
Upacara pemakaman berlangsung pilu. Tidak ada yang mengetahui sebab pasti kematian sang Putri. Kabar simpang siur mulai merebak. Mulai dari penyakit sampai dikutuk.
Hanya Gu Zheng dan ibunya yang tahu kebenarannya, karena Hwa Nai selalu menceritakan perihal Cheng Li pada mereka. Ibunya yang tidak kuat menanggung sedih akhirnya jatuh sakit berkali-kali.
Sedangkan Gu Zheng, tidak ada lagi pemuda bodoh dan naif. Gu Zheng juga ikut mati saat kakak perempuannya mati. Ia akan menepati janji terakhirnya pada Hwa Nai. Tapi ia juga menyiapkan rencana terbaiknya untuk menghancurkan An Cheng Li.
Ya, di sinilah ia. Kabar mengenai pertunangan Putra Mahkota An pun terdengar sampai ke telinganya. "Aku akan menghancurkanmu seperti kau menghancurkan kakakku."
"Aku akan merebutnya darimu," gumam Gu Zheng.
Ia memandang jauh iringan kereta Kerajaan Shicuan. Tidak jauh di belakang iringan kereta itu para bandit mengejar. Sengaja Gu Zheng membayar mereka untuk melakukan pekerjaan kotor itu.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai para bandit menyelesaikan tugas mereka. Menyisakan mayat dan kereta terbakar. Saat itulah Gu Zheng mendekat.
Ia turun dari kudanya. Sesuai perintah mereka menyisakan beberapa orang yang hidup. Termasuk si Putri Bungsu. Di balik tumpukan kayu, Gu Zheng menemukan seorang gadis kecil dengan jepitan emas di rambutnya. Gadis itu juga terluka cukup parah. Bagus.
Ia membawa gadis kecil itu bersamanya ke istana serta mengobati lukanya. Ia juga memerintahkan seseorang untuk memberi stempel cap di punggung gadis kecil itu. Cap yang akan menjadikannya sebagai budak seumur hidupnya. Menjadi kasta terendah.
Tapi rencananya tidak puas sampai disitu saja. Yang ia butuhkan sekarang hanya kesabaran. Waktunya pembalasan akan tiba.
******
"Kau tidak apa-apa?" isaknya.
"Sedikit sakit."
"Maaf, karena aku kau jadi ... jadi ...."
"Ini bukan masalah besar."
__ADS_1
"Tapi kau mengalami luka bakar itu karena aku, karena aku memberikan jepitan emas itu padamu, Ah Mei."
Ah Mei menggeleng. Yang bisa mereka lakukan hanya bersingut di sudut penjara gelap. Bersama anak-anak lain.
"Aku yang dicari oleh mereka, tapi ... tapi..."
"Tidak apa-apa. 'Kan kita sudah saling bertukar ikat rambut. Mungkin sudah suratan takdir aku menerima luka ini."
"Maafkan aku." Gadis itu mengusap ingusnya dan berusaha menenangkan diri. "Menurutmu mereka akan membawa kita ke mana?"
"Mereka akan mencarikan keluarga baru untuk kita. Biasanya memang seperti ini, anak-anak yang kehilangan keluarga karena pemberontakan akan dicarikan keluarga baru," kata Ah Mei. "Jadi, kau benar-benar tidak ingat siapa namamu?"
Gadis kecil di sebelah Ah Mei menggeleng.
"Setidaknya kau harus memiliki nama," kata Ah Mei.
"Hoi, keluarlah!" perintah seorang penjaga.
"Ah Mei!"
"Tidak apa-apa, kau tunggulah di sini," ujar Ah Mei.
Ah Mei digiring menuju aula istana. Ini kali pertama dirinya masuk ke dalam istana. Begitu indah, batinnya.
"Aku hanya akan menikah dengan dia," kata seorang pemuda.
Ah Mei yang tidak tahu apapun langsung menjadi sorotan semua orang yang berada di sana. Begitu pula dengan pemuda tadi yang menunjuknya.
Pemuda itu terlihat dingin dan menakutkan. Sekilas tampak raut marah di wajah tampannya. Lalu kembali pada para tetua yang siap menunggu penjelasan.
__ADS_1
"Aku jatuh hati pada gadis itu, aku hanya akan menikah dengannya," ucap pemuda itu lagi.
"Omong kosong! Dia hanya gadis dari kalangan rendahan!"
"Bukankah sang Kaisar bebas memilih calon istrinya?" Semua yang ada di dalam aula terdiam. "Aku calon pewaris tahta. Apa kalian ingin menentangku?"
"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan," ujar Kaisar Yuhan. "Aku serahkan semuanya padamu."
"Yang Mulia," serentak para tetua protes mengenai keputusan sang Kaisar.
"Sudah keputusanku, Putra Mahkota akan mempersunting gadis itu kelak," ujar sang Kaisar tegas.
Pemuda tadi menghampiri dirinya dan penjaga yang berdiri di belakangnya lalu menyeret penjaga itu pergi. Tentu karena tidak ingin ditinggal sendiri, Ah Mei pun mengekor.
"Siapa gadis itu?"
"Tentu saja gadis yang Yang Mulia perintahkan untuk dicap," jawab penjaga itu ketakutan.
"Apa kau buta? Aku meyuruhmu untuk mencap gadis yang memakai jepitan emas," desis pemuda itu.
"Dia ... dia memakainya, Yang Mulia."
"Kau, dari mana kau mendapatkan jepitan itu?" tanya pemuda itu yang kini berbalik pada Ah Mei.
"Dari temanku, Yang Mulia. Kami ... kami bertukar ikat rambut sebagai tanda persahabatan," kata Ah Mei dengan gemetaran.
Setelah mendengar penjelasan Ah Mei, pemuda itu pergi begitu saja. Tapi, tunggu. Pemuda itu mengatakan soal pernikahan dengannya. Apa ini artinya ia akan menjadi seorang putri? Senyum Ah Mei langsung memudar saat mengingat gadis kecil yang sesungguhnya memiliki jepitan emas ini.
"Jadi, ini seharusnya bukan untukku?"
__ADS_1
~FLASHBACK END~