yang Mulia,” jawab Yue.


Kaisar mengulurkan tangannya dan menengadahkan wajah Yue. “Sudah kubilang jangan pernah menunduk saat berbicara denganku.”


Astaga, bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal itu? Bukankan itu bisa dibilang tidak sopan. “S-saya tidak berani, Yang Mulia.”


Karena wajah Yue yang menunduk, ia bisa melihat Sang Kaisar semakin mendekat melalui kaki pria itu. Spontan Yue mundur selangkah. Ia tidak sadar melakukan hal itu, segera ia menengadahkan wajahnya dan menatap wajah sang Kaisar yang sudah berkerut. Pria itu terlihat marah. Ia sangat takut.


“Tinggalkan kami,” perintahnya kepada para pelayan.


Tidak! Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka malah meninggalkannya hanya berdua dengan orang ini. Lagi.


Yue bisa mendengar hembusan nafas kasar dari Sang Kaisar. Kalau sampai pria itu berbuat sesuatu padanya, ia akan berteriak sekencang mungkin dan berlari mengelilingi istana kalau perlu, putusnya.


“Ibu Suri ingin bertemu denganmu, sekarang.”

__ADS_1



__ADS_2