Hallo Nana!

Hallo Nana!
Rencana Yang Mengejutkan


__ADS_3

Makan malam Kevin dan Omanya Nana berlangsung dengan khidmat dan hangat. Hidangan yang ada di meja tampak warna-warni dan cantik. Membuat Kevin semakin semangat menyantapnya. Lidahnya tak bisa menampik kalau makanan tersebut sangat lezat.


"Seumur-umur aku baru merasakan makanan se-lezat ini," ucap Kevin polos disela kunyahannya. "Ini enak sekali Oma."


"Tambah lagi saja, ayo!"


"Tentu Oma ... terimakasih telah membawa aku ke restoran ini. Pasti chef di sini sangat hebat ya Oma, masakannya super lezat!" imbuh Kevin.


Melihat Kevin yang lahap dengan celotehan polosnya, membuat Omanya Nana tertawa ringan. Sementara, Nana malah menatap Kevin dengan tatapan ngeri sekaligus risih.


'Bisa-bisanya si manusia tembok ini berperilaku kampungan seperti itu di depan Omaku. Rakus sekali makannya si manusia tembok ini. Aish ... membuatku tak berselera saja,' Nana menggerutu dalam hatinya.


Helaan nafas Nana terdengar begitu berat, ia pun menyilangkan sendok dan garpunya pertanda kalau makannya telah selesai. Setelah itu, ia mengelap mulutnya dengan serbet. Perutnya sungguh tidak berselera melanjutkan makan malamnya yang belum sempat dihabiskan.


"Loh kenapa makananmu tidak dihabiskan?" Kevin mengomentari Nana karena tidak menghabiskan makanannya. Ia tak menaruh curiga sedikitpun kalau yang menyebabkan Nana melakukan hal itu karena ulah dirinya yang makan seperti orang kelaparan tujuh abad.


"Aku sedang diet!" ceplos Nana.


"Diet?" Kevin menahan tawanya agar tak meledak. Sebenarnya dia ingin memekik dengan lantang pada Nana— kalau gadis itu tak perlu diet, karena tubuhnya sudah terlampau gempal.


"Kenapa reaksimu begitu? Apa kamu sedang mencoba mentertawakan aku karena aku berkata diet?" protes Nana.


"Bukan begitu, aku hanya merasa kalau kamu lebih manis dan tetap cantik dengan tubuhmu yang sekarang," dusta Kevin. Padahal dalam hatinya dia berkata, —kau tak perlu diet, karena itu percuma saja, tubuhmu terlampau gemuk seperti singa betina yang tengah mengandung—, sayangnya kalimat itu tak bisa terlontar secara jujur karena sekarang posisi Kevin tengah berada di depan Omanya Nana.


"Benar kata Kevin, kamu sudah cantik walau tubuh kamu gemuk," sahut Omanya.


"Aish ... tapi aku tidak berselera makan, Oma."


"Hey! Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan tak bisa makan, jangankan memakan makanan se-lezat ini, makanan sederhana saja mungkin mereka harus susah payah mendapatkannya. Jadi kamu jangan membuang-buang makanan sekehendak kamu sayang ... jadi cepatlah habiskan!" ucap Kevin menceramahi Nana sok bijak.


"Nah! Bener kata Kevin. Oma sangat setuju dengan kalimat Kevin. Lagian membuang makanan itu adalah perilaku yang dilarang dalam agama, Tuhan tidak suka sama orang yang berperilaku seperti itu," celetuk Oma yang ikut-ikutan sok bijak.


Mau tak mau, Nana terpaksa membuka kembali sendok dan garpunya yang sudah tertelungkup tadi.


Hati kecilnya menggerutu setelah mendengar Kevin dan Omanya serempak menceramahi Nana.


'Cih! Ajaib sekali si muka tembok ini! Dia berhasil membuat Omaku bersikap seperti bukan Omaku yang biasanya. Sekarang Omaku sudah jadi orang sok bijak, padahal kelakuan aku begini 'kan karena didikan Oma sedari kecil.'


"Nah gitu dong sayang, kalau kaya gitu kan makanannya jadi tidak mubadzir," ucap Kevin seraya menyunggingkan sudut bibirnya ditengah kunyahannya yang belum selesai.


Nana melahap kasar sisa makanan yang tadi sempat ia abaikan. Seolah sedang melampiaskan amarahnya yang tertahan pada makanan itu. Dan itu semua terjadi karena mulut manis Kevin yang mengompori Omanya untuk menceramahi dirinya.


Nana makan sambil tertunduk. Dia malas melibatkan dirinya dalam obrolan Omanya dengan Kevin. Otaknya semrawut antara senang dan tidak. Senang karena rencananya berjalan lancar. Tidak senang, karena Kevin makannya begitu rakus hingga membuat perutnya tak berselera menampung makanan yang ada di piringnya.


"Oh ya ... pertunangan kalian akan dilangsungkan minggu depan jadi bersiap-siaplah."


"Uhukk ... Uhukk!!!"


Nana dan Kevin secara mengejutkan tersedak bersamaan. Sementara, Oma begitu santai menyaksikan reaksi terkejut Nana dan Kevin hingga membuat keduanya tersedak begitu menyiksa, seolah beliau sudah bisa menebak sebelumnya kalau Nana dan Kevin pasti akan terkejut seperti itu setelah mendengar rencananya mengenai pertunangan Nana dan Kevin seminggu lagi.

__ADS_1


Dengan cepat mereka berdua mengambil gelas mereka masing-masing.


"Pe-pe-pertunangan Oma?" gelagapan Kevin setelah berhasil meloloskan makanan yang menyangkut di tenggorokannya tadi.


"Ya, bukankah kamu sangat mencintai cucu saya. Kamu juga bilang 'kan kalau kamu tidak akan meninggalkan cucu saya? Lantas apa masalahnya jika saya meminta kamu untuk ke jenjang yang lebih serius?"


Mendadak Omanya Nana yang tadinya humble dan asyik diajak mengobrol, kini menunjukkan sifat aslinya yang tegas dan agak congkak, membuat Kevin jadi bergidik ngeri.


"Ta-ta-pi kenapa secepat ini?" kilah Kevin masih belum percaya dengan apa yang diminta Omanya Nana.


"Kenapa? Apa kamu keberatan?" tegas Omanya Nana.


Kevin diam. Kerongkongannya serasa tercekat hingga tak bisa berkata-kata lagi. Ini tidak seperti yang diberitahukan Nana sebelumnya. Gadis itu hanya meminta Kevin untuk menjadi pacar bohongannya saja. Tapi apa yang terjadi sekarang? Rupanya Omanya Nana bukan meminta Nana mengenalkan Kevin sebagai pacarnya melainkan melainkan calon tunangannya. Sekarang Kevin tersudut. Ia ingin lari dari sana, tapi kakinya seolah kaku tak bisa digerakkan.


Dengan cepat Nana pun menginterupsi dan membantu Kevin yang sudah tersudut.


"Oma tidak bisa memaksakan aku untuk bertunangan dalam waktu dekat, bukankah Oma kemarin bilangnya hanya mengenalkan calon saja? Itu artinya pacar. Kenapa Oma meminta lebih?"


"Siapa bilang Oma meminta kamu mengenalkan pacar? Oma bilang kamu harus membawa calon suami kamu!" ucap Oma dengan enteng.


Nana dan Kevin saling memandang satu sama lain dengan tatapan tak percaya.


Mereka berdua shock bukan kepalang. Rencana Oma diluar dari perjanjian mereka dan tidak ada dalam skrip mereka sama sekali.


Detik berikutnya, Kevin bangkit dari duduknya. Matanya penuh kilat yang tertahan.


"Aku harus berbicara denganmu!" ucap Kevin sembari menarik lengan Nana agar mau bangkit dan mengikuti kemanapun Kevin membawanya.


Kevin membawa Nana ke luar restoran. Dengan gusar dia pun membuang paksa lengan Nana yang sedari tadi dipegangnya. Pikirannya kacau setelah mendengar pernyataan Omanya Nana tentang rencana beliau yang akan melangsungkan pertunangan Nana dengan dirinya dalam waktu dekat.


"Jelaskan padaku, kenapa Oma kamu akan menyelenggarakan pertunangan kita dalam waktu dekat? Bukankah kamu bilang, aku hanya perlu berpura-pura jadi pacar kamu? Bukan dipaksa bertunangan seperti ini. Kalau aku tahu duduk permasalahannya secara detail, aku pasti tidak akan mau membantu kamu."


"Aku juga tidak tahu kalau Oma aku ternyata sudah merencanakan semua ini. Aku sama terkejutnya dengan kamu, aku pikir Oma hanya memintaku mengenalkan pacar saja bukan langsung ditodong tunangan begini. Beliau kemarin cuma bilang kalau aku harus bawa calon suami. Ya, aku pikir calon suami tuh sama kaya pacar."


"Harusnya kamu cerdas dikit kek' kalau Oma kamu ngomong tuh dicerna baik-baik maksudnya. Kalau beliau bilang 'calon suami' itu artinya beliau meminta kamu mencari seseorang yang siap menikahi kamu, bukan hanya buat senang-senang sesaat. Calon suami dan pacar itu berbeda!" sentak Kevin dengan nada marah-marah. "Pokoknya aku tidak mau bertunangan dengan singa betina sepertimu!"


"Ck! Kamu pikir aku mau bertunangan dengan kamu? Aku juga tidak sudi melakukan itu dengan manusia tembok seperti kamu."


"Ini semua salahmu, akibat dari kebodohan kamu sendiri semuanya jadi kacau balau," Kevin semakin sewot dan tidak bisa diajak santai. Ia ketar-ketir bukan main kalau dirinya sekarang sudah tersudut. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya seketika.


"Iya ... iya ... ini semua salah aku. Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak ingin berakhir tragis dengan menerima tawaran Oma."


"Ck! Kamu selalu saja memikirkan dirimu. Kamu pikir aku mau menikah denganmu? Usiaku masih muda dan masih punya banyak kesempatan mencari wanita yang lebih seksi, cantik, dan yang paling penting lebih muda darimu," cerocos Kevin dengan nada sebal.


Bola mata Nana sukses melebar sempurna setelah mendengar cerocosan Kevin yang condong ke arah mengejek.


"Berhentilah mengejekku! Sekarang bukan waktunya kita berdebat, lebih baik kita pikirkan cara agar bisa melontarkan alasan yang lebih realistis pada Oma."


"Tidak ada cara lain selain berkata jujur," ceplos Kevin seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Ya aku akan berkata jujur sama Oma kamu, kalau aku ini bukan benar-benar pacar kamu. Aku hanya orang sewaan kamu yang kamu bayar buat ngaku-ngaku jadi pacar kamu sekarang," ucap Kevin jujur.


Nana memelotot tak percaya.


"Apa kamu gila!!! Apa kamu mencoba membunuhku dengan mengatakan semua itu pada Omaku? Beliau pasti akan marah besar padaku, lalu akan menggantungku hidup-hidup kalau sekarang kamu mengatakan yang sejujurnya mengenai identitas kamu yang sebenarnya pada Oma."


"Aku tidak peduli. Aku tidak mau bertunangan apalagi sampai menikah denganmu. Apalagi harus menafkahi kamu nantinya. Sungguh! Lebih baik aku melihatmu digantung hidup-hidup daripada harus merelakan diriku terjerembab dalam permainan kamu yang konyol ini."


"Cih! Kamu bilang aku selalu memikirkan diriku sendiri, lantas apa bedanya dengan kamu yang lebih rela melihatku digantung ketimbang berbohong untuk aku? Dasar tidak punya perikemanusiaan!" tandas Nana, semakin sebal saja ia berhadapan dengan manusia tembok seperti Kevin.


"Pokoknya aku tidak peduli. Terserah kamu mau mengatai aku apa, yang jelas aku tidak mau menikah dengan gadis kolot seperti kamu," bantah Kevin cuek.


Leher Nana mengeras seperti beton menahan emosi yang membuncah saat menghadapi Kevin— si manusia tembok super menyebalkan. Kepalanya berpikir keras agar Kevin tak berkata jujur pada Omanya nanti. Sebisa mungkin Nana harus mencari cara agar Kevin tak bertindak sesukanya.


"Baik kalau kamu tak mau membantuku. Sekarang kembalikan uang 60 juta yang telah aku transfer ke rekening kamu! Dengan begitu kamu bebas berkata sesuka kamu pada Omaku," ucap Nana seraya menyodorkan telapak tangan kanannya meminta kembali uang bayaran Kevin serta uang biaya ganti berobat yang diminta Kevin tempo lalu.


Kevin tak bergeming.


"Kenapa? Kenapa kamu malah diam? Apakah kamu sudah menghabiskan uang tersebut?" lanjut Nana dengan sikap kalem nan simpel.


Glek!


Terdengar suara saliva tertelan dari leher Kevin saat mendengar penuturan Nana yang benar adanya, kalau Kevin sudah menghabiskan uang tersebut untuk mengirimi keluarganya di kampung, serta sedikit foya-foya kemarin.


"A-aku akan mengembalikannya nanti," balas Kevin gelagapan.


"Aku tidak mau nanti. Aku mau sekarang juga! Bukankah kamu juga ingin mengatakan sesuatu yang jujur pada Omaku sekarang juga? Jadi sebelum kamu mengutarakan niat kamu dan sebelum aku mati digantung oleh Oma, aku ingin uangku kembali," tegas Nana.


Lagi-lagi Kevin tersudut. Ia seperti bukan menjadi dirinya yang seutuhnya sekarang. Lemah dan tak berdaya.


Dengan amat sangat terpaksa, Kevin menyerah dan menuruti semua perintah Nana. Tidak ada pilihan lain baginya meski hati dan logikanya menentang keras kalau dirinya tidak mau bertunangan dengan Nana— gadis kolot yang mirip singa betina tengah mengandung.


"Baiklah ... baiklah. Aku tidak akan berkata jujur pada Oma kamu tentang diriku yang sebenarnya."


"Nah gitu dong! Sekarang ayo kita masuk!"


Kevin diam tak mau melangkahkan kakinya. Ia tetap belum rela kalau nantinya harus bertunangan apalagi harus menikah dengan wanita yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu, yang bahkan belum kenal betul seperti apa sifat aslinya.


"Kenapa? Kenapa kamu malah diam lagi sih?" tanya Nana.


"Aku masih belum ikhlas untuk menyerahkan diriku begitu saja demi memenuhi keinginan Oma kamu. Aku tidak mau bertunangan dengan kamu. Kumohon jangan paksa aku menuruti semua keinginan Oma kamu, aku masih punya tanggungan dua adik aku yang masih sekolah, serta aku juga belum punya pekerjaan yang tetap untuk menghidupi tambahan orang nantinya. Hidupku sudah cukup sulit dibebani kedua adik aku, sekarang masa aku harus dibebani dengan menafkahi kamu nantinya. Aku benar-benar belum siap!" keluh Kevin dengan berkata jujur sejujur-jujurnya dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Mendengar keluhan Kevin yang panjang kali lebar membuat Nana jadi mendapat ide untuk menampik keinginan Omanya.


Dengan santai Nana menggosok bahu Kevin.


"Kamu tenang saja. Sekarang aku punya rencana lain agar kita bisa membatalkan rencana pertunangan kita tanpa kamu harus berkata jujur pada Omaku soal status kita," ucap Nana seraya menampilkan seringaian licik diujung bibirnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2