
Kevin mendaratkan bokongnya pada kursi di table 13. Merasa sedikit lega karena tak sampai hati keceplosan mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.
"Aku harus lebih hati-hati menjaga rahasiaku. Ini belum waktunya semua orang tahu siapa aku sebenarnya."
Tak lama pelayan yang tadi sok akrab pada Kevin datang dengan sebuah capuccino latte di nampan yang dibawanya.
"Tadaa.. kopinya datang!" kata pelayan tersebut dengan gaya heboh. Ia langsung menyajikan capuccino latte kesukaan tuannya itu.
"Etdaah sudah saya bilang kamu jangan sok akrab sama saya, Maya Sumiati."
Pelayan yang bernama Maya Sumiati itu menyengir polos sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya maaf Pak, saya kan udah kebiasaan kaya gini. Hehe.."
"Kalau orang-orang tahu saya ini siapa gimana?"
"Ya emang kenapa sih Bapak kok kaya gak suka gitu kalau orang-orang tahu siapa Bapak sebenarnya? Emang lagi main rahasia-rahasiaan sama siapa sih?"
"Kamu mau tahu?" ucap Kevin memancing.
Tentu saja Maya begitu antusias mengangguk. Ia mendekatkan telinganya ke arah Kevin, bersiap mendengarkan sebuah rahasia besar yang disembunyikan bos nya itu.
"KEPO!" tandas Kevin.
Maya cemberut dan langsung beringsut pergi tanpa basa-basi. Dia sebal sekaligus dongkol pada bosnya itu. Tapi Maya Harusnya sadar diri kalau bosnya itu pasti tidak akan mau cerita sembarang orang. Bosnya itu memang sedikit misterius.
Setelah kepergian Maya, Kevin pun menyesap kopi miliknya. Otaknya ia fokuskan kembali ke tujuan awal datang ke Kafe yaitu mencari ide cemerlang agar dapat mengelak permintaan Oma Lidia tanpa menyinggung perasaannya.
***
Nana segera masuk ke dalam Kafe Melon. Menemui Tania yang sedari tadi terus menelponnya, padahal sudah ia katakan kalau dirinya dalam perjalanan. Tapi tetap saja Tania menghubunginya seperti anak kecil yang baru kenal ponsel dan terus-menerus melakukan panggilan.
Oleh sebab itu, sedikit banyak Nana jadi penasaran sepenting apa info yang mau disampaikan Tania sampai-sampai anak itu membombardirnya dengan panggilan telepon.
"Hai, Tan sorry ya gue telat dikit."
"Ish kebiasaan banget deh Lo. Udah gue bilang kan kalau ini penting tapi tetap saja Lo lelet datengnya. Payah Lo!."
"Yaudah sih, kan gue udah di sini. Ngapain mesti ngomel-ngomel sih, Tan?"
"Ish..." Tania mendesis sebal saat Nana malah mendebat bukannya merasa bersalah.
Alih-alih merasa bersalah, Nana malah menghela nafas, kemudian mendaratkan bokongnya di kursi. Dilanjut dengan menopang kakinya santai.
"Jadi sekarang apa yang mau Lo omongin ke gue?" kata Nana mencegah omelan Tania yang belum sempat terselesaikan.
Mau tidak mau Tania juga mengalah dan menyampingkan egonya. Tidak ada untungnya juga mengomeli Nana. Semenyebal-menyebalkannya Nana, tapi gadis itu tetap sahabat terbaik Tania. Ia sayang pada Nana.
"Lo harus segera jauhi Jonatan," pungkas Tania to the point.
Nana mengernyit heran. "Kenapa Lo tiba-tiba menyuruh gue jauhi Jonatan?"
"Asal Lo tahu, Jonatan gak sebaik yang Lo kira. Dia gak berubah sedari dulu. Dia tetaplah Jonatan yang dulu, manusia kerdus yang cuma manfaatin Lo doang, Na."
"Atas dasar apa Lo bisa bilang kaya gitu?" tanya Nana diikuti senyum miring.
"Gue tadi sebelum ke Kafe Melon sebenarnya gue habis dari Kafe K, di sana gue gak sengaja melihat Jonatan lagi sama temennya. Tapi untungnya mereka gak ngeuh kalau ada gue. Di sana gue sempat dengar obrolan mereka dan—"
"Terus?" Nana memotong penjabaran Tania yang belum sempat selesai
Tania langsung protes karena Nana memotong tiba-tiba. "Jangan dipotong dulu bisa kan? Gue belom kelar ngomongnya"
__ADS_1
"Iya.. iya.. lanjut lanjut!"
"Si Jonatan sama temennya itu lagi bicarain Lo. Dan Lo tau gak apa yang mereka bicarain?"
"Kagak, kan gue gak di sana?" celetuk Nana sekenanya.
Langsung saja diprotes Tania sesegera mungkin.
"Udah gue bilang jangan motong dulu kalau gue belum selesai ngomong."
"Lah kan tadi Lo nanya, kenapa gue disalahin mulu sih?"
"Iya tapi gak perlu Lo jawab dulu."
"Yaudah lanjut.. lanjut!" seloroh Nana santai sembari memainkan kukunya.
Tania segera melanjutkan ceritanya. Sebelum Nana kembali memotong untuk kesekian kalinya.
"Si Jonatan cuma mempermainkan dan mau harta Lo doang Na, si Jonatan gak benar-benar mencintai Lo. Jadi Gue harap Lo segera jauhi dia," kata Tania sembari merengkuh jemari Nana dengan tatapan khawatir.
Sementara itu, Nana hanya menghela nafasnya sebelum akhirnya angkat bicara menanggapi ocehan Tania.
"Hmm.. sorry Gue gak bisa jauhi Jonatan."
"Loh kok gak bisa?" agaknya Tania shock mendengar tanggapan Nana yang tak sesuai dengan keinginannya.
"Jadi gini ya Tan, pertama apa yang Lo ceritain itu sama sekali gak berdasar alias Lo gak ada bukti konkret kalau Jonatan seperti yang Lo ceritain, kedua gue gak yakin apa yang Lo lihat itu benar-benar Jonatan apa bukan. Dan yang ketiga Jonatan adalah hidup gue, cinta gue dan sampai detik ini dia sumber kebahagiaan gue."
Nana bangkit dari duduknya. Tania juga ikut bangkit.
"Lo gak percaya sama gue?" tanya Tania dengan tatapan tak percaya. "Gue ini sahabat Lo Na, orang yang selalu di pihak Lo."
"Gue akan percaya kalau Lo punya bukti kongkret. Itu aja kok."
"Gue cuma minta bukti konkret. Sekalipun Lo sahabat Gue, tetap Gue butuh bukti nyata bukan sekedar bualan belaka. Gue ini udah gede, gak bisa Lo jejali Gue dengan informasi sampah kaya gini."
"Kok Lo gitu sih Na, sama Gue? Biasanya Lo selalu percaya sama Gue, tapi kenapa sekarang Lo..."
"Sebab Lo sama Kevin sama aja, selalu jelek-jelekin Jonatan dan provokasi gue buat jauhi Jonatan. Mau sampai kapan sih kalian hasut gue?"
"Hasut kata Lo?" Tania semakin tak percaya dengan perubahan sikap Nana yang mendadak jadi amat sangat bebal dari biasanya. Terlebih sekarang Nana terbawa emosi.
"Percuma gue mendengarkan ocehan Lo yang tak masuk akal. Gue tetap pada pendirian Gue, dan Gue cukup yakin 100% kalau Jonatan tidak seperti yang Lo kira," tukas Nana sembari berangsur pergi dari tempat itu dengan perasaan marah.
Sedangkan Tania tercengang bukan main sampai tak mampu berkata-kata lagi melihat Nana meninggalkannya begitu saja.
"Ya Tuhan, Na ... mau sampai kapan sih Lo tergila-gila sama si manusia kerdus itu? Gue tau Lo sayang banget sama Jonatan, tapi perasaan Lo gak pantes dilimpahkan seluruhnya buat manusia brengsek seperti Jonatan," gumam Tania kecewa.
***
Nana menyetir mobilnya sambil mendumel. Sia-sia ia datang ke Kafe Melon bertemu Tania. Bukannya mendapat solusi dari masalahnya, ia malah mendapat informasi yang membuat kepalanya semakin pusing.
"Lama-lama Tania sudah mirip seperti Kevin, suka menghina dan menebar omong kosong. Dikira aku bakal percaya kali sama ucapan dia yang tanpa bukti? Sorry sorry to say Tan, bagi gue Jonatan is my perfect boyfriend that I've ever had."
Nana menaikan kecepatan mobilnya. Hal itu ia lakukan agar cepat sampai ke apartemen sekaligus membuang amarah yang ia tahan sedari tadi. Beruntung jalanan kali ini sedang berpihak padanya alias tak begitu ramai jadi Nana leluasa mengebut sesuka hatinya.
Dan tak butuh waktu lama, Nana telah mencapai tempatnya.
Di pintu lobi, Nana tak sengaja berpapasan dengan Kevin yang juga baru datang. Mereka masuk ke dalam bersama-sama.
"Singa Betina Kau sudah pulang?" tanya Kevin basa-basi sembari terus melangkahkan kaki ke arah lift begitupun dengan Nana.
__ADS_1
"Menurut mu?" sinis Nana.
"Kau kekurangan mangsa atau gimana? Kenapa mukamu bete kaya gitu?"
"Gausah banyak tanya, aku sedang tidak berselera berdebat denganmu Muka Tembok!"
"Yeee.. siapa juga yang ngajak debat, orang aku nanya doang."
"Diamlah. Jangan banyak tanya, suaramu membuat kepalaku jadi sakit."
"Dih, mulut-mulutku, terserah aku dong mau ngomong apa aja. Kenapa kamu protes?"
"Sudah aku bilang DIAM suara kamu membuat kepalaku jadi sakit!"
"Idih, itu mah kepalamu saja yang bermasalah. Bukan suara aku. Payah memang kepala manusia yang sudah berumur 30 tahun"
Nana mendelik ke arah Kevin dengan sengit membuat Kevin langsung ciut dan langsung mengunci mulutnya. Seolah Kevin tahu kalau sekali lagi Kevin berbicara, maka habislah riwayatnya diterkam Nana yang sedang marah.
Mereka pun masuk ke dalam lift secara bersama-sama. Untuk mencapai unit apartemennya, Nana membutuhkan beberapa menit saja. Namun suasana di dalam lift begitu hening karena hanya diisi mereka berdua hingga pada akhirnya Nana terpaksa membuka obrolan kecil.
"Muka tembok apa kamu sudah dapat ide?"
Kevin tak menjawab.
"Muka tembok apa kamu sudah dapat ide?"
Kevin masih tak menjawab.
"Muka tembok apa kamu tuli?" geram Nana. Ia menoleh ke samping kirinya dimana ada Kevin yang sedang bersender pada tepian dinding lift sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku bertanya apakah kamu sudah dapat ide? Kenapa kamu diam saja sih?" tambah Nana semakin geram.
Kevin malah semakin cuek dan sengaja pura-pura tidak dengar.
"Kudoain kamu akan budek selamanya!!" pungkas Nana menyumpahi Kevin. Membuat lelaki itu spontan mendengus sebal.
"Ish.. kamu bilang tadi aku harus diem, giliran aku diem kamu protes gimana sih?"
"Ya tapi itu tadi, kenapa sih kamu tuh gak ngerti banget."
"Manusia plin-plan dasar!"
"KAMU TUH YA..."
Ting~ pintu lift pun terbuka, menandakan kalau tujuan Nana dan Kevin telah sampai. Nana segera keluar dari lift itu sebelum emosinya semakin di ubun-ubun.
Kevin mengekor di belakang Nana dengan santai. Memerhatikan punggung Nana secara diam-diam tanpa sepengetahuan yang empunya. Ia pun tersenyum kecil melihat wanita di hadapannya itu merong-merong seperti seorang balita yang sedang merajuk tak jelas ketika mainannya rusak.
Entahlah, Kevin merasa kian hari perasaannya semakin terasa aneh. Acap kali sehabis debat dengan Nana, Kevin seperti mendapatkan kepuasan tersendiri melihat ekspresi kesal Nana. Mungkin kah Kevin terbawa perasaan?
Hanya Kevin dan Tuhan yang tahu.
Jduk!!
"Awww.." Kevin dan Nana mengaduh kesakitan tak kala mereka saling bertumbukan.
"Hey Muka Tembok kenapa kau mendorongku sih?" protes Nana ketika keningnya mencium pintu karena terdorong tubuh Kevin secara tiba-tiba.
"Anu aku.. tadi aku.. " jawab Kevin gelagapan. Ia baru sadar kalau ia tadi terbawa lamunan saat asyik memperhatikan punggung Nana sampai-sampai tidak sempat menge-rem laju kakinya.
"Dasar payah!" pungkas Nana jutek.
__ADS_1
Bersambung.