Hallo Nana!

Hallo Nana!
Jengah!


__ADS_3

Kekesalan Nana masih berlanjut di kamar mandi. Dia menatap cermin yang menampilkan dirinya, tak lama dia mulai merutuki lagi Kevin melalui pantulan cermin.


"Lelaki gila! Muka tembok sialan. Otaknya dipakai di mana sih? Apa-apaan dia mengatakan hal sensitif begituan padaku? Apa dia menyangka kalau aku telah memakannya? Cih! Aku menyesal semalam telah memperlakukannya dengan lembut."


Dengan kasar, Nana langsung menekan kran pada wastafel dan kemudian mencuci tangannya dengan amat sangat bersih. Seperti takut tangannya telah dicemari kuman sehabis mengelus-ngelus kening Kevin semalam.


Usai mencuci tangannya, Nana langsung mencomot sikat gigi dan tak menunggu lama dia langsung menyikat giginya masih dengan gerutuan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Dia pikir aku sudi melakukan hal itu dengannya? Cih! Dasar muka tembok sialan."


Nana masih belum menyudahi gerutuannya. Kepalanya serasa pecah karena dijadikan tersangka oleh Kevin. Kali ini, dia membasuh mukanya secara kasar dengan diselingi umpatan-umpatan yang tak urung dia sudahi.


"Sekarang aku semakin yakin kalau dia memang impoten. Ish ... merusak moodku saja."


Di sisi lain, Kevin langsung berpindah ke kasurnya. Bergelung dengan selimutnya seolah enggan menatap dunia pagi ini. Dia enggan keluar dari selimutnya meskipun cahaya mentari telah menyorot masuk ke dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak yakin dengan ucapan Nana kalau gadis itu tidak berbuat macam-macam padanya. Jadi yang dia lakukan saat ini menyembunyikan dirinya dibalik selimut.


"Aku akan membuat perhitungan dengan si singa betina itu. Dia berani-beraninya tidur di sebelah aku," ujar Kevin kesal. Seperkian detik berikutnya, dia terdiam sejenak. "Etapi ... sofa itu kan memang miliknya, singa betina itu memang biasa tidur di tempat itu. Berarti—"


Ucapan Kevin tergantung seiring dengan pupil matanya yang melebar dibalik selimutnya. Jakunnya bergetar saat saliva Kevin mengalir melewati kerongkongannya yang serasa mengering dan tercekat seketika.


"Berarti— ini memang bukan salahnya. Tapi kesalahan aku sendiri yang ketiduran di tempat si singa betina itu? Aish! Bodoh banget sih kamu, Vin!" Kevin melanjutkan kalimatnya yang belum tercetus sepenuhnya tadi.


Kevin juga merutuki kebodohannya sendiri saat dia sadar kalau Nana bukan tersangkanya, melainkan dirinya sendiri yang sudah ketiduran di sofa.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mau ditaruh di mana mukaku ini karena sudah menuding si singa betina dengan kalimat yang agak vulgar. Dia pasti akan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aaarrggg!"


Dengan gusar, Kevin mengusek-ngusek kakinya membuat gerakan seperti ular yang mencoba meloloskan diri dari jaring penjerat. Dia menyesal. Dia sebal dengan kekeliruannya sendiri. Rasanya dia semakin malu untuk keluar dari selimutnya. Dia tidak berani menatap dunia apalagi Nana.


Nana yang telah selesai dengan ritual paginya, kemudian bermaksud mengambil pakaiannya di lemari yang terletak tak jauh dari ranjang yang selalu jadi rebutannya dengan Kevin. Tapi pemandangan apa yang Nana lihat sekarang? Kevin bergerak-gerak aneh di dalam selimutnya. Membuat bola mata Nana langsung membelalak lebar-lebar seperti mau keluar dari rongganya.


"Astaga! Si muka tembok itu sedang ngapain? Apa dia sedang berfantasi liar di dalam selimut itu?" terka Nana. Kepalanya langsung mulai digelayuti pikiran-pikiran kotor lagi melihat kelakuan Kevin yang entah sedang apa di dalam selimutnya.


Nana bergidik ngeri. Tapi dia tetap berusaha bersikap tenang agar Kevin tidak curiga. Dia pun pura-pura bersin agar tidak terciduk kalau saat ini dia tengah memergoki kejadian aneh dan penuh tanda tanya. Paling tidak, kalau Nana bersin tiba-tiba, aktivitas Kevin yang penuh tanda tanya itu akan terhenti seketika.


Jujur, Nana geli melihat gerakan-gerakan aneh Kevin yang menurut Nana seperti sedang (?).


"Hatciiiimmm! Hatciimmm!"

__ADS_1


Dan benar saja, aktivitas Kevin di dalam selimutnya terhenti saat mendengar suara bersin Nana.


'Duh! Makin kacau ini kalau si singa betina mendengar umpatan aku tadi. Pasti dia akan merasa menang. Hidungnya yang besar pasti kembang kempis kalau tahu aku menyesali perbuatanku. Aish! Serba salah jadinya kalau kaya gini,' ujar Kevin dilema dalam hatinya.


"Hey muka tembok! Apa kamu mau terus-terusan bergelung di dalam selimut sepanjang hari seperti itu, hah?" Nana mencoba mengalihkan pikirannya dengan angkat bicara pada Kevin. "Apa kamu tidak punya aktivitas lain selain tidur, makan, dan berak, hah? Benar-benar suami tidak berguna!" celetuk Nana menyindir agak frontal.


Kevin meradang, tak terima dengan celetukan Nana yang tajam setajam belati yang menghujam tepat mengenai jantungnya. Dia pun menyingkap selimutnya dengan gerakan cepat. Bangkit dari tidur dan menatap tajam ke arah Nana yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.


"Apa maksudnya kamu ngomong kaya gitu? Apa kamu iri kalau aku lebih senang di rumah ketimbang keluyuran tak jelas seperti dirimu?" Kevin menyerang balik sindiran Nana dengan nada sengit.


"Keluyuran tidak jelas katamu? Keluyuran aku, jelas. Kata siapa tidak jelas? Aku keluyuran untuk bertemu Tania dan mencari lowongan pekerjaan. Dan hari ini juga aku akan kembali mencari lowongan pekerjaan baru. Paling tidak, kalau aku bekerja nantinya aku tidak akan berlama-lama menatap wajahmu yang sengau dan menyebalkan itu."


Kevin tersenyum remeh setelah mendengar kalimat sanggahan Nana.


"Ck! Mencari lowongan pekerjaan, ya? Hmmm ... bukankah kamu sebenarnya ingin bertemu dengan pacar kamu itu. Ngaku aja! Klasik dan gak bermutu banget sih alasan kamu itu. Sama seperti pacar kamu yang bernama Jonatan. Gak bermutu alias gak berkualitas!" cemooh Kevin sengit.


Kali ini giliran Nana yang meradang. Wajahnya memerah panas saat Kevin seenak jidatnya mengatakan Jonatan tidak berkualitas. Dia geram, sangat amat geram jika kekasihnya dihina oleh bocah ingusan yang berstatus suami di atas materainya itu.


"Hey! Jangan sebut Jonatan dengan kata-kata rendahan seperti itu! Aku tidak suka!"


Nana menggeram kesal. Dia jengah dengan kelakuan Kevin. Setiap paginya selalu buruk semenjak hidup satu atap dengan Kevin. Kemudian Nana pun langsung meraih bajunya dan bergegas ke arah kamar mandinya lagi tanpa berniat menyanggah lontaran Kevin yang selalu menjelek-jelekkan Jonatan. Pasalnya, sebanyak apapun dia menyangkal, sebanyak itu pula Kevin akan melayangkan kalimat hinaan yang lebih sengit nantinya.


Oleh karena itu, dengan amat sangat terpaksa lebih baik Nana mengalah. Bukan berarti dia kalah, dia hanya tidak mau membuang energinya berdebat dengan manusia semenyebalkan Kevin.


"Hey! Aku belum selesai bicara! Kenapa kamu malah pergi begitu aja, sih?" Kevin protes saat Nana memilih meninggalkannya ketimbang berdebat seperti biasanya. "Hey! Singa betina sialan. Suami kamu ini sedang berbicara! Sungguh istri gak ada akhlak!"


Nana menghentikan lajunya sebentar. Semakin sesak saja dadanya setiap hari harus melewati pagi dengan berjibaku dan baku hantam sama Kevin. Nana kemudian menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya secara kasar.


Mengelus dadanya beberapa kali sambil berkata, "Sabar! Sabar! Semua ini pasti segera berlalu," ucapnya dengan suara pelan.


Nana memutar badannya menghadap Kevin. Memberi senyuman sekilas sebelum memuntahkan kalimat bervolume tinggi.


"Memangnya aku peduli? Big no! Lagi pula aku tidak perlu meminta pendapatmu untuk memilih meninggalkan kamu atau bertahan mendengar umpatan kasarmu itu," tutur Nana mengutip kata-kata Kevin sebelumnya. Membuat Kevin tercengang seketika.


"Yaaaak! Itu kata-kataku. Kenapa kamu pakai? Aku tidak suka!"


Brak!

__ADS_1


Alih-alih menuruti titahan Kevin, gadis itu malah membanting pintu kamar mandinya dengan kasar. Seolah itu menjadi kebiasaan baru untuk Nana kala menghindar dari ocehan Kevin yang sangat amat tidak berfaedah dan hanya membuat telinganya berasap.


"Yak! Singa betina sialan! Kenapa sih kamu hobi banget menyiksa pintu kamar mandi? Benar-benar menyebalkan!" pekik Kevin protes. Dan lagi-lagi Nana abai.


1 jam kemudian


Kevin baru bisa beranjak dari tempat tidurnya setelah memastikan Nana keluar dari apartemen. Entah mau kemana perginya gadis itu, yang Kevin tahu gadis itu terlihat buru-buru dan marah besar padanya.


Awalnya Kevin mencoba tidak peduli, tapi lama-lama dia merasa amat sangat bersalah menjadikan Nana tersangka, padahal yang salah dan yang patut dijadikan tersangka itu ya Kevin karena ceroboh telah ketiduran di sofa tempat tidur Nana selama beberapa hari ke belakang. Jadi bukan salah Nana kalau gadis itu *****-***** Kevin tanpa sengaja.


Walaupun secara kenyataan Kevin tidak merasakan sesuatu yang janggal selama tidurnya, malah dia merasa nyaman karena dia bermimpi ada seorang gadis yang mengelus pangkal rambutnya penuh kelembutan. Kevin seperti merasakan sensasi berbeda, seperti merasakan hangatnya sosok seorang ibu. Sayangnya, Kevin tak menangkap jelas wajah gadis di dalam mimpi itu. Wajahnya samar dan bias oleh cahaya.


Oleh karena itu, Kevin merasa sangat bersalah pada Nana. Dia pasti melukai perasaan Nana. Alhasil, pikiran Kevin semakin kusut. Satu sisi dia terlalu gengsi meminta maaf. Tapi di sisi lainnya, dia amat sangat menyesal.


"Arrrgh! Suami macam apa aku ini?" erang Kevin kasar.


Di tempat lain, Nana sedang berada di kontrakan Tania sekarang. Seperti biasa dia mengadu pada Tania perkara keributannya dengan Kevin pagi ini. Dia benar-benar jengah dan buntu harus bersikap seperti apalagi agar Kevin tak melulu mengajaknya berjibaku. Terlebih, menyangka Nana berbuat yang tidak-tidak pada lelaki itu. Lagi pula, Nana masih waras, mana mungkin dia menodai seorang laki-laki apalagi memperkosa paksa. Baru mendengarnya saja, sudah membuat Nana ingin memuntahkan seluruh isi perutnya apalagi hal tersebut jadi kenyataan? Rasanya itu tidak ada dalam kamus Nana.


Nana terus saja mengoceh tanpa titik koma, sementara Tania hanya mengatakan sabar dan sabar seperti seorang balita yang hanya hafal dengan satu kosa-kata yaitu 'sabar' tapi Nana tidak peduli, dia hanya butuh teman yang mau mendengarkan seluruh unek-unek yang membuncah di dadanya saat ini. Dia tidak butuh respon atau ceramahan panjang, dia juga tidak minta solusi, dia hanya butuh teman yang anteng tanpa berkomentar. Seperti yang Tania lakukan sekarang.


"Aku tuh gak habis pikir sama jalan pikiran si muka tembok itu. Kenapa sih dia itu selalu menudingku yang tidak-tidak? Apa otaknya cuma disetting hanya untuk menudingku macam-macam?"


"Sabar, Na."


"Memang dia siapa, sih? Seenak jidatnya aja kalau ngomong. Muka tembok sialan!"


"Sabar, Na."


"Pokoknya kalau dalam sebulan ini dia tidak bisa bersikap baik padaku, dan tak bisa kuajak kompromi, aku tidak akan segan-segan untuk menggugat cerai dia. Aku tidak akan menunggu tiga bulan, pokoknya sesegera mungkin harus pisah sama dia."


"Sabar, Na."


Nana baru akan melontarkan lagi cerocosannya, namun saat itu seseorang di ambang pintu menginterupsi lebih dulu.


"Pisah?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2