Hallo Nana!

Hallo Nana!
Pengkhianatan Tetap Pengkhianatan


__ADS_3

Nana dan Jonatan telah selesai makan. Mereka berdua beranjak dari kafe itu menuju parkiran.


"Sayang, kamu mau kemana lagi?" tanya Jonatan sembari menyelipkan anak rambut Nana ke belakang telinganya dengan sayang.


"Eum.. kemanapun kamu mau membawaku, aku akan ikutin," jawab Nana manja. Kemudian melempar senyuman terbaik untuk lelaki yang diklaimnya pacar.


"Bagaimana kalau nonton bioskop?" tambah Nana memberi saran.


"Ah, tapi aku sedang tidak ingin pergi ke sana.. bagaimana kalau kita ke taman saja? Kita duduk-duduk santai sambil beromantis-romantisan di sana?"


Nana mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuknya. Ia tampak berpikir dan menimang-nimang saran Jonatan.


"Gimana.. mau?" desak Jonatan.


Alih-alih menjawab, Nana lagi-lagi menipiskan bibirnya dan membentuk kurva senyuman sebelum akhirnya mengangguk setuju. Hal itu tentu saja disambut baik oleh Jonatan.


"Kalau mengangguk berarti setuju ya, kita akan ke taman?" tanya Jonatan memastikan. Ia tidak mau Nana pergi ke taman karena terpaksa.


"Kan sudah aku bilang kemanapun kamu membawaku, aku akan ikutin."


"Tapi kamu gak terpaksa kan?" tanya Jonatan lagi. Ia sebenarnya tahu, Nana tidak mungkin berbohong padanya tapi ia hanya ingin memastikan untuk kedua kalinya. Lagipula Nana sangat mencintainya, jadi Jonatan yakin kalau Nana pasti akan selalu setuju apapun yang disarankannya. Bagi Jonatan, tidak ada yang bisa menolaknya apalagi sekelas wanita naif dan bodoh seperti Nana. Sangat gampang mengelabui Nana hanya dengan sedikit melempar rayuan pada wanita itu.


"Ya enggak dong sayang.."


"Oke, berarti kita pergi ke sana sekarang?"


"Sure!"


Jonatan langsung membukakan pintu mobil untuk Nana. Begitu Nana masuk ke dalam mobil, Jonatan langsung menghela napas dan menghelus dadanya secara lega tanpa sepengetahuan Nana. Jonatan lega karena pada akhirnya tidak membuang uangnya secara cuma-cuma hanya untuk membeli tiket bioskop. Ia sengaja memilih taman agar tidak keluar uang sepeser pun dari dompetnya. Lagi pula, tadi di dalam kafe pun Nana yang berinisiatif membayar duluan. Hal itu dimanfaatkan Jonatan tanpa rasa malu.


Seperkian detik berikutnya, Jonatan berlari kecil memutari mobil dan masuk ke dalamnya.


"Kita pergi sekarang ya?" tanya Jonatan lagi setelah mendudukkan bokongnya di belakang kemudi.


"Let's go!" seru Nana antusias. Tak lama mobil pun bergerak maju secara perlahan.


Seperti yang Nana ucapkan sebelumnya pada Jonatan, dia akan selalu antusias dan bahagia kemanapun Jonatan membawanya. Entah itu ke taman, gunung, bahkan ke dalam goa pun Nana mungkin akan setuju-setuju saja asalkan ia pergi dengan Jonatan, lelaki yang ia cintai setengah mati sedari dulu.


Nana tahu, menjalin hubungan dengan Jonatan saat statusnya menjadi istri orang bukanlah yang benar. Tapi apa mau dikata, perasaan Nana tak bisa dibohongi. Ia benar-benar mencintai Jonatan sekalipun lelaki yang dia cintai itu pernah membuat luka di masa lalu.


***


"Sudah sampai, ayo kita turun!" ajak Jonatan tersenyum simpul sembari mematikan mesin mobil Nana yang dikemudikannya.


Awalnya Nana antusias, tapi melihat taman yang dituju ternyata lengang dan sepi, Nana jadi sedikit ragu. Ditambah cuaca hari ini dengan sinar mentari yang menyengat membuat Nana jadi semakin amat ragu.


"Sayang, kamu yakin kita mau jalan-jalan di sini? Ini panas banget loh sayang."


"Kenapa? Kamu takut sama sinar matahari?"

__ADS_1


"Ya bukan gitu tapi—"


"Kamu pasti takut kulitmu gosong ya?" potong Jonatan.


"Anu.. tapi aku rasa—"


Belum sempat Nana menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi Jonatan kembali memotong pembicaraan.


"Katanya kemanapun aku pergi, kamu akan ikutin. Kok sekarang kamu berusaha mengelak sih?"


"Ya bukan gitu.. memang aku bilang kemanapun kamu pergi, aku akan ikutin. Tapi ini terik banget loh sayang. Emang kamu gak takut kulit kamu belang? Mana aku gak bawa sunblock atau sunscreen lagi," keluh Nana polos. Semenjak dulu pernah putus dengan Jonatan perkara diselingkuhi dengan yang lebih cantik nan mulus, Nana memang jadi lebih sering menjaga dan melakukan perawatan diri.


Dia tidak ingin Jonatan kembali meninggalkan dan mencampakkannya seperti dulu, oleh karena itu Nana rela melakukan apapun demi menjaga kekasihnya itu. Termasuk, melakukan perawatan diri dari ujung kaki sampai rambut agar Jonatan betah menjadi kekasihnya. Padahal, jika Nana ingat-ingat di masa lalu, perawatan diri seperti layaknya wanita pada umumnya adalah hal yang amat jarang ia lakukan. Bahkan menggunakan skin care saja alakadarnya. Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Dan semua itu demi Jonatan cinta matinya Nana, belahan jiwanya Nana.


Namun apa yang dilakukan Nana tak sebanding dengan apa yang akan diterimanya kelak. Nana belum tahu bahwa Jonatan ingin kembali padanya bukan berarti ingin memperbaiki atau menebus kesalahannya di masa lalu. Tapi ada maksud lain yang ingin ia kejar. Nahasnya, Nana tidak menyadari akan hal itu sekalipun Tania dan Kevin pernah mewanti-wanti dan menyuruh Nana harus waspada pada lelaki yang bernama Jonatan tersebut. Nana sama sekali tidak peduli ia mengabaikan nasihat Tania maupun Kevin— suaminya.


"Hahaha.. sudah aku duga. Kamu pasti mengkhawatirkan kulitmu," ucap Jonatan diikuti tawa renyah. Ia merasa penuturan polos Nana barusan begitu menggelitik perutnya. Tapi, ia mencoba memaklumi sikap polos Nana.


Lelaki itu kemudian menangkup pipi Nana dengan kedua buah telapak tangannya sebelum akhirnya menyuruh Nana menghadap tepat ke arahnya.


"Dengar. Sekalipun kulitmu menggelap atau gosong karena terterpa sinar matahari, aku akan tetap suka dan mencintai kamu sayang. Lagi pula aku suka kamu apa adanya," beber Jonatan berdusta.


Nana bagai bocah cilik yang bodoh saat Jonatan melontarkan kata-kata modus itu. Ia sama sekali tidak menaruh curiga. Malahan, ia malah terpana dan menganggap Jonatan adalah pria termanis dan teromantis sedunia.


"Benarkah?"


"Kamu tidak akan meninggalkan aku lagi kalau aku berubah jadi jelek dengan kulit yang hitam legam?"


"Tidak."


"Kamu yakin?"


"Tentu saja. Apa kamu mau bukti kalau aku benar-benar mencintai kamu apa adanya?"


"Bukti? Maksudnya?" Nana balik bertanya. Ia sungguh tidak mengerti maksud dari ucapan Jonatan yang ambigu.


Tanpa aba-aba, Jonatan langsung mendekatkan wajahnya sembari menutup mata dengan ritme perlahan. Menyadari akan terjadi sesuatu yang amat sangat Nana inginkan, ia pun bereaksi sama dengan ikut memejamkan matanya seperti mesin otomatis yang terkendali begitu melihat Jonatan akan melakukan pertautan bibir.


Tiba-tiba..


Brak.. Brak.. Brak..


Seseorang menggedor kaca mobil Nana dari luar. Jonatan dan Nana refleks mengejat dan memundurkan tubuh mereka masing-masing. Mereka jadi kikuk dan serba salah saat adegan mesra yang belum sempat terjadi itu mendadak buyar seketika gara-gara orang yang menggedor kaca mobil itu mengacaukan semuanya.


'Sial. Padahal hampir saja tadi bibirku menempel dengan bibir Jonatan. Lagian siapa sih manusia pengganggu yang berani mengacaukan momen indah ku dengan Jonatan?' umpat Nana dalam hati. Ingin sekali rasanya memaki manusia sialan itu.


Brak.. Brak.. Brak..


"Nana buka!"

__ADS_1


Samar-samar Nana mendengar namanya disebut oleh orang yang mengacaukan momennya dengan Jonatan. Nana pun menoleh ke arah kaca dan betapa terkejutnya ia melihat Tania–lah pelakunya.


"Tania?" cicit Nana.


"Tania ngapain sih pakai gedor-gedor kaca segala?" decak Jonatan dongkol.


Nana kemudian mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu dan memulai membuka kaca mobilnya sebelum akhirnya menyembulkan kepalanya.


"Duh Tan, kamu ngapain di sini?" keluh Nana sembari menggembungkan kedua pipinya.


Tania menyengir kuda. "Gue kebetulan lewat sini. Terus gue lihat ada mobil Lo ngejogrok di sini, ya sekalian aja gue deketin."


Tania merendahkan kepalanya dan kemudian menyapa Jonatan yang tengah duduk di kursi kemudinya dengan sok akrab. "Hi, Jo!"


"Hmm.." balas Jonatan hanya dengan geraman kecil. Ia masih merasa dongkol dengan Tania karena berkat Tania, semuanya jadi gagal total. Jonatan gagal total membuat Nana dimabuk kepayang dan semakin tidak bisa lepas darinya.


Tania memfokuskan kembali percakapannya pada Nana. Masa bodo dengan sikap Jonatan yang jelas-jelas langsung bad mood saat aksinya dikacaukan oleh Tania.


"Gue numpang ya, Na?" ucap Tania sembari menaik turunkan alisnya inosen.


"Numpang?"


"Iya, gue numpang sampai gang depanlah minimal. Atau kalau Lo mau berbaik hati, anterin gue ke rumah mini market. Gue mau belanja nih."


"Tapi kan gue—"


"Ah, pasti bolehlah. Masa sama sahabat sendiri Lo mau main pelit-pelitan! Lagian si Jojo juga gak keberatan. Iya kan, Jo?" seru Tania tanpa mau mendengarkan kalimat Nana keseluruhan dan malah mengalihkan atensi bicaranya pada Jonatan lagi.


Meski tak ada respon dari Jonatan, Tania tidak peduli dan tetap maksa masuk. "Cepetan bukain!" Tania sengaja melakukan itu, serta merta ingin melindungi Nana dari manusia penuh tipu muslihat seperti Jonatan.


Dan pada akhirnya mau tak mau, Nana dan Jonatan membiarkan Tania masuk ke dalam mobil dan bergabung dengan mereka.


"Cepat Jo, jalankan mobilnya!" perintah Tania semakin songong setelah berhasil duduk di kursi belakang.


Nana menoleh ke arah Tania.


"Kok kamu udah kaya bos aja sih nyuruh-nyuruh Jonatan kaya ke supir?!" cebik Nana semakin sebal dengan Tania yang tiba-tiba bossy.


"Gue buru-buru soalnya, lagian gak apa-apakan, Jo?" elak Tania yang lagi-lagi melibatkan Jonatan dalam perdebatannya dengan Nana.


Sungguh, Tania sangat amat sengaja melakukan itu agar Jonatan merasa risih dan tak berbuat yang aneh-aneh lagi pada Nana. Ia tadi hampir kecolongan karena Jonatan hampir mencuri kesucian bibir Nana. Ia sengaja mengacaukan acara mesra-mesraan Jonatan dan Nana agar keduanya merasa bad mood dan pada akhirnya acara mereka bubar. Jadi tidak ada kesempatan buat Jonatan mencuri setitik saja anggota tubuh Nana.


"Gak apa-apa kok," jawab Jonatan pasrah dan sarkas. Tania tersenyum penuh kemenangan saat Jonatan tak berkutik.


"Tuh denger!" sindir Tania pada Nana. Nana hanya mampu mendesis sebal serasa ingin mencekik leher Tania saat itu juga.


Apapun akan Tania lakukan demi menjaga dan melindungi Nana dari rayuan Jonatan. Lelaki payah itu tak pantas diberi kesempatan kedua. Tania tahu persis bahwa Jonatan bukanlah lelaki baik-baik. Seperti pepatah dunia, sekali penghianat tetap akan menjadi penghianat selamanya dan itu adalah karakter dari seorang Jonatan. Jonatan si penghianat yang hanya bermodal modus. Tania tak akan membiarkan Nana masuk ke dalam perangkap Jonatan kedua kalinya. Tak akan!.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2