Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXV


__ADS_3

Tanpa perasaan Yue dilempar ke dalam penjara. Ia bahkan tidak sempat membela diri karena Gu Zheng dan Ah Mei terus saja memotong kata-katanya. Alhasil ia menerima nasibnya dengan berat hati. Cukup lama Yue membenamkan wajahnya pada kakinya dalam-dalam. Terisak karena sakit hati.


Dihianati oleh orang yang paling dicintainya dan juga sahabatnya sendiri dalam waktu bersamaan tidak pernah terlintas di pikirannya. Kenangan buruk kembali berkelebat saat ia menyadari dirinya benar-benar di penjara sekarang.


"Kenapa kau begitu tega, Ah Mei-a?" isak Yue. "Apa salahku?"


Hening tapi masih menyisakan suara cicit tikus yang entah berada di mana. Yue mendongak untuk melihat ke luar sel yang hanya diterangi cahaya dari obor, bergoyang tertiup angin.


"Siapa saja, tolong aku," gumam Yue.


"Lihat betapa menyedihkannya dirimu," ejek seorang penjaga.


Penjaga itu bahkan tidak segan mengolok-olok dirinya. Hanya kata-kata kasar dan kurang ajar yang keluar dari mulut para penjaga yang kini berkerumun di depan sel Yue.


"Wah, coba lihat dia. Cantik sekali," kata seorang penjaga.


"Haruskah kita mencicipinya?"


"Aish, apa kau ingin mati?!"


"Tetap saja terlalu sayang kalau disia-siakan begitu saja."


"Kalau begitu, aku dulu," seringai dari penjaga yang paling besar.


Tentu saja pembicaraan mereka membuat Yue semakin bersingut di tempatnya. Dan saat ini juga Yue memutuskan sangat membenci tempat yang bernama istana. Sekaligus para penghuninya. Terutama mereka yang telah membuatnya seperti ini.


Mereka masih terus saja berebut, siapa yang pertama akan masuk ke dalam sel. Yue cuma bisa menatap mereka tajam saat salah satu penjaga mencoba membuka gembok sel. Bukan membuat mereka takut, tapi justru mereka malah bersorak senang.


Ia tidak akan membiarkan hal ini begitu saja, batin Yue. Ia punya kaki yang cepat- baiklah, cukup cepat, jadi ini akan menjadi usaha melarikan diri pertamanya.


Baru saja dirinya akan memasang kuda-kuda untuk berlari dan menerjang. Seseorang dari salah satu sel berteriak 'Yang Mulia' dengan histeris. Sontak hal itu membuat para penjaga dan Yue kaget. Setelahnya para penjaga bubar karena takut ketahuan.


"Hei, kau mau lari?"


Awalnya Yue tidak menanggapi pertanyaan itu. Ia bahkan tidak tahu dari mana asal suara itu. Jadi Yue memutuskan untuk diam dan tidak menjawab.


"Cih, apa kau tuli?" kata suara itu lagi. "Kami akan lari malam ini, kau mau ikut?"

__ADS_1


Yue terus saja ragu untuk menanggapi. Peraturan pertama, jangan percaya pada siapapun. Yue baru saja membuat peraturannya sendiri beberapa saat yang lalu. Mengingat ia gampang sekali percaya pada orang lain dan hasilnya, di sinilah dirinya meringkuk.


"Hoi, kau mau tidak?!" tanya suara itu yang semakin meninggi.


"A-aku tidak tahu caranya?" balas Yue ragu.


"Astaga, serahkan saja pada kami."


Yue sangat yakin sekarang, suara itu berasal dari sel di depannya. Gelap jadi ia sama sekali tidak melihat bahwa ada orang di sana. Tapi kemudian sesosok gadis berkulit kecoklatan mengampiri sel. Kini ia bisa melihat jelas gadis itu. Bahkan hanya dengan bantuan cahaya obor temaram.


"Hm, apa yang sudah kau lakukan, Nona? Hingga membuat dirimu harus dilempar ke dalam penjara."


Yue memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Menjawabnya sama saja seperti menabur garam pada lukanya.


"Bungkam, heh? Baiklah, terserah kau saja," kata gadis itu.


"Lai Xin, siapa namamu?" tanya gadis itu.


"Yue."


"Ah, sudah saatnya," kata Lai Xin. Segera ia menyelipkan tangan pada rambutnya. Dan mengambil sesuatu seperti jepitan.


Tanpa membutuhkan waktu lama, Lai Xin telah berhasil membuka gembok selnya. Tapi sebelumnya, gadis itu memastikan bahwa tidak ada penjaga yang berkeliaran. Setelahnya dia berdiri tepat di hadapan Yue. Hanya terpisahkan oleh sel kayu.


"Siapapun kau, Nona. Aku menyukaimu, jadi aku akan membantumu untuk kabur," kata Lai Xin.


Dengan cepat Lai Xin berkutat dengan gembok sel Yue. Dan, terima kasih Dewa. Ini adalah kejadian paling melegakan di sepanjang hari ini. Akhirnya ia bisa menghirup sesuatu yang namanya kebebasan. Terlepas ia sama sekali tidak benar-benar bebas.


"Ayo."


Lai Xin membimbing Yue untuk keluar dari penjara. Bersama beberapa orang lainnya yang Yue yakin mereka adalah teman gadis itu. Mereka bak pencuri profesional atau bak bandit paling dicari. Mereka sangat terorganisir.


Setibanya di luar penjara Yue melihat beberapa penjaga sudah tergelatak di tanah. Beruntung mereka tidak mati, mungkin.


"Kenapa lama sekali?" gerutu seorang pria. Nampaknya pria itu yang telah membuat para penjaga pingsan.


"Maaf, maaf. Mereka terus saja berada di sana," jawab Lia Xin seadanya.

__ADS_1


"Ayo."


Lagi-lagi mereka menyelinap di dalam kegelapan dan berakhir pada sebuah dinding pagar pembatas. Satu dari mereka melompat dengan mudah melewati dinding. Kemudian kedua dan ketiga. Kini hanya sisa Yue, Lai Xin dan seorang gadis lain.


"Apa aku juga harus melompati itu?" tanya Yue polos.


"Kalau kau mau tinggal dan minum teh bersama Yang Mulia, itu pilihanmu. Terserah saja," balas Lai Xin.


Yue menelan ludahnya. Ia takut. Masalahnya ia belum pernah melompati dinding setinggi tiga meter. "A-aku tidak yakin bisa melompatinya."


"Aku tahu. Melihat bentuk tubuhmu saja, orang buta pun tahu, kau tidak cocok dengan sesuatu yang seperti ini," kata Lai Xin. "Hong bantu dia."


Gadis yang berdiri di belakang Lai Xin langsung memposisikan salah satu paha dan kedua tangannya sebagai tumpuan. Sedang kan Lai Xin sudah lebih dulu melompat di atas pagar, bersiap untuk menarik Yue.


Pada hitungan ketiga, Yue dengan mudah bisa melompati pagar. Berkat bantuan Hong dan Lai Xin. Baru saja Yue hendak mengatur nafasnya, mereka bertiga sudah disambut dengan sederet kuda.


"Hari menjelang fajar, sebaiknya bergegas," kata pria yang menghajar para penjaga.


Dengan tangkas Lai Xin dan Hong melompat ke punggung kuda mereka. Meninggalkan Yue yang masih berdiri di tanah.


"A-aku tidak akan ikut," kata Yue lirih pada Lai Xin.


"Lalu kau mau ke mana?"


Pertanyaan yang Yue rasa sangat memukul dadanya. Lai Xin benar, ia sudah tidak punya rumah. Mungkin paman dan bibi Hwang juga telah membencinya. Atau mungkin dihukum seperti dirinya. Ia mengkhawatirkan mereka, tapi sekaligus tidak ingin menyeret mereka dalam bahaya dengan melindungi dirinya.


"Ikutlah, aku tahu kau tidak punya tempat tujuan," kata Lai xin.


Gadis itu terus saja berputar dengan kudanya. Menunggu jawaban Yue. Sampai akhirnya Lai Xin menyerahkan salah satu tali kekang kuda pada Yue.


"Terserah saja kau mau pergi ke mana, itu keputusanmu."


******


Mereka sama sekali tidak tahu saat ada seseorang yang menguping dari balik tembok. Orang itu bahkan telah membuntuti mereka sejak keluar dari penjara. Setelahnya orang itu berlari cepat menuju istana, untuk mengabarkan bahwa ada tahanan yang kabur...


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2