Hallo Nana!

Hallo Nana!
Bulan Madu Ke Korea?


__ADS_3

Nana membuka pintu apartemennya. Ia lantas masuk ke dalam diikuti Kevin yang mengekor di belakang.


"Jadi gimana? Kalian sudah siap untuk pesta perayaan anniversary kalian yang ke satu bulan?" tanya Oma Lidia mengagetkan.


Nana dan Kevin terperanjat seketika saat melihat Oma Lidia yang tiba-tiba sudah berada di dalam apartemen mereka.


"O..Oma, kenapa Oma ada di sini lagi? Dan Bagaimana Oma bisa masuk ke dalam apartemen aku?" cecar Nana panik.


"Tidak penting Oma sejak kapan ada di sini dan bagaimana Oma bisa masuk." Oma Lidia mendekat ke arah Nana dan Kevin sembari bertulak pinggang.


"Yang paling penting sekarang adalah kalian sudah ambil keputusan apa belum tentang rencana Oma?" tambahnya.


"Nana tetap pada pendirian Nana sebelumnya, alias Nana gak mau ada acara pesta perayaan," jawab Nana tegas.


"Lantas bagaimana dengan kamu Kevin?"


Kali ini Oma Lidia bertanya pada Kevin diiringi tatapan mengintimidasi seolah mengancam Kevin agar tak setuju dengan pernyataan istrinya.


"Kevin juga tidak setuju dengan ide Oma," pungkas Nana menyerobot.


Nana menoleh ke arah Kevin dengan mengedikan kelopak matanya seolah memberi signal agar Kevin manut padanya. Namun sayangnya Kevin mendadak lemot dan tak mengerti maksud Nana barusan.


"Ah.. apa sih?" tanya Kevin pelan.


Nana membalikan kepalanya ke poisisi semula, menghadap Oma. "Aku yakin Kevin gak setuju juga."


Tiba-tiba tangan Nana menyikut perut Kevin tanpa sepengetahuan Oma Lidia. Memberi kode lagi pada lelaki itu agar mengiyakan jawaban Nana.


Sementara itu, Kevin masih belum tanggap dengan maksud Nana. Agaknya Kevin benar-benar kehilangan kecerdasannya saat dalam posisi tegang.


"Kevin selalu satu pihak denganku, jadi dia tidak mungkin berbeda pendapat."


"Oma bertanya pada suami kamu Nana, jadi berhentilah menjawab pertanyaan yang bukan Oma ajukan pada kamu. Dari tadi suami kamu belum menjawab, kamu malah udah bicara banyak."


"Tapi Kevin memang gak setuju. Iya kan sayang?"


Untuk kedua kalinya Nana menyikut perut Kevin, berharap lelaki itu segera membuka mulut dan menolak dengan keras permintaan Omanya.


Sayangnya Kevin malah makin bingung kenapa Nana terus-menerus menyikut perutnya. Ia benar-benar lemot sekarang.


"Berhenti bicara Nana!! Oma lagi nanya suami kamu."


"Gimana Vin, kamu sudah ambil keputusan. Oma harap kamu tidak menolak permintaan Oma karena Oma tidak suka penolakan," tutur Oma dengan nada tegas dan lagi-lagi bernada ancaman.


"Anu.. untuk pesta anniversary?"


Oma Lidia mengangguk. Sementara itu, Nana harap-harap cemas dengan jawaban Kevin. Ia paham betul kalau suaminya itu senang sekali bersinggungan dengannya.


"Aku setuju dengan Nana untuk tidak mengadakan pesta anniversary pernikahan," jawab Kevin pada akhirnya.


Raut wajah Oma Lidia seketika berubah menjadi kecewa bercampur marah. Membuat Kevin jadi semakin takut jika melihat ekspresi Oma Lidia sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa membohongi hatinya. Ia sangat tidak rela menyiksa kakinya untuk yang kedua kali setelah pesta pernikahannya dengan Nana tempo lalu.


Butuh waktu beberapa hari menyembuhkan pegal-pegal yang dialaminya selepas acara pernikahannya dengan Nana. Oleh karena itu, Kevin tidak ingin terjebak lagi dalam pesta seperti itu.


Sebaliknya Nana kegirangan bukan kepalang karena akhirnya Kevin satu suara dengannya. Tumben sekali, biasanya lelaki itu lebih senang berada di pihak yang berbeda.


"Yes!" decak Nana sembari mengepalkan telapak tangannya puas. Sebenarnya ia ingin sekali jingkrak-jingkrak bahagia. Tapi ia mencoba meredam sedikit euforianya agar Omanya tak semakin kecewa.


"Tapi aku punya rencana lain yang tidak bakal mengecewakan Oma."


Seketika kegirangan Nana berhenti. Ia kembali dibuat harap-harap cemas oleh suaminya.


"Apa?" tanya Oma Lidia.

__ADS_1


Dengan senyum tengil, Kevin melirik Nana sejenak. Dipikiran Nana, Kevin sedang merencakan sesuatu yang aneh-aneh.


"Aku dan Nana akan pergi bulan madu."


"Apa?!"


Shock! Itulah kata yang terpintas di kelapa Nana. Benar saja dugaan Nana, lelaki itu pasti merencanakannya sesuatu yang aneh-aneh.


"Kamu serius?" tanya Oma Lidia memastikan.


"Iya Oma, kalau Oma mengizinkan kami akan pergi bulan madu ke Korea."


"Ya jelas Oma izinkan."


"Apa kamu gila, Vin?" sentak Nana tidak percaya.


Kevin maju beberapa langkah, merangkul pundak Oma dan membawa wanita tua itu menuju daun pintu. Menghiraukan Nana yang tercengang sekaligus mendebat.


"Oma mau cicit-cicit yang lucu kan?" lanjut Kevin membuat raut Oma Lidia yang tadinya hampir meledak marah kini berubah jadi berbinar senang.


"Ya.. ya.. Oma mau cicit-cicit yang lucu, jadi Oma setuju dengan ide kamu. Tidak ada perayaan anniversary tapi diganti bulan madu. Ide kamu ini luar biasa. Oma salut sama kamu."


"Terima kasih Oma."


"Oma yang berterimakasih pada kamu karena telah mengusulkan ide hebat ini."


"Baguslah. Oma mau cicit apa? Laki-laki apa perempuan?"


"Oma mau cicit kembar. Kalau bisa kembar cowok cewek."


"Oh kembar eternal. Oke, akan aku usahakan sesuai request Oma," kata Kevin diakhiri dengan seulas senyum palsu.


Oma Lidia semakin kegirangan.


"Oke.. Oke. Oma tidak sabar menantikan cicit-cicit yang lucu."


Oma Lidia pun semakin heboh mendengar bualan Kevin. Beliau pun segera keluar dan bergegas pulang sesuai anjuran Kevin—cucu menantunya yang hebat itu.


Setelah kepulangan Oma, Kevin segera menutup pintu apartemen rapat-rapat. Bersender pada daun pintu sembari menghembuskan nafas lega.


"Huh, akhirnya kelar juga satu masalah."


Prok.. Prok.. Prok..


Nana memberi tepukan untuk aksi Kevin. Tapi tepukan tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu sebuah apresiasi. Lebih tepat, itu sebuah bentuk sindirin keras.


"Bisa-bisanya kamu ya nipu Oma ku dengan dongeng seperti itu. Cih, dasar pembual ulung!" decih Nana geli.


"Apaan sih? Gak jelas banget jadi orang!"


"Kamu yang gak jelas. Bisa-bisanya kamu membuat cerita tentang cicit. Aku tidak sudi ya punya anak dari kamu. CATAT ITU!"


"Idih.. jangan Ge-Er jadi orang, kamu pikir aku sudi? Big NO!!"


"Terus kenapa kamu malah ngarang cerita kaya tadi? Pake segala mau bulan madu ke Korea kaya yang punya uang aja! Mana ngomong besok mau berangkat lagi. Kamu pikir biaya ke Korea murah HAH?" sentak Nana tak terima.


"Aku gak ngarang ya, kita memang akan pergi besok."


"APA?!"


Kevin menyodorkan dua tiket pesawat pada Nana.


"Nih lihat, aku gak ngarang! Harusnya kamu berterima kasih padaku berkat kecerdikanku kita jadi terbebas dari pesta meriah yang diadakan Omamu. Jadi kita gak perlu nanggung pegal-pegal selepas pesta," omel Kevin.

__ADS_1


Nana tertohok tak percaya. Bola matanya hampir keluar dari tempatnya. Bersamaan dengan jantungnya juga.


"Apa kamu gila? Dari mana kamu dapat semua itu?"


"Ya aku beli pake uangku lah," jawab Kevin ngegas.


"Ya tapi darimana kamu bisa punya uang sebanyak itu. Jangan bilang kamu berbuat yang aneh-aneh demi dapet dua tiket itu," tuduh Nana sekenanya.


Kevin menoyor kepala Nana menggunakan dua tiket pesawat tersebut.


"Sembarangan aja kalau ngomong. Aku dapet semua ini tentu saja aku beli pake tabungan aku."


"Tabungan?"


"Heumm.. gara-gara ini, tabungan yang aku kumpulkan bertahun-tahun terkuras habis. Pokonya aku gak mau tahu, kamu harus ganti semua ini."


"Lah kok harus ganti sih? Yang punya ide ke Korea kan kamu? Kenapa aku yang harus ganti?"


"Ish, tapi kita perginya berdua. Aku tidak mau rugi."


Mulut Nana menganga lebar. Betapa pelitnya suaminya itu. Tapi ada benarnya juga, ide gilanya itu mungkin memang diperlukan demi selamat dari pesta sialan itu.


"Kalau kamu tidak mau pergi, ya sudah. Urus saja Omamu sendiri biarkan aku terbang ke Korea sendiri. Aku lebih sayang kaki aku ketimbang uangku."


"Baiklah..baiklah aku akan ganti biayanya. Dasar manusia pelit!"


"Biarin..wleee.." Kevin menjulurkan lidahnya, meledek.


"Ish... dasar ngeselin!" geram Nana.


"Cepatlah packing barangmu, kita harus siap-siap dari sekarang!"


"Ish.." Nana mendesis lagi dan lagi. Kendati demikian ia tetap melenggang meninggalkan Kevin dan patuh pada lelaki itu.


Pada langkah kaki ke tiga, Nana tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Kevin. Menatap Kevin dengan raut cemas.


"Ada apa lagi?" tanya Kevin sebal.


"Sebentar.. Kalau kita pergi Korea terus nanti ternyata pas pulang tak sesuai harapan Omaku, gimana?"


"Maksudnya?" ucap Kevin tak paham.


"Apa kamu tidak berpikir Oma ku akan menuntut kita punya anak beneran?"


"Maksudnya?" Kevin mengulang pertanyaan yang sama, ia semakin tidak paham dengan kalimat Nana yang berbelit-belit.


"Aishh.. bodoh!"


"Kok ngegas sih?"


"Kamu gak mikir ya, dengan kita berangkat ke Korea itu artinya kita sudah memupuk harapan Oma terhadap kita. Ucapan kamu soal cicit, akan jadi boomerang untuk kita berdua. Kita akan semakin sulit mencari celah untuk cerai"


"Astaga!" Kevin terbelalak mendengar penjelasan Nana. Wanita itu ada benarnya juga, semakin banyak kebohongan yang ia bentuk dengan Nana, maka akan semakin sulit ia terlepas dari Nana.


"Bodoh, kenapa kamu sampai gak mikir ke arah situ?" tukas Nana. Pikirannya semakin semrawut sekarang.


"Maafin aku, aku lupa gak mikir dampak kedepannya. Aku hanya mencoba keluar dari situasi yang aneh ini."


"Aku gak setuju, kamu malah membuat kita terjebak di situasi yang aneh. aku gak mau selamanya hidup bersama kamu," Nana semakin memojokkan Kevin, membuat lelaki itu tidak berkutik dan merasa bersalah.


"Aku gak mau tahu, pokoknya selama tiga bulan kita harus cerai. Aku cinta sama Jonatan, aku tidak mau terus menerus terikat dengan kamu. Aku mau menikah dan memiliki anak dengan Jonatan," tambah Nana penuh penegasan. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan Kevin yang membeku di tempat.


Setelah mendengar kata 'menikah dengan Jonatan' Kevin merasa ada reaksi yang aneh pada seluruh bagian tubuhnya. Terutama hatinya. Entah kenapa hatinya merasa sedikit tergores kala mendengar kata tersebut. Mungkinkah ia mulai tidak rela kalau Nana selalu mengungkit perceraian demi Jonatan?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2