Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XXXIV


__ADS_3

Sekuat mungkin Yue berusaha mendorong orang itu. Seakan tenaganya meluap, Yue berhasil mendorongnya hingga orang itu nemabrak pilar dan memaksanya keluar dari kegelapan. Saat itu Yue dapat melihat orang kurang ajar itu dengan jelas. Dan dia adalah Kaisar An Cheng Li.


"Aku tidak tahu kau begitu kuat," kata Cheng Li sembari mengusap bibirnya yang berdarah akibat gigitan Yue.


"Maaf, kalau aku mengagetkanmu" ucapnya lagi.


Yue memicingkan matanya marah. Ia hendak meninggalkan Cheng Li sebelum pria itu berbuat lebih kurang ajar dari ini. Tapi sialnya disaat yang tidak tepat, Cheng Li menyambar lengan Yue dan mendekapnya erat. Serta tentu saja kejadian itu disaksikan oleh Gu Zheng yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


Yue mematung seketika, debaran jantungnya kembali tidak beraturan saat Gu Zheng menatapnya marah. Meski tatapan itu bukan untuk dirinya tetap saja sedikit banyak ia seakan merasa bersalah. Seperti ketahuan telah melakukan sesuatu yang buruk.


Ia membuang mukanya dan menghentakkan lengan Cheng Li yang masih memeluknya. Kemudian mundur beberapa langkah. Tidak tahu lagi apa yang ia rasakan sekarang, perasaan campur aduk saat dirinya berdiri di tengah-tengah kedua pria itu.


"Bukankah sudah terlalu malam untuk seorang gadis keluyuran sendirian di lorong istana?" tanya Gu Zheng datar.


"Em, perlu kau tahu. Pertama, Nona Yue tidak keluyuran dan yang kedua, dia tidak sendirian," balas Cheng Li yang tidak kalah datar.


Yue merasa tidak bisa mengatasi perasaannya lagi. Jadi, ia putuskan sebelum air matanya terurai dan berakhir menjadi gadis yang lemah, ia angkat kaki lebih dulu dan berlari kecil menuju kamarnya.


Marah pada diri sendiri karena tekad yang bulat untuk membalas Gu Zheng nyatanya belum cukup mampu membuatnya kebal terhadap pria itu. Mendengar suaranya saja sudah membuat kakinya terasa lemas dan ingin menangis dengan keras.


Ia segera meninggalkan Cheng Li di belakangnya dan melewati Gu Zheng setelahnya. Lirih, Yue bisa mendengar Gu Zheng berbisik. Sekilas, namun sayangnya tidak terlalu jelas di telinga Yue.


Yue tidak peduli. Toh ia juga tidak ingin mendengar suara pria itu lebih dari ini.


*****


Dari kejauhan Gu Zheng melihat sosok Yue dan berniat menghampiri gadis itu. Tapi langkahnya tertahan saat melihat An Cheng Li menarik Yue dan melakukan sesuatu yang membuatnya sangat marah.


Sebisa mungkin ia menahan amarahnya dan berjalan mendekati mereka. Nampaknya Yue juga menyadari kehadirannya. Senang rasanya saat mata mereka bertemu sekilas. Gadis yang ia sia-siakan, tidak lagi sama dengan gadis polos yang sering membuatnya tersenyum dulu. Semuanya tergambar jelas dari sorot mata gadis itu.


Sekarang hanya ada tatapan benci dan juga mata yang sedikit berkaca kaca. Ia mengumpat pada dirinya sendiri karena telah membuat Yue seperti ini. Kehilangan calon anak mereka dan juga bisu. Apalagi hal buruk yang bisa ia berikan pada gadis itu?

__ADS_1


Ia ingin mendekap gadis itu dengan erat, mencumbunya seperti dulu. Dan mengatakan satu kata yang mungkin tidak akan bisa mengubah segalanya.


"Maaf," bisiknya lirih ketika Yue melewati dirinya dan berlari menjauh.


Layaknya orang paling bodoh, Gu Zheng tersenyum kecut. Kini ia yakin bahwa dirinya tidak lagi menjadi yang pertama di dalam hati gadis itu.


*****


Yue menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dan berlari menuju ranjangnya. Tapi rasanya ranjang itu terlalu jauh untuk diraih. Ia jatuh terduduk di lantai, telungkup dan terisak. Lagi-lagi sakit itu, dadanya terasa berlubang dan terasa semakin lebar setiap kalinya ia melihat Gu Zheng.


Ia tidak tahu kalau dihianati oleh orang yang dicintainya bisa sesakit ini. Ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan sekalinya mencintai seseorang, ia harus merasakan sakit semacam ini.


Untuk waktu yang cukup lama Yue berbaring dan bergelung di atas lantai yang dingin. Air matanya tidak lagi mengalir, hanya tersisa jejaknya saja. Ia sedang berpikir dalam kesunyian itu.


Beberapa kali menimbang tawaran kakaknya untuk melupakan segalanya. Ia bahkan belum memulai, tapi sudah terasa sangat melelahkan.


Sudah dipastikan, ia terlalu takut menghadapi Gu Zheng lagi. Kalau Ah Mei mungkin lain soal. Ia akan memikirkan cara yang lain untuk membalas gadis itu. Tapi untuk sekarang ia ingin pulang. Ke tanah kelahirannya.


Ya, tidak masalah kalau dirinya disebut pengecut. Setidaknya ia bisa melindungi hatinya agar tidak terlalu hancur lebih dari ini.


*****


Nampaknya gadis itu tidak sebodoh yang Lai Xin kira, mencicit seperti tikus jika di hadapan harimau. Sekaligus tidak berani menuntut apa yang telah Lai Xin lakukan padanya saat di Kerajaan Yuhan. Tertunduk dan terkesan menghindar setiap kalinya mereka berbicara.


Tidak jadi soal, toh Yue Bi sudah memintanya untuk tidak melakukan apapun pada Ah Mei. Tapi sepertinya istana Kerajaan An terlalu kecil untuk mereka. Seperti hari ini, mereka tidak sengaja bertemu di taman pohon persik. Dengan tatapan mengintimidasi, Lai Xin tak hentinya memandang Ah Mei yang sudah berdiri di depannya dan ditemani sederet dayang.


"Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu bukan begitu, Permaisuri?" tanya Lai Xin. "Tentu Anda tidak berusaha menghindari saya, bukan?"


Sebisa mungkin Lai Xin menjadikan perkataannya sebagai guyonan. Ia tahu bagaimana caranya mempermainkan emosi lawan. Dan ini adalah salah satu cara yang Lai Xin pelajari disamping ilmu berperang.


"Bukankah baru beberapa hari yang lalu kita bertemu, Tuan Putri?"

__ADS_1


"Benarkah? Hm, tampaknya ingatanku tak lagi bagus. Tapi ...," timpal Lai Xin, "tetap saja bagi saya sangat lama."


Beberapa kali Ah Mei melirik dayang di sampingnya. Seakan memberi tanda untuk melakukan sesuatu. Tentu saja perintah tersirat itu akhirnya dilaksanakan dengan baik.


"Yang Mulia, Yang Mulia Kaisar sudah menunggu Anda untuk minum teh," kata sang Dayang.


Mau tidak mau Lai Xin tersenyum sinis melihat sandiwara kecil mereka. Mau melarikan diri, huh?


"Maafkan saya, Tuan Putri. Nampaknya saya harus segera pergi," ucap Ah Mei dengan penuh kesopanan.


"Tentu, silahkan. Asalkan Anda mengingat ini dengan baik ...," kata Lai Xin. "Dia diam bukan berarti lemah, akan aku pastikan semua perbuatanmu terbayarkan."


Setelah mengatakan hal itu, Lai Xin lah yang angkat kaki lebih dulu. Meninggalkan Ah Mei yang memasang wajah kesal.


******


"Aaaaaa!!" jerit Ah Mei kesal. "Kalian! Kenapa kalian gagal membunuh gadis itu? Kenapa tidak semua racunnya kalian masukkan? Dan kenapa juga kalian begitu ceroboh?"


"Maafkan kami, Permaisuri. Kami tidak sadar ada yang mengikuti kami setelah seorang gadis menjerit meminta pertolongan," kata sang Dayang ketakutan.


"Kau tahu apa akibatnya? Kepala kalian dan kepalaku menjadi taruhannya!"


Harusnya semua rencana Ah Mei bisa berjalan dengan sempurna. Kalau saja anak buahnya lebih berhati-hati. Sial sekali anak buah Lai Xin lah yang dengan cepat berinisiatif mengejar anak buahnya. Layaknya mata-mata yang terampil. Pria itu berpikir cepat untuk menangkap si pelaku setelah mendengar jeritan seorang gadis.


Menghajar habis-habisan anak buah Ah Mei dan mengterogasinya. Dari situlah mereka tahu Permaisuri Yuhan terlibat. Beruntung anak buahnya itu bisa meloloskan diri hingga tidak dipenjara dan diinterogasi lebih lanjut.


Untuk melenyapkan bukti yang tersisa, Ah Mei sudah menyuruh bawahannya yang tertangkap itu, pergi jauh dari Lima Kerajaan. Awalnya dengan memberi iming-iming sepetak tanah, namun sebenarnya adalah untuk mengasingkannya lalu membunuhnya. Tapi tetap saja informasi itu sudah sampai dari satu telinga ke telinga yang lain.


Terlanjur didengar oleh Yuan Lai Xin. Lalu Gu Zheng juga An Cheng Li. Ia terlalu menganggap remeh jaringan informasi kerajaan. Bagimanapun juga ia adalah pemain baru jika ingin ikut dalam permainan menggenggam kekuasaan.


Ya, ia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tameng dan pedangnya. Ibu Suri Jia--wanita tua bodoh itu tidak akan bisa lagi melindunginya jika Gu Zheng sudah mengungkapkan semua kebenarannya. Dan kalaupun sampai itu terjadi, setidaknya ia masih punya senjata yang tetap bisa membuatnya berdiri di atas kursinya sebagai permaisuri.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri. Pertama anakmu, kali ini akan kupastikan kau meregang nyawa dengan mataku sendiri."


Tbc....


__ADS_2