Hallo Nana!

Hallo Nana!
Merasa Ada Yang Aneh.


__ADS_3

"Kevin, si bapak itu kenapa? Siapa dia? Kenapa dia kaya buru-buru gitu?" cecar Nana, merasa janggal dengan semua yang dilihatnya. Namun nampaknya Kevin seolah menutupi semuanya dari Nana dan berkelekar seperti biasanya. Sangat santai, hingga kepala Nana dipenuhi ribuan tanda tanya.


"Dia hanya orang asing, tadi kita gak sengaja tabrakan bahu. Terus aku diminta tanggung jawab, terus aku nggak mau dong. Itu kan bukan salah aku sepenuhnya, si bapak tua itu juga salah. Siapa suruh dia jalannya gak hati-hati. Terus dia kan tetep ngeyel tuh, terus ...."


"Stop!" potong Nana. Kepalanya begitu pusing mendengar ocehan Kevin yang berentet-rentet tanpa titik koma mau spasi, "Gak usah dilanjutkan!" imbuhnya sembari mengacungkan telapak tangannya. Ia memilih berbalik dan kembali mengayunkan kakinya menuju restoran Oma Lidia ketimbang mendengar cerecosan Kevin yang heboh seperti itu.


"Dasar heri.. heboh sendiri," gumam Nana tanpa sepengetahuan Kevin.


"Hih, aku kan belum selesai. Kebiasaan deh suka motong-motong pembicaraan. Hey, singa betina!" pekik Kevin pura-pura sebal. Padahal aslinya, Kevin cukup lega karena berhasil membuat Nana tak menaruh curiga lagi pada bapak tua yang menahannya barusan. Kevin patut diacungi dua jempol memang kalau urusan berdalih, dialah juaranya.


"Singa betina, tunggu aku!" pekik Kevin seraya mensejajarkan jaraknya. Nana tidak peduli Kevin terus-terusan memanggil namanya dengan nada setengah menjerit, ia terus berjalan dan berjalan meskipun Kevin terus-terusan memekik agar gadis itu mau menghentikan langkahnya sebentar.


***


Beberapa jam kemudian, acara pertemuannya dengan Oma Lidia pun selesai. Saat ini Nana dan Kevin tengah menuju kediaman mereka untuk pulang. Namun saat mobil tersebut sudah berada di tengah jalan, entah ada urusan apa Kevin merasa perlu turun dari mobil Nana saat itu juga. Hati serta otaknya tak tenang seperti dipenuhi ribuan bayangan-bayangan kejadian beberapa saat yang lalu tentang pertemuannya dengan Paijo.


"Turunkan aku di sini!" tandas Kevin, dia merasa resah setelah bertemu dengan supir keluarganya beberapa jam yang lalu.


"Turun? Kamu yakin mau turun di sini?"


"Kenapa emang?" Kevin malah balik bertanya dengan sengit. Matanya memelotot menyiratkan banyak rasa was-was sekaligus takut. Ia takut karena Nana tahu kalau Kevin sebenarnya harus menyelesaikan urusannya dengan Paijo.


"Kamu yakin?" ulang Nana memastikan. Ada yang aneh dari pancaran mata Kevin, sayangnya Nana tak tahu penyebabnya. Nana memang tak pandai dalam menebak mimik wajah seseorang, tapi ia merasa bahwa Kevin tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kenapa kamu natap aku seperti itu? Mulai suka ya sama aku?" celetuk Kevin menggoda. Agaknya dia tengah mengalihkan rasa curiga Nana.


"Cih, saya punya mata, mata-mata saya kenapa memangnya?" Nana menanggapi dengan jutek. Ia tak mau Kevin salah paham.


"Bilang aja suka, pakai sok-sokan gak ngaku," ledek Kevin sembari menoel lengan Nana dengan gemas. Hal itu tentu saja membuat Nana langsung menepis risih tangan Kevin yang mendarat di lengannya barusan.


"Cih, gak usah kepedean deh!"


"Idih siapa juga yang kepedean, lagian nih ya.. pesona aku tuh emang tak terbantahkan sudah terakui betapa tampannya aku. Kamu kalau suka gak usah pura-pura kaya gitu, hobi kok mendem gengsi."


"Lagian siapa juga yang suka!! Hobi kok bikin orang sensi!!" sewot Nana membalas dengan geram. Hatinya menggeremet gemas acap kali Kevin menggodanya, rasanya Nana seperti ingin menghempaskan lelaki itu ke jurang tanpa dasar agar ia tak pernah melihat manusia yang pedenya mengalahkan gedung tetinggi di dunia, Burj Khalifa itu.


Kevin hanya tersenyum mesem-mesem saat Nana merasa risih. Ada keseruan tersendiri melihat Nana selalu bersikap jutek padanya. Awal mula pernikahan memang terasa membosankan tapi seiring berjalannya waktu, Kevin menikmati setiap perdebatan kecil dengan Nana.


Jika tadi Nana yang menatap Kevin karena tengah mencurigai sesuatu, kali ini justru giliran Kevin yang memandangi Nana begitu intens. Jiwa Kevin seperti terbawa dalam rasa keterkaguman pesona Nana.


"Ngapain lihatin saya?" celetuk Nana.

__ADS_1


"GEER!" dalih Kevin.


"Ish... bener-bener ya kamu ngeselin banget jadi orang! Sana pergi, katanya mau turun kan? Dah sana pergi!"


"Yaudah kalau gitu, simpan saja omelan kamu. Aku mau turun, jangan cari aku ya?" tambah Kevin dengan nada mengguyon. Ia pun langsung menaik turunkan alisnya berulang-ulang. Membuat Nana salting sekaligus emosi. Tak lama Nana langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain. Menyembunyikan wajahnya yang merah padam.


"Hahaha, kamu lucu deh!" goda Kevin lagi. Ia kali ini mengacak rambut Nana dengan gemas. Setelah itu, ia langsung turun dari mobil dengan senyum gigi kelinci dan kekehan bangga karena berhasil menggoda Nana jadi tampak salah tingkah. Apalagi saat bola matanya sekilas melihat pipi Nana bersemu merah jambu. Kevin merasa Nana terlihat lucu sekali.


"Ish... dasar muka tembok!" desis Nana sedikit menjerit. Namun sayangnya Kevin telah menutup pintu mobilnya, ia abai terhadap protesan Nana yang lebih mirip cicitan tikus.


Gadis itu langsung menempelkan telapak tangan kanannya di bagian dadanya.


"Ada apa dengan aku? Kenapa aku berdebar-debar gini saat si muka tembok tadi menggodaku? Apa mungkin ..."


"Wah gak beres ini!! Otak sama hatiku mulai konslet ini," cetus Nana, ia pun segera mengatur diafragmanya agar stabil. Menggelengkan kepalanya berkali-kali demi mengusir pikiran aneh tersebut. Bisa-bisanya dia merasakan sesuatu yang aneh saat Kevin tadi menggoda dirinya. Padahal, tiap hari Nana biasa saja dengan lelaki itu. Tak secuil pun di benak Nana bahwa dia akan kepincut lelaki itu. Nana merasa ada yang tidak beres dengan isi kepalanya. Sebisa mungkin pikiran aneh itu harus Nana buang jauh-jauh dari isi kepalanya. Betapa gengsinya Nana kalau sampai terbawa perasaan oleh Kevin.


"Otakku benar-benar konslet! Aku harus segera mengusir perasaan aneh ini. Gila aja kalau sampai aku suka sama si muka tembok! Hih, pokoknya aku gak boleh biarin perasaan ini berlarut-larut. Ingat Na, dia hanya cowok matre yang menikahi kamu atas dasar perjanjian. Jadi stop berpikir aneh-aneh!" omel Nana pada dirinya sendiri.


***


Kevin memasuki rumah berukuran besar yang berdiri kokoh di salah satu pusat perumahan elit di Jakarta. Tanpa basa-basi ia langsung menyelonong masuk.


"Ma ... Pa.. , Kevin pulang!" pekik Kevin. matanya mengedar ke seluruh penjuru rumah tersebut. Memanggil orang tuanya yang asli.


"Kamu kemana saja Nak?" tanya wanita paruh baya saat ia dan lelaki yang merangkul bahunya itu berhasil memangkas jarak dengan Kevin.


Kevin langsung memeluk dua orang yang ia klaim sebagai orang tuanya itu. Selama ini dia memang tak pernah jujur pada siapapun mengenai identitas aslinya. Entah untuk apa alasannya, Kevin memang tak pernah mengumbar statusnya yang merupakan pewaris tunggal Galaxy Group.


"Hallo Pa, Ma.. apa kabar?"


"Kabar kami baik, bagaimana dengan kamu Nak?" jawab Papanya sembari mengacak rambut belakang Kevin.


"Kevin baik Pa, jangan khawatir."


"Kenapa kamu terlihat sangat kurus sekarang?" Mama ikut bertanya saat Kevin berhasil melonggarkan pelukannya dengan kedua orang tersebut.


"Masa sih Ma? Perasaan Kevin segini-segini aja. Malahan Kevin merasa sedikit gemuk, apa karena Kevin jarang olahraga ya sekarang?"


"Gemuk gimana, jelas-jelas kamu terlihat kurus. Iyakan Pa?" Mama meminta pendapat suaminya yang langsung direspon anggukan kepala.


Kevin hanya menyengir sembari kembali mengelak. "Mungkin hanya perkiraan Mama dan Papa saja karena biasanya Mama sama Papa terakhir kali melihat aku ya masih dalam kondisi badan yang gak karuan, tapi sekarang kan aku sudah jadi model terkenal. Jadi kalau berat tubuhku terlihat lebih kurus ya wajar-wajar aja, kan?" elak Kevin. Padahal Kevin yakin betul, kalau dia merasa lebih gemuk terlihat dari lengannya yang sedikit bergelambir diisi lemak.

__ADS_1


"Iya sih. Tapi ..." Mama masih berusaha mempertahankan opininya. Ia tetap khawatir kalau putera semata wayang serta kesayangannya itu kehilangan berat badannya.


"Gak usah dipermasalahkan Ma, Kevin baik-baik," ujar Kevin memotong. "Tapi ngomong-ngomong ada perlu apa nih Mama sama Papa tumben nyuruh si supir yang... ah siapa itu namanya.. Kevin lupa deh."


"Paijo?"


"Nah itu dia, Paijo. Ngomong - ngomong ngapain Mama sama Papa nyuruh Paijo buat cari Kevin? Bukankah Papa sama Mama sepakat kalau aku boleh melakukan apapun sesuka aku?"


"Iya sih, tapi ada yang ingin kami bicarakan." Papa menanggapi dengan serius. Ia kemudian melirik istrinya sejenak. Lantas, mereka berdua terlihat terlibat kontak yang membuat Kevin jadi penasaran.


"Tentang apa ya Pa, Ma? Kenapa kalian jadi sangat serius seperti itu?"


Mama meraih kedua telapak tangan Kevin dengan lembut, lantas membuka suara dengan hati-hati.


"Kami dengar kamu telah menikah dengan seorang gadis dari keluarga Atmaja Group, apa itu betul?"


Kevin kelimpungan. Dia ingin berbohong, tapi agaknya sulit untuk berbohong. Ia pun menyerah, dan memilih jujur.


"I-i.. iya Ma, Pa," jawab Kevin seadanya.


Mama dan Papanya terlihat sangat terkejut dengan jawaban Kevin.


"Bagaimana bisa kamu menikahi gadis itu, bukankah kamu... maksud kami, apa mereka sudah tahu identitas kamu sebenarnya?" tukas Papa. Kevin mengelang pelan. Hal itu semakin membuat Papa dan Mamanya makin terkejut bukan main.


"Mengingat, tidak semua keluarga terpandang akan menerima menantu yang biasa-biasa saja. Ya, kami kan tahu kalau kamu memilih merahasiakan identitas kamu, jadi pasti mereka juga tahunya kamu berasal dari keluarga biasa-biasa saja," tambah Papa. Semakin khawatir saja ia pada kondisi anak semata wayangnya itu.


"Kenapa sih Nak, kenapa kamu harus berbohong? Kenapa kamu tidak ceritakan saja kalau kamu berasal dari keluarga sepadan? Mama takut mereka memperlakukan kamu tidak baik."


"Iya, Papa juga takut kamu diperlakukan tidak baik. Mengingat, mereka tahunya kamu hanya seorang pemuda yang berasal dari keluarga biasa."


Kevin tersenyum tipis. Ia tahu orang tuanya sedikit parno anaknya akan diperlakukan oleh keluarga Atmaja. Apalagi saat mereka sadar kalau Kevin lebih memilih jadi orang biasa ketimbang menyandang status pemuda kaya raya. Siapapun akan berpikir demikian jika menyangkut anaknya.


Tangan Kevin tergerak untuk menggosok bahu kedua orang tuanya. Meyakinkan kedua orang tuanya agar tak perlu cemas dengan Kevin.


"Tenang aja Ma, Pa. Kevin di sana diterima dengan baik. Mereka sama seperti kita, tidak pernah membedakan status sosial meskipun mereka tahunya Kevin hanya seorang freelance model. Jadi gak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Hehe..."


"Hmm begitu ya." Papa menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Kevin. Mama juga demikian.


"Pasti karena istrimu sangat mencintai kamu kan? Makanya mereka memperlakukan kamu sangat baik," cetus Mama, membuat Kevin langsung tersenyum masam. Antara miris dan juga geli.


'Cinta? Jangankan berbicara cinta, akur aja gak pernah. Mama ada-ada aja deh,' batin Kevin meringis pilu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2