
[Hallo?] ucap Nana saat benda persegi panjang berwarna biru ditempelkan ke daun telinganya.
[Kamu di mana?]" orang di sebrang sana bertanya balik dengan nada sedikit memekik, membuat Nana menjauhkan benda berwarna biru itu sebentar dan seperkian detik berikutnya menempelkan lagi ke posisi semula.
[Kenapa kamu menelponku di saat yang tak tepat sih?] Nana protes. Apalagi saat kepalanya ingat kalau panggilan telpon tersebut yang membuatnya tak jadi berciuman dengan Jonatan. Dia kesal, amat sangat kesal pada orang yang menelponnya tak tepat waktu itu. [Gara-gara kamu semuanya jadi kacau! Dasar muka tembok sialan!] gerutunya lewat telpon.
[Kamu pikir kalau mau menghubungi seseorang lewat telpon harus lihat situasi dan kondisi dulu, gitu? Mana aku tahu kalau kamu sedang sibuk] kilah orang yang menelpon Nana, yang tak lain adalah Kevin.
[Ish ... nyangkal aja terus, dasar perusak suasana! Sekarang cepat beritahu aku, apa tujuanmu menelponku?] kata Nana tanpa basa-basi. Dia enggan Kevin mengganggunya terus menerus, padahal sudah ditekankan dalam kontrak pra-nikah mereka, kalau salah satunya tak boleh ikut campur masalah pribadi. Apalagi mengacaukan kesenangannya.
[Cepatlah pulang!] titah Kevin menekankan.
Dahi Nana mengkerut tiba-tiba saat mendengar ungkapan Kevin yang menyuruhnya segera pulang. Apakah lelaki itu sedang kesambet? Bahkan Nana mengira begitu.
[Aku tidak mau] jawab Nana singkat, padat dan malas.
[Kenapa?]
[Jangan kepo urusan orang deh!] agaknya Nana benar-benar malas menanggapi perintah Kevin. Terlebih, saat di memori otaknya tertaman bahwa Kevin lah si biang utama kegagalan dari momen ciuman Nana dan Jonatan, membuat Nana semakin enggan melaksanakan titahan Kevin.
[Siapa juga yang kepo. Meskipun kamu tak memberi tahuku dengan siapa kamu sekarang, aku sudah bisa menebak kalau dirimu pasti sedang bersama si manusia payah, playboy cap biawak bernama Jonatan itu, kan?]
Nana meradang, rasanya tangan serta kuku-kuku tajamnya sudah gemas ingin mencekik leher Kevin yang kian detik kian seenak jidatnya berucap tanpa disaring terlebih dahulu. Padahal, Nana sudah berulang kali memperingatkan Kevin jangan sesekali memanggil Jonatan dengan sebutan tak manusiawi nan aneh itu di depan Nana. Tapi sayangnya, lelaki berdarah Tionghoa dengan muka sengau nan tengil itu malah semakin sengaja ingin membuat Nana naik pitam.
Nana geram bukan kepalang, dia pun kembali melayangkan protes dan peringatan garis keras agar Kevin tak coba-coba menyebut Jonatan dengan kata-kata negatif lainnya, terlebih saat ini Nana sedang berada satu mobil dengan Jonatan. Dia merasa tak enak hati, meskipun sama sekali Jonatan tak mendengar ujaran kebencian yang dilayangkan Kevin untuk lelaki berahang tegas kesayangan Nana, tapi tetap saja Nana merasa bersalah pada Jonatan akibat ulah Kevin si muka tembok.
[Hey muka tembok, aku bilang jangan memanggilnya dengan nama itu! Apa kamu pikun, hah?] sewot Nana menyentak Kevin di sebrang sana. [Lagian kamu ngapain sih telpon-telpon segala? Kalau kamu hanya mau menyuruhku pulang kenapa tidak ngechat aja, sih? Bisa kan gak perlu telpon segala! Aku tuh males ngobrol sama kamu, muka tembok sialan!] imbuh Nana.
[What? Coba check ponselmu! Berapa banyak pesan yang ku kirim padamu, tapi tak satupun digubris. Jangankan digubris, diread saja tidak. Bagaimana kalau misal yang kirim pesan itu Oma kamu? Sudah bisa dipastikan kepala kamu akan dipenggal karena tak menggubris dengan segera.]
[Jangan-ngada deh. Dari tadi aku gak denger ada pesan masuk ke ponselku.]
Di ujung sana, Kevin terbahak tengil. Mulut pedasnya juga tak luput melontarkan kalimat penghinaan pada Nana.
[Oh ya? Apa telinga kamu bermasalah sampai-sampai tak sadar kalau aku mengirimkan begitu banyak chat?]
[Sembarangan aja kalau ngomong. Asal kamu tahu ya, aku mensilent ponselku jadi mana aku tahu kalau kamu mengirimiku chat] Nana menyangkal tak kalah sengit. Tapi dia juga kepo dan mulai mengecek ponselnya untuk memastikan kalau Kevin hanya mengada-ngada mengirimkan banyak pesan padanya.
Sialnya, kali ini Kevin tak berbohong. Lelaki itu mengirimkan kurang lebih 25 pesan chat yang isinya sama semua. 'Cepat pulang!' begitulah kiranya pesan Kevin kepada Nana. Tapi gadis itu tak mau mempermalukan dirinya begitu saja pada Kevin dengan mengaku kalau dia memang tak mensilent ponselnya, dia bersikukuh menyangkal ucapan Kevin. Dia tidak mau jujur, demi harga diri, harkat dan martabatnya dihadapan Kevin.
"Jangan membuat alasan yang klasik, wahai singa betina sialan yang juga punya masalah pendengaran! Kamu pikir aku tidak tahu kebiasaanmu, kalau kamu tidak pernah men-silent ponselmu saat di luar. Jadi berhentilah berdalih. Sekarang cepat pulang! Aku aku gak mau tahu dalam lima belas menit pokoknya kamu harus udah sampai di apartemen!"
__ADS_1
Tuttt ... tuttt ... tuttt
"Hallo ... hallo? Yak! Muka tembok sialan! Kenapa kamu mematikan telepon sebelah pihak, sih? Hallo ... hallo? Aku belum jawab iya, kenapa main tutup aja telponnya. Dasar suami gak ada akhlak!" Nana memaki ponselnya saat orang di sebrang sana tiba-tiba menutup ponselnya dengan tidak sopan, membuat Jonatan yang kini sibuk dengan kemudi mobilnya terpaksa membuka suara.
"Ada apa?" tanya Jonatan pada Nana keheranan.
Nana mengenduskan hidung dengan kesal. Ia tak terima perlakuan Kevin yang menuntutnya untuk segera pulang tanpa menjelaskan apa dan kenapa.
"Suamiku menyuruhku untuk segera pulang," keluh Nana pada Jonatan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di apartemen kamu?"
"Aku tidak tahu pastinya kenapa dan apa yang terjadi di sana. Tapi yang jelas aku harus segera sampai di apartemenku sesegera mungkin," terang Nana.
"Kalau memang penting, lebih baik aku antar kamu pulang saja," balas Jonatan lembut.
"Tapi bagaimana dengan kencan kita? Memangnya kamu gak apa-apa kalau aku batalin rencana kita?"
Sebelum menjawab dengan deretan kalimat, Jonatan terlebih dahulu melengkungkan segurat senyum tipis pada Nana. Kendati demikian, tanpa banyak berkata pun dapat disimpulkan kalau Jonatan tidak masalah Nana membatalkan rencana kencan mereka demi sesuatu yang penting dan urgent.
"Tentu saja tidak apa-apa. Toh, masalah kencan, kita masih bisa rencanakan besok atau besoknya lagi. Sementara urusanmu dengan suami kamu, sepertinya itu sangat urgent. Jadi tak masalah buatku kalau kamu memang harus pulang.Hehe."
"Terimakasih ya, udah mau ngertiin posisi aku sekarang."
Nana mengangguk tanpa banyak kata. Sementara Jonatan langsung putar setir menuju arah ke apartemen Nana. Mobil itu pun melesat membelah jalanan yang tampak lumayan ramai.
Nana jadi merasa bersalah pada Jonatan, padahal niat awalnya ia ingin diajak oleh Jonatan ke suatu tempat yang lebih romantis lagi. Namun sayangnya, si pengacau telah datang. Membuat rencana Nana dan Jonatan urung dan gagal total.
Nana mendesis sebal dalam hatinya. Entah kenapa setiap ada momen romantis yang hampir terjadi bersama Jonatan. Kevin secara tidak langsung kerap kali datang mengganggu dan mengacaukan segalanya.
Nana jadi sedikit berpikir ulang mengenai orang yang membuntutinya tadi. Apa mungkin benar kata Jonatan kalau si penguntitnya itu berasal dari orang suruhan Kevin yang diminta untuk memata-matai Nana, lantas orang suruhan itu mengirimkan informasi mengenai gerak-gerik Nana ke Kevin. Makanya setiap Nana sedang ingin bermesraan pasti ada saja gangguannya. Nana bertekad, kalau memang benar itu berasal dari orang suruhan Kevin, Nana akan menuntut kerugian dan yang paling penting, Nana tak akan mengampuni Kevin.
Selang beberapa puluh menit, Nana telah sampai di apartemennya. Nana tak langsung turun dari mobil Jonatan. Kakinya serasa berat meninggalkan Jonatan. Dia masih kangen dengan lelaki berahang tegas dengan lesung pipit di ujung senyumnya itu.
"Apa kamu mau mampir dulu, sayang?" tawar Nana.
Dia berharap lelaki itu ikut dengannya, agar rasa kangennya terpuaskan hari ini. Dia masih tidak rela momentum bersama Jonatan harus gagal hanya karena masalah sepele yang belum Nana ketahui secara pasti.
"Sepertinya aku pulang saja, soalnya aku tidak enak dengan suami kamu," jawab Jonatan yang langsung mematahkan harapan Nana yang masih ingin berlama-lama dengan lelaki itu.
Nana mengerucutkan bibirnya sekilas. Lantas menimpali penolakan Jonatan.
__ADS_1
"Hmmm ... yasudah kalau itu mau kamu," kata Nana, tampak kecewa tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Walau bagaimanapun itu haknya Jonatan, Nana tak bisa memaksa begitu saja. Alhasil, mau tak mau Nana hanya bisa pasrah.
"Lain kali aku mampir deh, kita akan menghabiskan seharian penuh kalau misal di apartemen kamu sedang tidak ada suami kamu. Tapi untuk sekarang, aku benar-benar tidak mau cari perkara dengan suami kamu," tutur Jonatan mulai sedikit mengobral janji pada Nana.
"Sungguh?"
"Tentu saja."
"Love you."
"Love you more."
Mata Nana langsung berbinar cerah saat Jonatan mengatakan hal itu. Dia pun langsung ceria lagi seperti sebelumnya. Dengan gerakan cepat, Nana langsung turun dari mobilnya dan bergegas ke apartemennya di unit 119.
Setelah sampai, Nana langsung menempelkan keycardnya pada key box sistem. Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam apartemen dengan langkah tergesa-gesa.
Dilihatnya Kevin sedang memainkan ponselnya sambil selonjoran santai di atas kasur. Dengan gerakan cepat, Nana langsung membuang tasnya ke arah Kevin yang tengah bersantai ria. Itung-itung Nana menumpaskan kekesalannya gara-gara ulah Kevin yang telah berhasil mengacaukan harinya bersama Jonatan. Hal itu tentu saja mengundang decak protes dari Kevin.
"Yak! Singa betina sialan, kenapa kamu melempar tasmu ke sembarangan tempat, sih? Apa matamu rabun sampai-sampai tak bisa melihatku ngejogrog di sini, hah?"
Nana mengendus kasar dan berkacak pinggang sebelum menimpali kalimat protes sekaligus hujatan Kevin.
"Aku memang sengaja melempar tasku ke arahmu. Anggap saja itu balasan kecil dariku karena ulahmu. Lagipula itu belum seberapa dengan kekacauan yang telah kamu buat hari ini," tukas Nana ambigu dan berapi-api.
"Maksudnya?"
"Cih! Dasar muka tembok sialan, pakai pura-pura inosen segala. Gara-gara kamu menelpon dan menyuruhku segera pulang, kencanku sama Jonatan jadi batal. Kamu juga merusak acara ci—" Nana menge-rem cerocosannya saat hendak mengatakan kata 'ciuman' pada Kevin. Membuat Kevin jadi curiga dan kepo.
"Ci—, ci apa maksud kamu?" tukas Kevin melanjutkan kalimat Nana yang tak diselesaikan.
"Arrrgh sudahlah! Sekarang jelaskan padaku, kenapa kamu menyuruhku pulang?" ucap Nana lagi, berusaha mengalihkan Kevin yang mulai diliputi kepo. Naasnya, lelaki itu tak mudah dialihkan begitu saja. Terbukti saat ini dia masih saja mengungkit kata 'ci' yang terpenggal itu.
"Bentar deh, kamu berhutang penjelasan padaku. Tadi kamu bilang 'ci' maksudnya apaan tuh?"
"Berhentilah kepo! Yang jelas kamu telah merusak momenku bersama Jonatan," sewot Nana dengan volume tinggi.
"Cih! Mana aku tahu kamu tengah bersama si playboy cap biawak itu. Lagi pula kenapa sih kamu gak betahan banget sehari saja diam di apartemen? Dengan begitu aku kan gak perlu repot-repot menelpon kamu tadi. Kalau gak penting-penting amat mah aku juga ogah merusak momen kamu bersama si playboy cap biawak itu."
Nana meradang serta jengah. Rasanya dia benar-benar gemas ingin sekali mencekik leher Kevin sampai tak bisa bernafas saat mulutnya begitu lancar menyebutkan 'kata biawak' pada Jonatan.
"Mana bisa aku tahan berlama-lama di apartemenku yang sudah mirip sarang biawak ini. Apalagi sekarang dihuni dengan bapaknya biawak!" cetus Nana menyindir dengan lugas dan keras pada Kevin, membuat lelaki itu langsung tertikam seketika.
__ADS_1
Bersambung.
Hai, cuma mau ingetin dukung terus karya aku dengan cara komen setelah baca. Soalnya it means a lot for me yang haus akan krisan. Ya buat perbaikan aku ke depannya. Kalau kalian memiliki rejeki lebih, jangan lupa sumbangsihnya untuk karya ini. Thanks, kecup manis dari Tholu yang kini tengah berada di sarang biawak.