
Dalam sepersekian detik saja Yue terlambat, mungkin Gu Zheng sudah jatuh ke dalam jurang. Tapi dengan menangkap tangan pria itu bukan berarti masalah selesai.
Sialnya, ia menggunakan tangan kanannya yang terluka. Yue menjerit, namun ia sendiri tidak tahu menjerit untuk yang mana. Untuk Gu Zheng atau untuk tangannya yang kini terasa kebas karena merasakan sakit yang teramat sangat.
Mereka jatuh bersama, beruntunglah Yue terjatuh di atas bebatuan datar sehingga bisa menangkap tangan Gu Zheng.
Darahnya mengucur, membasahi lengan baju dan berakhir menetes membasahi pipi Gu Zheng. Wajah pria itu sendiri sudah penuh dengan darah akibat sabetan salah satu pembunuh di mata kirinya.
Bukan lagi para pembunuh yang Yue khawatirkan, karena mereka sudah lari tunggang langgang. Takut menjadi penyebab kematian Kaisar Yuhan. Tapi mungkin bukan itu juga alasan mereka lari. Mereka juga Yue bisa mendengar suara derap kaki kuda yang cukup banyak, ramai sorak serta teriakan semakin mendekat.
Mungkin para pengawal Gu Zheng, batin Yue.
Benar adanya, saat para pengawal beserta Paman Qing Xi mulai membabat habis kawanan pembunuh berbaju hitam itu. Mengejar para pembunuh yang melarikan diri tanpa ampun. Seakan hukuman penjara atau gantung tidak cukup layak untuk mereka.
"Yang Mulia, bertahanlah!" teriak Qing Xi dari atas tebing.
"Lepaskan," perintah Gu Zheng akhirnya.
"Tidak akan!"
"Apa yang kau lakukan?! Ini semua salahmu! Karenamu semua ini bisa terjadi!"
Sedikit kaget saat Ah Mei muncul entah dari mana. Bukan masalah sekarang gadis itu turun ke sini dengan cara apa. Dengan cepat Ah Mei mengubah posisinya hingga sama tengkurapnya seperti Yue. Berusaha menggapai tangan Gu Zheng untuk memberikan pertolongan.
"Dasar gadis pembawa sial!" hardik Ah Mei.
Tidak peduli dengan apa yang Ah Mei katakan, Yue semakin mempererat genggaman tangannya yang basah karena darah.
__ADS_1
"Kumohon, jangan lepaskan," isak Yue lirih.
"Yang Mulia, genggam tanganku. Saya mohon," pinta Ah Mei yang juga terisak.
"Kalau seperti ini, kita akan jatuh bersama," ucap Gu Zheng lembut.
Yue menggeleng dengan cepat berkali-kali. Berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu. Berharap sampai kapanpun hal itu tidak akan terjadi.
"Kumohon ...," isak Yue tidak henti bahkan suaranya terdengar serak karena takut, "Paman! Siapapun!"
"Yang Mulia," kata Ah Mei yang masih berusaha menggapai lengan Gu Zheng.
"Ini yang kau inginkan, bukan?" tanya Gu Zheng sembari menatap Ah Mei kosong.
"Tidak!" teriak Ah Mei yang kalut, "bukan seperti ini. Bukan kau!"
Dan Gu Zheng menyadarinya.
Beruntunglah saat itu tangan Ah Mei berhasil menggapai tangan kiri Gu Zheng.
*****
Ia ingin hidup dan bahagia bersama Yue, tapi keinginan itu serasa seperti harapan yang terlalu muluk.
Gu Zheng yang paling tahu kondisi tubuhnya. Mata kirinya sudah tidak bisa digunakan untuk melihat. Dan sebelum terjatuh, ia sempat membanting tubuh Yue hingga kakinya sendiri pun terkilir.
Sulit rasanya meraih tebing untuk memanjat. Terlebih posisi bebatuan tebing yang tidak memungkinkan dirinya untuk berpijak.
__ADS_1
Karena itu secepat kilat, Gu Zheng meraih tangan Ah Mei dengan tangan kirinya. Tidak tega melihat Yue yang menahan rasa sakit demi dirinya seorang diri.
Ya, ini adalah keputusannya. "Aku mencintaimu. Sampai kapanpun."
Dengan sekali dorongan kaki, Gu Zheng menarik tangan Ah Mei. Mungkin kakaknya tidak akan memaafkan dirinya. Tapi ia tidak bisa membiarkan Ah Mei mengganggu Yue lebih buruk dari ini.
Tidak dengan tidak adanya dirinya. Ia akan membawa Ah Mei mati bersama. Dengan begitu ia bisa melindungi Yue.
"Yang ...," ucap Ah Mei terputus karena terkejut tubuhnya serasa melayang.
Dengan berhasilnya Gu Zheng meraih tangan Ah Mei, secara bersamaan ia melepaskan pegangan tangannya pada Yue. Tidak Gu Zheng lepaskan pun percuma. Sebab hanya tinggal menunggu waktu sampai tautan itu terlepas dengan sendirinya, licin karena darah dan keringat.
Pilihan di kepala Gu Zheng hanya satu. Yue harus selamat. Sadar akan keputusannya yang bodoh, tapi hanya ini yang terlintas di benaknya sekarang.
"Tidak!"
Suara jerit Yue terdengar semakin jauh di telinga Gu Zheng. Untuk beberapa detik ia menutup mata saat merasakan tubuhnya mulai terjatuh. Kemudian membuka mata untuk yang terakhir kalinya. Di matanya hanya ada Yue. Tatapannya terus saja terpaku pada gadis yang tak henti memberontak di dalam pelukan Paman Qing Xi.
Entah kenapa senyumnya merekah saat melihat Yue menangis sejadi-jadinya. Tapi tentunya bukan senyum bahagia. "Di kehidupan selanjutnya, jika Dewa mengizinkan, aku ingin jatuh cinta lagi padamu, begitu juga sebaliknya."
"Ini adalah hukuman Dewa untukku ...."
"Wo ai ni, Yuan Yue Bi."
END
******
__ADS_1