
Tulang persendian Yue terasa ... mati rasa! Duduk dengan posisi yang menurut Ibu Suri Han sangat dianjurkan karena terlihat sopan selama berjam-jam lamanya. Ia sama sekali tidak peduli dengan hal seperti ini! Ia hanya ingin pulang bahkan kemungkinan itu hanya sekali, Yue akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin sebelum dirinya kembali ke istana dengan segala ***** bengeknya.
"Yang Mulia, boleh 'kan?" tanya Yue sekali lagi.
"Akan aku pikirkan kalau kau bisa menghafal bait demi bait puisi Sinar Bulan Terang," jawab Ibu Suri Han.
Kembali Yue terlihat lesu, ia tidak suka puisi dan tidak puitis. Kalau saja pagi ini ia tidak merindukan rumahnya dengan teramat sangat, Yue tidak bersedia duduk di depan wanita itu lama-lama.
"Apa Bibi Fu yang harus mengajarimu?"
Jelas Ibu Suri mengancamnya. Tega sekali wanita baya itu hendak melemparkannya sarang induk monyet.
"Saya akan menghafalkannya," ujar Yue yang semakin lesu.
"Kudengar, Yang Mulia hendak mengajakmu ke suatu tempat malam ini?"
"Hah, siapa?"
"Tentu saja Yang Mulia Kaisar."
Yue belum mendengar tentang hal ini. Dan tidak ada yang memberitahukannya sebelumnya. "Saya ... belum mendengarnya, Yang Mulia."
"Benarkah? Apa seharusnya itu kejutan untukmu?" tanya Ibu Suri Han yang ikut bingung.
Baiklah, jadi malam ini Gu Zheng ingin mengajaknya ke suatu tempat. Ini bukan rencana penculikan bukan? batin Yue. Mengingat pria itu sering sekali melanggar batas boleh dan tidak boleh.
Belum juga habis dengan lamunannya, Yue tersentak kaget saat seorang dayang meneriakkan nama Putri Xiao Li dari luar bilik Ibu Suri.
Kesempatan. "Agaknya saya sudah terlalu lama di sini, Yang Mulia."
"Kau benar, aku sendiri juga terlalu larut membaca puisi-puisi," balas Ibu Suri Han.
"Kalau begitu, saya mohon diri."
Setelah mendapatkan persetujuan Ibu Suri, Yue segera melangkahkan kakinya keluar bilik. Sesaat Yue menyapa Putri Xiao Li, tapi gadis itu melenggang begitu saja dan mengacuhkannya.
Tidak ambil pusing, Yue melangkah cepat menuju kamarnya. Tapi sayangnya kakinya tidak bisa diajak kompromi. Ia kesemutan di tengah perjalanan menuju kamarnya.
"Apa kau dari kediaman Ibu Suri Han?"
Yue menoleh dan mendapati pria yang waktu itu tidak sengaja ia tabrak. "Ya, Yang Mulia."
Sebelumnya Yue memang tidak tahu siapa pria itu. Tapi seiring dengan pelajarannya mengenai keluarga kerajaan, ia mengetahui siapa pria yang berdiri di depannya sekarang. Pangeran Gu Fang Wei--putra pertama dari Selir Xia Er. Yang otomatis menjadikan pria itu sebagai pewaris tahta ketiga.
"Siapa namamu, Nona? Kau ... salah satu calon permaisuri, bukan?"
"Ya, Yang Mulia. Nama saya Yue."
"Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya," ujar Fang Wei.
Tanpa sadar, Yue pun tersipu. "Anda terlalu memuji."
Sekilas Yue melihat senyum tipis Fang Wei. Pria itu juga memiliki pesona seperti Gu Zheng. Mungkin ini ciri khas pria keluarga Gu. Diberkahi dengan wajah tampan hingga setiap wanita mampu bertekuk lutut di kaki mereka.
"Saya mohon diri," ucap Yue cepat-cepat. Sebelum pikirannya semakin melantur tidak karuan. Sebelum ia bertemu dengan Gu Zheng, Yue ingin sampai di kamarnya dengan selamat.
"Kapan-kapan kita bisa minun teh bersama," seru Fang Wei.
Yue membalasnya dengan senyuman lalu berlari kecil menuju kediamannya.
"Dari mana saja kau?"
__ADS_1
"Astaga, kau mengagetkanku!"
Ah Mei duduk manis di dekat jendela. Menunggunya, entah sejak kapan. "Tidak biasanya."
"Hmm... aku hanya ingin menikmati pemandangan dari jendela kamar ini. Mungkin ... aku akan mendapatkan cerita yang bagus setelah dari kamar ini," ujar Ah Mei sambil memandang jauh.
"Kenapa? Kau sakit?"
Tidak biasanya Ah Mei tidak bersemangat. Biasanya gadis itu selalu saja berisik. Yue memilih duduk bersila di depan Ah Mei dan menatap gadis itu.
"Apa ... aku juga bisa menjadi sepertimu?" tanya Ah Mei.
"Apa?"
"Memiliki segalanya sepertimu, seperti sekarang ini," jawab Ah Mei. "Terkadang aku merasa lelah. Banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluargaku, untuk ayah angkatku yang pemabuk."
"Kau tahu, aku tidak meminta semua kemewahan ini," balas Yue tegas.
"Kau benar. Seorang Yue tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti ini, itulah kelebihanmu," seringai Ah Mei.
"Kita berdua selalu berharap bisa berpetualang bersama, mengunjungi tanah seberang. Dan melihat dunia dengan kedua mata kita sendiri. Kau ingat? Itu impian kita saat masih kecil. Meski kita sama-sama anak angkat, kita saling memiliki satu sama lain," kata Yue.
"Baiklah, saatnya kembali bekerja."
"Kau tahu harus berbicara dengan siapa saat merasa sedih 'kan?"
"Karena itu aku mencarimu," kata Ah Mei.
Ya, selama Yue memiliki Ah Mei di istana ini. Semuanya bisa ia lewati. Meski sampai sekarang ia juga belum bisa bertemu Bibi Hwang. Tidak masalah. Asalkan ada Ah Mei, Yue akan berusaha kuat.
"Baiklah! Saatnya menghadapi pria itu!" seru Yue pada dirinya sendiri. Menguatkan hatinya serta menyemangati.
Dan sialnya suara kerasnya didengar oleh beberapa dayang yang memasuki kamarnya. Seketika itu juga Yue salah tingkah. Berharap mereka tidak akan mengadu pada sang Kaisar.
"Er... Ya."
*****
Yue diantar dengan sebuah tandu ke suatu tempat. Ia sama sekali tidak tahu ke mana tujuan mereka pergi. Yang jelas Gu Zheng sudah menunggunya di sana. Itu yang dayang katakan.
Guncangan di dalam tandu membuat Yue merasa pusing. Sempit dan berguncang. Saat itulah Yue memutuskan bahwa dirinya benci naik tandu. Lebih baik ia naik kuda sendiri. Tapi itu tidak mungkin, bukan?
Cukup lama sampai tandu benar-benar berhenti. Dan sebuah tangan terulur untuk membantu Yue keluar dari tandu. Ia sangat mengenal tangan besar itu. Tanpa ragu, Yue menyambut uluran tangan Gu Zheng.
"Apa kau menikmati perjalananmu?" tanya Gu Zheng.
"Sedikit membuat pusing, saya ... lebih memilih naik kuda dan memacunya sendiri."
"Nanti, kita bisa berkuda bersama," janji Gu Zheng.
Tentu saja janji itu membuat Yue tersenyum senang bahkan sumringah. Akhirnya! Ia bisa melakukan sesuatu yang sangat disukainya.
"Anda tidak berbohong, bukan?"
"Apa aku terlihat seperti pembohong?"
Yue menggelengkan kepalanya. Ia menurut saja saat tanggannya ditarik oleh sang Kaisar.
"Kita mau ke mana?"
"Festival Lentera."
__ADS_1
Yue sama sekali tidak sadar sekarang sedang berlangsung Festival Lentera. Jalan-jalan dipenuhi dengan lentera merah dan kuning. Pantas saja malam ini begitu terang.
Ditambah lagi, Yue sama sekali tidak menyangka Kaisar Gu Zheng berjalan-jalan bersama dengannya. Meski beberapa pengawal masih mengikuti tidak jauh di belakang mereka. Bagi Yue itu bukan masalah.
Oh, betapa ia semakin jatuh hati pada pria itu. Jantungnya sama sekali tidak bisa berdetak normal ketika berada bersama dengan Gu Zheng. Beberapa kali ia mengusap dadanya, berharap pria itu tidak sedang memperhatikannya.
Mereka singgah ke sebuah lapak penjual hiasan rambut. Anehnya sang penjual sama sekali tidak sadar dengan adanya sang Kaisar. Wanita baya itu berceloteh khas pedagang untuk menarik minat pembeli.
Biasanya Yue tidak pernah tertarik dengan benda remeh seperti jepit rambut atau sisir rambut. Tapi malam ini ia ingin terlihat cantik. Konyol.
"Kau menyukai yang itu?" tanya Gu Zheng.
"Ah... tidak."
"Kau tidak pandai berbohong."
Yue menundukkan wajahnya. Ia merasa malu karena merasa tertarik oleh hal sepele seperti jepit rambut. "Ayo kita ke sana."
Segera Yue menarik tangan Gu Zheng dan bergabung bersama kerumunan pejalan kaki. Saking sesaknya, beberapa kali Yue menabrak orang-orang.
Gu Zheng menariknya ke pinggiran sungai dan menjauhi orang-orang. Dan juga Gu Zheng segera pasang badan saat sebuah kereta kuda melintas di depan mereka. Menghindarkan Yue agar tidak tertabrak.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya, Yang Mulia," balas Yue. "Ah ...."
Sial sekali di saat seperti ini rambut Yue malah tersangkut ranting. Gu Zheng terkekeh geli saat melihatnya berusaha melepaskan belitan rambutnya.
"Mungkin kita harus berhenti sejenak," kata Gu Zheng sembari membantu Yue.
Tidak hanya membantu melepaskan belitan itu, Gu Zheng juga menyelipkan jepitan rambut yang tadi Yue pegang.
....
Bahkan bulan pun malu dengan kecantikanmu.
Bahkan aku pun terpesona dengan sinar terangmu.
Siapa yang menyangka, sinarmu melebihi sinar bulan.
Sinar bulan terangku.
....
Yue melongo saat Gu Zheng membacakan puisi Sinar Bulan Terang yang hari ini ia hafalkan.
"Bagaimana kau ....?"
Gu Zheng tersenyum simpul. Pria itu tidak hanya semakin mendekatkan wajahnya tapi juga telah berhasil melepaskan belitan rambut Yue dari ranting.
"Aku bisa membacakan puisi itu sebanyak yang kau mau, Permaisuriku."
Gu Zheng melumat lembut bibir Yue. Panggilan permaisuri semakin membuatnya tertegun. Tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang memandang mereka.
Beruntungnya dengan sigap para pengawal Gu Zheng membarikade orang-orang yang ingin melihat pemandangan itu.
Kini mereka tahu, Gu Zheng telah memanggilnya sebagai permaisuri yang secara tidak langsung sudah mendeklarasikan Yue sebagai pengantin Gu Zheng di hadapan seluruh rakyat.
"Kau ... sangat licik."
"Aku memang berniat memperkenalkanmu sebagai permaisuriku malam ini," seringai Gu Zheng.
__ADS_1
Tbc...