
Ibu Suri Jia terperanjat di tempatnya. Tidak menyangka bahwa Gu Zheng akan mengatakan hal seperti itu. Sedangkan ibunya, hanya tersenyum tipis. Seperti sudah menduga bahwa Gu Zheng akan melakukannya cepat atau lambat.
"Aku tidak tahu bahwa kau memiliki wanita lain, Yang Mulia," ujar Ibu Suri Jia. "Tapi ... kalau itu yang kau inginkan, itu hakmu sebagai seorang kaisar."
"Jadi siapa gadis ini?" tanya Ibu Suri Han memastikan.
"Putri bungsu dari Kerajaan Sichuan."
Dengan langkah perlahan, Ah Mei mendekat dan berdiri di samping Gu Zheng. "Jadi Anda ingin mengangkat seorang selir, Yang Mulia?"
"Ah, kebetulan kau di sini. Bagaimana pendapatmu, Permaisuri?" tanya Ibu Suri Han.
"Ibu tahu kalau aku tidak peduli dengan pendapat kalian. Setuju atau tidak, aku akan tetap mempersunting gadis itu. Seperti yang Nenek katakan, itu adalah hakku sebagai Kaisar."
"K-kalau itu yang Anda inginkan, saya tidak akan mempermasalahkannya," kata Ah Mei yang tertunduk dan berusaha menyembunyikan wajah pucatnya.
"Kau sudah mengambil kesucian gadis itu, terlebih dia adalah seorang putri. Tentu niat baik ini harus segera dilaksanakan. Ah, apa tadi Yang Mulia juga mengatakan bahwa gadis itu sempat mengandung anakmu--cicitku? Aku tidak salah dengar, bukan?"
"Begitulah. Karena suatu hal dia kehilangan calon bayi kami."
"Ya Dewa, sayang sekali. Gadis yang malang. Kelak kau harus lebih bertanggung jawab, Yang Mulia. Siapa nama gadis itu?"
"Yuan Yue Bi. Kalian mengenalnya, gadis yang menjadi salah satu calon selir Kerajaan Yuhan."
Ibu Suri Jia hampir menjatuhkan cangkirnya saat mendengar perkataan Gu Zheng. "Apa maksudmu, Yang Mulia?"
"Seperti yang Nenek dengar," kata Gu Zheng.
"Tapi ... tapi gadis itu ...." Ibu Suri Jia memegangi pelipisnya. Hampir wanita tua itu luruh dari kursinya.
"Apa kau yakin?" tanya Ibu Suri Han sekali lagi.
"Dia seorang putri?" tanya Ibu Suri Jia yang juga ikut bertanya. "Tunggu ... bukankah itu artinya ... kau, kalian harus menjelaskan ini."
Sesuai dugaan Gu Zheng, dengan cepat ibunya tanggap dengan maksud dan tujuannya. Ia tidak ingin membuat neneknya terlalu terbebani dengan masalah ini. Maka dari itu secara halus dan perlahan, ia mengungkapkan siapa sebenarnya Yue. Dengan mengetahui bahwa Yue adalah seorang putri, itu artinya kebenaran sedikit demi sedikit sudah terungkap.
__ADS_1
Layaknya penjahat, Gu Zheng dan Ah Mei disidang di hadapan kedua ibu suri. Nampaknya Ibu Suri Han sudah tahu garis besar masalah ini. Jadi, wanita itu tidak tampak terkejut dengan penjelasan Gu Zheng.
Mulai dari penyelamatan Yue dari serangan bandit. Dengan mengurangi penjelasan bahwa dirinya lah yang memerintahkan para bandit itu. Berlanjut bahwa pengawal salah membawa seorang gadis karena jepitan rambut. Yang jadinya ia juga salah mengucap sumpah pertunangan kala itu.
"Tapi yang bertunangan denganmu ...," kata neneknya sambil memandang Ah Mei, "dia?"
"Setelah mengucap sumpah, aku baru menyadari bahwa gadis yang dibawa oleh pengawal adalah gadis yang lain saat melihatnya," jelas Gu Zheng.
"S-saya tidak berbohong, Yang Mulia! Sumpah itu memang untuk saya," sahut Ah Mei.
"Kau benar. Sumpah dengan mendiang Kaisar terdahulu memang tidak bisa dengan mudah diubah begitu saja," kata Ibu Suri Jia dengan lesu.
Wanita tua itu yang tadinya penuh belas kasih pada Ah Mei. Kini tatapannya berubah. Tidak perlu penjelasan lebih jauh untuk menarik benang kebenaran dari yang Gu Zheng ungkapkan.
Gu Zheng juga menghentikan penjelasannya cukup sampai di sana. Tidak kurang dan tidak lebih. Sudah cukup untuk hari ini, batinnya.
Sisanya akan memberikan semuanya pada Yue. Gu Zheng tidak akan menampik bahwa dirinya bersalah pada gadis itu. Biarlah gadis itu memutuskan hukuman apa yang pantas untuk dirinya.
"Lalu kenapa baru sekarang?" tanya Ibu Suri Jia. "Kenapa baru sekarang kau mengatakan semuanya?"
Ya, rahasia yang menjadi awal mula segalanya, baik ibunya maupun Gu Zheng menyimpannya rapat-rapat selama tiga belas tahun terakhir. Rahasia yang akan mencoreng nama keluarga Kerajaan Yuhan jika terungkap.
Gu Zheng berniat menanggung aib itu sendiri dan membawanya hingga ke liang lahat. Tidak bisa ia bayangkan jika neneknya tahu mengenai rahasia itu. Cukup ibunya yang hancur setelah tahu kebenaran di balik kematian Gu Hwa Nai.
"Aku ingin kau pergi ke kediamanmu, Permaisuri," titah Ibu Suri Jia. "Aku ingin berbicara dengan Yang Mulia."
Dengan berat hati, Ah Mei keluar dari kediaman Ibu Suri Jia tanpa membantah. Meninggalkan ketiga orang itu yang masih memasang wajah serius.
Setelah pintu tertutup, Ibu Suri Jia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Gu Zheng. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu melakukan hal ini, pernikahan bukan lah hal yang bisa dipermainkan."
"Apa kau sadar, kalau perbuatan ini bisa memicu perang antara Yuhan dan Sichuan juga An? Gadis yang kau inginkan itu, dia sudah memiliki ikatan dengan An."
"Aku tahu, tapi aku juga tidak bisa berhenti mencintai gadis itu. Tanpa sadar dia sudah mengisi sudut hati cucumu ini," kata Gu Zheng.
"Apa kau juga tahu hal ini?" tanya Ibu Suri Jia pada Ibu Suri Han. "Karena itu kau diam saja selama ini? Membiarkan putramu berbuat sesuatu di luar batas?"
__ADS_1
"Selama dia bisa meluruskan segalanya atas apa yang telah diperbuat, saya hanya bisa mendukungnya, Ibu."
"Hah, apa yang telah membuat kalian melakukan hal memalukan seperti ini? Masih tidak mau memberitahu?"
Gu Zheng terdiam atas pertanyaan itu, begitu juga ibunya.
"Kau pun tahu gadis itu akan tetap menjadi permaisuri sesuai wasiat Kaisar terdahulu. Kau ataupun aku tidak akan bisa mengubahnya, kecuali dia yang menyerahkan tahtanya," ujar Ibu Suri Jia.
Wanita tua itu terlihat berpikir keras. Tampak kerutan yang semakin bertambah memenuhi wajah tuanya.
"Lakukan apa harus kau lakukan. Kalau saja kau belum mengambil kesucian gadis itu, aku tidak akan memberikanmu izin. Berhubung ini menyangkut nama baik Kerajaan kita, aku akan mendukungmu. Tapi aku ragu kalau gadis itu mau memaafkan kita, kau mengerti maksud nenekmu ini 'kan?"
"Terima kasih, Nek."
******
Ah Mei membanting pintunya ketika masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya pucat pasi. Mengkhawatirkan apapun yang ingin dibicarakan oleh wanita tua itu pada Gu Zheng.
"Karena itu aku bilang kau ini bodoh," sahut suara yang berasal dari ranjang Ah Mei. "Aku ingin membantumu tapi kau menolaknya mentah-mentah."
"Apa kau ingin kehilangan kepalamu?" tanya Ah Mei yang tidak melihat dengan siapa dirinya berbicara.
Ah Mei tahu siapa orang itu. Dan hanya orang itu yang berani masuk ke kediamannya tanpa diketahui oleh orang lain. Ah Mei sangat mengenalnya bahkan ketika dirinya masih sebagai seorang dayang.
"Aku berencana menjadikanmu permaisuri, bukankah aku begitu baik? Tapi penolakanmu membuatku terluka."
"Benarkah?" tanya Ah Mei sinis. "Jadi apa yang akan kau lakukan untuk menjadikanku sebagai permaisuri?"
"Tidak banyak. Mungkin kita bisa memulainya dari ini," kata orang itu yang langsung saja membekap mulut Ah Mei dengan ciuman menuntut dan kasar.
"Jadi, bagaimana?" bisik pria itu di bibir Ah Mei. "Tapi aku ingin mengambil imbalanku terlebih dulu."
Ah Mei menatap nanar pria di depannya. Kalau saja pria ini adalah Gu Zheng, batinnya.
"Apapun, asal kau menjadikanku permaisuri."
__ADS_1
Tbc....