
Setengah jam berlalu, Nana masih sibuk berselancar di beberapa sosial medianya terutama Facebook. Aplikasi itu sengaja dia pilih, karena sudah sejak lama Nana tak pernah pakai dan beberapa temannya juga sudah beralih ke twitter atau instagram.
Menurut Nana, Facebook adalah aplikasi yang tepat jika hendak mencari mangsa yang bisa Nana ajak kerja sama. Selain banyaknya pengguna yang notabenya alay dan pencitraan, di sana juga lebih mudah untuk chit-chat dengan orang baru.
"Gimana Na, udah nemuin mangsa?" tukas Tania penasaran.
Nana menyeringai dengan tengil. "Udah ada beberapa kandidat yang cocok kita jadiin mangsa."
"Kamu yang kirim friend request atau mereka, Na?"
"Hellooo ... tentu aja orang-orang alay itu yang send friend request ke akun aku. Masa aku yang kirim. Gak level lah!" bantah Nana congkak.
"Masa sih?"
Nana memutar bola matanya ke arah Tania saat menyadari kalau ternyata Tania tak percaya jika dirinya memang tidak level untuk mengirim permintaan pertemanan duluan pada orang lain. "Jadi kamu gak percaya sama aku??? Asal kamu tahu ya ... aku udah hampir setahun tidak pernah ngintip FB aku, dan pas aku buka lagi ... friend requestnya banyak banget mana kebanyakan kaum adam semua lagi. Jadi mana sempet aku send friend request ke orang yang mau aku jadiin mangsa. Mereka duluan yang kirim friend request ke aku."
"Masa sih?" Tania masih menolak untuk percaya dengan apa yang diutarakan Nana barusan. Pasalnya, Tania mengira kalau semua orang pasti akan mikir-mikir dulu kalau mau minta pertemanan dengan Nana di sosmed. Orang-orang pasti akan memilih yang kinclong, bening, glowing, shinning, shimmering, splendid dulu jika mau meminta pertemanan dengan lawan jenis. Sementara Nana jauh dari kata itu.
"Jadi kamu meragukan aku? Nih kamu lihat sendiri aja kalau gak percaya!" Nana menyodorkan ponselnya yang menampakan beranda halaman facebook Nana, ia ingin membuktikan kalau dia tidak sedang berdusta perihal banyaknya friends request yang minta dikonfirmasi Nana.
"Ya gimana ya ... mau percaya juga sulit. Hati ini seakan tidak pernah rela percaya sama kamu yang suka ngibul. Haha," tukas Tania enteng. "Lagian ya ... malah aku ngiranya kamu pakai fake foto profil, makanya banyak kaum adam yang minta pertemanan ke akun kamu," imbuh Tania.
Nana mengerucutkan bibirnya ke depan. Meski sudah ditunjukan dengan bukti real, Tania seolah menolak untuk percaya. "Sembarangan aja kamu. Aku gak pernah ya pake foto profil palsu ... lagian nih memasang foto profil palsu sama saja membodohi publik. Iyuuuuh ... itu sih gak ada dalam kamus aku. Sejelek-jeleknya aku nih ya ... gak bakal pasang foto profil palsu," Nana berspekulasi panjang kali lebar, sementara Tania hanya manut-manut meremehkan.
"Iya deh iya ... aku percaya," sahut Tania menyudahi percek-cokannya yang tidak berfaedah itu.
"Ya harus. Siapa lagi yang akan percaya sama aku kalau bukan kamu." sewot Nana
"Iya ... bawel banget dah kamu Na, sekarang kembali ke topik awal ... jadi mana nih yang mau kamu jadiin mangsa," tandas Tania mencoba mengalah demi menghindari perdebatan lebih panjang lagi.
Sengaja Tania mengalah sekarang, dia lelah berjibaku dengan Nana yang mulutnya sudah seperti debator yang super bawel dan selalu ingin menang sendiri. Buktinya sebanyak apapun Tania membantah, tetap tak akan pernah bisa menang melawan Nana yang mempunyai tagline 'Sultan mah bebasss'.
"Coba kamu lihat di antara ketiga orang ini! Aku sengaja pilih mereka bertiga sebagai kandidat terunggul dari ratusan akun yang mengirim friend request ke aku," Nana lantas menyodorkan kembali ponselnya ke Tania. "Menurut kamu mana yang lebih cocok buat aku ajak kerja sama?" imbuh Nana.
"Kayanya sih yang ini Na," saran Tania sembari menunjuk akun bernama @HamingwayisHaHa.
"Kenapa kamu pilih yang ini sih? Apa kamu tidak lihat ... dari namanya saja sudah alay. Pasti orangnya juga alay. Foto profilnya juga kayanya palsu. Aku gak mau yang ini ah ... takut dia nanti memanfaatkan aku," kilah Nana bergidik ngeri.
Tania menghela nafasnya dengan sabar. "Tadi kamu minta saran aku, giliran aku kasih saran ... kamu malah protes dan komentar inilah itulah, gimana sih kamu?!"
"Tapi aku tidak mau sama orang itu. Dia terlalu banyak kepalsuan," elak Nana.
"Lah kan niat kita juga palsu Nana. Apa kamu lupa kalau kamu butuh pacar palsu bukan pacar sungguhan?! Jadi menurutku sama-sama palsu, apa salahnya kita pilih dia?"
Nana menyengir polos dan berkata, "iya juga sih, tapi—"
"Yasudah cari yang lain," potong Tania cepat. Tania malas berdebat lagi, jadi dia memutuskan menskip akun yang bernama @HamingwayisHaHa itu sebelum Nana berkomentar panjang kali lebar ditambah luas. Toh, Tania tahu kalau Nana sudah berujar panjang dan berkelit, itu tandanya dia tidak srek dengan pilihan Tania. "Bagaimana mana kalau yang ini?" usul Tania sembari menunjuk akun kedua bernama @callmeSam
__ADS_1
Nana menggelengkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya. "Jangan yang itu ... itu sama saja dengan akun @HamingwayisHaha ... sama-sama alay dan penuh kepalsuan."
Tania hanya bisa menepuk dahinya dengan pasrah tanpa mau berkomentar apapun. Karena percuma dia memberi usul pada Nana kalau ujung-ujungnya Nana sudah menentukannya sendiri. Dari ketiga akun yang diklaim Nana kandidat terunggul, sampai harus meminta pendapat Tania dalam memilih salah satunya, dan Nana seolah-olah sedang bingung menentukan yang mana yang terbaik dari ketiga kandidat tersebut, faktanya Nana telah menjatuhkan pilihannya pada akun kandidat ketiga.
"Aku suka yang ini ... nama akunnya tidak alay, " lanjut Nana.
"Kalau kamu suka yang nomor tiga, lantas kenapa kamu meminta pendapatku buat memilih tadi? Kenapa tidak langsung saja kamu pilih akun yang bernama Kevin Sanjaya itu buat kamu jadiin mangsa.bAishh ... menyusahkan saja!" dumel Tania sebal.
"Ish ... aku kan cuma mengetes kamu saja Tania, siapa tahu selera kamu sama kaya selera aku. Hehe," Nana terkekeh tanpa merasa berdosa sedikitpun telah mempermainkan Tania tadi. Padahal Tania sudah geram bukan main ingin mencekik leher Nana kalau saja hukum dan agama tak melarang membunuh orang.
"Seleramu rendahan Nana!" tandas Tania datar dan terkesan meremehkan.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih? Seleraku bagus begitu masa dibilang rendahan. Dasar aneh!"
"Kamu yang aneh ... sudah jelas-jelas akun yang bernama Kevin Sanjaya pakai foto profil tertutup ... orang mah sengaja mau pamer wajah kalau di sosmed tuh dengan pakai foto terbaiknya, eeeh ... si akun Kevin Sanjaya itu malah menutupi wajahnya pakai masker. Aku sih yakin pasti dia insecure sama wajahnya yang mungkin jerawatan parah tuh. Dan bodohnya ... kamu malah memilih dia daripada akun yang bernama HamingwayisHaha atau CallmeSam yang jelas-jelas pakai foto profil asli, terus mukanya gak jelek-jelek amat," ujar Tania dengan nada jujur sekaligus menyentil.
"Ish ... setidaknya dari kandidat yang sebelumnya, akun yang bernama Kevin Sanjaya ini tidak pakai nama alay. Jadi sekarang aku akan accept permintaan pertemanan Facebooknya."
"Terserah kamu deh," pasrah Tania.
Tania merajuk seperti anak kecil, lantas dia membiarkan Nana memencet tombol 'confirmation' di akun Facebooknya untuk mengonfirmasi permintaan pertemanan akun Kevin Sanjaya itu.
Entah ada angin apa, Nana seperti yakin kalau orang yang memegang akun Facebook Kevin Sanjaya itu adalah orang yang tepat untuk Nana ajak kerja sama yaitu menjadi pacar bohongan Nana. Nana yakin seratus persen juga kalau akun tersebut bukan akun-akun alay pada umumnya.
Setelah mengonfirmasi akun Facebook yang bernama Kevin Sanjaya itu, Nana langsung mengutarakan niatannya untuk mengajak orang tersebut kerja sama melalui fitur pesan ke inbox Kevin Sanjaya itu.
Begini bunyi pesan permohonan kerja sama Nana pada Kevin Sanjaya.
(Via pesan Facebook)
Setyana,
To: Kevin Sanjaya.
'Hallo! Aku Setyana, pertama-tama aku mau bilang makasih karena kamu ngirim permintaan pertemanan ke akun aku. Aku bukan orang yang sembarangan nerima friend request begitu aja dari orang yang gak benar-benar aku kenal, tapi pas aku melihat akun kamu ... dengan banyak pertimbangan akhirnya aku memutuskan buat terima kamu jadi salah satu teman di dunia maya. Tapi atas dasar itu semua, sebenarnya aku tertarik mau ngajakin kamu kerja sama. Kalau kamu gak keberatan, tolong balas pesan aku sesegara mungkin.'
Kevin Sanjaya,
To: Setyana
'Kerja sama apa? Ada imbalannya gak?'
Setyana,
To: Kevin Sanjaya.
'Kerja samanya cukup mudah. Kamu tinggal berpura-pura jadi pacar aku di depan Oma aku. Nanti aku akan bayar berapapun yang kamu, masalah duit mah gak masalah buatku.'
__ADS_1
Kevin Sanjaya,
To: Setyana.
'Oke, gue setuju. Lagian gue juga lagi butuh duit, cuma pura-pura jadi pacar doang mah gampang. Kira-kira kapan kita bisa tatap muka biar bisa ngobrolin kerja sama kita lebih lanjut?'
Setyana,
To: Kevin Sanjaya.
'Kalau besok gimana? Soalnya urgent banget nih aku butuh bantuannya. Pasalnya Oma aku hanya memberi waktu seminggu buat bawa calon ke hadapan beliau, makanya aku minta besok kalau kamu gak keberatan. Lebih cepat kan lebih baik ya, biar kamu bisa aku kasih arahan harus bagaimana dan seperti apa nanti di depan Oma aku.'
Kevin Sanjaya
To: Setyana.
'Oke gak masalah. Gue yang tentuin tempat dan waktunya ya ... di Kafe XX, Jakarta Pusat. Jam 1 siang. Gimana menurut lo? Setuju gak?'
Setyana
To: Kevin Sanjaya.
Oke deal. Kalau gitu kamu kirim nomor Whatsapp kamu biar aku gampang ngehubungin kamu nanti.
Kevin Sanjaya
To: Setyana
0812******** itu nomor Whatsapp gue.
—o0o—
Ternyata cukup mudah bagi Nana mengajak akun yang bernama Kevin Sanjaya itu buat diajak kerja sama dalam mengelabui Omanya Nana nanti. Nana mengulum senyum bahagia saat dirinya berhasil mencari cara untuk mangkir dari perjodohannya dengan anak kolega atau bergabung dengan perusahaan Omanya tersebut.
Dengan Nana membawa calon yang diminta Omanya tadi, maka Nana yakin seratus persen kalau ia tidak akan didesak lagi untuk segera menikah.
Omanya memang sering sekali mendesak Nana untuk menikah, semata-mata karena Omanya khawatir pada Nana yang selalu diejek teman-temannya perkara status lajang sekaligus kejombloannya tersebut. Hati nenek mana yang tidak terluka kalau cucu semata wayangnya diolok-olok seperti itu?
Maka dari itu, Omanya Nana ngebet ingin segera melihat Nana menikah atau paling tidak membawa calon agar dia bisa sedikit lega dan mampu membungkam mulut-mulut jahat yang selalu menilai Nana tidak laku, tidak waras, atau bahkan tidak normal.
Dengan Nana membawa calon, itu artinya Nana telah mematahkan opini-opini negatif yang sering terlontar dari mulut rekan kerjanya salah satunya Hellena.
"Semoga Oma tidak meneror aku dengan pertanyaan klasik yang membuat kepalaku migrain," harap Nana.
Nana bisa sedikit lega setelah berhasil menemukan orang yang akan jadi mangsanya nanti. Nana sudah bosan diteror pertanyaan merakyat itu. Pertanyaan sederhana yang sarat akan makna. 30% mengandung doa, 70% sisanya sindiran garis keras. 'Kapan menikah?'.
Bersambung.
__ADS_1