Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXX


__ADS_3

Lai Xin berusaha mendorong Fang Wei untuk menjauh, tapi pria itu terlalu kuat. Alhasil, ia membuang muka saat pria itu menatapnya tajam.


"Apa yang akan Gu Zheng lakukan jika tahu kau di sini?"


"Aku akan membunuhnya terlebih dulu," desis Lai Xin. "Kau ... kalian sama saja."


"Jelas kau masih membenciku," tukas Fang Wei.


Fang Wei melepas pegangannya pada Lai Xin lalu mundur beberapa langkah. Dalam ruangan yang hanya diterangi sorot sinar matahari dari celah dinding, tidak menghalanginya untuk bisa melihat pria itu secara keseluruhan. Dan seperti biasa Fang Wei tetaplah Fang Wei. Tampan. Lai Xin benci itu.


"Aku akan sangat senang sekali jika bertemu dengan kakakmu itu. Dengan begitu aku tidak perlu repot mengobak-abrik istana untuk menemukannya."


"Kau masih sama kasarnya seperti terakhir kali kita bertemu," kata Fang Wei. "Pergilah, biar aku yang mengurus sisanya."


Lai Xin tersenyum sinis lalu berkacak pinggang. "Baiklah. Tapi aku tidak akan menganggap ini sebagai hutang. Anggap saja aku memang pantas mendapat ini darimu."


"Terserah padamu." Giliran Fang Wei yang sekarang tersenyum. "Bagaimana keadaan gadis malang itu?"


Wajah Lai Xin datar seketika. "Siapa?"


Lai Xin punya firasat tentang gadis yang disebutkan oleh Fang Wei. Terlebih kalau benar yang dimaksud oleh pria itu adalah Yue, ia sama sekali tidak suka kalau adiknya itu disebut sebagai gadis yang malang.


"Adikmu, siapa lagi?"

__ADS_1


"Bukankah kau harus menjelaskan beberapa hal padaku tentang ini," desis Lai Xin.


Ia marah. Sangat. Kata-kata Fang Wei seakan tahu dan menunjukkan siapa adiknya yang sebenarnya. Kalau memang benar begitu, berarti pria itu tahu segalanya sedari awal. Dan dia diam saja. Brengsek!


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang, yang jelas aku tidak serendah itu," kata Fang Wei. "Aku hanya tahu sebagian dan itu pun hanya sepenggal rahasia."


"Jadi kau mengakuinya, kalau gadis yang bernama Yue itu adalah adikku?!"


Fang Wei diam seribu bahasa. Seakan takut jawabannya akan membuat Lai Xin semakin marah dan kalut.


Lai Xin hendak membuka pintu dengan kasar, namun ditahan oleh Fang Wei. Sontak hal itu membuat Lai Xin menyentakkan tangan pria itu.


"Jangan menyentuhku," desisnya sekali lagi. "Hah! Aku harap kalian tidak akan pernah muncul lagi dalam kehidupan kami. Selamanya. Akan aku pastikan Yue tidak pernah bertemu lagi dengan kakakmu!"


"Katakan, apa dia baik-baik saja?" tanya Fang Wei sekali lagi.


"Apa menurutmu kehilangan seorang bayi itu bisa disebut baik-baik saja?!"


"Apa kau bilang?" tanya seseorang dibelakang Fang Wei.


*****


Yue agaknya sedikit terkejut saat Cheng Li menciumnya singkat tadi. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya karena malu. Pria itu terus saja berusaha menyentuhnya. Dan Yue keberatan dengan hal itu.

__ADS_1


Beruntung Xiaoli sendiri yang mengantarkannya ke kamar. Setidaknya rasa bencinya terhadap gadis itu bisa membuat Yue tetap sadar dimana dirinya sekarang.


Ya, ia sudah memutuskannya. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas semua orang yang telah menyakitinya terutama Gu Zheng. Kalau perlu ia akan menikahi Cheng Li. Mengingat Kerajaan Yuhan dan An yang tidak akur, Yue penasaran dengan reaksi pria itu kalau tahu sekarang ia berada di tangan musuhnya.


Sebelum ini ia memang sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Cheng Li. Lalu tiba-tiba seolah Dewa memberinya jalan. Ide-ide gila memenuhi otaknya selama perjalanannya menuju Kerajaan An. Dan menikahi Cheng Li adalah salah satunya.


Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Lai Xin dan menceritakan segalanya, tapi Yue mengurungkan niatnya. Kalau ia menceritakan semuanya sekarang, Yue yakin kakaknya itu tidak akan membiarkan dirinya menginjakkan kaki di tanah Yuhan atapun An.


"Asal kau tahu saja. Perbuatanmu ini bisa memicu perang antara Sichuan dan An," kata Xiaoli tiba-tiba. "Aku tidak akan berpura-pura baik hanya karena kau bisu sekarang. Dan kalau sampai perang terjadi karena dirimu, aku pastikan akan membuatmu menyesal."


Yue sangat tahu apa yang dilakukannya sekarang. Benar kata Xiaoli. Dengan temperamen Lai Xin, bisa saja perang terjadi. Tapi ia memiliki rencana sendiri. Yue telah memikirkan ini masak-masak. Dan bisa Yue pastikan perang tidak akan terjadi hanya karena dirinya.


Yue mengambil secarik kertas dan kuas diatas meja dan mulai untuk menulis. Xiaoli yang duduk diseberangnya hanya membuang muka dengan kesal. Setelah selesai menulis dan melipat kertas itu, Yue menyerahkannya pada Xiaoli.


"Aku melakukannya karena ini adalah hal yang paling masuk akal untuk dilakukan, kau mengerti 'kan?"


Yue menganngguk. Ia sangat paham sekali maksud gadis itu. Sama seperti dirinya, Xiaoli juga tidak ingin peperangan terjadi. Jadi gadis itu mengiyakan saat Yue ingin menulis surat untuk Kerajaan Sichuan. Mengabarkan bahwa dirinya bak-baik saja.


Setelah menerima surat itu, Xiaoli keluar tanpa berucap lagi. Meninggalkan Yue yang tertunduk lesu. Sesekali ia mengelus dadanya. Sakit setiap kali mengingat Gu Zheng dan Ah Mei.


Mulai dari sini ia akan melakukannya dengan caranya sendiri. Ia akan berjuang untuk haknya. Ya, tahta permaisuri Yuhan adalah miliknya. Ia akan merebutnya kembali, meski melukai banyak orang serta dirinya sendiri dalam prosesnya. Ia siap melakukannya.


Ia akan membuat Gu Zheng bertekuk lutut di hadapannya.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2