Hallo Nana!

Hallo Nana!
Pertemuan Dengan Jonatan


__ADS_3

Tania berhasil mencapai kontrakannya setelah terhalang adegan drama dengan Jonatan beberapa saat. Dia berhasil kabur dari lelaki itu setelah mendapatkan panggilan dari si sumber utama perbincangan antara Tania dan Jonatan. Tadi, Tania benar-benar cemas sampai-sampai saat dia di depan pintu kontrakannya pun dia langsung menggedor pintu dengan kasar.


Brak


Brak


Brak


"Nana, bukain pintunya!" pekik Tania sembari mengawasi keadaan sekitar.


Tak ada respon dari dalam.


"Nana, bukain woyyy ... cepat!" Tania semakin khawatir, dia khawatir Jonatan membuntutinya seperti di film-film. Dia tidak mau menanggung resiko kalau Jonatan benar-benar membuntutinya dan menyebabkan Nana berharap lagi pada lelaki itu.


Masih belum ada respon dari Nana yang berada di dalam sana, Tania geram bukan main saat Nana tak kunjung membukakan pintu kontrakan berwarna coklat tersebut. Padahal dia harus buru-buru masuk, karena takut Jonatan mengawasi seperti dugaannya.


Kecemasan Tania semakin tak terkendali, namun Nana masih belum juga membukakan pintu tersebut, hingga akhirnya Tania berinisiatif memutar knop pintu kontrakannya. Berharap, dia memiliki kekuatan yang bisa melunakkan pintunya.


Klek!


"Eh! Ternyata pintunya gak dikunci toh? Hish ... bilang kek dari tadi, kalau pintunya gak dikunci. Pintu gak ada akhlak!" omel Tania pada pintu tak berdosa itu.


Gadis itu langsung celingukan mencari Nana, masih dengan omelan kecil keluar dari mulutnya.


"Ini si Nana kemana sih? Dari tadi gak nyahut-nyahut di panggilin juga."


Benar kata pepatah, orang akan mendadak jadi bodoh dan sensitif seketika saat sedang cemas dan tertekan. Apapun akan jadi sasaran omelan tanpa pandang apakah objek tersebut layak atau tidak disalahkan. Sama halnya seperti Tania yang kini tengah memarahi pintu, padahal pintu tersebut sama sekali tidak tahu menahu duduk permasalahannya.


Gadis itu mengomeli pintu lantaran Nana tak kunjung membukakan pintu untuknya, padahal pintu tersebut tak sama sekali dikunci oleh siapapun. Belum lagi saat Nana tak kelihatan wujudnya entah dimana, Tania jadi semakin senang mengomel dan mengomel.


Tania langsung memasukan tubuhnya ke dalam kontrakannya sebelum Jonatan mengetahui dimana Tania tinggal. Dia sungguh tidak mau berurusan dengan Jonatan lagi. Dan sebisa mungkin Tania juga bersikeras akan menjauhkan Nana dari Jonatan. Lelaki itu memang patut Tania waspadai.


Dia juga bertekad tak akan memberitahu Nana kalau dirinya telah bertemu dengan Jonatan. Tania akan menutup rapat-rapat informasi tentang Jonatan di depan Nana. Dia tidak ingin Nana kepikiran Jonatan lagi apalagi sampai berhasil menguak luka lama.


Tania agak merasa lega saat sudah sampai di dalam kontrakannya setelah yakin tak ada yang mengikutinya selama di perjalanan. Kemudian, didaratkanlah bokongnya pada kursi bernuansa coklat terang dengan sekali hentakan.


Helaan nafas panjang terdengar sangat amat melegakan keluar dari mulut Tania. Paling tidak, dia berhasil menghindar dari Jonatan untuk hari ini. Tidak peduli besok bagaimana, yang jelas Tania masih beruntung saat ini.


"Untung aku segera kabur tadi. Kalau nggak, bisa repot nantinya berurusan sama dia," ucapnya seraya mengipas-ngipas lehernya yang agak berkeringat.


"Dia siapa?"


Tania panik, sangat amat panik saat jenis suara dan aksen yang dia hafal menginterupsi kalimatnya dan kontan menghentikan aktivitasnya.


"Dia siapa?" ulang suara yang tak lain dan tak bukan adalah Nana, gadis itu baru menunjukan batang hidungnya setelah beberapa saat Tania masuk ke dalam kontrakan.


Nana mendekat ke arah Tania yang sedang dilanda kepanikan luar biasa. Duduk di dekat Tania. Ditatapnya ekspresi Tania yang mendadak termangu tiba-tiba.


"Kamu kenapa, sih?" heran Nana seraya mengibaskan telapak tangannya ke depan wajah Tania yang entah sejak kapan menjadi membeku.


Tania kontan tersadar dari ketermanguannya. Dia langsung ditodong sebuah kedikan dagu dari Nana seolah meminta jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat Tania jawab.


"Kamu kenapa sih? Dan maksud kamu mengatakan, 'Dia' siapa orangnya?" ulang Nana, semakin penasaran saja otaknya karena sedari tadi Tania enggan memberikan jawaban.


Tania menyengir masam. Cuma ekspresi itu yang dapat dia tampilkan untuk merespon setiap rentetan pertanyaan Nana, membuat Nana mengerutkan wajahnya dan menaikan sebelah alisnya secara remeh.


"Ish ... dasar aneh!" kata Nana sambil mengambil plastik belanjaan Tania dan mengalihkan tatapannya ke dua buah plastik berukuran lumayan besar yang tergeletak di meja. "Belanjaan yang aku pesan yang mana nih?" imbuh Nana.


"Yang sebelah kiri. Yang paling banyak tentunya," sindir Tania seketika.


Kali ini giliran Nana yang menyengir kuda. Merasa agak tersindir oleh celetukan Tania.


"Oh ya, Tan—"

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Nana baru saja akan menanyakan kembali orang yang dimaksud Tania dengan kata 'Dia', tapi sayang suara ketukan pintu menginterupsi lebih dulu, membuat Nana dan Tania langsung menoleh mengikuti arah suara ketukan berasal.


"Siapa sih yang datang?" ujar Nana yang langsung beranjak dari duduknya tanpa babibu.


Berbeda dengan Nana, Tania mulai diliputi lagi rasa cemas yang luar biasa. Batinnya kembali menebak-nebak siapakah gerangan yang bertamu ke kontrakannya.


'Apa jangan-jangan itu, Jonatan?' panik Tania dalam batinnya.


Mata Tania seperti sulit berkedip, beruntung alam sadarnya mampu mengendalikan dirinya agar tak berlama-lama terhanyut dan bertempur dalam batinnya. Dengan ritme yang cepat, Tania berusaha mencegah Nana yang hendak membukakan pintu.


Gadis itu juga beranjak dari duduk santainya, mencoba menghalau Nana untuk membukakan pintu.


"STOP! Biar aku yang bukakan pintu," cegah Tania.


Wajah Nana langsung berkerut tiba-tiba saat melihat Tania meregangkan tangannya memblokade langkah Nana.


"Gak apa-apa biar aku aja yang bukain pintunya. Kamu kan baru nyampe, pasti kamu capek. Mending kamu duduk yang manis," usul Nana dan langsung menyuruh Tania untuk duduk lagi.


Tania segera mencegah Nana lagi, membuat Nana jadi makin curiga kalau Tania sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan yang pasti hal yang tengah disembunyikan Tania ada hubungannya dengan orang yang sedang mengetuk pintu tersebut.


Nana pun tak mau kalah, dia menepis paksa tangan Tania yang berusaha menghalang-halangi jalannya.


"Minggirlah!"


"Tapi Nana—"


"Udah biar aku saja yang bukain pintunya," tekan Nana.


Dan saat pintu tersebut terbuka secara pasti ....


Grep!


Nana terlonjak kaget saat tubuhnya langsung diserbu pelukan hangat dari seseorang yang Nana kenali bau parfumnya.


Tubuh tegap dengan aroma khas berasal dari parfum kenamaan Givenchy. Sebuah parfum dengan satu keunikan parfum Gentleman dari Givenchy ini adalah, wanginya yang tak bisa ditemukan pada parfum lain. Dan hidung Nana sudah sangat hafal bahkan fasih mengidentifikasi siapa pria yang memakai parfum yang memiliki aroma khas yang membuat identitasnya jadi lebih kuat. Jonatan, Nana tahu lelaki yang mendekapnya sekarang adalah Jonatan meski dia tidak melihat jelas wajahnya.


Detak jantungnya memburu dengan cepat seiring dengan tubuhnya yang membeku tiba-tiba. Otaknya seperti berhenti berfungsi. Sementara lidahnya kelu dan tercekat untuk sekedar mengeluarkan kalimat penolakan.


"Aku sangat merindukan kamu, Nana. Maafkan aku karena telah membuat kamu menderita. Maafkan aku, aku mohon maafkan aku," Jonatan meracau disela dekapannya.


Nana diam tak bergeming, seluruh organ tubuhnya seolah mati rasa saat orang yang memeluknya membeo meminta maaf berulang-ulang. Perasaannya campur aduk, antara senang dan terluka, semua melebur jadi satu hingga membuatnya tak berkutik saat ini.


Beruntung, ada Tania yang langsung mengembalikan kesadaran Nana yang hampir terhanyut oleh ocehan yang keluar dari mulut manis Jonatan. Gadis itu langsung menarik paksa lengan Jonatan yang melingkar ditubuh Nana.


"Ish ... Jonatan, hentikan! Sudah aku bilang jangan ganggu hidup Nana lagi. Kenapa kamu nekat banget sih!" cegah Tania, dia bahkan sedikit memukul lengan Jonatan karena telah lancang memeluk Nana tanpa izin.


Tania langsung menyembunyikan tubuh Nana dibalik tubuhnya. Sebagai sahabat yang baik, Tania berhak melindungi Nana dari Jonatan yang mulai agak keras kepala dan ngeyel.


"Kamu lancang banget ya ngikutin aku sampai sini? Apa gak cukup buat kamu nyakitin Nana, hah?" ucap Tania penuh penekanan.


Sementara Nana diam tak menyahut, gadis itu rupanya terlalu shock akan pertemuannya dengan Jonatan setelah sekian lama pisah dan lost contact.


"Tapi aku cuma mau minta maaf sama Nana, apa itu salah?" Jonatan menyela. "Apa aku salah kalau ingin bersilaturahmi dengan Nana lagi?"


"SALAH AMAT SANGAT SALAH!" Tania menyentak penuh penekanan. "Sudah aku bilang kamu gak perlu minta maaf sama Nana, dia sudah memaafkan kamu. Sekarang pergilah dari sini!"


"Tapi Tania, aku hanya ingin meluruskan semuanya dengan Nana. Aku ingin menjelaskan pada Nana kalau aku sangat mencintainya. Aku mohon beri aku waktu lima menit saja buat ngobrol sama Nana."

__ADS_1


"BULSHIT!"


Dengan gerakan cepat, Tania hendak membanting pintunya agar tertutup kembali. Tapi sayang, seribu kali sayang, Nana lebih dulu menahan pintunya.


"Beri aku waktu buat ngobrol sama Jonatan, Tan."


"Ta-tapi, Na—"


"Aku mohon, Tan."


Pasrah. Itulah kalimat yang terlintas di kelapa Tania saat ini. Sudah mati-matian mencegah Jonatan masuk lagi ke kehidupan Nana, faktanya Nana seperti memberi harapan pada lelaki itu.


"Yaudah deh. Tapi kamu harus janji sama aku—" ucapan Tania selanjutnya dia lakukan dengan cara berbisik-bisik pada Nana, mencegah Jonatan agar tak mendengar kalimat yang dibisikin Tania pada Nana. "Kamu jangan terlena sama tipu muslihat si Jonatan, dia sangat licik. Kamu juga harus ingat kalau dia udah khianati kamu. Seperti sebuah novel yang telah kamu baca, meskipun berulang-ulang kamu baca endingnya tidak akan berubah."


"Iya," hanya kata itu yang lolos dari mulut Nana saat ini.


Nana melenggang keluar mengikuti Jonatan membawanya pergi. Dia tidak tahu kenapa setiap melihat Jonatan, hati dan otaknya selalu bersinggungan. Di satu sisi dia senang karena Jonatannya kembali, tapi di sisi lainnya dia masih ingat perlakukan Jonatan padanya kala itu. Tapi apapun alasannya, hatinya selalu berjalan lebih dominan ketimbang otaknya.


Perasaan Nana memang tak bisa dibohongi, dia masih sangat berharap pada lelaki di depannya itu. Lelaki itu selalu berhasil membuat Nana menjadi bodoh seketika. Seberat apapun masalahnya, sesakit apapun pengkhianatannya, sesulit apapun logikanya menolak, Nana masih bersikukuh mengiba pada Jonatan.


"Sekarang jelaskan padaku, kamu mau ngomong apa?" ucap Nana to the poin.


"Kenapa kamu bohong?" Jonatan bertanya balik, membuat kedua alis Nana bertautan.


"Berbohong? Berbohong apa?"


"Kenapa kamu berbohong soal status kamu sebagai pewaris tunggal Atmajaya Group? Kenapa kamu berbohong mengenai identitas kamu sebagai cucu dari Nyonya Lidia Atmajaya saat kamu pacaran sama aku?"


"Apa maksud kamu?" Nana semakin dibuat tak mengerti. "Kenapa kamu mengungkit masalah ini?"


"Dulu kamu sengaja kan berbohong padaku karena kamu malu punya pacar miskin seperti aku? Makanya kamu mengarang bebas perihal status kamu yang sebenarnya."


"Kenapa kamu berpikir begitu? Dulu aku tulus sayang sama kamu, aku nerima apa adanya, aku selalu mengagungkan nama kamu terlepas dari seperti apa keadaan kamu. Kamu yang selingkuh dariku, kamu selingkuh dengan wanita ****** yang penampilannya melebihi tante-tante. Kenapa sekarang kamu malah nyalahin aku dan nuduh aku yang nggak-nggak, sih?"


"OKEY AKU SALAH! TAPI KAMU JUGA SALAH! KITA BERDUA SAMA-SAMA SALAH," sentak Jonatan tiba-tiba.


Nana tak terima. Dia tidak salah. Dia hanya berbohong soal statusnya. Itu merupakan hal kecil dan dianggap wajar, lagi pula dia tidak pernah meragukan cintanya apalagi mengkhianati Jonatan lantas kenapa dia dianggap sama bersalahnya dengan Jonatan? Nana benar-benar tak terima.


"Aku nggak salah. Yang salah kamu! Bahkan saat kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, aku masih berharap kamu tidak memutuskan hubungan kita. Tapi apa faktanya? Kamu dengan tega malah memilih wanita ****** itu."


Mendadak, dada Nana sesak. Pelupuk matanya panas seperti ada aliran sungai yang siap terjun dari sudut matanya.


"Kamu yang salah," imbuh Nana. Tanpa aba-aba aliran sungai itu meluap dan tak bisa dia tahan lagi.


Melihat Nana menitikkan air matanya, Jonatan langsung sigap menyeka air mata Nana. Mulut manisnya kembali mengemukakan kalimat yang membuai Nana.


"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Jangan menangis, sayang. Aku ingin kita memperbaiki semuanya."


Tanpa aba-aba, Jonatan langsung mendekap Nana lagi untuk kedua kalinya. Membiarkan gadis itu menangis di dada bidangnya.


Bersambung.


Gimana-gimana, part ini seru gak? Kalau Nana balikan sama Jonatan, gimana nasibnya Kevin ya? Penasaran kan? Kuy ikutin terus cerita ini.


Oh ya ... yang suka cerita Hallo Nana! Please dong setelah baca langsung dikomen, berikan review, star maupun hadiah juga boleh (ngarep. hehe)


Komen, dan sejenisnya sangat penting buat balikin mood aku. Hehe. Jadi please lah, aku mengharap banget nih dapet kritik dan saran. tapi jangan julid-julid ya kalo mau komen. Aku kecup nih kalo julid.


To know me further,


Find me on:


IG: @aomaz95

__ADS_1


Twitter: @aomaz95


__ADS_2