
Gu Zheng melangkahkan kakinya cepat, diiringi oleh para menterinya. Setelah dua hari lamanya ia meninggalkan istana untuk urusan kenegaraan.
Benar saja, An Cheng Li memang tidak bisa dipercaya. Percuma ia melakukan gencatan senjata dengan Kerajaan An kalau pada akhirnya angkat senjata juga.
Sepertinya pria itu memang berniat membalas dendam karena dirinya sudah merebut Yue. Hah!
Siapa yang pecundang sekarang?
Ia tersenyum tipis. Setelah sekian lama akhirnya perasaan itu kembali lagi. Perasaan ingin cepat kembali pulang. Meski dirinya tahu bahwa Yue tidak akan menunggunya. Mungkin.
"Di mana Selir Yue?" tanyanya pada seorang dayang.
"Paviliun Naga, Yang Mulia."
Tempat yang banyak memiliki kenangan mereka, dulu. Ingatannya kembali berkelebat, saat Yue masih menjadi calon permaisurinya. Saat semuanya belum serunyam ini karena kebodohannya.
"Temui saja dia, tugas berikutnya bisa menunggu," kata Qing Xi.
Pria baya itu menepuk pundak Gu Zheng beberapa kali sebelum meninggalkan Sang Kaisar sendirian. Dia juga mengisyaratkan kepada semua pelayan dan dayang untuk meninggalkan Gu Zheng.
Gu Zheng sudah berada di depan pintu. Berdiri di sana selama beberapa menit, antara ragu dan tidak. Ia sudah mendapatkan begitu banyak penolakan dari selirnya itu.
Dan penolakan itu sangat melukai harga dirinya sebagai seorang pria juga Kaisar. Belum pernah ada yang menolak permintaan Sang Kaisar, ini hal baru.
Sayangnya pelajaran baru ini datang dari selirnya sendiri.
Perlahan Gu Zheng membuka pintu kayu itu, ia yakin Yue tidak ada di dalam kamar. Pastilah gadis itu di suatu tempat dekat danau.
Mungkin paviliun kecil yang waktu itu.
Setelah cukup lama mencari akhirnya ia menemukan Yue berbaring di atas rerumputan di bawah pohon ceri istimewa-nya.
Pohon ceri yang selalu berbunga di sepanjang musim. Berbagai macam kisah selalu mengiringi saat pohon itu berbunga, seperti hari ini.
Yue tertidur dengan posisi miring dan bertumpukan lengan sebagai bantal. Tak tega Gu Zheng mengusik waktu tidur gadis itu.
Tapi sekali lagi, ia adalah Gu Zheng--Sang Kaisar.
Dengan langkah sangat pelan ia mendekati tubuh terbaring gadis itu. Dihujani oleh kelopak bunga ceri yang berguguran tertiup angin. Berikut dengan surai yang terlepas dari dari ikatannya.
Duduk perlahan di sisi punggung Yue sembari menyangga tubuhnya miring. Gu Zheng ingin menyentuh gadis di depannya ini. Jadi, ia putuskan untuk menelusurkan jari telunjuknya di pipi Yue.
Mengambil sejumput rambut gadis itu yang menutupi pipi merahnya, karena udara yang mulai menghangat kala musin semi.
__ADS_1
Berlama-lama di sana. Tak jenuh juga Gu Zheng memandang Yue yang terlelap. Tidak terusik sedikit pun dengan kehadirannya.
Ia sangat tergoda saat melihat bibir penuh Yue yang bergerak pelan. Mungil dan berwarna merah muda alami tanpa gincu. Kalau diingat-ingat, Yue memang sangat jarang memakai benda pewarna itu.
Tidak seperti wanita kebanyakan, misalnya Ah Mei. Dengan sangat berani memakai gincu warna merah gelap hanya untuk menarik perhatiannya.
Lebih baik polos menggoda dari pada memikat, namun memuakkan.
Satu kecupan, batin Gu Zheng.
Setelah itu ia akan pergi. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan.
Perlahan Gu Zheng mendekatkan wajahnya. Sebelah tangan lagi menyangga tubuhnya agar tidak menimpa Yue.
Mengambil dagu gadis itu pelan, dan mendaratkan kecupan ringan di sudut bibir Yue. Niat hati ingin melahap habis bibir mungil itu, tapi posisi mereka saat ini tidaklah tepat.
Salah-salah ia malah akan membangunkan singa betina dari tidurnya.
Biarlah. Singkat, namun Gu Zheng menyesapnya. Mengingat setiap rasa yang dulu pernah ia campakan.
Manis. Hanya kata itu yang bisa menggambarkannya.
Entah 'singkat' yang seperti apa menurut Gu Zheng. Ia sampai harus disadarkan oleh suara meongan seekor kucing.
Muncul dari balik semak dengan santainya. Makhluk berbulu itu juga berhenti dan menatap Gu Zheng, seperti menyiratkan--'hentikan perbuatan tidak sesonohmu itu'--kalau tidak salah ia mengartikan maksud dari si kucing.
Gu Zheng langsung menyeringai sembari menatap kepergian kucing berbulu abu-abu belang itu. Lalu kembali menatap Yue.
Yah, sudah cukup untuk hari ini. Ia sudah mengisi kembali energinya.
Setelah berdiri, dengan langkah santai Gu Zheng kembali pada para menterinya yang sudah memberikan sedikit waktu.
Mungkin Gu Zheng akan mentraktir mereka beberapa botol arak, putusnya dengan wajah sumringah.
Di sisi lain, perlahan Yue membuka matanya. Tak hentinya berusaha mengatur nafas dan deberan jantungnya.
Ia mencengkeram erat gaunnya pada bagian dada. Sakit dan senang bercampur jadi satu.
__ADS_1
Ia sudah terbangun saat Gu Zheng menempelkan bibirnya sedari awal. Kenapa ia tidak bisa menolak?
Tubuhnya kaku lemas seketika, Yue mengingat tangan itu, bibir itu, kulit itu yang telah menyentuhnya bahkan sampai ke ulu hatinya.
Rasa sakit membuatnya meloloskan setitik butiran bening air mata dari matanya.
"Aku ... tidak suka kalau harus menyukaimu seperti ini," gumamnya yang teredam isakan lirih.
"Bagaimana pun aku perempuan."
"Bagaimana caramu untuk menyingkirkan gadis itu?" tanya Selir Sui--ibu tiri Sang Kaisar.
"Membunuhnya," balas Ah Mei singkat.
"Apa kau ingin meracuninya lagi? Jangan bodoh."
"Kenapa? Apa Bibi takut ketahuan kalau racun itu sebenarnya darimu?"
Selir Sui terdiam untuk beberapa saat. Gadis yang dulu ia tolong, bodoh dan tidak berguna ini sudah berani menjawab kata-katanya.
Kalau saja bukan karena dirinya yang mengambil Ah Mei dari gang kumuh untuk di jadikan dayang, gadis itu tidak mungkin menjadi permaisuri sekarang.
Tentu saja pengangkatan Ah Mei sebagai dayang melalui jalur koneksi karena Selir Sui tahu masa lalu Ah Mei dengan Gu Zheng.
Tapi sekarang ia harus lebih bersabar lagi menghadapi tindakan gegabah dan sombong gadis ini. Seperti lupa akan daratan.
Secara diam-diam Selir Sui sudah mengumpulkan orang-orang yang kontra dengan Selir Yue.
Hanya untuk membantu Ah Mei, atau lebih tepat membantu diri sendiri dari terdepaknya dirinya dari kenyamanan istana.
"Aku punya rencana, apa kau mau ikut?"
Tbc...
__ADS_1