
Kevin baru keluar dari kamar mandi setelah setengah jam dia mengurung diri di dalam sana. Niat awalnya hanya ingin merenung sambil menghilangkan bayangan Nana yang menari-nari di otaknya. Tapi, semakin Kevin berlama-lama di kamar mandi malah semakin otaknya berimajinasi liar. Alhasil, dia membiarkan sekelebat bayangan Nana terus menerus menerornya dan memenuhi kepalanya.
Saat Kevin keluar, ternyata Nana sudah bersiap-siap pergi dengan membawa sebuah koper berukuran super besar. Kevin pun menatap heran ke arah Nana.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau pergi dulu nemenin Tania cari kontrakan atau rumah kost. Ya itung-itung sebagai tanda maaf aku karena harus mengusir dia dari apartemen aku."
"Terus Tania nya di mana?"
"Dia sudah turun duluan."
Kevin hanya ber-oh ria sambil manut-manut tidak jelas. Karena tidak ada lagi pertanyaan dari Kevin, akhirnya Nana bersiap-siap menyusul Tania yang kebetulan sudah di bawah. Tapi sebelum Nana benar-benar pergi, gadis itu berpesan sesuatu pada sang suami rekayasanya.
"Oh ya kalau kamu mau makan siang kamu pesan online saja. Kamu boleh pakai kartu debit aku dan ini nomor pinnya," ucap Nana sembari menyodorkan kartu ATM dan secarik kertas berisi nomor pin ke hadapan Kevin.
"Tidak usah. Aku mau masak saja."
Nana tertegun sejenak sebelum tersenyum meremehkan.
"Woah! Memang kamu bisa masak?"
"Jangan meremehkan aku! Gini-gini aku suka masak. Masakanku tidak kalah enak dari masakan di restoran Oma kamu itu," tandas Kevin sedikit menyombongkan keahliannya. Yang entah dari mana dapat keahlian tersebut. Rasanya sulit Nana percaya.
"Ya ... terserah kamu deh. Aku malas berdebat. Lagi pula aku cuma mau kasih saran supaya kamu gak repot nyiapin ini dan itu, kalau kamu mau masak juga gapapa kok, di kulkas masih ada stok bahan makanan yang bisa kamu masak. Tapi dengan syarat kamu harus membuat dapurku bersih seperti semula, aku tidak mau dapurku seperti kapal pecah ketika aku pulang nanti. Karena aku tidak suka rumahku kotor!"
Mendengar Nana mengoceh panjang lebar, semakin menunjukan kalau Nana mirip ibu-ibu di komplek sebelah, alhasil Kevin hanya mengendus malas seperti anak kecil yang tengah diceramahi ibunya.
"Iya ... iya ... aku tidak akan merusak ataupun mengotori dapurmu. Lagi pula aku ini berbakat jadi chef handal seperti chef-chef kawakan di televisi gitu. Jadi mana mungkin membuat dapurmu berantakan. Percaya saja sama aku!" seru Kevin dengan penuh percaya diri untuk ke seratus ribu kalinya, membuat Nana mengangkat bibir atasnya secara sebal.
"Ck! Chef kawakan matamu soek! Pokoknya aku tidak mau kamu menghancurkan dapurku!" Nana memperingatkan sekali lagi.
Sejatinya, Nana belum begitu percaya dengan Kevin yang menyatakan bisa memasak. Nana yakin kalau Kevin pasti sedang membual lagi. Tapi karena ia harus buru-buru menyusul Tania, akhirnya Nana mengalah saja daripada urusannya makin panjang seperti kereta Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta.
"Iya ... iya ... bawel banget sih kamu. Udah kaya emak-emak tahu gak!"
"Terserahlah. Yaudah aku pergi dulu," pamit Nana.
Tak mau berlama-lama berjibaku dengan Kevin, Nana pun langsung melesat meninggalkan Kevin yang tengah bersender sembari menyilang kedua tangannya di depan dada.
Dan tanpa sepengetahuan Nana pula, Kevin hanya merespon ucapan pamit Nana dengan gerakan seperti mengusir anak ayam. Lagi pula Kevin begitu malas berlama-lama melihat Nana yang semakin dilihat malah semakin membuat otaknya tak karuan.
Kevin tahu kalau perasaannya itu salah. Tapi dia juga tidak mampu mengusir bayangan Nana semudah membalikkan telapak tangannya. Gadis itu tidak cantik, tapi sedikit menarik di mata Kevin. Dan semua itu tercipta karena Kevin menemukan sisi lain Nana saat Nana tengah tertidur lelap seperti beberapa jam yang lalu.
Benar kata orang, wanita akan terlihat dua kali lebih cantik saat sedang tidur dan saat sedang bermanja-manja pada kekasihnya. Dan Kevin menyadari hal itu.
"Please Kevin ... kontrol otakmu! Jangan memikirkan si singa betina terus. Dia musuhmu, dia sumber uangmu, dan dia sumber masalah dalam hidupmu. Kamu harus ingat itu!" tandas Kevin sembari mengucek-ngucek wajahnya dengan gusar.
"Lebih baik aku menyiapkan makanan untuk makan siang. Aku tadi sudah berbohong pada si singa betina itu kalau aku bisa memasak. Padahal boro-boro bisa masak seperti chef, aku masak telor aja sering gosong. Aishhh ... kadang aku menjadi bodoh seketika kalau otakku terjerat wanita," omel Kevin pada dirinya sendiri.
Kevin pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Dengan pikiran yang makin semrawut, dia mencoba menciptakan aktivitas yang mungkin dapat mengusir bayangan Nana beberapa saat.
__ADS_1
Setelah sampai di dapur, Kevin langsung membuka pintu kulkas yang ukurannya lumayan besar. Dia menyapukan matanya menatap isi kulkas Nana yang lengkap.
"Mungkin aku akan memasak cah kangkung. Dengan begitu aku bisa cepat mengantuk setelah makan kangkung. Kata orang sih memakan kangkung bisa membuat seseorang jadi mudah mengantuk. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, yang jelas aku harus membuktikannya. Lumayan kan kalau aku cepat mengantuk, dengan begitu aku bisa tertidur lalu bayangan si singa betina itu akan hilang dari otakku," Kevin berspekulasi panjang lebar sembari menarik laci kulkas dan menarik kangkung tersebut agar keluar.
Setelah dapat, lelaki berusia 25 tahun itu langsung membawa kangkung tersebut ke dekat wastafel. Kemudian dia berujar lagi.
"Aku harus cuci dulu apa potong dulu ya?" tanyanya pada diri sendiri. Kevin menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Argh ... ternyata memusingkan memasak beginian!" Kevin mengerang lesu.
Memang tak mudah melakukan hal yang tak sama sekali Kevin mengerti. Memasak telor saja sering gosong, apalagi memasak menu lain. Dan bodohnya, Kevin malah sok-sok an menunjukkan kalau dirinya hebat dalam memasak ketika berhadapan dengan Nana tadi.
Kevin menghembuskan udara dari dalam hidungnya dengan kasar. Sebelum akhirnya, merogoh ponselnya dari saku celana kolor bercorak kuning birunya. Dia tidak bisa memasak, tapi bukan berarti dia tidak punya akal. Pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk mendapatkan informasi hanya dengan sekali ketik.
Jemarinya menari di atas tombol qwerty ponselnya. Mengetikkan sesuatu pada mesin pencari. —Cara membuat cah kangkung—
Kevin melengkungkan sebelah sudut bibirnya saat mesin pencari bernama Google itu menampilkan ratusan resep membuat cah kangkung yang enak dan lezat.
Kevin pun mulai mengklik salah satunya, dua detik berikutnya dia langsung membaca informasi yang terpampang jelas di layar ponselnya.
"Pertama siapkan alat-alatnya terlebih dahulu seperti pisau dan talenan."
Kevin langsung mengedarkan pandangannya mencari dua buah benda yang disebutkan di dalam artikel tersebut. Dan saat mendapatkan talenan tersebut wajah Kevin langsung mengkerut tiba-tiba.
"Ini terlihat seperti alat bermain tenis meja," ucap Kevin sembari membolak-balikkan permukaan talenan tersebut dengan polos. "Ah masa bodo! Yang penting aku sudah menemukan benda ini. Aku tinggal mencari pisaunya," tambahnya. Lantas mencari keberadaan pisau yang entah dimana bersembunyi.
Setelah dapat pisau dan talenannya, Kevin kembali membuka ponselnya dan membaca informasi berikutnya mengenai bahan-bahan untuk membuat resep cah kangkung.
Setelah bahan-bahan sudah terkumpul semua, informasi yang harus Kevin baca adalah tentang tata cara memasak cah kangkung tersebut. Kevin pun bersiap memfokuskan matanya lagi pada layar ponsel yang tengah dipegang tangan kirinya.
Namun saat Kevin baru mau mulai tahapan selanjutnya, terdengar suara pintu apartemen Nana digedor dengan begitu kasar.
Brak!
Brak!
Brak!
Kevin terdiam sejenak dari aktivitasnya. Keningnya mengkerut berlipat-lipat saat telinganya menangkap suara gaduh tersebut.
"Siapa sih yang gedor pintu? Apa mungkin si singa betina telah kembali? Ah tapi mana mungkin secepat itu. Lagi pula si singa betina kan tadi bawa key card apartemen ini, masa sih dia harus gedor-gedor pintu cuma mau masuk doang?" pikir Kevin keheranan.
Brak!
Brak!
Brak!
Sekali lagi, Kevin mendengar suara pintu apartemen Nana digedor tanpa rasa sopan. Kevin pun mulai kesal.
"Ngajak gelut nih orang kayanya!" gerutu Kevin sambil melenggang cepat ke arah pintu utama apartemen.
__ADS_1
Brak!
Brak!
Brak!
Untuk ketiga kalinya, pintu tersebut digedor oleh orang yang entah darimana datangnya. Kevin semakin sebal. Rasanya dia ingin mencekik orang yang tidak punya sopan santun itu. Selain dapat merusak properti apartemen Nana, suara berisik yang dihasilkan dari gedoran pintu tersebut sangat amat menggangu waktu memasaknya.
"Benar-benar ngajak gelut nih orang!" geram Kevin sembari menarik knop pintu apartemen itu, dan bersiap melayangkan makian terhadap si penggedor kurang ajar itu.
Srak!
"Bisa gak sih sopan se ... di ... kit!" awalnya Kevin ingin mengomel, tapi kalimat akhirannya terpatah-patah dan melemah saat ia berhasil menarik pintu tersebut dan menampilkan sesosok pria gagah dengan rahang kekar dihadapannya.
"Dimana Nana?" tanya si pria berahang kekar itu to the point.
"Anda siapa?"
"Dimana Nana?" ulang si pria itu. Dari intonasi bicaranya, dapat Kevin simpulkan kalau lelaki dihadapannya itu sangat menyebalkan. "Saya tanya dimana Nana? Apa kamu tuli hah?!"
"Ya tapi anda belum jawab pertanyaan saya. Siapa anda sebenarnya? Dan ada urusan apa sama si sing— ah maksud saya ... istri saya?"
hampir saja Kevin keceplosan mengucapkan kata 'singa betina' pada lelaki yang tak dikenal Kevin itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kevin, lelaki berahang kekar dengan alis tegas, serta hidung mancung yang terpamer di wajah angkuhnya itu malah menatap Kevin dengan sinis.
"Jadi kamu suami dari pacar saya?" ucap lelaki yang tak diketahui identitasnya itu dengan nada culas dan menyebalkan. "Dimana Nana? Saya ingin bertemu pacar saya," ucap lelaki itu sembari mengedarkan pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan.
Kevin pun memperhatikan lelaki angkuh yang mengaku-ngaku pacar Nana dari atas sampai bawah.
"Nana sedang keluar. Jadi pergilah dari sini!"
"Kamu pikir aku bodoh?! Kamu pasti menyembunyikan pacar saya kan?"
"Untuk apa saya menyembunyikan istri saya sendiri?" balas Kevin simpel nan elegan. Tangannya disilang di depan dada sementara tubuhnya disenderkan di tepian pintu.
"Istri katamu? DIA ITU PACAR SAYA!" bentak lelaki itu.
"MANTAN PACAR! KARENA SEKARANG DIA ISTRI SAYA!" Kevin menjawab tak kalah sengit.
Lelaki itu menatap Kevin dengan kilatan amarah tertahan, tangannya mengepal secara sempurna. Dan tanpa aba-aba, lelaki itu menerobos masuk ke dalam apartemen Nana tanpa bisa dihalau Kevin.
Lelaki itu terus berteriak memanggil Nana. Menyisir semua ruangan dengan harapan menemukan Nana yang lelaki itu klaim adalah pacarnya.
"Nana sayang ... aku datang! Aku datang buat menemui kamu. Nana sayang ... cepatlah keluar! Kita harus bicara!"
Kevin geram bukan kepalang, terlebih saat lelaki itu semakin tidak sopan dan tak menghargainya sebagai salah satu penghuni apartemen tersebut. Kendati demikian, Kevin membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang dia mau.
"Dasar lelaki payah! Penampilannya aja yang oke, tapi gak ada sopan santunnya sama sekali. Aku heran kenapa si singa betina bisa punya mantan macam begituan sih? Payah!"
Bersambung.
__ADS_1