Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
IX


__ADS_3

Malam ini pesta penyambutan para calon permaisuri diadakan. Pesta tidak hanya hanya digelar di istana, namun juga di kota. Seluruh rakyat bersuka cita menyambut calon permaisuri mereka.


Tapi pesta itu sama sekali tidak membuat Yue senang. Ia tertekan. Dikelilingi oleh orang-orang yang siap menjilat sang Kaisar dengan kata-kata mereka. Belum juga seminggu tinggal di istana, ia sudah merasa tidak bisa bernafas.


Kenyataan bahwa dirinya menyukai sang Kaisar juga membuatnya gusar. Yue tidak yakin dengan perasaannya. Sang Kaisar sangat tampan dan berwibawa. Tapi bukan itu saja, sang Kaisar adalah laki-laki pertama yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Gadis mana yang tidak akan jatuh hati pada pria seperti itu?


Diliriknya Xiaoli yang duduk di samping Kaisar. Gadis itu tahu caranya bersikap di tengah-tengah para bangsawan. Dan mereka pun lebih menganggap Putri Xiaoli ketimbang dirinya yang hanya gadis desa.


Belum pernah ada sejarahnya, seorang permaisuri di angkat dari kalangan rakyat biasa. Bahkan sebagai calon pun tidak pernah ada. Mungkin keberadaannya di istana sekarang ini adalah sebuah kesalahan, batin Yue.


Perlahan ia mengusap bibir cangkir yang berisikan teh bunga persik. Yue mengusapnya dengan cara melingkar, memperhatikan cairan kekuningan itu lamat-lamat. Ia sama sekali tidak sadar saat sang Kaisar menghampiri dan duduk di sampingnya. Dengan cepat mengambil cangkir dari tangan Yue lalu meminumnya.


"Ah ...," keluh Yue. Padahal ia sengaja ia tidak meminumnya karena menunggu teh itu dingin terlebih dulu. Yue tidak terbiasa minum minuman panas karena itu ia mendinginkannya. Tapi kini teh itu habis sekali tenggak oleh sang Kaisar. Kesal.


"Udara cukup dingin, biasakanlah minum minuman hangat," ucap Gu Zheng.


Yue cemberut dibuatnya. Semenjak dirinya tinggal di istana, tidak pernah sekalipun sang Kaisar membiarkannya hidup tenang.


"Tapi saya tidak suka," celetuk Yue.


Segera ia mengedarkan pandangannya, berharap tidak ada yang mendengarnya menjawab ucapan sang Kaisar. Mulutnya benar-benar pembawa masalah. Beruntung suara musik menyamarkan suaranya.


"Yang Mulia, bagaimana kalau kita berjalan-jalan menikmati sinar bulan?" sahut Xiaoli.


Gadis itu benar-benar mengabaikan Yue. Kesal karena Gu Zheng yang berbuat seenaknya. Kesal karena dirinya diabaikan. Yue hendak bangkit dan undur diri, namun lengannya ditangkap oleh Gu Zheng.


"Ide yang bagus. Bukan begitu, Yue?" tanya Gu Zheng.


Seperti kambing congek, Yue mengangguk. Ia menarik lengannya perlahan tapi Gu Zheng tetap menggenggamnya dengan erat. Tanpa berkata apa-apa, pria itu menariknya keluar dan membimbingnya ke arah paviliun miliknya. Ini sedikit mencengangkan saat sang Kaisar meninggalkan Putri Xiaoli dan memilih mengajak Yue.

__ADS_1


"Aku ingin menunjukkan sesuatu," kata Gu Zheng sambil terus menarik lengan Yue.


"Er... tapi Putri Xiaoli?" kata Yue.


Gu Zheng menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yue tajam. Pria itu bahkan mengangkat sebelah alisnya. Meresahkan rasanya bahwa tindakan sekecil itu bisa membuat lutut Yue lemas. Ingin rasanya ia menjerit.


Tidak adil rasanya, Gu Zheng terus saja menggodanya. Menghancurkan dinding yang sengaja ia buat untuk menutupi kelemahannya. Pria itu seakan mampu melihat ke dalam dirinya yang rapuh dan merongrong ketenangan batinnya.


"Saya lelah," kata Yue, "saya ... akan kembali ke kamar saja."


Sehalus mungkin Yue menolak Gu Zheng. Berharap sang Kaisar tidak marah. Tapi harapannya terlalu muluk. Pria itu sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Yue dan terus saja menggeretnya ke arah paviliun.


Saat itulah mereka berpapasan dengan beberapa penjaga yang sedang berpatroli. Dengan cepat Gu Zheng menarik Yue ke dalam dekapannya. Seolah sengaja ingin menunjukkan bahwa sang Kaisar tidak ingin di ganggu. Tentu saja ketiga penjaga itu membungkuk hormat sekaligus meminta maaf. Yue heran, sebenarnya siapa yang salah di sini?


Gu Zheng mendekatkan jari telunjuknya pada bibirnya. Itu isyarat bahwa para penjaga harus menutup mulut mereka. Seolah tidak melihat apa-apa, tidak pernah melihat sang Kaisar dan Yue. Pria itu juga menggedikkan kepalanya, menyuruh ketiga penjaga itu agar segera pergi hadapannya.


"Apa itu tadi?" Yue menanyakan maksud sang Kaisar dengan menyuruh para penjaga untuk tutup mulut. Ia merasa seperti seorang pencuri sekarang. Tapi apa yang ia curi memangnya?


Sejenak Yue terdiam. "Apa maksudnya itu?"


Gu Zheng melanjutkan dengan menyeret Yue ke dalam paviliun. Tentu saja Yue berusaha memberontak. Sebisa mungkin menarik lengannya kembali, ia bahkan bergelayut pada sebuah pilar, tapi pilar itu terlalu besar untuk ia peluk dengan sebelah tangan.


"Tidak!" kata Yue, "kita tidak boleh melakukan hal-hal seperti itu!"


Sontak Gu Zheng berhenti dan tertawa terbahak. "Hal-hal seperti apa yang kau maksud?" tanya pria itu balik dengan jahilnya.


"I-itu ... itu dan ini," jawab Yue tergagap. Mukanya merah padam dan panas. "Yang jelas tidak boleh!"


Ia berusaha untuk tegas dan meyakinkan, namun percuma. Suaranya bergetar dan serak karena saking malunya. Sekali lagi Gu Zheng terkekeh.

__ADS_1


"Aku haya ingin kau memainkan musik untukku, khusus untukku," ucap Gu Zheng.


"Musik?" tanya Yue dengan polosnya.


"Aku tahu kau pandai bermain guzheng, karena itu aku memintamu memainkan sebuah lagu untukku malam ini," ucap Gu Zheng dengan lembut.


Malu sekali rasanya. Yue ingin lari terbirit dan menyembunyikan wajahnya di dalam vas. Ia telah salah sangka.


*****


"Paman bilang, gadis itu bukan apa-apa?! Tapi lihat! Kaisar lebih memilih gadis desa itu untuk menemaninya!" hardik Xiaoli.


"Tenanglah, Putri. Semuanya belum pasti," kata sang Paman menenangkan.


"Tinggal satu bulan lagi, Paman. Bagaimana aku bisa tenang. Gu Zheng milikku, hanya milikku!"


Dengan kesal Xiaoli membanting cangkir yang di genggamnya. Ia telah meremehkan gadis desa itu. Jelas sang Kaisar memiliki perhatian khusus pada gadis itu. Berita bahwa gadis itu telah bermalam di paviliun sang Kaisar juga santer beredar. Para dayang dan pelayan membicarakannya. Ini tidak bisa dibiarkan.


Harga dirinya sebagai Putri Kerajaan An dipertaruhkan. Ia tidak akan kalah dari gadis desa biasa. Xiaoli akan memastikan sang Kaisar dengan suka rela naik ke ranjangnya. Ya, dengan cara apapun ia akan mendapatkan Gu Zheng. Meski dengan cara kotor.


Ia hanya memiliki waktu satu bulan sampai pesta pernikahan berlangsung. Tiga minggu, tidak, dua minggu. Ia akan membuat Gu Zheng berlutut di kakinya. Ia akan membuat pria itu menyesal karena telah mengabaikannya malam ini.


*****


Seulas senyum menghiasi wajah Gu Zheng saat memperhatikan Yue. Gadis itu begitu sederhana dan polos. Itu yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama dengan Yue.


Ia tidak yakin Yue akan mengingatnya. Gadis yatim piatu yang ia selamatkan dari segerombolan pemberontak. Seorang gadis kecil yang terancam menjadi budak akibat pemberontakan.


"Ini ...?" kata Yue sambil meraba alat musik di depannya.

__ADS_1


"Guzheng Bulan," ucap Gu Zheng dengan tersenyum lembut. "Mainkan untukku."


Tbc...


__ADS_2