Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXXIX


__ADS_3

Ah Mei terlonjak dari tempatnya, menjatuhkan botol arak yang dipegangnya ke lantai. Sedangkan Yue menatap temannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia bisa melihat kekakuan pada tubuh Ah Mei. Senang saat tahu bahwa efek yang ia berikan mampu membuat gadis itu sampai tidak mampu berkata-kata.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Yue yang sudah mengambil sebuah kursi dan duduk di sana. Tidak peduli dengan tatapan tidak suka yang Ah Mei layangkan.


"K-kau, apa yang kau lakukan di sini? Kau ... bisa bicara?"


"Duduklah, aku ingin menyapamu secara benar. Bagaimana pun kau adalah Permaisuri dan aku adalah selir."


Yue mengambil teko berisi air di meja dan menuangkannya perlahan ke dalam cangkir. Kemudian menyodorkan cangkir itu pada Ah Mei. Menunggu gadis itu duduk di depannya.


"Pergi dari kamarku!"


Dengan kasar Ah Mei menampik cangkir itu dari meja. Membuatnya tumpah dan pecah di atas lantai. Setelahnya gadis itu mundur beberapa langkah, tersandung hingga terduduk kembali di tepian jendela.


Di bawah remangnya cahaya lilin, mata Ah mei terlihat berkaca-kaca karena menahan amarah. Tubuhnya dan pikirannya yang sudah terpengaruhi arak seperti tidak bisa melakukan apapun untuk menanggapi situasi mereka sekarang.


"Baiklah. Kurasa cukup untuk hari ini." Yue berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Sebelum menutup pintu itu, ia kembali tersenyum sebagai salam perpisahan. "Mulai sekarang mohon bimbingannya, Ah Mei-ah."


Tidak bisa menahan rasa senangnya, kaki Yue melompat-lompat kecil sembari berjalan menuju kamarnya. Ia tidak menyangka bahwa balas dendam akan sangat menyenangkan seperti ini, terasa begitu manis di lidahnya. Tapi rasa senangnya seketika langsung luntur saat melihat pria di depannya.


"Apa yang pengantinku lakukan di tengah malam seperti?"


"Hanya mencari udara segar."


Gu Zheng mengangkat sebelah alisnya kemudian menyeringai. "Jadi benar kau sudah bisa bicara?"


Yue salah tingkah. Sial, padahal ia ingin menyembunyikannya sedikit lebih lama lagi. Dan sekarang, astaga!


Ia kelepasan! Baiklah, tidak masalah. Toh Yue juga tidak berniat menutup-nutupinya dari pria itu.


Sekilas Gu Zheng menilik dari mana arah Yue datang tadi. Jelas hal itu tidak mempengaruhi Gu Zheng. Seperti masa bodoh. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Yue pada Ah Mei.


"Udara cukup dingin di luar," ucap Gu Zheng.


"Apa pedulimu?"


"Kau istriku. Kau tidak lupa kalau kita Suami-Istri, bukan?"


Pria itu maju beberapa langkah untuk menyambar pelan tangan Yue, namun segera ditampik dengan kasar.


"Jangan menyentuhku! Kau tidak lupa dengan surat perjanjian itu, bukan?"


"Ingat, sangat ingat. Dan kalau bisa aku memang ingin sengaja melupakannya," timpal Gu Zheng.


Arogan. Pria ini masih sama seperti dulu. Dan sialnya Yue hampir saja melupakan sifat bejat Kaisar yang satu ini. Tanpa membalas, Yue melewati pria itu begitu saja. Mengacuhkannya.


Percuma adu mulut dengannya.



Dua hari berlalu sejak pernikahan Yue. Kini saatnya menghadapi medan pertempuran yang sesungguhnya. Sesuai tradisi, Yue diboyong ke Kerajaan Yuhan.



Dan di sinilah mereka. Di dalam kereta yang terasa semakin panas dan sesak. Gu Zheng kali ini lebih memilih duduk manis di dalam kereta bersama permaisuri dan selirnya dari pada berkuda sendiri.

__ADS_1



Pria itu seakan tidak ingin melewatkan moment saat Yue mengintimidasi Ah Mei.



Ya, sejak meninggalkan Kerajaan Sichuan, Yue tak henti menatap tajam sang Permaisuri dan sebagai balasannya Gu Zheng tak henti menatap Yue. Sedangkan Ah Mei, tak bosan gadis itu menunduk dan sesekali membuang muka ke luar jendela.



Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa Yue lalukan untuk mengalihkan perhatiannya dari tatapan Gu Zheng yang terasa sangat berat untuk hatinya.



Terlebih dengan posisi duduk yang sekarang ini, Gu Zheng duduk bersebelahan dengan Ah Mei. Sedangkan Yue duduk di depan mereka. Tentu tidak mudah untuk menghindar, bukan?



"Yang Mulia, bagaimana kalau kita membelikan beberapa oleh\-oleh untuk Ibu Suri?" tanya Ah Mei yang memecah keheningan.



"Kedua kakak iparku, sudah sangat baik dengan memberikan hadiah yang begitu banyak kepada Ibu dan Nenek." Gu Zheng terus saja menatap Yue tanpa bosan. "Bagaimana kalau aku mengirimkan beberapa hadiah untuk mereka sebagai balasannya?"



Jelas pertanyaan itu ditujukan untuk Yue.




"Akan lebih menyenangkan lagi kalau Permaisuri juga ikut andil dalam memilihkan hadiah untuk kedua kakakku? Mereka pasti senang."



Nampak raut ketakutan di wajah Ah Mei saat mendengar Yue berbicara dan membalas perkataan Gu Zheng. Atau lebih tepatnya bergidik karena takut.



"Luar biasa. Bukan begitu, Permaisuri?"



Setelahnya, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan. Bungkam dengan pikiran mereka masing\-masing. Tapi anehnya di dalam kereta semakin terasa menyesakkan dan memuakkan bagi Yue.



Bukankan ini sudah seperti tatapan dan cinta segi tiga yang mematikan?



"Selamat datang," sapa Ibu Suri Jia. Wanita itu memeluk erat Yue dengan kaku. Yah, bagaimana pun juga dia pernah memaki dan merendahkannya.


Tak heran kalau semuanya terasa canggung. Terlebih dengan status kebangsawanan Yue yang sekarang.

__ADS_1


"Istirahatlah. Para dayang akan mengantarmu, Selir Yue," kata Ibu Suri Han.


Dengan cepat Yue mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka. Tidak ada basa-basi. Akhirnya ia kembali ke istana ini, batinnya.


Yue tidak akan mencari teman di sini, cukup tahu bahwa semua yang ada di sini adalah musuhnya. Dan tidak bosan juga kakak-kakaknya selalu memperingatkannya.


Di sudut hatinya tak dapat dipungkiri, ia takut. Tapi dengan keberanian yang sudah Yue kumpulkan selama ini dan dengan semua yang telah terjadi. Ini bukanlah apa-apa.


Ia hanya harus bertahan.


Dan juga, baik Gu Zheng dan Ah Mei belum ada yang buka mulut perihal dirinya yang sudah bisa berbicara. Entah apa rencana mereka.



"Baiklah, kurasa aku juga harus kembali dengan segala *****\-bengek urusan istana." Gu Zheng mengecup singkat punggung tangan ibu dan neneknya. "Aku sudah terlalu lama meninggalkan singgasanaku."



Setelah sang Kaisar berlalu, kini hanya tinggal kedua Ibu Suri dan Ah Mei.



Seperti yang Ah Mei duga, sikap dingin kedua ibu suri semakin menjadi. Mengabaikan dan acuh padanya. Itu yang membuat Ah Mei geram.



Seperti angin lalu mereka pergi begitu saja meninggalkan Ah Mei sendirian. Tanpa berkata apapun. "Kalian pikir, kalian bisa memperlakukanku seperti ini?"



"Hm, biarkan saja. Mereka memang seperti itu," kata Xu Wei yang sudah berdiri di belakangnya.



"Sudah kubilang, jangan dekati aku! Kau harus tahu di mana posisimu."



Dengan langkah menghentak, Ah Mei meninggalkan Xu Wei yang masih menyeringai. "Kau perlu terjatuh untuk sadar akan keberadaanku."



Xu Wei mengatakannya sangat lirih hingga tidak mungkin didengar oleh Ah Mei yang sibuk dengan amarahnya.



Gu Zheng merasa frustasi dengan pekerjaannya yang menggunung. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Terutama pada Yue.


Sudah beberapa hari ini ia memboyong gadis itu ke sini, namun selama beberapa hari itu juga Yue mengabaikannya.


Sial. Kalau saja tidak ada surat perjanjian itu. Mungkin ia sudah membuat Yue mendesahkan namanya setiap malam.


Jadi mungkin inilah pembalasan Yue padanya. Tidak ada hukuman yang lebih berat untuk seorang suami, saat istrinya menolak untuk disentuh, bukan?


"Haruskah aku bersikap sedikit lebih kasar?"

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2