
Nana menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kasur empuk apartemennya. Tubuhnya lemas, tapi rasa gelisahnya membuat ia tidak bisa menutup matanya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan permintaan Omanya yang terkesan memaksa itu.
"Aish ... Aku harus gimana nih Tan?" keluh Nana sembari mengacak rambutnya dengan gusar. Lebih parahnya, sekarang malah merangsek-rangsekkan kakinya seperti bocah tujuh tahun yang merajuk tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.
Nana memang selalu ketar-ketir kalau sedang dihadapkan dengan secuil permasalah yang merujuk pada pernikahan. Apalagi kalau Omanya sudah mengancam akan menjodohkan Nana dengan anak koleganya, membuat Nana semakin tak akan bisa tenang dan panik seketika.
"Aku gak tahu Na, aku benar-benar gak bisa bantu kamu kalau urusan calon-calonan, apalagi calon suami," balas Tania yang juga ikut frustrasi dengan rencana Omanya Nana.
Sebenarnya Tania ingin membantu menuntaskan problematika Nana yang tak terlalu rumit itu menurutnya, tapi Tania terlanjur malas buat bantu Nana kali ini. Pasalnya acap kali Tania mengenalkan teman cowok pada Nana, pasti ujung-ujungnya Nana selalu menolak dan mengatakan tidak srek dengan berbagai macam alasan klasik yang terlontar di mulut Nana.
"Si Oma bener-bener kebangetan deh, masa gak ngertiin banget kalau aku ini belum bisa move on sama Jonatan. Sekarang aku harus cari cowok dimana coba ... yang mau jadi suami aku? Mana dikasih waktunya seminggu doang pula," dengus Nana pasrah.
"Yaudah kalau gitu kamu gabung sama perusahaan Oma kamu aja, daripada kamu dipaksa menikah sama orang yang gak jelas karena kamu gak berhasil bawa pacar baru kehadapan Oma," ucap Tania enteng.
"Tapi itu juga bukan alternatif yang baik. Aku kenal betul Oma aku bagaimana ... kalau aku nanti berhasil mengembangkan perusahaan Oma, maka tak menutup kemungkinan kalau aku juga tetap akan dijodohkan sama anak koleganya. Aku gak mau menikah sama orang yang gak aku cintai."
"Tapi kamu juga gak bisa menemukan orang yang kamu cintai dalam waktu seminggu. Cuma ada di sinetron-sinetron dan novel saja kalau seseorang bisa jatuh cinta dalam waktu sekejap mata. Realitanya gak seperti itu, pasti ada prosesnya dulu ... baru seseorang bisa jatuh cinta. Lagian kamu sih terlalu milih-milih, coba kalau setiap aku kenalin ke temen cowok aku atau temen-temennya Vallen, kamu bisa sedikit membuka hati kamu buat salah satu yang kukenalin ... pasti gak akan kaya gini jatohnya," sewot Tania menceramahi Nana panjang kali lebar membuat kepala Nana pusing mencernanya.
"Arggghh bodo amat ah ... Orang aku gak srek mau gimana lagi. Lagian Oma aku ada aja permintaannya, benar-benar membuatku sengsara," Erang Nana frustrasi. Ia sangat amat geram sekarang. Saking geramnya, dia melampiaskanya dengan melempar bantal ke sembarang arah.
Pluk!
Duk!
"Aduhhh Na ... kesel sih kesel, tapi gak usah ngelempar bantal ke muka gue juga kali," gerutu Tania yang sudah amat sangat jengah dengan kebiasaan Nana yang suka melempar-lempar sesuatu sesukanya kalau sedang darah tinggi.
Nana hanya mampu menyengir seperti keledai bodoh kala lemparan bantalnya tepat mengenai wajah Tania yang sedang duduk di tepian ranjang. Bagi Nana, melempar dan mendaratkan sesuatu tepat pada wajah orang lain adalah bakat terpendamnya. Meski tanpa sengaja, tetap saja rasanya nikmat dan memuaskan. Buktinya, sekarang emosinya bisa sedikit meredam akibat aksi konyolnya itu.
"Sorry ... aku gak sengaja Tan. Hehe," sesal Nana sembari memasang wajah inosen.
"Ish ... parah banget kamu kalau udah gusar tuh selalu deh lempar-lempar sesuatu ke sembarang arah. Tadi kamu lempar stiletto dan mengenai muka si pria aneh, sekarang kamu lempar bantal dan kena wajah aku juga, besok-besok apa dan siapa lagi korbannya?!" dumel Tania.
"Ya abis aku kesel Tania ... Oma tuh selalu aja ngasih pilihan tapi kaya gak ngasih pilihan. Karena ujung-ujungnya Oma selalu bertindak sekehendak dia. Makanya aku butuh pelampiasan, salah satunya dengan melempar barang yang bisa aku lempar dengan refleks." jelas Nana
__ADS_1
"Nenek sama cucu sama aja, sebelas dua belas. Suka sekehendak sendiri," cibir Tania dengan nada tidak jelas seperti orang yang sedang kumur-kumur.
"Apa?! kamu ngomong apa tadi?" ujar Nana yang langsung bangkit dari rebahannya kala mendengar perkataan Tania yang kurang jelas tersebut.
"E-enggak kok ... aku gak ngomong apa-apa," dusta Tania.
"Jangan bohong!"
Tania melenguh pelan. "Nggak Nana sayang ... mana mungkin aku bohong ke kamu," ujar Tania seraya menampilkan deretan giginya yang rapih dan putih ke hadapan Nana. Bahkan dia sengaja mendekatkan jarak wajahnya ke wajah Nana agar Nana percaya kalau dia tidak sedang berdusta.
Melihat senyum Tania yang tengil dan agak terpaksa pada jarak yang super dekat itu, membuat Nana jadi bergidik geli dan protes. "Hentikan senyum konyol kamu itu Tania. Itu amat sangat menggelikan," titahnya seraya mendorong wajah Tania agar menjauh.
Tania membalas dengan desisan sebal kala Nana mengatakan senyumnya menggelikan. "Ish ... menyebalkan. Kalau bukan teman aku, udah aku hempaskan kamu ke jurang tak berdasar, atau kutenggelamkan di samudera Atlantik biar ilang sekalian."
"Tega bener sih kamu Tania, masa kamu mau menghilangkan aku dari muka bumi ini. Kamu sama aku kan gak bisa terpisahkan. Udah kaya prangko sama perekatnya, atau kaya minggu ketemu senin. Pokoknya gak bisa berjauhan. Haha,"
Lelucon Nana yang garing kriuk-kriuk mengalahkan renyahnya kerupuk udang di warteg pinggiran itupun, tak lantas membuat Tania ingin tertawa setengah senti saja. Ia malah jijik, apalagi saat mendengar Nana tertawa renyah sok asik begitu. Benar-benar menjijikan menurut Tania.
"Iuhhh dasar aneh," cebik Tania tak suka.
"Sekarang kita harus cari orang buat mau dijadiin pacar sewaan kamu, dengan begitu nanti kamu bisa kenalkan ke Oma kamu," usul Tania kembali ke topik awal.
"Pacar sewaan? Memang ada ya?" Nana mengernyitkan dahinya terheran. Sejauh ini, Nana tidak pernah melihat ada lelaki baik-baik yang mau disewa buat dijadikan pacar pura-pura.
"Aku juga tidak tahu. sebentar, biar kupikirkan!"
Tania tampak berpikir dengan serius dan khidmat mencari jalan keluar dari permasalahan Nana itu. Nana juga ikutan berpikir dan mencari ide seperti yang sedang Tania lakukan.
Cukup lama keduanya berpikir, namun tak ada salah satu dari mereka yang sudah mendapatkan ide. Otak mereka sepertinya sedang gelap dan buntu, makanya dari tadi masih belum nemu cahaya terang menghampiri kepala mereka.
1 menit berlalu.
5 menit berlalu.
__ADS_1
10 menit berlalu.
15 menit berlalu.
"Ahaa! Aku punya ide," jerit Tania semringah saat berhasil mendapatkan ide bagus setelah 15 menit mencari-cari kemana perginya si ide brilian itu.
"Ide apa? Jangan yang aneh-aneh loh!" Nana seperti kurang suka, buka karena Tania yang lebih dulu mendapatkan ide, tapi Nana merasakan firasat buruk terhadap ide gila Tania yang belum sempat terlontar dari mulut Tania itu.
"Kalau kamu gak ada yang srek sama teman-teman aku atau teman-teman Vallen, dan kamu gak mau dijodohkan sama pria pilihan Oma kamu itu berarti—"
Tiba-tiba Nana memotong kalimat Tania dengan cepat. "Udah deh gak perlu bertele-tele begitu Tania ... ke intinya saja," tukas Nana tak sabaran.
Hal itu, tentu membuat Tania benar-benar jengah dengan sikap Nana yang selain suka su'udzon, suka panikan, suka lempar-lempar barang, sekarang Nana juga suka buru-buru alias tak sabaran. Mungkin karena Nana anak keturunan ningrat jadi punya tagline, 'Sultan mah bebasss' makanya Nana secara gak sadar mewarisi sifat ningratnya itu yang apa-apa sekehendak dia.
"Ayo cepat katakan intinya ... malah diem sih kamu?" lanjut Nana berdecak semakin tak sabaran.
"Iya ... iya ...," balas Tania sebal, lantas melanjutkan kalimatnya yang sempat terpenggal Nana tadi. "Kamu cari jodoh di sosial media aja Na," cetus Tania simple.
Nana terjengit kaget, "Apa? sosmed? Orang gila!!! Mana ada cari jodoh lewat sosmed?! Aku gak mau ... lagian di sosmed itu tempat berkumpulnya manusia-manusia pencitraan. Ogah banget harus nyari jodoh lewat sosmed. Kaya gak ada manusia lajang di dunia nyata aja."
"Manusia lajang emang banyak, tapi kira-kira ada gak yang mau kamu ajak pura-pura alias pacar sewaan? Kalau kamu tadi bilang sosmed dihuni manusia-manusia yang pencitraan, berarti tidak menutup kemungkinan ada juga yang bisa disewa sebagai pacar bohongan kamu nanti. Lumayan kan, jadi kamu bisa tuh mempertahankan ideologi kamu yang katanya menolak nikah buru-buru. Lagian kan Oma kamu cuma minta dikenalin calon doang, Haha."
Nana tampak menimbang-nimbang dengan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan seiring dengan mengusap dagunya berkali-kali khas orang yang sedang berpikir dengan keras.
"Bener juga kata kamu ... kalau sosmed digunakan oleh khalayak sebagai tempat pencitraan, berarti aku gampang menemukan orang yang mau diajak pura-pura sebagai pacar aku. Dengan begitu, aku jadi gak perlu takut lagi kalau ditodong 'mana pacar kamu' dan pertanyaan sejenisnya sama Oma."
"Nah itu yang aku maksud."
"Wah jenius juga kamu Tan," puji Nana kepada Tania.
"Dari dulu kaleeee ... aku emang jenius. Kamu kemana aja?!"
"Iya ... Iya ... aku akuin sekarang. Yaudah mari kita eksekusi rencana kamu..!!!" Nana tampak kegirangan setengah mati setelah diberi usul Tania untuk mencari pacar bohongan lewat sosial media. Terlihat dari reaksi Nana yang begitu antusias membuka semua sosmednya, dimulai dari Facebooknya yang sudah lapuk tidak pernah diintip hingga aplikasi Tan-Tan dan Tindernya yang entah kapan ia buat. Ia sendiri tidak tahu kapan mendownload dan membuat akun di aplikasi tersebut.
__ADS_1
Bersambung.