Hallo Nana!

Hallo Nana!
Gagal Ciuman


__ADS_3

"Pisah?"


Nana dan Tania menoleh serempak ke sumber suara. Mereka berdua sama-sama terkejutnya saat melihat sosok yang tak asing berdiri di ambang pintu.


"Jonatan?"


Lelaki yang menginterupsi itu adalah Jonatan. Dia melangkah dengan senyum terpatri di wajahnya yang tegas. Jonatan terus saja memamerkan lengkungan senyumnya. Nana dan Tania tidak mengerti makna senyum Jonatan itu.


"Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu? Apakah sopan santunmu menghilang semenjak putus dengan Nana?" Tania memberondong pertanyaan pada Jonatan, namun lelaki itu tak menggubris dan malah fokus menatap Nana dengan mata berbinar.


"Jadi kamu mau pisah sama suami kamu?" ucap lelaki itu pada Nana.


Nana ingin menjawab. Namun Tania lebih dulu menyambar, "Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku? Apa kamu tuli, hah? Dimana sopan santunmu?"


Jonatan tetap tak menggubris Tania, dia masih fokus pada Nana. Sepertinya memang sengaja tak mempedulikan Tania, dia tidak ada urusan dengan Tania.


Mulanya Tania geram, sebab dia hanya seperti seekor nyamuk yang tak dianggap keberadaannya, jadi dia membiarkan drama sepasang kekasih yang baru jadian kembali itu tersaji begitu saja. Bibirnya mencebik sebal namun pasrah.


"Nana, sayang. Bisakah kamu ikut denganku sebentar?" pinta Jonatan pada Nana. Menyodorkan telapak tangannya pada Nana layaknya pangeran menjemput sang tuan putrinya.


Nana mengangguk dengan lugas. Dia menyambut telapak tangan Jonatan dengan lembut. Beranjak dan mengikuti Jonatan tanpa banyak kata. Meninggalkan Tania yang tercengang tak percaya.


—o0o—


Nana dan Jonatan telah sampai di salah satu Kafe. Terduduk saling menatap lembut satu sama lain. Senyum malu-malu kucing selalu menghiasi wajah Nana saat Jonatan mulai melancarkan bujuk rayunya. Memang selalu seperti itu Nana jika berhadapan dengan Jonatan. Dia menjadi budak cinta layaknya ABG labil yang baru dimabuk asmara.


Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Jonatan. Pesona lelaki itu memang tak bisa diragukan lagi, bahkan tak pernah memudar secuil pun di mata Nana. Tampan dan menghanyutkan, hingga Nana terhipnotis dalam sekejap mata.


Masalah yang pernah Jonatan lakukan beberapa tahun lalu seolah sirna di mata Nana. Gadis itu terhanyut dalam setiap bualan-bualan Jonatan. Dia melupakan segala rasa sakit hatinya. Melupakan pengkhianatan Jonatan pada Nana.


"Sayang, benarkah kamu mau pisah sama suami kamu?" Jonatan merengkuh kedua belah telapak tangan Nana dengan lembut. Mengelusnya dengan sayang, sembari berucap manis. "Kapan? Apakah bulan ini? Bulan depan, humm? Kapanpun itu, aku harap secepatnya," ujarnya sedikit memaksa.


"Aku inginnya juga begitu, tapi tidak semudah itu aku pisah sama dia. Oma akan memenggal kepalaku kalau tahu ingin pisah dari Kevin tanpa alasan yang jelas."


"Kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu tak nyaman hidup dengannya, humm?" usul Jonatan seraya terus mengusap punggung tangan Nana seolah tak boleh lepas dari genggamannya sedetik saja.


"Tidak bisa begitu. Omaku pasti akan lebih sadis menghukumku kalau tau aku bilang tak nyaman hidup dengannya sementara yang memilih Kevin menjadi suamiku ya aku sendiri."


"Maksudnya?" Jonatan mengeryitkan dahinya sejenak. "Aku sungguh belum tahu seperti apa cerita sebenarnya tentang kamu dan suami kamu itu, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"


Mata Jonatan nampak menyipit seiring dengan gosokan tangannya yang berhenti. Menantikan jawaban Nana yang kini terlihat gelisah. Sementara Nana mulai dilema, harus berkata jujur atau tidak mengenai hubungannya dengan Kevin.


"Aku, aku hanya—"


"Hanya apa?" sambar Jonatan, memotong dengan cepat kalimat Nana yang belum sepenuhnya selesai.

__ADS_1


"Aku hanya belum bisa menceraikannya," ucap Nana asal. Dia ragu memberi tahu Jonatan perihal status pernikahannya dengan Kevin sebenarnya. Sekalipun Jonatan adalah orang yang Nana cintai, tapi hati kecilnya seolah mengatakan jangan ceritakan apapun tentang Kevin pada Jonatan. Kevin adalah urusannya, Kevin adalah kunci dari rahasia besarnya. Tak boleh sembarang orang tahu, termasuk Jonatan.


Agaknya Jonatan nampak kecewa, terlihat dari lengkungan senyumnya yang meredup seketika. Tapi Jonatan berusaha bersikap setenang mungkin, tidak sama sekali menunjukan rasa kecewanya karena tak mendapat jawaban Nana, meskipun dari lubuk hatinya, dia amat sangat penasaran. Tapi sengaja dia tepis rasa penasarannya tersebut, justru kini lelaki itu malah berusaha menenangkan Nana, karena sedari tadi tingkah Nana gelisah dan agak aneh.


"Hmmm ... kalau begitu, aku akan menunggu waktu yang tepat agar kamu siap menceritakan semuanya padaku," Jonatan berusaha menenangkan Nana yang tengah dirundung dilema. Lelaki itu bahkan mengecup punggung tangan Nana yang sejak tadi direngkuhnya begitu erat.


Nana merasa diperlakukan dengan baik oleh Jonatan. Dia seperti menemukan Jonatan yang dulu sebelum ada si ****** yang sempat merusak hubungannya dengan Jonatan. Entah naif atau bodoh, lagi-lagi Nana terbuai oleh perlakuan manis Jonatan.


"Terimakasih telah mengerti dan tidak menuntut jawaban dariku," ucap Nana seraya menaikan tepian bibirnya membentuk kurva senyum bahagia.


"Memang sudah tugasku mengertikan kamu," timpal Jonatan lagi.


Nana menatap Jonatan penuh kasih sayang. Perasaannya berbunga-bunga kembali setelah sekian lama bunga di dalam tubuhnya layu. Sumber semangat, sumber bahagia, sumber segalanya telah kembali ke pangkuan Nana. Nana sangat mencintai Jonatan, dia bersyukur pada Tuhan telah mengirimkan kembali Jonatan ke sisinya.


Merasa sangat amat tersanjung dengan semua perlakuan Jonatan kali ini, Nana bahkan tak menaruh curiga pada Jonatan. Apa motif Jonatan mengajaknya balikan? Kenapa Jonatan memilih Nana kali ini? Nana merasa sama sekali tidak terlalu ambil pusing tentang semua itu. Yang paling penting Jonatannya telah kembali ke sampingnya. Cintanya telah kembali ke dalam kehidupannya. Nana bertekad akan mempertahankan Jonatan kali ini, kalau bisa sampai titik darah penghabisan. Nana akan berusaha merajut dan memperbaiki hubungannya apapun resikonya.


Di sisi lain, saat Nana mulai terbuai dan terlena dengan Jonatan, ternyata ada yang tengah mengawasi Nana dari jarak kurang lebih dua meter.


Lelaki bertubuh tegap dengan setelan hitam-hitam tampak memainkan kamera ponselnya. Mencuri gambar Nana dan Jonatan yang tengah dimabuk asmara dengan sekali jepretan. Lantas, lelaki yang tak diketahui identitasnya itu langsung mengirimkan hasil tangkapan kamera ponselnya pada seseorang yang entah dimana keberadaannya.


(Via Whatsapp)


Lelaki bertubuh tegap:


Saya sudah menemukan mereka. Apa tugas saya selanjutnya bos?


Awasi terus mereka! Jangan biarkan mereka berbuat sesuatu yang aneh-aneh. Kalau sampai kamu kecolongan, jangan harap kamu akan bisa pulang menemui keluarga kamu malam ini.


Lelaki bertubuh tegap itu langsung menimpali lagi perintah dari orang yang disebut bos olehnya.


Baik Bos, akan saya laksanakan sesuai perintah bos.


Usai berkirim pesan pada bosnya, lelaki bertubuh tegap itu kembali mengawasi gerak-gerik Nana dan Jonatan tanpa sepengetahuan mereka berdua. Lelaki itu terus memasang mata awas pada Nana dan Jonatan.


Cukup lama lelaki itu memantau Nana dan Jonatan, bahkan sampai Nana dan Jonatan keluar dari kafe, lelaki itu terus membuntuti Nana dan Jonatan kemana pun mereka pergi.


Ditengah perjalanan, Nana merasa ada sesuatu yang janggal. Dia merasakan ada seseorang yang tengah membuntutinya. Tapi Nana tak mau ambil pusing, barangkali itu hanya perasaannya saja. Kalaupun dia ceritakan kejanggalan yang tengah ia rasakan pada Jonatan, belum tentu juga kekasihnya itu akan percaya.


Mulanya Nana tak mempermasalahkan kejanggalan yang ia rasakan karena takut mengacaukan kebersamaannya dengan Jonatan. Tapi di luar dugaan, Jonatan pun merasakan hal serupa dengan apa yang tengah dirasakan Nana.


"Sayang, kamu ngerasa gak sih kalau mobil berwarna silver di belakang kita itu tengah mengikuti kita?" ucap Jonatan sembari menatap kaya spion mobilnya.


Nana menoleh sejenak ke belakang, lantas berbalik ke posisi semula.


"Aku pikir cuma aku doang yang merasa kalau kita tengah dibuntuti. Ternyata kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah aku rasakan."

__ADS_1


"Gimana gak merasakan hal yang sama, sedari tadi pengemudi mobil di belakang kita gerak-geriknya aneh. Kalau aku pelankan sedikit laju mobil ini, pengemudi mobil itu juga ikutan melajukan mobilnya agak pelan. Kalau aku tancap gas, dia juga sama-sama tancap gas seolah tidak mau kehilangan jejak kita, apa dia orang suruhan suami kamu?" kata Jonatan mulai menaruh curiga.


Nana pun sama curiganya dengan Jonatan. Tapi dia tak mau menerka-nerka terlebih dahulu dan tetap berupaya berfikir positif agar tidak ada kesalah pahaman nantinya.


"Orang suruhan suami aku? Maksud kamu Kevin?" Jonatan mengangguk mengiyakan. Sementara Nana melanjutkan kalimatnya. Ia ragu, sangat amat ragu dengan tebakan Jonatan. "Kayanya gak mungkin deh itu orang suruhan suami aku. Lagi pula aku kenal suami aku, dia tidak sekaya itu buat menyewa orang demi mengawasi kita. Hidupnya saja menumpang di apartemen aku. Dan dia tipe suami yang gak mau pusing, jadi aku rasa Kevin tak akan melakukan hal itu."


Nana merenung sejenak. Kemudian batinnya mencebik sebal.


'Ck! Kevin mempunyai orang suruhan? Hobinya saja morotin uang aku. Mana mungkin dia merelakan duit hasil morot cuma buat dipake menyewa orang, biar bisa ngawasin gerak-gerik aku. Benar-benar tak masuk akal! Aku yakin seratus persen kalau si muka tembok tak akan mampu bayar orang sewaan,' Nana membatin kesal dan meremehkan.


"Tapi kenapa kita diikutin? Kalau memang itu bukan orang suruhan suami kamu lantas mereka siapa?"


Nana mengangkat kedua bahunya, ia sama sekali tidak tahu menahu. Tapi berani Nana bersumpah dan tekankan, itu bukan Kevin si suaminya yang matre.


"Aku tidak tahu. Mungkin mereka hanya kelihatannya aja buntutin kita, siapa tahu mereka memang searah dengan tujuan kita. Dahlah, kita gak perlu ambil pusing orang yang di mobil belakang kita itu selama mereka gak berbuat macam-macam dan menggantu kita," tukas Nana menimpali dan menenangkan Jonatan yang mulai dirundung kecurigaan yang mendalam.


"Kamu benar. Ngapain kita pusing-pusing dengan si pengemudi mobil silver itu. Sekarang yang terpenting kamu ada bersamaku," gombal Jonatan sembari menoleh ke arah Nana, merengkuh punggung tangan Nana dengan lembut, serta memamerkan senyum simpul yang membuat siapapun meleleh melihatnya.


Nana merasa terkesima dengan sikap romantis yang ditunjukan Jonatan, dia benar-benar dimabuk kepayang dengan pesona Jonatan yang tak terbantahkan. Nana pun membalas senyuman Jonatan dengan senyuman yang tak kalah manis.


Seperkian detik berikutnya, mereka terdiam dengan mata mereka yang saling bertemu. Mereka saling memandang dan terhanyut satu sama lain. Saling menyalurkan cinta lewat tatapan sarat akan makna. Kemudian sebilah tangan Jonatan beralih pada pipi Nana, mengusapnya secara lembut. Nana menyambutnya dengan baik, menempelkan telapak tangannya di atas telapak tangan Jonatan yang berada di pipinya. Gadis itu seolah menuntut agar Jonatan tetap memperlakukannya seperti itu. Dia tak mau tangan itu lepas begitu saja.


Cukup lama kejadian romantis itu berlangsung. Nana mulai terbuai, dia ingin sesuatu yang lebih. Dia ingin merasakan sensasi yang berbeda, seperti halnya ciuman mungkin.


Sebagai seorang lelaki normal yang sudah matang dan memiliki banyak pengalaman, Jonatan mengerti apa yang diinginkan seorang gadis yang tengah terbuai. Tak mau membuang kesempatan, Jonatan pun mulai menepikan mobilnya ke pinggir. Lantas, dia mulai mencondongkan badannya lebih mendekat ke arah Nana tanpa aba-aba. Hasrat dan gairahnya sedang memuncak dan minta segera disalurkan. Sementara, Nana mulai menutup matanya perlahan. Nana tahu apa yang akan dilakukan Jonatan terhadapnya dan ia sudah siap untuk hal itu.


Saat jarak bibir mereka semakin dekat untuk penyatuan, tiba-tiba ...


Put your hand in mine


You know that i want to be with you all the time.


You know that I won't stop until I make you mine


You know that I won't stop until I make you mine.


Until I make you mine


Nana melenguh lesu saat dering telponnya berbunyi dan membuyarkan semuanya. Memaksa dirinya dan Jonatan untuk menghentikan aktivitas mereka yang belum sempat mencapai titik klimaks.


'Sial! Kenapa harus berbunyi di saat yang tak tepat sih?' Nana mengumpat kasar dalam hatinya saat dering sialan itu mengacaukan momen langka dalam hidupnya.


Bersambung.


Hallo Nana is back! huhu akhir-akhir ini lagi repot banget sama kerjaan jd slow update. Kadang juga aku merasa stuck dan kaya gak dapet feelnya buat nulis.

__ADS_1


Kasih semangat buat aku dong, dengan cara komen, star or vote. Kadang aku tuh merasa karya aku datar banget, gak banyak yang suka. Ingin rasanya ku berhenti dari menulis tapi inget kalau masih punya cicilan. please semangatin aku dong! huhu mau mewek rasanya karyaku cuma sebatas ini. huhu


sekian curhatnya. Jangan lupa tinggalkan jejak komen yaaa keleaan.


__ADS_2