
Tanpa menunggu berakhirnya festival lima kerajaan, Yue meminta untuk pulang ke Kerajaan Sichuan. Tentu saja Hwei Yang setuju tanpa berpikir dua kali. Toh memang tujuan mereka menghadiri festival itu untuk menjemput Yue.
Meski Cheng Li memaksa Yue untuk tinggal, tetap ia tidak mengindahkan.
Di dalam kereta kuda, Yue terus saja memandang keluar jendela. Ia juga menjulurkan lengannya untuk menangkap salah satu daun yang berguguran.
Akhirnya, ia pergi ke tempat yang bisa disebut rumah. Tapi dari lubuk hatinya, Yue merindukan kedai Hwang. Merindukan para pekerja juga paman dan bibinya. Mungkin jika kakaknya mengizinkan, ia akan mengunjungi mereka sesekali.
Yue menyambut baik sikap antusias kakaknya. Hwei Yang bahkan mengajaknya ke makam kedua orang tua mereka. Tadinya, ia merasa sedikit tidak enak saat meninggalkan Lai Xin di Kerajaan An. Tapi kakak keduanya itu meyakinkan dirinya bahwa, dia akan baik-baik saja. Lagi pula Hong juga menemaninya.
"Semuanya akan baik-baik saja sekarang," kata Hwei Yang.
Yue mengangguk lalu tersenyum. Sebenarnya ia belum benar-benar percaya masih memiliki keluarga kandung. Saat usianya meninjak sepuluh tahun, Yue sudah tahu bahwa dirinya bukan anak kandung keluarga Hwang. Tapi untungnya, ibu angkatnya membesarkan hati Yue. Meyakinkan bahwa Yue adalah Hwang. Tidak peduli dari mana dan anak siapa sesungguhnya.
Dari semua kekacauan hidupnya, setidaknya ada yang ia syukuri. Ternyata Dewa masih mengasihinya.
Terlebih ia seorang putri sekarang. Yue belum pernah pergi ke Kerjaan Sichuan selama usia remajanya. Jadi ia tidak tahu seperti apa kerajaan itu. Belum juga dirinya puas menikmati jalanan desa menuju ibu kota, ia dikagetkan oleh suara pekikan kuda dan pedang yang beradu.
"Tidak apa-apa," kata Hwei Yang menggemgam tangan Yue erat.
Yue merasa kereta kudanya melaju lebih cepat. Jalan bebatuan yang tidak rata semakin terasa tidak nyaman untuk dilewati.
"Sesuai yang Lai Xin katakan, mantan temanmu itu mengirim beberapa pemburu untuk menyerang kereta kita," ujar Hwei Yang.
"Nampaknya dia sudah tidak waras atau mungkin sudah kehabisan akal," tambahnya.
Ah Mei berubah menjadi orang yang tidak lagi Yue kenal. Tidak menyangka gadis itu akan berbuat sejauh ini. Ia terus saja berpikir kenapa dan kenapa. Mereka hidup dan besar bersama. Tidak ada rahasia kecuali masalah pribadi Ah Mei soal ayahnya yang pemabuk. Bagaimana mungkin gadis itu begitu tega padanya?
Mungkin kalau dirinya tidak bertukar jepit rambut, tidak akan begini jadinya. Tapi waktu itu, Ah Mei terlihat sangat menginginkan jepitan itu. Makanya Yue setuju saja saat gadis itu meminta bertukar jepit rambut. Dan saat itu, ia sama sekali tidak menyangka bahwa jepitan emas itu adalah sumber masalah.
Yue memberanikan diri untuk melongok keluar jendela, penasaran dengan apa yang terjadi. Jauh di belakang mereka, sekelompok penunggang kuda berpakaian hitam dibabat habis oleh seorang pria. Ia kenal dengan pria itu. Pria yang selalu bersama dengan Hong dan kakaknya--Lai Xin. Siapa lagi kalau bukan Chang He.
Yue berhutang budi pada pria itu. Tanpa sadar senyum tipis terbentuk di bibirnya. Tentu sang Kakak juga memperhatikannya. Yue yang malu langsung menarik kepalanya dan membenarkan posisi duduknya.
"Dia bisa diandalkan," kata Hwei Yang yang juga tersenyum. "Mulai sekarang selain Hong, Chang He juga akan menjadi pengawal pribadimu."
__ADS_1
"Tanpa mereka, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke manapun. Bahkan keluar dari kamarmu pun tidak."
Yue belum pernah memiliki pengawal pribadi sebelumnya. Risih memang, tapi jika ini keputusan kakaknya, ia akan terima.
Hampir malam saat rombongan kereta mereka sampai di Kerajaan Sichuan. Tidak seperti Yuhan dan An, Kerajaan Sichuan memang tidak terlalu besar, namun kerajaan ini sangat makmur.
Setiap penduduk yang berpapasan dengan kereta kuda yang Yue tumpangi, mereka membungkuk hormat dan bersorak.
"Mereka tahu, kalau tuan putri mereka sudah pulang."
Yue tersenyum dan mengintip dari jendela kereta. Begitu banyak rakyat yang turun ke jalanan. Sekedar untuk memberi hormat dan melihat ratu mereka yang telah pulang.
Sesampainya di depan istana, para pejabat kerajaan menyambut mereka dengan suka cita. Mereka juga telah menyiapkan perjamuan sederhana untuk Yue.
Hwei Yang juga memutuskan akan mengadakan pesta besar setelah Lai Xin kembali nantinya. Kebahagiaan memenuhi diri Yue, terlalu banyak untuk ia dapatkan dalam sehari. Jadi sebelum pingsan, Yue undur diri untuk beristirahat.
Dari istana utama, Yue dituntun ke kediamannya. Ia sedikit terkejut saat mendapati kediamannya yang sangat besar dan luas. Lebih luas dari paviliunnya di Kerajaan Yuhan atau An.
Ia benar-benar putri sungguhan sekarang, batinnya.
Dalam buaian angin malam, Yue beranjak menuju tempat tidurnya. Sisanya, ia membiarkan bulan menepi dan bergantikan mentari. Terlalu lelah untuk tetap terjaga.
******
Tanpa kehadiran Yue di Kerjaan An, Gu Zheng dan Ah Mei pun juga ikut undur diri. Bukan kebiasaan bagi Gu Zheng untuk terlalu akrab dengan musuh.
"Ini kali pertama saya begitu menikmati festival lima kerajaan," kata Ah Mei. "Bagaimana kalau kita juga mengadakan pesta di Kerajaan Yuhan, Yang Mulia?"
"Pesta pernikahan kita tertunda oleh berbagai hal, akan sangat menyenangkan jika mengumumkan secara resmi pernikahan kita. Rakyat pasti akan senang."
Gu Zheng mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sinis. "Harus pesta seberapa besar agar kau puas? Seingatku, nenekku sudah mengadakan pesta tanpa meminta persetujuan dariku. Jangan terlalu memaksa untuk menjadi permaisuri yang baik, kau tidak akan lama duduk di posisimu."
Gu Zheng menyentakkan lengannya yang digelayuti oleh Ah Mei dengan kasar. Tanpa menunggu gadis itu, ia berjalan cepat memasuki istana dan menghilang bersama Qing Xi.
Untuk menghindari neneknya juga Ah Mei, sekarang Gu Zheng lebih banyak menghabiskan waktunya bersama para menterinya yang juga sekaligus sahabatnya. Gu Zheng juga mendapati reaksi yang beragam ketika mereka tahu tujuannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Yang jelas apapun yang Gu Zheng lakukan, mereka akan selalu mendukung dan setia pada Kaisar mereka. Seperti Qing Xi sekarang. Bak anak ayam yang selalu mengikuti induknya.
"Aku biasanya tidak suka ikut campur, Anak Muda. Aku hanya ingin memastikan satu hal, apa kau puas sekarang?" tanya Qing Xi.
Seketika pertanyaan itu membuat membuat Gu Zheng semakin kesal. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan sikap tidak hormat gurunya. Tapi pertanyaannya yang membuat Gu Zheng tampak seperti seorang pecundang.
"Lakukan sesuatu, sebelum semuanya lebih terlambat," ujar Qing Xi lagi.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa, Paman?" sergah Gu Zheng.
"Hm, entahlah."
Sejenak Gu Zheng berpikir lalu tersenyum puas. Ia juga menepuk pundak Qing Xi beberapa kali.
"Kau benar, Paman." Gu Zheng yang tadinya terhenti, kembali melangkah cepat ke kediaman Ibu Suri Jia.
Ditemani oleh Qing Xi, Gu Zheng menyerobot pintu paviliun tanpa menunggu pemberitahuan dari pelayan. Kebetulan sekali ibunya juga berada di sana.
"Astaga, ada apa ini?" tanya Ibu Suri Jia.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Gu Zheng.
"Setelah beberapa minggu lamanya kau mengacuhkan nenekmu ini, sekarang kau ingin berbicara, hm?"
"Maaf kalau aku sedikit tidak bijaksana akhir-akhir ini. Tapi aku melakukan hal itu karena ada alasan tersendiri. Jadi, apa sekarang aku dimaafkan?"
Ibu Suri Jia menegakkan punggungnya dan meletakkan cangkir tehnya di meja. Kini wanita tua itu menghadap Gu Zheng sepenuhnya. Menunggu sang Kaisar berucap.
"Sebelum kau meminta maaf, aku sudah memaafkanmu, Yang Mulia. Katakan?"
"Aku ingin meminang seorang gadis untuk menjadi selirku, apa kalian keberatan?" tanya Gu Zheng.
"Ah, dan juga ... aku telah mengambil kesucian gadis itu. Dan beruntungnya dia sempat mengandung calon anakku."
Saat itu Ah Mei juga di belakang Gu Zheng dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Tbc....