Hallo Nana!

Hallo Nana!
Curhat Dengan Si Muka Tembok


__ADS_3

"Thank you, Na, udah anterin aku ke sini," ucap Tania dengan senyum mengembang dan bergegas turun dari mobil.


Nana memutar wajahnya ke belakang dengan tatapan datar.


"Kenapa kamu natap aku kaya gitu sih?" kata Tania lagi saat sadar tatapan Nana ada yang aneh.


"Kamu cuma bilang makasih ke aku doang?"


"Maksudnya?" Tania balik bertanya tak mengerti.


"Aish.. di sini ada Jonatan juga, masa kamu kacangin? Kamu gak mau bilang makasih juga ke dia?" cetus Nana mengingatkan.


"Hemm.. thank!" seru Tania seadanya, lantas gadis itu benar-benar turun.


Sekarang Tania paham mengapa tadi Nana menatapnya begitu datar. Tapi ia tak begitu peduli dengan apa yang dimaksud Nana. Toh, ia memang sengaja mengabaikan Jonatan. Bagi Tania, tidak penting mengucapkan terimakasih pada Jonatan yang notabennya adalah parasit untuk Nana.


Ketika Tania sudah turun dan masuk ke dalam supermarket, suasana di dalam mobil pun menjadi dingin dan tak karuan lagi. Nana jengkel karena lagi-lagi momen romantisnya bersama Jonatan harus kacau dan yang membuat Nana makin jengkel adalah sikap Tania yang tidak ramah pada Jonatan. Seolah, Tania memang sengaja memancing kesabaran Nana.


"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Jonatan memecah keheningan.


"Kita pulang saja," jawab Nana bete.


"Kamu yakin?" Jonatan menoleh, barang kali Nana hanya asal ceplos. "Gak mau jalan-jalan dan lanjutin acara mesra-mesraan kita lagi?"


"Aku tidak mood. Aku mau pulang sekarang juga!" titah Nana mempertegas ucapannya. Gadis itu benar-benar tidak mood sama sekali.


"Oke."


Mobil yang dikendarai Jonatan pun bergerak maju saat sang empunya meminta pulang. Padahal, Jonatan masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Nana agar ia bisa menjerat Nana semakin dalam. Namun sayangnya, semesta sepertinya tahu akal bulus Jonatan sehingga ia tak bisa melancarkan aksinya dan semua ini karena Tania.


***


Setelah berhasil men-drop Jonatan ke tempatnya, Nana kembali ke apartemen miliknya sesuai yang ia mau. Ia tidak tahu mengapa mendadak jadi tidak mood berduaan dengan Jonatan semenjak Tania berhasil mengacaukan segalanya. Sehingga, saat ini ia memilih untuk pulang.


"Aku pulang!" Nana memekik keras setelah berhasil masuk ke dalam unit apartemennya. Ia membanting tubuhnya berbarengan dengan tasnya ke atas sofa.


Tak lama, Kevin pun datang menghampiri Nana yang tengah bersender lelah pada sofa dengan tangan yang sibuk menarik dan mengacak rambutnya. Gadis itu terlihat kusut seperti diliputi kejengkelan yang mendalam.


"Tumben sudah pulang?" tanya Kevin heran dan menaruh segelas air putih ke atas meja lantas duduk di sofa sebelah Nana. "Biasanya kamu pulang malem atau larut bahkan menjelang pagi."

__ADS_1


"Kapan aku pernah pulang larut atau menjelang pagi?" ucap Nana sengit sembari mendongakkan kepalanya. Ia merasa tak pernah melakukan hal seperti itu seumur hidupnya. Ah, atau mungkin Nana lupa?


Kevin menyunggingkan sebelah ujung bibirnya tersenyum remeh. "Dasar pikun. Memangnya kamu kalau pulang tidak lihat jam? Sampai-sampai gak ngeuh udah larut?"


Nana berdecih sebal. Tak berniat meladeni Kevin yang sudah siap menyalakan api peperangan. Nana sudah hafal betul kebiasaan Kevin yang semakin dilawan makan akan semakin mencibir Nana.


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu," ucap Nana. Sejurus dengan itu kepalanya sudah kembali direbahkan di sandaran sofa pun dengan kedua kelopak matanya mulai merapat.


Melihat hal tersebut, Kevin juga tak jadi memantik api peperangan.


"Kamu nampak lelah, memang kamu habis ngapain?" tanya Kevin berusaha merubah suasana.


Nana pun menjawab seadanya tanpa berniat membuka matanya. "Aku habis pergi dengan Jonatan."


"Eh? Tumben banget. Bukannya kalau kamu sehabis pulang jalan-jalan sama Jonatan biasanya suka senyum-senyum sendiri ya? Kenapa sekarang terlihat lelah dan muram kaya gitu?"


"Jangan terlalu banyak bertanya, aku sedang tidak mood," tukas Nana masih dengan mata tertutup. Nampaknya Nana memang benar-benar kehilangan moodnya setelah Tania berhasil mengacaukan harinya.


"Apa kamu sudah sadar kalau lelaki itu nyatanya bukan laki-laki baik-baik alias kadal berbulu domba," terka Kevin sok tahu. Hal itu membuat Nana langsung membuka dan memelototkan matanya ke arah Kevin. Ia juga kembali menegakkan kepalanya bersiap untuk menangkis mulut kasar Kevin yang sudah seenaknya menghujat lelaki kesayangan Nana.


"Upss! Sepertinya aku salah ngomong!" Kevin mencoba bangkit dan buru-buru kabur sebelum Nana memuntahkan api amarahnya.


"Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu?" tantang Kevin. "Meskipun tanganmu lebih besar dari tanganku, tapi tenagamu tidak kalah kuat dariku Singa Betina. Hahaha.."


Mendengar hal itu, Nana langsung melempar tangan Kevin secara kasar. "Bisa-bisanya ya kamu meledekku di situasi seperti ini.. ish.. manusia macam apa kamu?" decih Nana mengerutkan bibirnya dengan lucu.


Kevin tidak jadi pergi, dia memilih duduk kembali di tempatnya sembari menahan tawanya melihat Nana berang sendiri.


"Tidak lucu!! Berhentilah tertawa!" kata Nana lagi. Nana selalu saja kalah dengan Kevin jika urusan ledek meledek. Terkadang Nana merasa payah selalu kalah dengan manusia menyebalkan bernama Kevin itu. Tapi apa daya Nana, faktanya ia memang selalu kalah dari Kevin.


"Kamu ini benar-benar lucu Na.. Aku heran padamu, kamu selalu berusaha mempertahankan harga diri Jonatan tapi kamu selalu kalah jika aku sudah meledek apa yang ada di dirimu.. Pfft..Pfft... kamu selalu gak berkutik jika aku sudah meledekmu, tapi kalau meledek Jonatan.. beuh.. kamu mati-matian belain dia," jabar Kevin panjang kali lebar. Tapi apa yang dikatakannya memang benar, Nana selalu kehabisan kata-kata kalau Kevin meledek Nana. Berbanding terbalik jika Kevin menghujat kekasihnya— Jonatan, Nana punya seribu satu cara menepis cibiran itu.


"Terserah kamu sajalah," pasrah Nana semakin tak berkutik. Ia merebahkan kepalanya di atas sandaran sofa untuk kesekian kalinya. Percuma mendebat kalau ujung-ujungnya kalah. Toh, kepala Nana juga cukup ruwet dengan pikiran-pikirannya yang dikacaukan Tania barusan.


Kevin menghembuskan napasnya sebentar melihat Nana tak mau meladeni. Lantas mencoba membuka obrolan santai dengan Nana.


"Memang sepenting apa sih dia untuk kamu?" tanya Kevin serius, ia memilih ikut merebahkan kepalanya sembari menatap langit-langit apartemen. Barang kali dengan begitu, Kevin jadi tahu kenapa Nana pulang-pulang muram.


"Dia sangat penting bagiku dan hidupku hingga aku tidak dapat mendeskripsikannya."

__ADS_1


"Apa dia menganggap kamu juga penting seperti apa yang kamu lakukan untuknya?"


"Tentu saja," jawab Nana yakin tanpa menoleh ke Kevin.


"Kalau kamu penting, kenapa dulu dia mengkhianati kamu?" Kevin menoleh ke sisi Nana. Menuntut jawaban dari Nana. Kevin tahu tidak sepatutnya ia bertanya seperti itu karena ia sebenarnya juga tidak perlu jawaban dari mulut polos Nana. Sekeras Kevin berusaha membuka mata Nana agar dia lebih peka bahwa Jonatan bukanlah pria baik-baik, maka sekeras itu juga Nana tak akan bisa percaya. Sebab, Nana lebih percaya pada Jonatan ketimbang dirinya.


"Katakan, kenapa dia meninggalkan kamu dulu jika kamu merasa kalau dirimu penting?" desak Kevin mempertegas pertanyaannya. Nana ikut menoleh ke arah Kevin yang duduk di sebelahnya dengan kepala yang direbahkan pada sandaran sofa. Posisi mereka kini saling menghadap satu sama lain.


"Kamu mencoba mengintrogasi aku?"


"Tidak. Aku hanya ingin tahu siapa tahu aku bisa termotivasi memulai hubungan lagi dengan mantanku dulu," kilah Kevin berdusta.


"Apa kamu mulai kepo dengan kisah percintaanku? Atau kamu mencoba memprovokasi aku agar memutuskan Jonatan?" curiga Nana. Wajahnya ketara sekali bahwa ia tak suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Kevin. Nana juga yakin kalau Kevin hanya asal menyeplos mengatakan 'termotivasi memulai hubungan dengan mantannya lagi'.


"Kamu bohong kan?"


"Hmm.. kenapa kamu selalu curiga padaku? Sungguh, aku tidak peduli sama sekali dengan kisah percintaanmu. Tapi aku hanya ingin tahu agar aku termotivasi. Selain itu supaya aku bisa mempersiapkan diri dan mempunyai alasan yang bisa kujelaskan pada Oma kamu semisal perjanjian kita selesai," jawab Kevin mengalihkan wajahnya lagi menatap langit-langit apartemen. Ia tidak mau ketahuan bohong.


"Kau tahu, manusia itu tempatnya salah.."


"Ya aku tahu," potong Kevin.


"Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, termasuk Jonatan. Aku menyadari kalau kesalahan Jonatan di masa lalu sangatlah fatal tapi bukan berarti dia tidak bisa berubah. Ya, aku akui Jonatan dulu sangat buruk, tapi setelah dia meminta maaf dan akhir-akhir ini perlakuannya sangat manis padaku, aku jadi percaya kalau dia memang sudah benar-benar berubah. Lagi pula aku mencintainya, dia juga mencintaiku. Jadi tidak ada salahnya kita membangun cinta kita kembali dan melupakan masalah di masa lalu," tutur Nana jujur.


"Terus kamu percaya begitu saja? Apa kamu tidak menaruh curiga sedikit pun? Dan apakah kamu tidak takut semisal nanti dia melakukan kesalahan yang sama?" tanya Kevin lagi. Dibalik pertanyaan Kevin yang terdengar biasa, sebenarnya Kevin tengah menyelidik Nana. Ia serta merta ingin tahu sejauh dan sedalam apa perasaan Nana untuk Jonatan. Jika ia tahu, maka sebisa mungkin Kevin akan berupaya agar Nana tidak terluka, entah ada angin dari mana Kevin merasa perlu melindungi Nana.


Aneh memang, di saat otak Kevin mengatakan itu bukan urusannya, tapi hatinya berkata lain.


Meski ia adalah suami di atas kertas Nana, tapi Kevin merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan Nana. Ia tidak mau menjadi pecundang yang membiarkan istrinya disakiti oleh mantannya. Apalagi disakiti karena kepolosan Nana. Ah, tidak. Nana tak polos, dia hanya gadis bodoh yang mau saja dikadali Jonatan. Tapi apa daya Kevin? Dia juga tak bisa banyak membantu.


Kevin termenung dalam obrolannya. Ia ingin sekali berteriak 'Sadarlah Nana, Jonatan bukan lelaki baik-baik' pada Nana, nyatanya Kevin tidak bisa. Nana selalu saja melihat sisi lain Jonatan yang terlihat sempurna hingga tidak bisa membedakan mana yang baik sungguhan mana yang hanya memanfaatkan.


Nana memutar tubuhnya menghadap tepat pada Kevin. Matanya memandang dalam-dalam wajah Kevin yang tengah termangu tiba-tiba. Apa yang sebenarnya Kevin pikirkan? Nana sendiri jadi penasaran.


"Kenapa kamu jadi sok akrab gini sama aku, Muka Tembok? Apa yang sedang kamu rencanakan padaku? Jangan bilang, kamu mau menjadi temanku?" tebak Nana mulai berpikiran negatif lagi, membuat Kevin sadar dari ketermanguannya dan langsung memperlebar jarak duduknya dari Nana.


"Ish, jangan geer!" seru Kevin membantah. Ia bangkit dari posisinya, lantas meninggalkan Nana sendirian.


"Siapa juga yang geer, dasar payah!" cebik Nana mendumel, sejurus dengan tangan yang menarik segelas air yang ditaruh Kevin tadi. Lantas menenggak air itu kasar-kasar. Marah-marah membuat gadis itu kehabisan cairan dari tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2