Hallo Nana!

Hallo Nana!
Anniversary yang ke 1 bulan


__ADS_3

Hari yang baru telah menyapa. Nana dan Kevin tak pernah mengira kalau pernikahannya sudah genap tiga puluh hari. Mereka berdua juga tak menghabiskan banyak hal mengesankan selama menjalani kehidupan satu atap. Tidak ada hal yang menarik apalagi spesial bagi mereka.


Mereka tampak sibuk dengan kehidupan masing-masing. Meski terkadang tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka ada yang menyelipkan perasaan aneh. Lebih tepatnya, perasaan Kevin terhadap Nana. Lelaki itu yang lebih dulu terbuai, entah apa yang merasuki pikiran hingga bisa terpikat dengan wanita yang jauh dari kriterianya.


Kendati demikian, Kevin tak mau ambil pusing dan kadang kala ia menyangkal perasaannya itu demi mencari aman.


"Kau mau kemana pagi-pagi begini sudah serapih itu?" tanya Nana memperhatikan Kevin yang sudah rapih dengan setelan kemejanya. Gadis itu tampak duduk santai di sofa sembari menikmati secangkir teh hangatnya. Sementara tangan satunya sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Aku mau mencari kerja," jawab Kevin sederhana seraya menyingkilkan lengan bajunya.


Nana melebarkan mata serta mulutnya tak percaya. "Woah.. ada hujan apa semalam sampai-sampai kau ingin mencari kerja?" ledeknya asal.


"Kenapa kamu selalu memulai peperangan sih tiap pagi?" protes Kevin tanpa berhenti dari aktivitasnya. "Lagi pula apa salahnya kalau aku cari kerja? Aku bisa mati kebosanan jika terus-terusan berdiam di sini tanpa melakukan aktivitas bermanfaat, sementara kamu menikmati harimu seperti biasa. Bukankah itu tidak adil?"


"Kamu iri padaku? Apa aku pernah melarangmu keluar dan melakukan aktivitasmu? Tidak, kan?!" Nana mendengus kesal. Emosinya meledak acap kali berbicara dengan Kevin yang seolah-olah diintimidasi oleh Nana.


"Hish.. siapa suruh tidak keluar rumah dan menikmati kegiatanmu. Berhentilah membuat drama! Haish ...," cebik Nana menambahkan. Selera minum tehnya jadi jelek gara-gara Kevin.


Mendengar hal itu, Kevin hanya mengerutkan hidungnya dengan lucu. Percuma juga berdebat dengan Nana. Lebih baik Kevin cepat pergi dari sana sebelum semuanya semakin memanas.


Kevin mengayunkan kakinya tanpa berpamitan pada Nana. Dan ketika tangannya berhasil memutar knop pintu, ia malah berdiri mematung dengan mata terbelalak.


"O-Oma.. ke-kenapa Oma ad-ada di sini?" Kevin tergagap. Sungguh, paginya begitu mengejutkan gara-gara kehadiran Oma Lidia.


"Kenapa kamu begitu terkejut dengan kehadiran Oma kesini?"


"Aa-anu.. Oma, saya cuma—"


"Cuma apa?" potong Oma Lidia dengan mata yang menyipit heran. Lantas teralihkan dengan penampilan tak biasa dari Kevin. Membuat Kevin jadi ikut memperhatikan penampilannya yang ia rasa ada yang salah.


"Ada apa Oma? Kenapa Oma merhatiin saya kaya begitu?" tanya Kevin ikut heran.


"Kamu mau kemana dengan pakaian rapih seperti itu?" tanya balik Oma Lidia.


"Ah, hari ini saya mau cari kerja Oma. Sudah sebulan ini saya kehilangan pekerjaan saya. Seperti yang Oma tahu, saya cuma seorang freelance model dan karena sudah sebulan ini saya tidak aktif jadi beberapa kontrak kerja saya dibatalkan," beber Kevin dengan jelas.


"Terus kamu sekarang mau kerja kemana?"


Alih-alih menjawab, Kevin malah menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan kebingungannya. Ia memang belum tahu akan kemana mencari kerja.


Dan ekspresi seperti itu cukup gampang ditebak oleh Oma Lidia tanpa Kevin menjawab pun beliau sudah tahu kalau Kevin belum ada arah dan tujuan.


"Oma sedang membuka cabang restoran baru di sekitaran sini. Tapi sekarang belum benar-benar buka sih, kemungkinan grand openingnya sekitaran semingguan lagi. Kalau kamu mau, kamu bisa mengelola restoran itu bersama Nana, gimana? Ya nanti kamu atur saja mau jabatan apa."


"Tidak usah Oma, biar saya cari kerja di tempat lain saja. Lagi pula saya tidak ada pengalaman di bidang seperti itu," tolak Kevin jujur.


Oma nampak sedikit kecewa, tapi ia tak menyerah untuk mengajak Kevin bergabung.


"Pengalaman memang penting, tapi bukan berarti orang yang tak berpengalaman tak bisa belajar kan? Jadi kamu juga bisa belajar untuk mengelola restoran. Oma yakin kamu bisa mengelolanya dengan baik kok."


"Tapi Oma—"


Oma Lidia tersenyum simpul nan cerah. Mendengar penolakan Kevin serasa diingatkan pada cucu semata wayangnya, Nana yang sering menolak penawarannya. "Kamu tuh sama seperti Nana, selalu saja berusaha mengelak. Ah, pantas saja kalian jodoh," goda Oma Lidia sembari mengeplak ringan bahu Kevin.


"Bukan gitu Oma, cuma saya gak enak aja kalau apa-apa selalu bergantung pada Oma. Lagian saya bisa kok cari kerjaan di tempat lain," ucap Kevin meyakinkan.


"Udah gak perlu. Kamu kerja di tempat Oma saja," ucap Oma tak mau mendengar penolakan lagi. "Ngomong-ngomong kamu gak mau mempersilakan Oma masuk nih?"


Kevin sontak menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, saking seriusnya sampai lupa mempersilakan masuk sama Oma. Maafin saya Oma," sesal Kevin dengan tangan terjulur mempersilakan untuk masuk. Sejurus dengan itu, Kevin langsung mengekor di belakang Oma Lidia menuju ruang tengah.


Sama halnya Kevin tadi, Nana yang baru sadar kehadiran Omanya juga tak kalah terkejut.


"O-Oma.. kenapa Oma kesini?" celetuk Nana gelagapan. Ia bahkan sampai bangkit seketika dari duduk santainya.


"Ish.. kamu gak suka Oma datang ke sini?"


"Kamu juga, katanya mau kerja. Kenapa masih belum jalan?" tambah Nana mengalihkan atensi bicaranya pada Kevin.

__ADS_1


"Aku mau pergi tapi tadi ketemu Oma di depan pintu jadi aku—"


"Nana, kamu kalau ngomong sama suami kamu tuh yang lembut dikit ke' jangan kaya gitu. Tidak sopan!" tukas Oma memotong kalimat Kevin untuk memperingati cucu semata wayangnya.


"Maafkan aku Oma," sesal Nana patuh. "Oh ya, kenapa Oma mendadak ke sini? Biasanya kan kita yang samperin Oma. Ada urusan apa memang?"


Oma Lidia mendaratkan bokongnya pada sofa, diikuti Kevin dan Nana. Lantas menimpali kalimat Nana barusan.


"Kamu sama suami kamu tidak punya acara apapun kan hari ini?"


"Aku sih ada beberapa acara hari ini," jawab Nana.


"Saya juga."


"Tapi tidak begitu penting kan?"


Kevin dan Nana saling memandang heran satu sama lain kemudian kompak menggelengkan kepala mereka ke arah Oma Lidia.


"Bagus. Jadi kalian berdua harus siap-siap dan karena urusan kalian tidak penting-penting amat jadi batalkan saja. Kalian persiapkan diri saja buat ke acara yang lebih penting," titah Oma Lidia dengan nada enteng nan heboh.


"Mau kemana Oma?" tanya Nana bingung.


"Iya Oma, memangnya mau kemana?" tanya Kevin senada dengan Nana.


"Kalian ingat ini hari apa?"


Lagi, untuk kedua kalinya Kevin dan Nana saling memandang bingung dan kemudian menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Ish, kalian ini gimana sih masa gak tahu ini hari apa?" desis Oma sebal.


"Bentar deh, aku ingat-ingat dulu," cetus Nana mencoba berpikir keras.


"Kelamaan."


"Ini hari Senin kan Oma," cetus Kevin polos tapi terkesan bodoh membuat Oma Lidia semakin geram dengan keduanya.


"Ish, kalian ini.. masa kalian lupa sama hari anniversary pernikahan kalian yang ke satu bulan? Kalian lupa, hah?"


"Ya, anniversary pernikahan kalian. Dan Oma merencanakan pesta kecil-kecilan di rumah Oma untuk kalian nanti malam."


"Duh ya ampun Oma.. ngapain sih segala pakai acara anniversary segala. Lagian kita ogah rayain kaya gituan. Batalin aja deh acaranya," bantah Nana memerintah.


"Iya Oma .. menurut saya gak perlu lah acara seperti itu. Toh, ini terlalu dini untuk merayakan anniversary. Kalaupun kita mau merayakan anniversary pernikahan ada baiknya kita akan rayakan berdua nanti kalau sudah genap satu tahun. Jadi untuk saat ini kami belum mau merayakannya. Tapi sebelumnya terimakasih banget nih Oma, dan sekali lagi kita minta maaf kalau kami menolak," jawab Kevin mencoba bijak serta santai. Ia tidak seperti Nana yang meledak-ledak jika berseberangan pendapat dengan Oma Lidia.


"Kalian berdua ini sangat tidak romantis. Pokoknya Oma gak mau tahu, kalian harus datang malam ini dan jangan ada alasan apapun karena Oma tidak akan menerima alasan," tegas Oma Lidia egois. Dia bangkit sembari menenteng tas mahalnya dengan cuek membuat Nana dan Kevin terperangah tak percaya.


Begitulah Oma Lidia, sama seperti Nana yang tak menerima penolakan alias pemaksa. Kevin bahkan jadi berpikir kalau sifat Nana yang menyebalkan mungkin menurun dari Omanya. Selain menjadi pewaris Atmaja Group, Nana juga pewaris sifat otoriter. Jadi pantas kalau Nana tidak bisa akur dengan Kevin.


"Melihat sikap Oma kamu yang seperti itu, aku jadi berpikir kalau beliau sangat kekanak-kanakan. Apa beliau memang seperti itu sejak dulu?" ceplos Kevin setelah kepergian Oma Lidia dari hadapan mereka berdua.


"Begitulah Omaku. Selain kekanak-kanakan beliau juga menyebalkan karena suka sekehendaknya tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu," jawab Nana setuju.


Kevin menoleh secepat kilat ke arah Nana dengan wajah merengut. Tidakkah Nana berpikir kalau dia juga sama seperti neneknya? Ah, sepertinya tidak. Buktinya dia bisa sepercaya diri itu mengolok-ngolok neneknya sendiri.


Saat ini Nana tidak sadar tengah dipandang aneh oleh Kevin. Mulutnya begitu lancar menyerocos serta mendumel sendiri. Ia begitu sebal dengan Omanya kali ini.


"Gimana nih, mana aku ada janji sama Jonatan mau dinner. Masa harus batal sih? Haish.. kelewatan nih Oma."


"Gimana kalau Jonatan kecewa? Gimana kalau dia sebal? Arghh.. Oma kenapa sih harus bikin acara di saat yang tidak tepat? Ini salah aku juga yang gak bilang jujur kalau acaraku nanti lebih penting dengan acara anniversary pernikahan ini. Arghh...," erang Nana super gusar.


Nana pun langsung meraih ponselnya yang tergeletak di meja bermaksud untuk mengabari Jonatan atas pembatalan rencana makan malamnya.


Kevin hanya memperhatikan Nana tanpa berniat menggubris, memberi saran atau memberi komentar. Ia fokus memandang Nana yang mendumel panjang kali lebar seperti bocah remaja. Benar-benar mulus seperti jalan tol cerocosan Nana itu.


"Aku harus menghubungi Jonatan sekarang juga dan meminta maaf padanya," ucap Nana sejurus dengan itu ia langsung mengotak-ngatik teleponnya dan mengabaikan Kevin yang duduk di sebelahnya.


***


Di tempat yang berbeda, seorang lelaki berperawakan proposional dengan wajah menawan tengah duduk sembari menempelkan benda pipih persegi panjang ke telinganya. Di depannya ada satu temannya tengah sibuk menyesap secangkir kopi sambil sesekali melirik ke arah lelaki berperawakan proposional itu.

__ADS_1


'Ya sayang, gimana nanti malam?' kata lelaki bertubuh proposional pada benda pipih yang menempel di telinganya.


'Duh maaf banget nih sayang, sepertinya acara kita dibatalin dulu ya soalnya aku ada keperluan mendadak,' jawab orang di sebrang sana.


'Kalau itu lebih penting ya gak apa-apa. Kita bisa makan malam bersama lain waktu kok.'


'Sekali lagi maaf ya.. please jangan marah!'


'Ya ngapain marah sih? Masa aku marah sama kamu gara-gara hal sepele doang. Aku gak bisa marah sama kamu sayang, jadi santai aja.'


'Beneran kamu gak akan marah?'


'Iya sayang. Udah gak apa-apa santai aja ya.'


'Terima kasih ya sayang kamu sudah pengertian sama aku. I love you.'


'I love you more!'


Lelaki itu pun langsung menutup panggilan teleponnya setelah orang di sebrang sana tak lagi bersuara. Kemudian dia tampak menyunggingkan tepian bibirnya tipis-tipis. Senyumnya terlihat sama sekali tak tulus seperti ada maksud terselubung. Dan temannya tahu akan hal itu.


"Siapa Jo?" tanya orang yang tadi asyik menyesap kopi. Yang tak lain adalah teman Jonatan Lee bernama Daniel.


"Cewek gue."


"Si Eriska?" tebak Daniel.


"Bukan. Eriska udah gue putusin dari tiga bulan yang lalu."


"Wendy?" tebak Daniel lagi. Ia cukup penasaran dengan pacar temannya itu. Sebab, ia kenal baik seperti apa bejatnya Jonatan si playboy nan matre ini.


"Apalagi Wendy, bokapnya bangkrut dari setahun yang lalu jadi gue juga udah putusin si Wendy begitu mendengar kabar perusahaan bokapnya bangkrut."


"Sadis Lo, man! Tapi gue suka gaya Lo," puji Daniel diiringi senyum yang sama bejatnya dengan Jonatan. "Terus kalau bukan Eriska atau Wendy, cewek konglomerat mana lagi yang Lo gaet?"


"Lo mau tahu?"


Sontak, Daniel langsung mengangguk antusias dengan mata berbinar. Ia begitu penasaran perempuan bodoh mana yang berhasil ditipu pesona Jonatan kali ini. Pasti perempuan itu perpaduan antara naif dan bodoh karena bisa-bisa masuk perangkap Jonatan begitu saja, atau mungkin Jonatan yang terlalu handal merayu perempuan? Daniel jadi semakin penasaran.


"Sebenernya Lo udah kenal sih," tandas Jonatan membuat Daniel mengernyitkan dahinya heran.


"Maksud Lo? Gue udah pernah kenal sebelumnya. Emang siapa?"


"Setyana alias Nana."


"What??!" Daniel langsung menjengit kaget sekaget-kagetnya begitu mendengar nama yang tak asing di telinganya. "Bukannya Setyana itu mantan Lo beberapa tahun silam ya? Si gadis gempal yang kere itu? Lo balikan lagi sama dia? Lo pasti bercanda kan?"


"Ya, gue balikan lagi sama dia."


"Kok bisa sih?" Daniel semakin keheranan saja dibuatnya. Pasalnya yang Daniel tahu, Jonatan memutuskan hubungannya dengan Nana dengan problem yang sama seperti perempuan-perempuan yang ditinggalkan Jonatan seperti biasanya. Yaitu kurang asupan dana alias kurang tajir.


Seperti yang Daniel tahu juga kalau Jonatan akan memilih perempuan tajir daripada bertahan dengan perempuan baik. Begitulah prinsip hidup Jonatan. Dia bagai parasit yang bisa menempel sembarangan di tempat yang jauh lebih nyaman baginya. Tidak peduli bila ada pihak yang tersakiti atau tidak. Yang jelas Jonatan selalu mencari perempuan-perempuan kaya raya. Namun bila saat ini Jonatan memilih Nana kembali, pasti ada yang salah dengan otaknya.


"Jelasin sama gue kenapa Lo bisa dan mau balikan lagi sama si Nana?" tanya Daniel menuntut. "Otak Lo geser apa gimana? Ya.. gue tahu kalau Nana memang gadis baik-baik, tapi bukankah dia gak kaya? Lo kan maunya cewek-cewek kaya doang?"


Jonatan menyeringai licik. "Lo salah, Niel.. Lo salah!"


"Maksud Lo?"


Jonatan menyodorkan ponselnya ke hadapan Daniel dan berkata, "Baca artikel ini, Lo akan tahu alasan kenapa gue mau balikan sama si Nana bodoh itu."


Daniel pun langsung menatap layar ponsel yang disodorkan Jonatan. Dan betapa shocknya ketika kedua bola matanya menangkap headline artikel dari layar ponsel Jonatan.


"Anjrit, jadi dia cucu dari Atmaja Group?" celetuk Daniel dengan mimik antara takjub sekaligus tak percaya.


"Yapp.."


"Gue baru tahu kalau dia anak orang kaya. Jadi waktu itu dia pura-pura dong jadi gadis biasa aja? Tujuannya apa ya?"


Jonatan mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu. "Perset*n dengan tujuannya apa jadi orang miskin waktu dulu. Yang jelas dia sekarang adalah cewek kaya, gue gak mau melewatkan kesempatan emas ini. Makanya gue mau balikan."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2