
Semua tamu undangan hampir dipastikan datang. Kerajaan An yang menjadi tuan rumah telah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk hiburan untuk para tamu yang hadir.
Awalnya Cheng Li berniat mengumumkan pertunangannya dengan Yue, namun ia mengurungkannya. Terlalu dini jika ia mengikat Yue sekarang. Terlebih gadis itu menolak setiap sentuhannya. Ia akan menunggu sampai Yue benar-benar mau menerimanya.
Heran, tidak biasanya juga Cheng Li pemurah seperti ini. Ia bisa memiliki gadis manapun tapi untuk yang satu itu, perlu perjuangan. Gadis manapun bersedia naik ke ranjangnya tanpa diminta tapi Yue tidak.
Hampir frustasi rasanya harus menahan diri. Haruskah ia menjadikan Yue sebagai permaisurinya? Ia sudah memiliki empat selir, namun belum memiliki permaisuri.
"Andai saja dia sama seperti gadis-gadis lain," gumam Cheng Li.
Tapi kalau dipikir sekali lagi, itulah yang membuat Yue istimewa. Berbeda dengan gadis pada umumnya. Terlebih dengan status Yue sebagai seorang putri. Sesuai harapan mendiang ayahnya, yang mengharapkan kerjasama antara An dan Sichuan. Sepertinya ia harus serius menjadikan Yue permaisurinya.
Masalahnya ia tidak bisa kalau harus menjadi yang nomor dua, harga dirinya sebagai Kaisar dipertaruhkan. Cheng Li benci itu.
"Terkutuklah Gu Zheng," umpatnya pelan.
Cheng Li rasa, dirinya kembali jatuh hati pada gadis itu. Cinta pada pandangan pertama seperti tiga belas tahun yang lalu. Tapi Yue yang sekarang bukanlah Yue yang ia kenal dulu.
Mata coklat terangnya tidak lagi hangat. Senyumnya tidak sepolos dulu. Sedikit banyak seakan ia bisa melihat Xiaoli pada diri Yue.
Dan yang paling penting, gadis itu tidak lagi perawan, syarat utama dan mutlak untuk menjadi seorang permaisuri. Saat menyadari hal itu semakin membuat Cheng Li merasa frustasi.
Ia bisa tahu hanya dengan sekali lihat, mana gadis perawan dan tidak. Katakanlah ia sudah sangat berpengalaman mengenai hal yang satu itu. Mungkin karena ia suka bermain wanita dan hampir semua gadis bangsawan Kerajaan An pernah naik ke ranjangnya.
Semua selirnya juga memiliki peranan mereka masing-masing. Cheng Li menganggap mereka sebagai tali pengendali, karena para ayah mereka adalah dewan Kerajaan An. Pernikahan politik, itulah yang Cheng Li dapatkan dari keempat pernikahannya.
Dan Yue akan menjadi salah satunya. Bedanya, kalau ia menikahi Yue, tentu ia akan mendapatkan pernikahan politik, tapi kali ini juga berdasarkan cinta meski satu arah.
Pertama yang harus ia lakukan adalah mengenyahkan Gu Zheng dari pikiran gadis itu. Mungkin ia juga harus sedikit memaksa. Sehari penuh bersama Yue, cukup membuat Cheng Li tahu betapa keras kepalanya gadis itu.
"Tidak bisakah kau mengurungkan niatmu untuk menikahi gadis bisu itu?" tanya Xiaoli berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Jawabannya akan tetap sama," balas Cheng Li. "Seingatku dulu, kau menyukai gadis itu."
"Itu dulu. Sebelum semua kerumitan ini terjadi. Dulu aku sangat berterima kasih pada Dewa karena mengirimkan gadis itu untukmu, tapi sekarang semua berubah menjadi bencana."
"Siapa yang memicu ini terlebih dulu?" sindir Cheng Li.
"Siapa yang memulainya?" tanya Xiaoli balik dengan tatapan mengejek. "Hah! Kalau saja kau tidak meniduri gadis itu, semua ini tidak akan terjadi."
"Nampaknya kau lupa dengan pepatah 'kata-kata bisa setajam pedang'," balas Cheng Li.
Tidak ada lagi yang saling menimpali setelahnya. Mereka sama-sama menatap Kerajaan An dari atas balkon istana. Dari kejauhan lampion bersinar di sepanjang jalanan menuju istana. Tertata rapi.
Kota juga dipenuhi lampion dan hiasan khas festival lima kerajaan. Acara yang hanya diadakan setiap lima tahunan sekali. Di atas jalanan, kereta kuda para tamu saling berjajar dan menunggu giliran untuk memasuki halaman istana.
"Saatnya berpesta," kata Cheng Li.
*****
Ah Mei bergerak gelisah di dalam kereta kuda. Gu Zheng yang duduk di sebelahnya acuh dan membuang muka. Pria itu juga menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengannya.
Salahkan Gu Zheng yang mengucap sumpah pertunangan di depan Kaisar tanpa memastikan terlebih dulu. Ah Mei hanya mengambil kesempatan yang Dewa berikan, apa itu salah?
Dan sekarang dirinya juga masih harus merangkak untuk mempertahankan posisinya. Entah apa yang akan Yue lakukan di sana. Mungkin gadis itu sudah menyiapkan racun untuk dirinya sebagai balasan atas perbuatannya.
Tentu saja, kalau perlu ia tidak akan makan dan minum selama perjamuan di Kerajaan An. Tidak makan barang sehari atau dua hari bukan masalah untuk Ah Mei. Ia sudah biasa melakukan hal itu saat masih tinggal dengan ayahnya yang pemabuk.
"Saya tahu, Anda pasti sangat berharap mendapatkan maaf dari Yue. Tapi apakah akan semudah itu?" ujar Ah Mei. "Ingatlah kita ini sama."
"Apa kau pikir Kaisar sebanding dengan seorang pembunuh?"
"Jangan naif. Anda bahkan lebih banyak membunuh dari pada saya," sindir Ah Mei.
__ADS_1
Gu Zheng tersenyum sinis. "Benar. Dan bisa saja 'kan aku menghilangkan nyawa permaisuriku sendiri. Menghilangkan satu nyawa lagi bukan masalah untukku."
Setiap kalinya Ah Mendengar ancaman Gu Zheng, hal itu terasa seperti sungguh-sungguh. Kalau saja tidak ada Ibu Suri Jia, habislah dirinya. Beruntung wanita tua itu sangat menyayangi dirinya. Memberikan perlindungan sekaligus tameng mutlak untuk Ah Mei.
"Nenekku tidak akan selamanya bisa melindungimu, ingat itu. Berterima kasihlah pada beliau karena memberimu kesempatan duduk di kursi permaisuri."
"Anda benar. Bukankah kalau seperti ini Dewa juga masih memberi saya kesempatan. Saya sangat beruntung."
"Katakan, apa yang membuat seorang gadis desa sepertimu hingga berani memimpikan kursi permaisuri? Harus kuakui kau punya nyali."
Hening untuk sesaat. Ah Mei menimbang setiap perkataannya pada sang Kaisar. Dengan berani juga, ia menyentuh lengan Gu Zheng. Melingkarkan lengannya di sana.
"Anda. Anda yang membuat saya seperti ini. Karena saya jatuh hati pada Anda. Dan Anda sendiri yang memberikan kesempatan itu. Bukankah hidup ini harus punya nyali untuk bermimpi," ujar Ah Mei. "Mimpi awal dari segalanya."
Dengan kasar dan cepat, Gu Zheng menghentakkan tangan Ah Mei dari lengannya. Lalu kembali membuang muka tanpa membalas.
*****
Gu Zheng sangat jengah terhadap gadis yang berjalan di sampingnya. Berpura-pura menjadi Kaisar dan Permaisuri yang akur sungguh membuatnya muak. Terlebih dengan senyum sinis Cheng Li saat menyambutnya.
"Bagaimana rasanya?" bisik Cheng Li.
"Kau ingin mencobanya?" balas Gu Zheng sinis.
Sindiran yang singkat, namun sangat menjengkelkan. Beruntung ia tidak membawa pedangnya sekarang ini. Sehingga menghindarkan dirinya menebas Ah Mei dan Cheng Li sekaligus akan menjadi acara pembuka festival lima kerajaan.
Mereka digiring ke tempat duduk yang telah disiapkan sebelumnya. Saat Gu Zheng memasuki ruang singgasana tempat perjamuan berlangsung, banyak dari para undangan berkasak-kusuk. Bisa ia tebak mereka sedang membicarakan siapa. Seperti Gu Zheng peduli saja.
Acara perjamuan berlangsung sangat meriah. Tuan rumah nampaknya tidak tanggung-tanggung kali ini. Tapi kemeriahan itu tetap membuat Gu Zheng merasa jengah. Terlebih dengan pandangan menusuk dari Ratu Hwei Yang dan Lai Xin. Nampaknya Cheng Li berniat membunuh Gu Zheng melalui kedua gadis itu.
Tapi perhatiannya langsung teralihkan saat melihat seorang gadis memasuki aula singgasana dengan mengenakan gaun merah serta membawa dua bilah pedang di tangannya.
__ADS_1
Ya, dia adalah Yue.
Tbc...